Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Kisah Inspiratif 22 Februari 2016   17:04 WIB
Maafkan Jika Aku Salah …

Di bawah bintang-bintang malam ini, ada yang ingin kusampaikan padamu. Entah satu dua hal yang selama ini masih menggantung dan menghantui diriku. Entah satu atau dua kesalahan yang terlalu lama kulakukan sebelum akhirnya menemukanmu; satu-satunya seseorang yang mampu menggenapkan kekosongan hatiku. Mungkin terkesan sangat melankolis, tetapi inilah aku, Sayang. Aku yang selalu kau rindukan sisi melankolisnya. Aku ingat betul, bagaimana kau memujiku saat pertama kali kusentuh tanganmu di atas pelaminan itu; sisi melankolis romantisku mengimbangi logikaku sebagai seorang pria.

Di malam yang anginnya tertiup perlahan ini, aku ingin mengutarakan sesuatu yang mungkin selama ini tidak pernah diutarakan. Entah akan menyakitimu atau malah menyanjungmu tinggi-tinggi. Kusarankan kamu dapat mempersiapkan diri bahwa inilah masa laluku yang tidak selayaknya kusembunyikan terlalu lama darimu.

Kau perlu tahu sesuatu, Sayangku. Dulu, dalam masa pencarianmu, aku telah menemukan seorang wanita yang entah mengapa aku terlalu terburu-buru menetapkannya sebagai pengisi ruang hatiku. Ku mengira dialah orang yang benar-benar mampu mengerti keadaanku, kondisiku, dan apa yang ada padaku. Hubungan kami terlalu buruk untuk diceritakan tapi setidaknya jelas sangat terlarang. Aku tahu, bahwa hubungan antara lawan jenis yang belum mahram itu sama sekali tidak diizinkan dalam agama kita. Sekalipun aku tidak merenggut kesuciannya, selama ini aku membersamainya seolah aku adalah seseorang yang dia miliki. Entah dengan rasa suka ataupun duka. Celakanya diapun telah nyaman berada denganku.

Jika kejujuran itu adalah sesuatu yang sangat pahit untuk diungkapkan, maka inilah yang akan aku lakukan sekarang. Aku terlampau asyik dengan dirinya sekalipun tak ada kata ?kekasih?. Jujur saja, di ruang hatiku yang kosong entah mengapa aku selalu berupaya menghadirkan dirinya. Ya, ruang hatiku terlampau disinggahi olehnya sebelum dirimu hadir untuk benar-benar mengisinya.

Maafkan aku, jika saat kau hadir di ruang hatiku, kau dapatinya dalam keadaan sangat berantakan dan tak serapi dulu saat aku benar-benar belum mengenal seorang wanita. Maafkan aku, jika ruang hati yang telah kusiapkan ternyata benar-benar bukan untukmu seorang. Ruang hatiku mungkin masih suci sebagaimana dirinya yang pernah singgah tetapi di dalamnya pasti membekas; entah itu duduknya, tidurnya, atau aroma tubuhnya. Maafkan aku yang tidak mampu menyediakan ruang hati yang benar-benar bersih untukmu, Sayangku.

Aku takkan mungkin mengelak kesalahan yang kuperbuat itu. Yang perlu kulakukan saat ini adalah aku harus mengakuinya. Aku bukanlah pria dengan ruang hati paling bersih sedunia sebagaimana kamu, sebagaimana harapanmu. Maaf jika aku mengakuinya setelah 2 tahun pernikahan kita berjalan dengan lengkap; bukan sempurna, karena kesempurnaan adalah keniscayaan yang hanya diberikan oleh Sang Pencipta secara langsung bukan berdasarkan penilaian kita.

Maafkan aku jika aku sempat menumbuhkan benih-benih cinta untuknya, seseorang yang ternyata hanya sekadar singgah bukan untuk menetap. Aku merasa malu dan serba salah saat kamu hadir saat ruang hatiku benar-benar berantakan dan tidak bersih. Maafkan aku jika seolah-olah aku menyuruhmu untuk membersihkannya, merapikannya, dan menghiasnya khusus untuk dirimu sendiri. Maaf, seharusnya aku yang melakukan itu semua bukan kamu. Saat kamu datang harusnya kamu tinggal menikmati keindahannya, duduk dalam rasa nyaman, dan tidur dalam penuh perlindungan. Sayangnya, itu semua tidak terjadi. Entah apakah itu yang kau kira atau bagaimana. Setidaknya itu yang aku rasakan, Sayang. Lelaki di hadapanmu ini terlampau mengikuti hawa nafsunya, terburu-buru dalam menggapai jodoh yang belum tentu bukan miliknya, dan iri dengan fatamorgana yang diciptakan iblis.

Sebagaimana yang kau harapkan, memang aku tidak pernah menjalin cinta dengan siapapun sebelumnya, memegang tanganmu saja adalah yang pertama kali dalam hidupku. Hanya kebodohanku saja yang terlalu mengharapkan dia untuk tinggal menetap. Dulu, seolah kebahagiaan yang tak terkira bila ia mau menyempatkan diri untuk singgah dan aku siap untuk membujuknya untuk berlama-lama dalam ruang hatiku ini. Sayangnya, ia hanya benar-benar singgah, bukan untuk menetap. Kehadirannya meninggalkan ruang hati yang telah lusuh dan kotor karena lamanya ia singgah selama ini.

Aku tidak pernah tahu betul, apakah dia menumbuhkan rasa cinta yang sama terhadapku atau sekadar singgah di ruang hatiku yang ia sangat senang memujinya karena begitu rapi dan tertata baik. Berbeda dengan aku hadir di ruang hatinya, begitu lusuh, lebih tidak tertata, dan banyak frame-frame yang di dalamnya kutemukan orang-orang yang tidak kukenal. Aku tidak akan menyebutkan siapa, bagaimana, dan untuk apa ia menyimpannya.

Aku tidak pernah benar-benar menyangka bahwa kamulah orang yang benar-benar mau tinggal di hatiku sekalipun keadaannya tidak seperti yang kamu harapkan. Aku begitu terharu saat kamu benar-benar mau menerimanya. Kamu cintai aku apa adanya segenap yang kamu punya. Aku sangat terkejut saat khitbahku kau terima saat itu tanpa mempermasalahkan apa status sosialku, kondisi fisikku, dan kekayaanku. Aku tahu betul, memang aku tidak kaya, tidak tampan, dan bukanlah seorang yang terkenal. Aku ingat betul saat kau berbisik di pelaminan,

?Aku menikahimu karena agamamu, kebaikanmu, dan dirimu yang kuyakin mampu untuk membawaku ke surgaNya. Tak peduli bagaimana masa lalumu, kekayaanmu, pekerjaan yang kamu anggap buruk, dan wajahmu. Bagiku, keridhoanmu adalah ketampananmu, ketulusanmu, keluhuran status sosialmu, dan kekayaan hatimu. Itu yang lebih penting dan berharga bagiku.?

Seandainya aku boleh mengakui mengapa aku begitu gugup saat pertama kali menyentuh tanganmu, salah satunya karena pernyataanmu yang membuatku merinding dan demam pelaminan. Antara haru dan malu. Antara bahagia dan cinta. Segalanya.

Aku berharap pernyataanmu itu sama sekali tidak pernah kamu ralat hingga akhir hayat kita karena pengakuan kesalahan masa laluku. Seketika aku menghakimi diriku, betapa bodohnya aku saat itu. Betapa tega aku menyediakan ruang hati yang tidak seperti yang kamu harapkan sedangkan dirimu begitu tulus untuk menerimaku bagaimanapun aku dan masa laluku.

Jika kamu berkenan, maafkanlah aku jika aku salah menilai orang. Maafkan jika aku salah menerima dan menumbuhkan cinta kepada selain dirimu. Maafkan jika aku salah ?

Karya : Sanjaya San