VENDETA

Sanjaya San
Karya Sanjaya San Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 16 Maret 2016
VENDETA

Aku sama sekali tidak mengetahui dimana aku sekarang. Pikiranku kacau. Tiba-tiba aku bangun dari tidur dalam sebuah tenda. Banyak orang di sekitarku yang sama sekali tidak kukenali. Kondisinya sama sepertiku. Aku beranjak dari tempat tidurku dan berkeliling sebentar.

?Kau sudah ambil makanan?? dia menepuk pundakku dari belakang.

?Belum, aku belum lapar.? Jawabku singkat.

?Kau pasti baru bangun. Makanlah. Ini kubawakan untukmu.? Ia menyodorkan sepiring sarapan pagi padaku, ?Kita tidak pernah tahu apakah pagi ini adalah pagi terakhir kita.? Aku berusaha mengingat-ingat wajahnya. Ah, ya ternyata dialah yang menyelamatkanku dari huru-hara malam itu. Menarik lenganku dan menggendongku di atas bahunya. Dialah yang membawaku ke barak pengungsian sementara hingga ia sendiri yang mengkoordinir pemindahan barak pengungsian di tempat saat ini; aku dan pengungsi lainnya berada.

?Jovan, bisakah kau bantu aku mengangkat tandu pasien di tenda sebelah?? seorang perawat menghampirinya dengan tergopoh-gopoh. Ya, itulah namanya. Dia seorang perwira berpangkat letnan satu. Aku dapat melihat dari seragam militer yang dikenakannya. Di barak pengungsian ini ia memastikan seluruh pengungsi bisa hidup, makan, dan tidur dengan layak. Seringkali ia mengecek kondisi tenda pengungsi, kondisi kesehatan pengungsi-dibantu petugas kesehatan, hingga dapur umum. Dalam tugasnya, ia tidak ingin diposisikan sebagai tentara. Ia lebih suka disapa Jovan-nama yang diperkenalkannya kepada setiap orang-tanpa imbuhan Letnan di depannya.

Kondisi belum benar-benar kondusif. Truk-truk pengungsi kembali datang ke barak membawa ratusan pengungsi dari daerah lain yang luluh lantak. Seorang tentara berbincang dengan Jovan. Nampak sangat serius. Dari gaya bahasa tubuhnya, ia menjelaskan pada tentara itu bahwa barak telah penuh. Ia menunjuk-nunjuk barak yang telah disesaki pengungsi sejak seminggu lalu. Tak lama kemudian Jovan mengajak beberapa tentara lain untuk membantu menurunkan para pengungsi yang baru datang tersebut. Beberapa perlu ditandu karena kondisinya yang begitu lemah. Tak lama kemudian ledakan dan lecutan api nampak di kejauhan tepat di perbatasan kotaku. Posisi barak yang berada di punggung bukit memungkinkan kami dapat melihat landscape kota-kota di lembah.

Bongkahan demi bongkahan api muncul dari balik awan kelabu yang menggantung di sana. Mereka muncul bak panah-panah yang dilesatkan dari langit. Jovan tertegun. Apa yang sebenarnya terjadi, tidak ada yang tahu. Lembaga Antariksa Nasional tidak dapat memastikan apakah peristiwa ini akibat dari benda luar angkasa atau bukan. Masalahnya, satelit-satelit luar angkasa sama sekali tidak berfungsi. Maskapai penerbangan kacau, pembangkit listrik hancur, dan telekomunikasi mati total.

Aku melihat Jovan berpandangan kosong di tengah proses evakuasi. Melihat ke seluruh sudut kota yang sudah luluh lantak berhari-hari. Nampaknya ia sedang memikirkan sesuatu. Tangan kanannya menggenggam lalu meninju telapak tangan kirinya. Entah apa maksudnya. Jovan terkejut saat aku sudah berada di dekatnya. ?Kau disini?? Aku hanya mengangguk.

?Sersan, tolong bawa mereka ke tempat perlindungan.? Jovan mengerahkan beberapa tentara lain untuk segera menyelesaikan proses evakuasi. Ia memegang pundakku dan membawaku keluar dari kerumunan evakuasi setelah kami semua dikejutkan dengan serangan yang terjadi di perbatasan kota. Ia menenangkanku; mengusap-usap pundakku, ?Aku tahu kita dalam posisi tidak aman. Tapi aku dan teman-temanku akan berusaha sebisa mungkin membuat semua orang disini merasa aman. Kita berjuang untuk mempertahankan bumi kita.?

?Apa yang sebenarnya terjadi, Jo??

Jovan hanya diam dan menunduk. Menarik nafas dalam-dalam dan nampak mencari cara untuk menjelaskan atas pertanyaanku. Kemudian ia menatapku, ?Suatu hari kau akan mengerti.?

?Aku tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Hingga saat ini tak ada jaminan kita semua akan selamat.?

?Memang tidak ada. Akupun tak bisa menjamin semua orang disini selamat. Sebelum mereka menumpas habis kita semua.?

Aku terhenyak, ?Siapa yang kau maksud ?mereka??? Tampak dari raut wajahnya ia tidak seharusnya mengatakan itu. Satu rahasia mulai terbuka darinya.

?Sebagaimana telah kukatakan, aku akan berusaha melindungimu.?

?Jo, siapa yang kau maksud ?mereka?? Alien macam apa yang akan merebut bumi kita?? Pikiranku bercabang, mulai memikirkan hal-hal yang tak pernah kubayangkan sebelumnya padahal aku sendiri sama sekali tidak percaya akan adanya alien.

Tanpa diskusi yang lebih lama lagi, ia membawaku pergi ke tenda pasukan yang saat itu sedang kosong. Ia memegang pundakku dan menyuruhku berdiri menghadap kepadanya. ?Ada hal-hal yang mungkin tidak akan kau percaya dan tidak pernah kau bayangkan sebelumnya.? Jovan melepas lensa kontak matanya dan sarung senjata-yang lebih menyerupai tas ransel-dari penggungnya. Dalam kegelapan tenda itu, matanya yang berawarna hijau bak zamrud. Menyilaukan seperti mata kucing. Bentuk matanya begitu indah menakjubkan dan bola matanya begitu bersih. Perlahan dari punggungnya menyembul bulu-bulu kemudian mengembanglah sepasang sayap yang sangat indah. Bulu-bulunya berwarna kehijauan. Ia nampak gagah sebagaimana malaikat-malaikat yang digambarkan selama ini. Aku nyaris tak percaya.

Sudah beberapa langkah aku mundur dari posisiku semula. ?Kau ??? tubuhku gemetar. Ketakutan menyergapku tiba-tiba.

?Kau tidak perlu takut.? Ujarnya menenangkanku, ?Inilah aku. Dan yang kau tanyakan soal siapa mereka. Mereka adalah pasukan langit yang ingin menumpas habis makhluk sepertiku. Bangsaku sudah sejak lama hidup sebelum manusia ada di bumi. Aku hanya salah satu dari ras bangsaku. Bangsa Athnas hidup tersebar di muka bumi. Perseteruan kami di masa lalu belum selesai dan mungkin takkan pernah selesai. Kamilah yang bertanggung jawab atas semua peristiwa yang terjadi belakangan ini. Kami akan melindungimu, melindungi seluruh umat manusia dari serangan mereka.?

?Sebelum matahari terbenam nanti, aku bersama tentara yang lain akan membuat perhitungan dengan pasukan langit. Aku berjanji akan menumpas habis mereka.? Aku hanya memandanginya dengan penuh kekhawatiran.

Duarrrr, buummmm. Barak pengungsian diserang. Porak-poranda. Api di sana-sini. Serangan tiba lebih cepat dari yang semula diperkirakan. Langit seketika menjadi muram. Awan gelap menggantung mengerikan. Petir menyambar tak tentu arah. Siang mendadak berubah menjadi malam. Makhluk-makhluk bersayap kuning keemasan muncul dari balik awan gelap. Berkilauan. Semakin lama semakin banyak jumlahnya.

?Itu mereka!? seru Jovan. Aku tertegun melihat pasukan langit turun untuk membantai secara membabi buta. Para tentara siap mengokang senjata. Tank-tank di lembah telah menembakkan peluru ke arah pasukan langit. Perseteruan sengit terjadi.

?Mereka mirip sepertimu, Jo.? Kataku. Ia menjawab, ?Tidak, mereka pasukan langit! Segeralah berlindung sebelum mereka membunuhmu.? Sayapnya yang indah telah mengembang, ?Mata mereka kuning keemasan bukan hijau sepertiku.? Aku baru tahu bahwa yang berbeda dari mereka adalah warna iris matanya.

Mereka adalah pasukan langit yang ingin menumpas habis makhluk sepertiku.
Bangsaku sudah sejak lama hidup sebelum manusia ada di bumi.
Aku hanya salah satu dari ras bangsaku.

Jovan memimpin teman-teman sebangsanya melawan pasukan langit. Sejenak aku ingat kembali bahwa peristiwa inilah yang terjadi sebelum aku berada di barak pengungsian. Langit mendadak pecah. Berhamburan, tak karuan. Aku berada disana; diantara mereka. Sejak saat itulah, aku dibawa ke barak pengungsian sementara sebelum akhirnya dipindahkan ke sini.

Dari kejauhan, Jovan menghampiriku. Sayap-sayapnya telah dipenuhi dengan bercak darah. Ia terluka parah. Sesaat sebelum ia meraih tanganku, tiba-tiba pedang keemasan terhunus di leherku. Makhluk langit bermata kuning keemasan serupa malaikat mengancamku.

?Hei, aku yang kau inginkan!? Jovan menangkis pedang makhluk itu dengan cepat dari leherku. Leherku sedikit tergores. Aku yang tak berdaya melirik memastikan Jovan dalam kondisi aman. Mereka berdua bertarung sengit, kondisinya yang sangat lemah semakin membuatnya terdesak. Dengan segenap sisa kekuatan yang dimiliki, akhirnya Jovan berhasil membunuhnya. Tanpa diduga, seketika panah api melesat dari langit dan menembus punggungnya. Tidak lama sayapnya lunglai dan ia tak berdaya. Lagi-lagi aku hanya tertegun tak mengerti. Beberapa pasukan langit membawanya pergi dari hadapanku. ?Jovan ?.? Ujarku lirih. Tanpa pikir panjang aku langsung merangkak ke tempat yang lebih tinggi secepat mungkin. Bersamaan dengan itu sebuah ledakan dahsyat terjadi, menyebar ke setiap penjuru dan membumbung ke langit. Langit seolah pecah untuk kesekian kalinya. Aku hanya menunduk lebih dalam. Lemah tak berdaya.

?

*Vendeta:?perselisihan atau dendam kesumat yang terjadi antara dua kelompok secara terus-menerus. (KBBI)