Raja Media Massa

santi rizki
Karya santi rizki Kategori Proses Kreatif
dipublikasikan 20 Februari 2016
Raja Media Massa

Teknologi yang terus berkembang berpengaruh pada perkembangan teknologi informasi yang membuat media massa berkembang pesat dan menjadi aspek penting dalam kehidupan masyarakat modern. Beragam media massa baik yang termasuk media cetak maupun media elektronik, seperti surat kabar, majalah, radio, televisi, komputer dan internet; terlebih media internet dan televisi selalu ditemukan menemani setiap detik kehidupan manusia modern. Persaingan ditengah-tengah kehidupan menuntut ketajaman intelektual dan life skill sehingga mendorong masyarakat modern untuk menggeruk ilmu pengetauhuan sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya. Media massa yang mampu mendobrak batas teritorial dan atau budaya memberikan ilmu pengetahuan yang tiada batas, oleh karena kemampuan ini masyarakat modern dan media informasi seolah menjadi pasangan berjodoh yang tidak bisa dipisahkan. Bukan hal yang berlebihan kiranya apabila Pak Jalaludin Rakhmat menyebut abad ke-21 sebagai abad komunikasi massa?manusia dapat bertukar informasi tanpa dibatasi ruang dan waktu melalui media massa. Namun seperti halnya sekeping koin yang memiliki dua sisi yang tak terpisahkan, media massa memiliki sisi negatif dan positif yang mensyaratkan kebijaksanaan pengguna dalam memanfaatkannya.

Salah satu media massa yang paling berkuasa di dunia modern saat ini adalah televisi, televisi telah menjadi raja media massa yang menggeser masa keemasan radio, pengaruhnya merembes hingga ke segi kehidupan manusia yang paling sederhana; orang tua sering menceritakan kebiasaan setelah adzan magrib di masa kanak-kanaknya, mereka bercerita apabila adzan magrib berkumandang maka seluruh keluarga akan pergi ke masjid dan beribadat dengan khidmat, namun yang terjadi sekarang bukan begitu kenyataannya, orang tua dan anak-anak beramai-ramai mengerumuni media masa elektronik berbentuk segi empat yang merupakan sistem penyiaran gambar yang disertai dengan bunyi melalui kabel atau melalui angkasa dengan menggunakan alat yang mengubah cahaya (gambar) dan bunyi (suara) menjadi gelombang listrik dan mengubahnya kembali menjadi berkas cahaya yang dapat dilihat dan bunyi yang dapat di dengar (Kamus Besar Bahasa Indonesia 2004, 2001:1162), televisi. Pa Jalal menyebutkan televisi telah menjadi the first God. Fiman Allah SWT dan hadist Nabi Muhammad SAW kalah dari pesan-pesan yang dipropagandakan media televisi. Lihatlah fenomena hijab modern yang ditampilan para artis TV saat ini, oleh karena propaganda ini terkadang para muslimah tidak lagi mengindahkan firman Allah SWT dan hadist Nabi SAW yang betujuan melindungi wanita dengan pakaian yang sederhana dan menutupi aurat. Tidak ada salahnya memakai hijab dengan gaya modis namun apabila berlebihan atau terlalu mengedepankan fashion hingga terdengarlah istilah jilboobs?memakai jilbab tapi tidak menutupi aurat yaitu masih menonjolkan bagian tubuh tertentu yang mengundang gairah seksualitas, tentu para hijabers ini tidak lagi melakasankan perintah Allah dan Nabi-Nya. Pada fenomena ini pesan yang disampaikan Nabi Muhammad SAW yaitu hijab untuk menutupi aurat kalah oleh pesan yang disampaikan televisi; hijab untuk tampil fashionable.


Televisi yang memiliki kemampuan persuasif dan daya penetresi paling kuat diantara deretan media informasi akan semakin kuat dan mampu membius dengan cepat apabila berhadapan dengan penonton? pasif yang tidak menyikapinya dengan kritis dan tidak membandingkannya dengan sumber informasi valid lainnya. Kehadiran televisi di tengah-tengah kehidupan masyarakat Indonesia cukup menimbulkan kekhawatiran terhadap masa depan bangsa pasalnya televisi merupakan media hiburan dan informasi yang sangat digemari masyarakat Indonesia yang relatif masih tradisional?sekitar 60%-70% tinggal di pedesaan, sebagian besar dari mereka tidak mengecap pendidikan dan kurang memiliki ilmu pengetahuan yang mumpuni sehingga susah untuk melakukan filtrasi dan menilai informasi. Mereka menelan bulat semua informasi yang disuguhkan dan menilai televisi sebagai cermin yang memantulkan fenomena dunia senyata-nyatanya. Apabila televisi sering menginformasikan tindak pelecehan seksual maka masyarakat awam atau pencandu berat televisi akan menilai bahwa orang-orang suka melakukan pelcehan seksual kemudian mereka akan melihatnya sebagai sesuatu yang wajar, lebih jauh lagi mungkin mereka akan terdorong untuk melakukan hal yang sama. Atau penyiaran berita yang terus-menerus menyudutkan salah satu pihak, pemirsa televisi akan menilai pihak tersebut dengan kesan yang negatif tanpa mencurigai adanya unsur kepentingan pribadi dalam penyaiaran berita tersebut yang mungkin saja terjadi. Konon katanya salah satu tantangan yang dihadapi para jurnalis adalah tawaran menggiurkan atau bahkan tekanan dari pihak-pihak tertentu sehingga tak jarang fenomena ini menimbulkan perasaan dilematis dibenak para jurnalis, mereka harus mempertimbangkan objektivitas berita dan tawaran manis. Dalam ilmu komunikasi massa khususnya studi yang berhubungan dengan efek media massa ada yang dinamakan teori agenda setting yang dimulai dengan asumsi bahwa media massa menentukan berita yang akan disiarkannya. Para gatekeepers seperti penyunting, redaksi, bahkan wartawan sendiri memiliki peranan penting dalam menciptakan realitas sosial ketika mengerjakan tugas dalam menyiarkan berita.Begitu kuat pengaruhnya, televisi terus berekspansi ke rumah-rumah kumuh di pinggiran sungai di pinggiran kota hingga ke rumah-rumah setengah kandang domba di perkampungan di kaki gunung. Televisi tersedia dalam harga yang variatif sehingga lapisan masyarakat yang tinggal di perkampungan kaki gunung dengan pendapatkan Rp. 25.000/hari upah buruh tani pun mampu memajang televisi keluaran terbaru di ruang utama rumahnya, entah bagaimana mereka membeli mungkin memangkas ongkos dapurnya. Memang keinginan membeli televisi jauh melampaui keinginan membeli jenis media informasi lainnya terutama media cetak; buku, koran atau majalah, terlebih di Indonesia yang kental akan budaya lisan. Media audio-visual ini memiliki kemiripan dengan budaya lisan sehingga menjadi primadona keluarga Indonesia, yang mungkin juga karena tidak mensyaratkan bermacam kompetensi seperti media cetak yang mensyaratkan kemampuan membaca dan pengetahuan linguistik.

Penelitian Garbner mengenai dampak televisi menemukan pecandu berat televisi di Amerika mengatakan bahwa 20% penduduk dunia berdomisili di Amerika padahal faktanya hanya 6% saja, media televisi menggiring khalayak untuk memersepsikan dunia sebagaimana yang disiarkannya.

Tidak ada permasalah pada fungsi televisi, yaitu sebagai media komunikasi, informasi, hiburan dan edukasi, namun ketika media televisi berkembang menjadi industri bisnis besar, tentu ada tuntutan lain dalam operasionalnya. Pertimbangan rasional dalam konteks industri bisnis adalah keuntungan finansial. Media televisi menggunakan ruang publik sehingga bisnis ini memiliki tanggung jawab publik. Penggunaan ruang publik hanya untuk kepentingan publik, tidak patut apabila dimafaatkan untuk kepentingan pribadi atau golongan tertentu. Bagi pengelola penyiaran pertelevisian yang bertanggung jawab terhadap tuntutan moral dan ahlak masyarakat tentu akan meyiarkan dan menyuguhkan program TV yang konstruktif terhadap masa depan generasi muda. Sedangkan apabila media televisi dibangun dengan orientasi laba finansial dan melupakan tanggung jawab sosial akan memberikan kontribusi destruktif pada masa depan muda-mudi Indonesia.

Faktor paling krusial dalam bisnis media televisi adalah iklan. Media massa termasuk televisi mampu bertahan hidup dan berkembang apabila ada iklan, sehingga iklan menjadi kejaran paling utama dalam bisnis media televisi. Untuk pengiklan sendiri tidak datang menawarkan diri begitu saja, sebagai lembaga bisnis tentu mereka sangat mempertimbangkan perihal keuangan. Penghasilan laba yang ditawarkan harus lebih besar daripada dana yang kucurkan untuk iklan, oleh karena pertimbangan ini pengiklan hanya mendaftarkan diri pada program TV yang memiliki rating tinggi. Sebagai konsekuensinya para pemegang media televisi harus menelurkan program-program yang menarik massa.

Selain iklan, pertumbuhan media itu sendiri semakin memacu stasiun televisi untuk menawarkan program-program yang menghipnotis ribuan pasang mata. Di awal pertumbuhannya hanya ada beberapa saja seiring berjalannya waktu tumbuh hingga belasan stasiun televisi.? Kondisi ini menciptakan persaingan ketat diantara stasiun televisi, mereka bagai kuda pacuan, berlomba-lomba menyajikan program televisi ber-rating tinggi. Rating selalu lebih mengedepankan kuantitas penonton daripada kualitas tayangan televisi. Kondisi masyarakat Indonesia yang sebagian besar tidak bisa memilah dan lebih menyukai program televisi yang hanya mengedepankan fungsi hiburan dibandingkan dengan fungsi edukatif dan informatif mendorong para pengembang bisnis televisi untuk menciptakan program serupa, hingga muncul di layar televisi program hiburan yang pada intinya menciptakan tawa dengan saling mem-bully atau tarian yang mengekploitasi sensualitas tubuh wanita hingga membangkitkan nafsu berahi diiringi nyanyian yang tidak jauh berbada dan masih banyak prorgam hura-hura lainnya seperti kejahatan, kekerasan, dan mistik. Tayangan seperti ini semakin hari semakin digemari sehingga rating semakin tinggi maka tidak ada alasan untuk terus menayangkan dan mengeksploitasnya. Inilah kemudian yang menyerang masa depan gemilang generasi muda Indonesia. Kira-kira bagaimanalah jadinya masa depan bangsa apabila pemudanya hari ini terpedaya oleh hiburan yang memorakporandakan cita-cita dan harapan.

Dalam menyelesaikan perkara ini nampaknya membutuhkan kontribusi dari semua pihak; para pemegang media televisi harus mempedulikan etika dan bertanggung jawab menggunakan ruang publik, pemerintah harus bekerja keras memandori penyiaran pertelevisian, khalayak penonton televisi harus lebih selektif memilih program dan dapat membimbing anak-anak dalam menonton televisi. Sementara yang paling penting adalah menanamkan pendidikan moral pada anak sejak kecil karena ini bersangkutan dengan masa depan terlebih ketika masuk pada remaja karena pada masa inilah manusia berada dalam fase paling agresif dalam meresepon perkembangan zaman khususnya tayangan-tayangan televisi. Tentu kita tidak ingin kehilangan generasi muda kita yang inspiratif dan berprestasi karena mereka menghabiskan banyak waktunya di depan layar televisi yang menayangkan gambaran remaja yang selalu bergelimang harta, selalu terlibat konflik dengan teman dan menyelesaikannya dengan adu jotos, menjadikan pacaran bahkan hingga melewati batas sebagai menu utama, gaya hidup glamour dan negatif yang realitasnya hanya terjadi pada segelintir remaja. Sesungguhnya masih banyak remaja yang memegang erat identitasnya sebagai bagian dari dunia timur dan memiliki moralitas yang baik, hidup dalam kesederhanaan penuh kerja keras demi menciptakan masa depan emas namun tidak terekspos di televisi. Tidak berlebihan rasanya apabila banyak tudingan diarahkan pada media televisi sebagai penyebab meraknya gaya hidup konsumeristik dan hedonistik. Para remaja telah memiliki kemampuan berpikir yang relatif sempurna; mampu menaksir apa yang akan terjadi serta dapat membedakan salah dan benar. Oleh karena itu alangkah baiknya remaja memilih berlomba-lomba dalam kebaikan?#paradelombainspirasi #tulisan, memilih gaya hidup yang membangun masa depan dan menjadikan televisi sebagai tontonan selingan di sela-sela kesibukan mempersiapkan masa depan.

  • view 161