Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Kesehatan 27 November 2017   12:36 WIB
Melahirkan Normal dengan Induksi

Tanggal prediksi kelahiran masih cukup lama. Saya memutuskan segera pulang karena berat badannya sangat kecil walau sudah sembilan bulan. Mungkin Ia kangen masakan neneknya.


Di rumah, saya diperlakukan seperti putri es. Dijaga betul-betul. Terlebih oleh Papa. Mau makan apa saja tinggal minta. Tidak boleh kerja berat. Banyak istirahat. Bergerak hati-hati. Pernah suatu kali terdengar suara dentuman yang agak besar ketika saya di dapur. Papa panik dan menanyakan apakah saya baik-baik saja. Padahal itu hanya suara kaki saya yang tak sengaja menendang lemari. Untuk keluar rumah pun saya diawasi. Mau kemana-mana harus diantar mobil. Kalau adik tidak bisa mengantar, Papa akan menelpon temannya untuk disulap menjadi supir.


Andai Papa tahu bagaimana saya di Aceh. beliau bisa sesak nafas. Di tiga bulan kehamilan saja, saya masih bermotor sendirian sekira 220 km bolak balik. Diusia tujuh bulan, saya juga keukeh pelatihan ke Bandung. Ikut berjejalan di jalanan macet demi mengunjungi alun-alun dan shoping di pasar. Lanjut dengan berkereta api selama delapan jam ke Jogja demi nonton karnaval di malam lebaran haji.


Diusia delapan bulan saya masih sibuk jalan-jalan dengan suami dan teman-teman ke batu berlayar. Saya pikir jalanannya mulus dan si batu bisa saya nikmati dari tepi pantai. Ternyata perlu mendaki gunung lewati lembah dulu. Sampai-sampai ibu kos suami terbengong-bengong tak percaya. “Ibuk saja orang asli sini tidak pernah ke sana. Kamu kok bisa-bisanya ya dalam keadaan hamil besar begini?” Saya pun balik bengong. “Kok bisa ya Ibuk gak pernah jalan-jalan ke sana, eh.”


Dan di sinilah skenario itu bermula. Zona nyaman ternyata jauh lebih menakutkan. Di rumah, dengan segala kemudahannya, saya menjadi lalai memeriksakan kehamilan saya. Suami sudah lama menyuruh periksa ke dokter kandungan namun dengan anteng saya menjawab, gak ada keluhan apa-apa. Hingga tibalah saat itu.


Ada cairan bening yang keluar sedikit. Mama menyuruh saya memeriksakan ke bidan samping rumah namun saya enggan. Saya pikir itu biasa saja dan saya tak memusingkannya. Esoknya Mama menyuruh lagi dan akhirnya saya memeriksakan diri masih dengan enggan. Bidan menyuruh saya USG. Mana tahu itu air ketuban yang sudah pecah.


Sorenya saya berangkat ke rumah sakit. Saya masih santai ketika itu. Sambil menunggu antrian pun saya masih sempat ber ha ha hi hi video call-an dengan suami. Tanpa tahu akan ada kabar mengejutkan yang saya bawa selepas itu.


Bu Santi. Nama saya dipanggil. Saya masuk ruang pemeriksaan. Setelah di USG, Dokter Yogi bilang ketuban saya sudah pecah samping. Walau pecahannya kecil, air ketuban saya tinggal sedikit karena sudah menetes sedikit demi sedikit selama tiga hari ini.


Saya berteriak panik. Dokter Yogi meniru teriakan saya sambil bercanda. Dengan santai dia meminta saya untuk melahirkan malam itu juga. Ia menawarkan lahiran normal dengan induksi. Jika masih menunggu pembukaan alami maka air ketuban bisa kering dan dedek akan lahir tanpa tangisan. Dia akan menjadi sakit-sakitan. Masalah suami yang masih di tempat tugas, saya disuruh santai saja. Toh bayinya gak langsung lahir juga kok. Bisa dua sampai delapan jam. 2-8 jam? suami juga tidak akan bisa sampai secepat itu. Dengan penuh kerelaan hati, impian untuk melahirkan didampingi suami saya kubur dalam-dalam. Soal mengazani mungkin bisa via video call saja. Saya mulai tak karuan.


“Perlengkapan bayi sudah dibeli kan?”. Saya menggeleng lemah. “Jadwal shoping baju bayi saya besok Pak.” Dokter Yogi tersenyum. “Haha, gampang itu. Singgah saja di toko pas balik ke sini nanti.” Katanya. Pak Dokter ini santai sekali sedang saya ketakutan setengah mati.


Saya pulang dulu untuk bersiap-siap. Meski sukses membuat keluarga di rumah terkejut, dengan cekatan Mama menyiapkan segala keperluan. Dalam perjalanan saya mengkoordinir adik-adik saya. “Sa, jangan fhoto-fhoto dedek kalau udah lahir ya, nanti matanya buta. Yis, siap-siap nanti azani dedek kalau ayahnya tak dibolehkan azan via telpon”. “Yup, wait what? telpon? anehnya parents jaman now,” dengus adik saya. “Tapi Ni, nanti jangan nyerah ya pas lahirannya. Ingat aja kita mendaki gunung. Tujuan kita puncak, jangan menyerah kalau belum sampai.” Kali ini adik saya yang memberi petuah. Saya mendengar dengan takzim.


Pukul 22.00 WIB saya diberi antibiotik dan dipasangkan infus. Sebenarnya, saya tidak tahu apa-apa tentang induksi. Selama ini saya hanya sibuk mempelajari tanda-tanda kontraksi, tips lahiran normal tanpa jahitan dan senam hamil untuk mempermudah persalinan. Karena itulah, saya pikir dua hingga delapan jam lagi saya akan bertemu dedek yang menjadi trending topic kami 9 bulan ini. Dengan tangan terkepal, saya menunggu sang kontraksi datang. Namun lewat 4 jam, Ia tak kunjung menghampiri. Saya menyuruh adik-adik saya pulang saja. Sepertinya ini akan lama. Karena saya dengar dari perawat yang setiap 2 jam datang mengukur denyut jantung dedek, induksi berbeda pada setiap orang. Bisa 2 jam, 8 jam, 2 hari bahkan gagal sama sekali.


Gagal? Saya pun mulai searching tentang induksi dan semua yang saya temukan membuat ngeri. Katanya, sakitnya kontraksi karena induksi berkali-kali lipat dibanding kontraksi alami. Dalam keadaan tertentu bisa saja terjadi infertilitas karena rahim ibu bisa terburai keluar saking sakitnya. Ditambah lagi, induksi katanya dapat membahayakan bayi karena dia dipaksa mencari jalan keluar, bukan keinginan bayi itu sendiri. Bisa jadi juga induksi gagal sedangkan ketuban sudah habis. Meja operasi tidak bisa terelakkan lagi.


Saya menangis. Sudah seharian saya dinduksi namun belum merasakan sakit sedikitpun. Semua hal buruk muncul di kepala saya. Bagaimana kalau induksinya gagal dan ketuban sudah kering kerontang. Bagaimana jika saya tidak sanggup menahan sakit lalu meninggal. Bagaimana nasib dedek. Bagaimana kebutuhan ASInya. Toh ayahnya tak bisa menghasilkan ASA, Air Susu Ayah. Melihat saya stress begitu, bidan dan perawat yang siaga mengontrol keadaan saya meminta saya tenang. Itu menaikkan tensi darah dan membahayakan bayi.


“Yang pintar cari jalannya Dek. Gak usah tunggu ayahmu. Kamu harus lahir secepatnya sebelum ketuban Bunda habis.” Saya ajak dedek bicara heart to heart and it works. Si dedek akhirnya menemukan jalan keluarnya. Pukul 17.00 WIB, kontraksi yang dinantikan itu datang juga. Perut saya sakit, namun wajah saya senyam-senyum bahagia. Bidan datang dan cek pembukaan. Masih bukaan satu. Alhamdulillah, ucap saya sambil tertawa. Sakit terasa sekali 15 menit. Namun masih seperti mulas-mulas biasa. Dua jam kemudian, sakitnya semakin kuat. Bidan datang lagi cek pembukaan. “Bukaan empat Nti, masih lama ni,” ucapnya sambil mengajak saya bercanda. Ia keluar lagi dan lima menit kemudian sakit itu terasa sangat kuat. Tiang infus erat saya genggam pengganti tangan suami. Bidan, perawat dan dokter langsung lari ke ruangan saya karena darah sudah keluar banyak. Dalam lima menit bukaan empat langsung loncat ke sembilan. Tanpa sadar saya sudah mengejan. “Jangan mengejan dulu Nti,” ucap bidan itu sambil membawa saya dengan kursi roda ke ruang persalinan. “Duh Buk, bukan saya yang mengejan. Dedeknya nih,” ucap saya kacau. Saya mengejan otomatis.


Di ruang persalinan saya dibaringkan di tempat khusus. Saya disuruh mengejan yang kuat dan plup. Dua kali ejan, dedek lahir dengan tangisan yang kuat. Hore…eh alhamdulillah, saya teriak bahagia. “Wahh badannya aja yang kecil, tenaganya besar juga ya, tapi ketubannya udah hijau, untung patuh sama saya, hehehe,” seloroh sang dokter sambil sibuk mengurusi Dedek. “Hihi, iya Dok, saya jadi pengen sujud syukur nih.”


“Sujud syukur? hei tunggu dulu.” Ternyata di depan saya, masih ada bidan yang konsen dengan saya sementara dokter dan perawat lain mengerubungi Dedek. “Sebelum sujud syukur saya bersihkan dulu. Ketuban hijau akan meninggalkan banyak sisa di jalan Rahim. Berbahaya jika tidak dibersihkan,” terangnya.


“Siph siph. Oh ya Buk, saya dijahit gak?”
“Iya nih, dikit.” Kata sang bidan.
“Saya boleh request Buk, pas dijahit saya dikasih obat bius karena. . .” sebelum kalimat itu tuntas, nyeri tusukan terasa sampai ke ubun-ubun.

“Ahrggg….”


Begitulah setiap persalinan memiliki ceritanya masing-masing. Ada yang normal tanpa jahitan, normal dengan jahitan, caesar dan lain sebagainya. Namun, apapun kisahnya ada satu hal yang membuatnya sama yaitu kebahagiaan tak terkira ketika si kecil lahir ke dunia. Tangisannya menjadi musik terindah sejagad raya. Tentang sakitnya jangan ditanya. Sirna sudah ketika si kecil rebah di dada dan menggeliat-geliat manja.


Keberadaan suami atau tidaknya ketika bersalin bukanlah sesuatu yang perlu dipermasalahkan. Jangan pernah berfikir hanya Ibu yang menanggung pahit manisnya proses persalinan. Tak ada yang lebih berat dibanding kekhawatiran seorang suami menyaksikan perjuangan istrinya untuk bertemu sang buah hati. Saya merasakannya setelah mendengar ucapan syukurnya ketika mengabari dedek sehat dan saya selamat kepadanya yang masih dalam perjalanan. Kadar kelegaannya jauh lebih besar dibanding saya. Bahkan Ia sempat membuat puisi terindah untuk kami berdua. Uhuk uhuk. Tak salah jika ada yang menuliskan jika rindu seorang ibu adalah hujan, maka kerinduan ayah adalah badai.


Finally, peri kecil dengan dua lesung pipi itu lahir juga setelah berbulan-bulan sibuk menendang perut saya. Ia aktif sekali walau bobotnya 2,3 kg saja. Lucunya, wajah Dedek mirip sekali ayahnya. Saya tidak menyumbang apapun untuk wajah cantiknya kecuali kulit putih dan imut-imutnya. Haha. Walau sedikit terlambat, si ayah bisa mengazani dedek dan mencium ubun-ubun saya seperti di film-film. Hihi.


Terakhir ketika euphoria persalinan selesai saya jadi ingat sesuatu. Mama saya mana ya?


“Nyangkut di ruang tunggu. Gak tega lihat kamu kesakitan.” Terang Dokter.

Aigoo, jadilah persalinan anak pertama saya hanya ditemani doa saja.

Karya : Santi Syafiana