Maafkan Jika Aku Salah … (2)

Sanjaya San
Karya Sanjaya San Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 22 Februari 2016
Maafkan Jika Aku Salah … (2)

Di hadapanmu, di bawah naungan ketulusan cintamu malam ini, ada yang ingin kusampaikan padamu sebagaimana kamu telah menyampaikan dengan sejujur-jujurnya tentang dirimu. Entah satu dua hal yang selama ini juga sempat kukeluhkan sebelumnya. Sebuah keluh kesah yang tak pernah kuungkapkan. Aku merelakannya dalam diam. Diam seribu bahasa. Kutakut bahwa aku tidak mendapatkan keridhoanmu karena segala kekecewaanku. Awalnya aku berharap kamu bisa mengerti bahasa diamku dengan cepat. Sempat aku mengira bahwa dirimu sama sekali tidak peduli terhadapku karena ruang hatimu saja seberantakan itu saat aku datang.

Sebagaimana yang telah kukatakan bahwa sisi melankolis romantismu melengkapi logikamu. Sekalipun dirimu tidak mampu menangkap bahasa diamku dengan cepat, pada akhirnya kamu menyadari sepenuhnya bahwa ada sesuatu yang perlu kamu klarifikasi atas apa yang aku diamkan. Jangan tanya bagaimana kekecewaanku saat aku datang di ruang hatimu. Tapi sekali lagi aku memilih diam. Bagiku ini adalah tugasku untuk mendapatkan keridhoanmu. Aku datang dengan manfaat. Bisa dibayangkan bukan jika aku terlambat datang, ruang hatimu akan berbentuk seperti apa. Bagiku tak masalah jika sekadar merapikan ruang hatimu yang berantakan itu. Bukankah kamu menjadi semakin bahagia? Aku tahu sekalipun kamu merasa bersalah atas semua tingkahku di dalam ruang hatimu.

Di bawah kerlipan gemintang malam ini, akupun sangat terkejut saat kamu gugup menyentuh tanganku untuk pertama kalinya di pelaminan itu. Kamu mengakui bahwa akulah wanita di luar keluargamu yang kamu sentuh tangannya pertama kali. Seketika itu pula aku merasa menjadi wanita paling beruntung sedunia. Bagiku peristiwa ini bukan memalukan, Sayang. Aku merasa benar-benar berharga menjadi pendampingmu sekalipun ruang hatimu tengah berantakan tak karuan.

Di malam yang hanya ada kita berdua di atas ini, berhadapan dalam nuansa makan malam istimewa, aku ingin mengutarakan sesuatu yang mungkin selama ini tidak pernah kuutarakan. Entah akan menyakitimu atau malah menyanjungmu tinggi-tinggi. Kusarankan kamu dapat mempersiapkan diri bahwa inilah masa laluku yang tidak selayaknya kusembunyikan terlalu lama darimu.

Kau perlu tahu sesuatu, Sayangku. Dulu, dalam masa pencarianmu, aku belum pernah mengizinkan seorang pria pun singgah di dalam hatiku. Aku begitu tertutup terutama hatiku. Aku benar-benar tak mengizinkan cinta sembarangan tumbuh hingga menunaskan harapan. Aku khawatir menngecewakan jodohku; yang tanpa kutahu ternyata dirimu. Sebagaimana aku, sudah sepatutnya kamu menjadi seorang pria beruntung sedunia. Kuulangi, ya, kamu adalah pria beruntung sedunia. Kamu beruntung mendapatiku dalam keadaan terjaga. Jujur saja, aku tidak pernah mengharapkan bahwa perbaikan diri melalui kebaikan-kebaikan yang kulakukan hanya semata untuk mendapatkan jodoh terbaik seperti kamu. Aku memperbaiki dan menjaga diriku hanya untuk Allah semata. Dalam setiap doaku, aku memohon bahwa aku ingin sekali mendapatkan jodoh yang benar-benar sama terjaganya denganku. Sama-sama merasakan sulitnya menjaga diri dan hati sebelum jodoh benar-benar dijemput.

Aku sama sekali tidak peduli kalau ternyata ruang hatimu pernah disinggahi seseorang sekalipun kamu tidak pernah menjalin cinta dengannya. Aku tahu betul kamu tidak mengenal yang namanya pacaran sebelum nikah. Yang namanya menumbuhkan cinta baik sengaja atau tidak itu adalah sesuatu yang fitrah. Mungkin kamu memiliki kebebasan lebih daripada diriku. Aku lebih memilih untuk benar-benar menjaga diri dan hati ini hanya untuk kamu, jodohku. Semoga Allah mengizinkan kita bersama hingga pangkuanNya. Aku tak pernah peduli bagaimanapun masa lalumu karena setiap orang pasti memilikinya. Aku pun memiliki masa lalu yang pasti berbeda denganmu. Aku pun bukan wanita yang sepenuhnya bersih dari dosa. Pernah sekali waktu aku merasakan bagaimana rasa suka terhadap seorang pria namun aku segera menutup pintu hatiku rapat-rapat sebelum ia mampir dan membuatku uring-uringan sepanjang malam mengingat wajahnya. Aku memilih untuk menjauh darinya dan mengurangi interaksi dengannya, memperbanyak amalanku kepadaNya, dan kembali untuk mencurahkan keluh kesahku padaNya. Nyatanya ia pun tak pernah kunjung datang untuk melamarku, sejak itulah aku mantap untuk meyakini bahwa dia bukanlah jodohku. Apalagi setelah ia memiliki kekasih yang kunilai lebih cantik daripada diriku.

Jika kejujuran itu adalah sesuatu yang sangat pahit untuk diungkapkan, maka inilah yang akan aku lakukan sekarang. Maafkan aku, jika saat aku hadir di ruang hatimu, aku memilih keluh kesah yang kusimpan dalam hati. Maafkan aku jika kedatanganku malah membuatmu uring-uringan karena rasa bersalahmu. Tak apa, biarkan aku membersihkan ruang hatimu. Biarkan itu menjadi ladang kebaikan dan kebaktianku kepadamu.

Aku takkan mungkin mengelak bahwa aku pun sering merasakan hal-hal yang tidak berkenan dalam ruang hatimu. ?Yang perlu kulakukan saat ini adalah aku harus mengakuinya. Kamu jangan terlalu berlebihan memujiku sebagai wanita dengan ruang hati paling bersih sedunia. Tidak, tidak sama sekali. Aku masih merasa ruang hatiku belum sempurna untuk kamu tinggali tetapi setidaknya layak untuk sekadar berbaring. Aku yang seharusnya berterimakasih, ruang hatiku adalah sebagaimana ruang hati wanita lain yang begitu rapuh namun sejak kedatanganmu, kamu memperkuatnya dengan cinta dan kasihmu. Rasa sayangmu menghiasinya menjadi lebih indah. Aku yakin kamu lebih memilih menghiasi ruang hatiku dibandingkan ruang hatimu sebagaimana para pria abai terhadap kerapian ruangannya sendiri.

Maaf jika aku mengakuinya setelah 2 tahun pernikahan kita. Sebenarnya aku pun tidak ingin ini diungkapkan, sayangnya kamu memantikku. Aku merasa sangat bahagia, kamu tahu betul bahwa ada sesuatu yang harus aku katakana padamu sejujur-jujurnya. Terimakasih, Sayang. Yang jelas kamu salah jika menilaiku sepenuhnya bahwa aku tidak pernah benar-benar menerima ruang hatimu. Jika aku tidak menerimanya, tidak mungkin aku menerimamu untuk datang ke ruang hatiku.

Aku juga tidak pernah benar-benar menyangka bahwa kamulah orang yang benar-benar mau tinggal di hatiku-yang aku merasa masih sangat lugu. Aku juga begitu terharu saat kamu benar-benar mau menerimanya. Terimakasih kamu telah mau mencintai aku apa adanya segenap yang kamu punya. Awalnya banyak pergolakan batin yang kualami sebelum khitbahmu kujawab. Entah mengapa ada sesuatu yang membuatku untuk menerimamu. Kuanggap inilah jawaban suci dariNya.

Aku ingat betul saat kau berbisik di pelaminan soal segala kekuranganmu, jumlah kekayaanmu, wujud fisikmu, dan pekerjaanmu. Aku terharu ternyata kamu masih ingat betul kata-kataku saat di pelaminan itu.

Ya, Aku menikahimu karena agamamu, kebaikanmu, dan kuyakin kamulah seseorang yang mampu menjadi imamku. Bagiku, kamu adalah pria yang tampan. Pekerjaanmu di masa lalu tak perlu kamu hiraukan anggaplah itu bagian dari perjuangan hidupmu. Jika kamu tidak pernah merasakan kesulitan, kamu tidak akan pernah merasakan bagaimana manisnya kemudahan. Keduanya datang bersamaan, Sayang. Aku hanya mengharapkan keridhoanmu sepenuhnya. Aku begitu kagum dengan kekayaan hatimu. Itu yang lebih penting dan berharga bagiku.

Aku tidak akan pernah meralat pernyataanmu itu sama sekali karena kuyakin kamulah imam dan suami yang mampu membukakan pintu surga untukku, untuk kita, dan untuk keluarga kita. Biarkan masa lalu untuk menjadi kenangan yang dapat diziarahi sebagai pelajaran kehidupan kita menggapai masa depan. Kamu tidak perlu menghakimi dirimu atau bahkan merasa bodoh.

Jika kamu berkenan, maafkanlah aku jika aku salah dalam melayanimu. Maafkan jika aku salah memahamimu. Maafkan jika aku salah ?

  • view 421