SURAT

Sanjaya San
Karya Sanjaya San Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 23 Februari 2016
SURAT

Malam ini di belahan bumi yang sama di sudut daratan yang berbeda, aku tengah mengenang betapa bodohnya aku. Bagaimanapun aku telah terlampau lama menjadi bagian dari ruang hatimu. Aku selalu memenuhi panggilanmu untuk mampir barang sejenak. Seringnya kamu menahanku untuk tetap singgah lebih lama. Aku selalu menyempatkan datang ke ruang hatimu setiap kali aku merasa bahwa aku butuh teman, butuh pelarian, dan butuh kenyamanan.

Kedatanganmu membuatku makin merasa nyaman. Setiap kali aku singgah di ruang hatimu, aku merasa dipenuhi dengan kebaikan dan ketulusan. Entah bagaimana ceritanya, jika aku berkenan untuk mengutarakan apa yang belum pernah kuutarakan, sebenarnya akupun pernah berusaha untuk menumbuhkan rasa cinta itu. Awalnya memang sekadar rasa kagum kemudian saat kamu berusaha mengkomunikasikan apa yang kamu rasakan meski bukan dengan tiga kata-melainkan dengan banyak kata- aku menutup rapat-rapat telinga hatiku. Sebagaimana kamu tahu, aku memiliki masa lalu yang buruk soal ini. Sampai saat ini akupun masih merasakan trauma.
Aku tahu dari sorot matamu, kamu selalu mengharapkan aku untuk singgah lebih lama dan lebih lagi. Bahkan berharap aku menetap selamanya disana. Sayangnya aku tak pernah bermaksud untuk melakukannya. Aku tak pernah mau menjadikanmu sebagai seseorang yang spesial untuk ruang hatiku. Aku mengenalmu dengan cara yang baik dan elegan, sebagaimana yang kamu harapkan. Kamu mendapatiku dalam keadaan yang tidak benar-benar baik.

Jika kamu perkenankan diriku untuk menceritakannya, sesungguhnya aku yang benar-benar memanfaatkanmu. Maaf, aku terlalu memandangmu sebagai barang. Aku terlalu memandangmu sebagai tempat pelarian. Aku terlalu menganggapmu sebagai sahabat dunia hiburan. Aku terlalu menjadikanmu sebagai tempat pelampiasan dan keluh kesahku. Masih banyak lagi cerita yang baru kusadari akhir-akhir ini aku salah menyikapimu. Ya, aku terlalu kurang ajar terhadap dirimu.

Aku tahu, berulang kali kamu menelurkan nasihat-nasihat terbaik untukku. Aku tahu untuk apa kamu melakukannya. Kamu sangat ingin aku menjadi apa yang terbaik di mata kamu. Itu sangat kurasakan betul dan aku patut mengucapkan terimakasih. Segala nasihat dan pelajaranmu selama ini kerap kuabaikan tapi ternyata semua itu terlalu berharga untukku saat ini. Aku benar-benar merasakannya. Bayangkan jika aku tidak pernah bertemu denganmu, mungkin aku tidak akan mampu menghadapi semuanya. Kuakui aku yang terlalu menganggap remeh semua nasihat dan pelajaranmu. Aku terlalu keras kepala. Seperti katamu, aku baru akan merasakan akibat dari keras kepalaku jika sudah terbukti kesekian kali dan melalui nasihat yang sama kesekian kali oleh orang lain. Ya, nyatanya memang selalu begitu. Aku selalu mengingkari apa yang keluar dari mulutmu, nyaris kubuang tapi entah mengapa malah tertanam di otak-hanya saja aku tidak pernah menurutinya.

Di malam yang dingin pasca hujan semenit yang lalu, aku hanya ingin menyampaikan terimakasih dan beberapa untai kata maaf. Sebagian telah tersirat sebelumnya. Jika kamu berkenan, aku ingin berterima kasih atas segala nasihat dan pelajaran yang selama ini kamu berikan. Semuanya sangat bermanfaat bagiku meski aku terlambat menyadarinya. Terimakasih atas segala kesabaranmu menghadapi segala kegalauanku, kesedihanku, ke-alay-anku, dan kecerewetanku. Aku tidak habis pikir bagaimana bisa ada seorang pria yang tabah bersama seorang wanita sepertiku. Perlu kamu tahu, itulah sebabnya mengapa aku merasa nyaman terhadapmu.

Terimakasih atas segala waktu dan uangmu yang terbuang hanya karena kamu merelakan diri untuk sekadar mendengarkan apa yang kuceritakan dan keinginanku untuk makan sesuatu. Terimakasih sudah tebal telinga mendengarkan segala curhatan hubunganku dengan setiap pria yang aku pacari. Aku tahu, kamu pasti sakit hati. Aku tahu, kamu pasti tidak berkenan tetapi nyatanya kamu bersedia dengan sabar mendengarkan semua keluh kesahku. Terimakasih sudah memberiku pundak untuk kubasahi dengan air mata sekalipun kamu sendiri kadang menghindar dan tidak berkenan untuk memelukku. Aku tahu kamu takut melanggar ajaran agama kita. Sayangnya aku baru paham saat ini, mengapa seorang pria dan wanita dilarang bersentuhan apalagi berduaan tanpa dibarengi mahramnya.

Terimakasih sudah turut berjuang bersamaku menghadapi kuliah yang membosankan. Terimakasih sudah bersedia menjadi tutor sebayaku. Aku tak tahu bagaimana jadinya kuliahku tanpa kehadiranmu yang sanggup melonjakkan nilai-nilai mata kuliahku secara signifikan. Hanya kamu yang berada di sampingku saat aku galau dalam menyusun skripsi. Hanya kamu yang mau bersusah payah untuk membantuku saat semua tekanan menuju kelulusan menghunjamku. Kamulah yang membuatku selalu positif dan berani menghadapi tantangan walau sendirian. Dan terimakasih lainnya yang tak terhingga banyaknya karena kebaikanmu padaku terlalu banyak sehingga aku sendiri tak mampu menyebutkannya satu persatu.

Selain terimakasih, perkenankanlah aku meminta beberapa maaf atas segala kesalahan yang kulakukan selama ini. Maafkan aku yang selama ini terlalu keras kepala. Aku tahu maksudmu baik tapi entah mengapa saat itu ucapan seorang pria sepertimu kuanggap tak berguna dibandingkan dengan ucapan kekasihku. Maafkan aku telah menutup rapat-rapat pintu hatiku untukmu saat itu. Aku tahu, kau ingin sekali mengutarakan tiga kata itu tapi kamu bermaksud mengucapkannya tepat saat kamu ingin melamarku. Sayangnya saat itu kuhapuskan lebih dulu niatmu itu. Maafkan aku terlampau menjadikanmu tempat sampah, pelarian, keluh kesah, dan air mataku. Aku terlalu egois, aku terlalu ingin dipahami olehmu sedangkan aku sendiri tidak berminat memahami dirimu. Maafkan aku jika selama ini menjadikanmu sebagai pendongkrak kesuksesanku. Disadari olehmu atau tidak, kamulah panutanku. Kamu perlu tahu, kamulah satu-satunya orang yang peduli dengan dunia akademisku. Entah mengapa semangat itu muncul setiap ada kamu. Untuk itulah, aku selalu perlu kamu dalam kegiatan akademisku meski orientasiku adalah untuk segera pergi sebebas-bebasnya, secepat-cepatnya lulus kuliah dan keluar kampus. Ya, aku akui aku selalu menguntitmu karena diam-diam aku pun kagum dengan segala kepandaianmu. Kamu benar, aku yang diam-diam mengganti mata kuliah KRSku dengan mata kuliah yang sama denganmu. Kamu benar, aku yang sengaja memilih dosen pembimbing skripsi yang sama denganmu. Semua itu kulakukan agar aku selalu bisa belajar dan dekat denganmu. Aku pincang di dunia akademik tanpamu. Ya, aku saja yang tidak mengakuinya, gengsi.

Oya, sudah kumaafkan atas kejahilanmu saat kamu menyatakan bahwa kamu menyebutkan namaku secara spesial di lembar ucapan terimakasih dalam skripsimu. Kemudian aku terharu dan berniat untuk melakukan hal yang sama. Padahal itu hanya tipuanmu saja agar namamu ditulis dalam lembar terimakasih skripsiku. Seolah kamu menjadi orang yang berharga dalam hidupku. Tapi kenyataannya memang demikian. Ya, kuakui itu. Aku tahu, sebenarnya kamu tidak pernah benar-benar menuliskan namaku di lembar terimkasih skripsimu. Itu semua kamu lakukan agar kamu tidak sepenuhnya berharap padaku padahal rasa cinta telah kamu tumbuhkan susah payah untukku. Harus kuakui pula, bahwa akupun demikian hanya saja aku terlalu gengsi untuk mengakuinya.

Maafkan aku selalu termakan pada cinta butaku terhadap yang lain. Kamu tahu betul berapa jejeran mantanku sekaligus kisah di baliknya. Jika kamu mau tahu kondisiku saat ini, aku benar-benar merasa terpuruk. Aku terlanjur memilih dia yang sebenarnya telah kamu wanti-wanti bakal tidak beres. Banyak orang pun telah menyangsikan pernikahanku ini. Selama 5 tahun pernikahan aku merasa tidak seperti yang kuharapkan saat aku bersamanya dulu sewaktu masih pacaran. Ya, aku yang salah. Aku terlalu buta untuk memilihnya. Bagaimana mungkin aku bisa memilihnya sampai-sampai aku terlalu defensif terhadap siapapun yang menyinggung keburukannya padahal saat itu aku belum menjadi istrinya. Ya, aku tahu, setelah kusadari memang benar, aku tidak benar-benar menikahinya tetapi aku menikahi passion dan keahliannya. Aku benar-benar tidak merasa memilikinya sebagaimana aku miliki sewaktu pacaran.
Aku kagum dengan caranya bermain piano untukku, aku kagum caranya menyanyikan lagu dan puisi untukku. Aku menikahi itu, bukan dia. Ya, aku terlalu buta.

Sejak konser akbar yang ia gelar dua bulan yang lalu, ia tak pernah kembali bersamaku. Aku yang kini sendirian di bawah malam dingin pasca hujan, sudah tiga bahkan sampai empat kali didatangi wanita yang mengaku hamil dan menuntut tanggung jawabnya. Entah dimana keberadaannya pun aku sama sekali tak tahu. Keluarganya benar-benar menyalahkanku atas semua ini tanpa alasan yang jelas. Sejak kematian papa setahun yang lalu, aku merasa sendirian tanpa ruang hati yang bisa kusinggahi sebagaimana ruang hatimu. Aku benar-benar tak tahu harus bagaimana sedangkan aku sendiri hingga detik ini tidak mengerti harus bagaimana selain berkata-kata dengan angin yang kuharapkan dapat tersampaikan padamu dimanapun kamu berada.

Aku tahu, aku salah jika cerita soal ini. Aku ingat pesanmu bahwa bagaimanapun kondisi rumah tangga, tidak dibenarkan untuk diceritakan kepada siapapun. Kepada orang tua saja tidak boleh apalagi kepadamu. Kau bilang bahwa apapun yang terjadi diskusikanlah dengan baik bersama pasangan. Tapi sudah kubilang bukan, saat ini aku hanya berbincang dengan angin yang entah apakah ia akan menyampaikannya sebagaimana merpati pos mengantar surat-surat. Entahlah. Aku tahu bahwa jika cerita ini kuutarakan langsung padamu, maka secara otomatis aku melanggar ajaran agama kita dan menyulutkan api dalam rumah tanggamu. Aku tidak mau itu terjadi. Aku tahu kamu telah bahagia di rumahmu yang besar-yang kamu siapkan sejak lama dan sengaja kamu desain sendiri-bersama seorang wanita yang sangat cantik dan anak sulung yang tampan. Ya, kuakui kamu memang tampan dan gagah. Maaf jika aku tidak pernah mau mengakuinya sejak dulu, kecuali dalam hati. Kamu beruntung dan istrimu pun beruntung, kalian sama-sama mendapatkan kesucian. Tidak sepertiku yang memilih jalan jodoh lewat pacaran sebelum nikah. Dan maafkan aku jika dulu aku sering singgah di hatimu, setidaknya itu membuat kadar kesucianmu mungkin tidak sebening ruang hati istrimu. Entahlah, urusan hati hanya Allah yang tahu, bukan?

"Bagaimanapun semuanya telah terlambat termasuk untuk kembali mengisi ruang hatimu, aku pupuskan itu sejauh mungkin sekalipun aku ingin. Ya, aku salah memilih dan terlalu mengabaikanmu."

Sejatinya aku benar-benar iri denganmu. Dalam kondisi yang seperti ini, aku sempat berpikir, mengapa dulu aku tidak menerimamu sebagai pria yang menduduki ruang hatiku. Aku sudah tahu betul tentang dirimu. Begitupun dirimu sudah paham betul tentang diriku. Sayangnya, inilah pilihanku, seorang pria yang kunikahi bukan karena kebaikan agamanya melainkan kesamaan passionnya denganku dan segala keahliannya yang sebidang denganku. Hanya itu, sisanya kulupakan sudah. Cinta buta. Aku terlampau silau dengan pasangan musisi itu sehingga ingin mengikuti jejaknya. Itu saja. Alhasil beginilah kehidupanku sekarang. Kuharap kamu telah benar-benar melupakanku dan memupuskan cintaku di ruang hatimu sebagaimana aku yang kini bersusah payah menghapuskan rasa sesal bahwa tidak memilihmu sebagai imam yang tepat bagiku. Maafkan aku jika aku salah menilaimu. Maafkan aku jika aku tak pernah menghiraukanmu.
Terimakasih untuk semuanya.

  • view 139