PERTEMUAN KITA

Sanjaya San
Karya Sanjaya San Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 08 Maret 2016
PERTEMUAN KITA

Mengapa harus semuanya mengetahui bahwa kita telah janjian untuk bertemu? Sepenting itukah mereka harus tahu bahwa kita akan bertemu? Bukankah mereka sendiri tidak menginginkan jika pertemuan mereka dilihat banyak orang? Begitupun dengan kita bukan? Aku hanya ingin pertemuan kita sama sekali tidak diketahui sebagaimana dulu saat mereka belum memanfaatkan akal mereka secara maksimal.

Aku heran bagaimana bisa mereka tahu bahwa kita akan bertemu. Padahal aku hanya ingin kita berdua menikmati kebersamaan yang mustahil akan dilakukan. Perlu waktu yang sangat panjang untuk membuat simpul janji kembali. Pertemuan kita tidak dapat dihitung dengan jari. Entah bagaimana mereka mempersiapkan segalanya mulai dari yang serius hingga bersifat hura-hura hanya untuk melihat perjumpaan kita setelah sekian lama kita tidak bertemu di tempat itu. Ya, selama tiga dekade.

Aku hanya ingin menjumpaimu dalam keadaan sepi tanpa ada yang melihat. Aku tidak perlu sorak-sorai mereka, tidak perlu mata mereka. Alangkah bahagianya bila legenda dan mitos itu kembali dipercaya, setidaknya kita bisa menikmati waktu bersama sebelum akhirnya kita berpisah lagi untuk waktu yang sangat lama. Padahal kamu sendiri telah berjanji akan memberikan ancaman yang serius jika mereka tetap bersikeras mengintip ajang pertemuan kita. Sayangnya, mereka lebih cerdik untuk menyaksikan kita.

Aku cemburu. Aku sangat cemburu. Aku merasa sangat terganggu. Bagaimana aku mengungkapkan kata-kata saat pertemuan kita. Bagaimana aku akan mengungkapkan segenap kebahagiaan dan keharuanku saat bertemu denganmu. Aku tahu betul selama ini kita tidak pernah bertemu karena keegoisan dan tugas kita masing-masing. Saat kau menginginkan datangnya siang, aku menginginkan hadirnya malam. Malam yang romantis, bukan siang tanpa gemintang. Kamu bangga dengan kegagahanmu sedang akupun hanya diam berselimutkan sepi dalam nyenyaknya tidur mereka tanpa peduli.

Akulah sang bulan yang berhati lembut, yang selalu sendiri setiap malam menantikanmu hingga fajar. Sayangnya aku tak mampu membersamaimu.?Sinar lembutku akan kalah dengan sinar gagahmu. Membuatku semakin mengalah dan hanya menginginkan malam sebagai sebuah penantian atas pertemuan kita. Izinkan aku sejenak meredupkan sinarmu demi membuncahkan rasa rindu.

Ya, esok adalah pertemuan kita. Di lokasi yang benar-benar kita rindukan. Di lokasi yang benar-benar istimewa. Di jalurmu dimana setiap hari kamu menghangatkan dan memberikan sinar kehidupan pada mereka. Aku yang dengan susah payah berlari dari gelapnya malamku, menyusulmu karena terlampau rindu, dan membiarkan peluhku membasahi siangmu. Dengan restuNya, aku dijanjikan dapat bertemu denganmu di jalurmu. Esok hari, ya esok hari, tepat saat kamu baru muncul dari ruang peraduanmu, saat terbangun dari selimut-selimut awan yang hangat setelah melewati malam-malam yang dingin. Sampai jumpa esok hari, matahariku. See you tomorrow.

*9 Maret 2016

  • view 182