PERTEMUAN KITA (2)

Sanjaya San
Karya Sanjaya San Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 14 Maret 2016
PERTEMUAN KITA (2)

Terimakasih ?

Terimakasih kamu sudah menyempatkan diri bertemu meski harus meninggalkan malammu. Berpeluh ria di teriknya pagi kemarin. Entah mengapa kini aku ingin?hal itu terulang kembali. Tidak hanya dirimu yang kegirangan soal pertemuan kita. Aku pun demikian. Sudah sangat lama aku ingin melihat wajahmu dengan sejelas-jelasnya setelah sekian lama tertutup tabir sinarku. Maaf jika siangku telah menghalangimu untuk berjumpa denganku. Memaksamu untuk mengalah makin lama, lebih lama, dan sangat lama hingga akhirnya Pencipta mengizinkan kita bertemu di jalur yang sama.

Aku tahu, sebenarnya aku menjumpaimu dengan jarak. Aku paham, hanya dengan jaraklah, cinta kita terus abadi dan bersemi. Kita tidak pernah benar-benar bertemu dalam satu jalur seperti yang kamu bilang. Aku menjagamu dari kehancuran. Jika aku mendatangimu lebih dekat lagi, tatanan semesta akan hancur lebur. Hanya demi kamu, aku menjaga jarak ini.

Tak pernah kusangka peluhmu menetes hingga tak terbedakan dengan air mata rindumu yang kamu tahan sejak lama. Semuanya tertumpah saat bayangan kita bersatu di satu titik tercermin di satu bagian tubuh bumi. Ah, pertemuan yang indah nan tak terlupakan. Seketika aku pun berubah melankolis karenamu. Iya, sayang, aku tahu kerinduanmu sangat mendalam. Aku tahu.

Bagiku, tak masalah jika pertemuan kita disaksikan oleh banyak orang. Biarkan mereka melihat kisah cinta kita yang abadi. Biarkan mereka meniru cinta kita yang dipertemukan dengan indah, terpaut oleh jarak asmara. Wajar jika mereka melihat kita karena simpul janji kita tidak akan terulang dalam waktu singkat. Perlu waktu yang sangat panjang untuk membuat simpul janji kembali. Seperti katamu, pertemuan kita tidak dapat dihitung dengan jari. Aku tahu, kamu sungguh malu jika air matamu nampak oleh mereka, bukan. Ayolah, air mata tidak melulu mencerminkan kelemahan. Menangislah jika memang menurutmu tangisan itu adalah emosi yang tepat untuk diluapkan.

Tak perlu kau berharap legenda dan mitos itu kembali dipercaya oleh mereka. Sudah cukup kisah cinta dan pertemuan kita menjadi gambaran bahwa romantisme kita akan selalu ada selama semesta bersama kita.?Aku biarkan siangku gelap karena bayanganmu. Aku biarkan pagiku berubah menjadi sore. Aku biarkan siangku berubah menjadi malam seketika. Aku sungguh biarkan sinarku padam beberapa menit terhalang olehmu. Semuanya demi kamu. Ya, demi pertemuan kita.

Aku pun tak mampu mengungkapkan kata-kata saat pertemuan kita. Aku juga tak mampu mengungkapkan segenap kebahagiaan dan keharuanku saat bertemu denganmu. Aku tahu betul selama ini kita tidak pernah bertemu karena keegoisan dan tugas kita masing-masing. Tapi itu semua dapat kamu lihat dari wajahku. Betapa aku pun memendam rasa rindu yang tak terbendung. Aku memang menginginkan datangnya siang, demi hangatnya mereka yang memerlukanku. Siangku memang mengusir gelap dan dinginnya malammu, tapi ujung siang pun sangat romantis. Disitulah saat-saat dimana aku memeluk anak-anak kita, meniupkan angin-angin pesanmu, dan menampilkan lukisan Pencipta yang tak pernah mampu dibuat satu makhlukpun di semesta ini.

Ya, kemarin adalah pertemuan kita. Di lokasi yang benar-benar kita rindukan. Di lokasi yang benar-benar istimewa. Di jalurku dimana setiap hari kamu menghangatkan dan memberikan sinar kehidupan pada mereka.

Terimakasih sudah susah payah berlari dari gelapnya malammu, menyusulku karena terlampau rindu, dan membiarkan peluhmu membasahi siangku. Satu hal yang perlu kau tahu, tidak hanya dirimu yang menyukai pedihnya kesendirian. Aku pun berharap kita bisa bersama selamanya, sayangnya kebersamaan kita akan merusak tatanan semesta. Dan itu mustahil.

Bagaimanapun saat-saat kita bersama dalam satu waktu, wajahmu tetap tertutup dengan tabirku. Kamu pun tak mampu melihatku dalam teriknya siang, kecuali dengan restuNya, seperti kemarin itu. Aku sungguh benar-benar mengharapkanmu ada di sini bersamaku, menemani siangku. Aku pun ingin menemanimu dan memelukmu dalam dinginnya malammu. Kini, aku benar-benar merindukanmu lagi. Melalui hari seperti biasanya, tanpamu. Sampai jumpa esok hari, dalam waktu yang panjang, bulanku.

*14 Maret 2015