Aku Menerimamu

Sanjaya San
Karya Sanjaya San Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 07 Maret 2016
Aku Menerimamu

Kamu ingat bagaimana dulu saat kita tidak pernah tahu hingga akhirnya bisa menjalaninya bersama selama kurang lebih 2 tahun?
Mungkin kamu telah lupa. Bagaimana tidak, kamu memang selalu melupakan hal-hal yang menurutku penting padahal kamu selalu menyatakan bahwa dirimu adalah lelaki yang peka dan detil. Aku tak lupa bahwa aku sendiri pernah memujimu atas ketelitianmu yang luar biasa. Tapi sekarang entah mengapa jauh dari itu. Apa mungkin kamu telah memiliki aku sehingga harus melupakan sifat 'maha detail'mu itu. Astaga atau jangan-jangan inikah sifat aslimu dan ketelitianmu kala itu hanyalah sebuah jampi-jampi agar aku terpikat padamu. Ah, sudahlah.

Aku tak pernah benar-benar mengerti bagaimana bisa kamu memilihku untuk menjadi pendampingmu. Dulu sudah kutegaskan bahwa aku bukanlah seseorang?yang kamu inginkan. Tapi segera kamu jawab bahwa akulah yang kamu butuhkan. Bayangkan saja, wanita mana yang tidak besar kepala mendengar ucapan itu. Entah, bagaimana aku tidak menyangkanya sebagai ucapan 'modus'. Kamu nampak serius sekali saat itu. Tanpa gurat canda di dahi dan pipimu. Wajahmu begitu tegang dan menatapku tajam. Kamu benar-benar meminangku saat itu di hadapan keluarga kita. Dalam prosesi silaturahmi yang santai itu bagaimana bisa kita begitu bebas mengungkapkan perasaan kita seperti ruang keluarga itu hanya ada kita berdua.

Kita memang sudah kenal dekat sebelumnya. Sampai kamu mengutarakan bahwa kamu ingin datang ke hadapan orang tuaku, aku sendiri masih memiliki kekasih saat itu. Jujur aku tidak mengutarakannya saat itu. Aku ragu dalam beberapa hari sebelum mengiyakannya. Ya, aku memastikan pula apakah kekasihku itu hendak melamarku juga atau tidak. Sedangkan saat itu pula, aku tegaskan bahwa aku butuh seseorang yang berkomitmen untuk hidup bersama dalam bingkai rumah tangga yang serius bukan sekadar pacaran. Entah bagaimana takdir menentukanmu untuk menjadi jodohku.

Aku memang bukan seperti kamu; tidak punya kekasih walau satu wanita pun. Saat kutanya apakah benar hatimu tak pernah terpaut kepada seseorang. Kamu hanya menjawab, hanya ibumulah satu-satunya wanita yang kamu cintai selama ini. Kamu pun dengan jujur menyatakan bahwa rasa suka terhadap seorang wanita memang pernah ada tapi tidak sampai diutarakan apalagi menjalin hubungan. Setidaknya akumulasi rasa sukamu terhadap seorang wanita hingga akhirnya terkumpul dan tertuju padaku. Hingga aku menerima jutaan bantal berbentuk hati dari ruang hatimu. Begitu katamu. So sweet ya??Entahlah, hatiku telah terbang ke langit berapa saat aku mendengarnya.

Aku pun masih ingat saat kamu membuatkanku sepiring omelet dan nasi goreng. Hingga saat ini aku ketagihan akan rasanya. Dan beruntungnya, kamu bersedia untuk membuatkanku nasi goreng di pagi hari sebelum kamu berangkat kerja. Entah mengapa aku tak pernah lulus untuk membuat nasi goreng dan omelet seenak buatanmu meskipun berkali-kali aku kursus secara eksklusif padamu.
Sudah kukatakan bahwa aku seorang wanita yang 'bebal' soal memasak. Tapi berkat kesabaranmu, paling tidak aku bisa menanak nasi sesuai dengan takaran yang pas, sehingga tidak terlalu keras dan tidak terlalu lembek. Selain itu aku telah lulus memasak oseng-oseng kesukaanmu dan kaubilang rasanya persis seperti buatanmu. Enak.?Setiap mamamu ke rumah kita, aku selalu bersiap untuk belajar segudang resep darinya meski belum ada satupun yang berhasil.

Dulu pernah sekali waktu aku menyaksikanmu memasak, menyetrika, dan menonton badminton di televisi sekaligus. Astaga, kemampuan multitaskingmu memang tiada duanya. Aku tak pernah benar-benar bisa melakukan hal itu. Aku selalu membutuhkan ekstra fokus dalam satu pekerjaan. Satu pekerjaan rumah saja bisa tidak beres apalagi harus multitasking.?Sekali waktu kamu pernah bangun lebih dulu daripada aku. Aku kesiangan. Kejamnya, kamu sama sekali tidak membangunkanku. Aku bangun saat kamu sedang sarapan sendirian. Wajahku yang lecek bagai jemuran tak diangkat 3 hari, langsung dihiasi rasa bersalah. Kamu malah mengajakku untuk sarapan. Tersenyum-senyum menyambutku dan menyatakan bahwa kamu sudah menyediakan masakan kesukaanku; omelet dan nasi goreng. Aku melihat sekitar, rumah sudah bersih, tak ada cucian piring dan baju, dan kamu pun telah memasak sarapan hingga sudah siap berangkat ke kantor. Astaga, manusia robot macam apa kamu ini. Aku takjub sekaligus malu kepadamu.

Suatu malam setelah peristiwa itu, aku membangunkanmu. Kita melaksanakan ritual sepertiga malam seperti biasa. Setelah sesi doa selesai, aku memberanikan diri untuk berbicara. Menanyakan beberapa hal kepadamu yang mungkin sedikit mengganggumu atau bahkan menguras emosiku. Aku tanyakan mengapa kamu memilih diriku, seorang wanita yang aku sendiri menganggap bahwa aku tidak berguna sama sekali. Aku belum pernah sekalipun menjalani peran sebagai istri yang baik bagimu. Terkadang aku 'menyesal' mengapa aku menerimamu sebagai pendamping hidupmu padahal masih banyak wanita lain yang lebih pantas untukmu. Sebelum aku melanjutkan seluruh perkataanku yang aku sendiri sudah tak sanggup menyatakannya kecuali yang keluar hanyalah tangisan tergugu, tiba-tiba kamu memelukku dengan penuh kehangatan. Kamu hanya diam tanpa berkata-kata. Aku tak mampu berkata-kata apapun selain membasahi baju kokomu dengan air mata.
Kamu memberanikan diri untuk berbicara pada akhirnya.


"Kamu masih mau cerita? Ungkapkanlah jika memang itu mampu melegakan hatimu."


Disitulah aku mendapat jawaban bahwa kamu memang benar-benar peka. Kamu menyediakan bahu dan dadamu untuk bersandar saat aku penuh dengan air mata emosi. Kamu memberiku kesempatan untuk bicara, meluapkan segalanya sebelum kamu sendiri menanggapinya.
Aku semakin terharu. Tak lama kemudian aku pun menggeleng.
Kamu mulai bercerita,

"Bagaimanapun dirimu, aku yang memilihmu, aku yang membutuhkanmu, sekalipun mungkin kamu tidak terlalu membutuhkanku. Sekalipun aku ingin sekali ada seorang wanita yang mendampingiku saat ini, mampu menggantikanku sebagai juru masak sehingga aku bisa sekadar menikmati masakan enaknya setiap hari. Sekalipun aku ingin sekali memiliki seorang pendamping wanita yang mampu mengerjakan seluruh pekerjaan rumah tangga dengan sempurna, sehingga aku tak perlu melakukannya dan cukup dengan lelahnya bekerja di kantorku saja. Pulang ke rumah langsung dilayani bak raja.
Sekalipun aku ingin memiliki seorang pendamping wanita yang sempurna dan segala macam yang kamu bilang tidak ada dalam dirimu, aku tetap memilihmu. Bagaimanapun, aku membutuhkanmu. Soal yang kamu khawatirkan, kamu bisa belajar. Apa yang aku lakukan selama ini, bukan berarti aku mengambil alih pekerjaanmu melainkan aku ingin kamu menirunya, mencontohnya, dan memelajarinya. Bagaimanapun kamu, aku tidak mengharapkan kamu seorang wanita yang maha sempurna. Takkan ada wanita jenis itu di dunia ini. Kelak kuharap kamu bisa lebih belajar dan menghargai bahwa dirimu sangat berarti untukku. Siapakah selama ini yang membuat hatiku senantiasa riang gembira, tanpa mengeluh sekalipun aku harus membantu pekerjaanmu yang seharusnya tugasmu sepenuhnya? Siapakah suara merdu yang senantiasa membuat hatiku berbunga-bunga setiap hari?
Kebaikan yang kulakukan biarlah Allah yang menilai. Aku ridha kepadamu, aku ridha atas apa yang aku lakukan meski harus membantu tugasmu di rumah. Aku merasa senang untuk melakukannya karena selain membuatmu bahagia, itulah yang diajarkan Nabi. Wajar jika aku membantu pekerjaanmu saat kamu memang tidak mampu. Kamu tidak perlu berkecil hati dan menilai dirimu tak ada apa-apanya buatku. Kamu sangat berarti bagiku. Aku tahu kamu mampu jika kamu mau belajar. Aku tahu kamu ingin sekali menjadi seorang istri yang baik. Lakukanlah, sayangku. Lakukanlah, semampu yang kamu bisa. I love you."


Astaga, malaikat macam apa kamu ini. Serta merta kamu mencium keningku malam itu, seketika hatiku tersentuh dan terharu.
I love you too.

  • view 217