Tangan Tuhan

Sanjaya San
Karya Sanjaya San Kategori Inspiratif
dipublikasikan 06 September 2017
Tangan Tuhan

Seorang pemuda datang padaku menceritakan sebuah kisah-entah itu memang kisah pribadinya atau karangannya saja. Ia berdomisili di sebuah kota besar, merantau. Suatu hari ia dilanda kesulitan keuangan dalam hidupnya. Gaji yang diterimanya memang hanya cukup untuk makan sehari-hari sebenarnya namun ia mencoba lebih hemat lagi sehingga bisa menyisihkan untuk uang jajan adiknya yang kuliah di kota tetangga. Khusus untuk bulan ini, kondisinya lebih sulit lagi. Jangankan untuk makan, nyaris separuh dari gaji yang diterimanya baru saja digunakan untuk membayar sebagian utangnya di bulan lalu. Utang tersebut terpaksa ia buat untuk membayar kost tahunan yang ia tempati. Dengan kata lain separuh gaji sisanya harus cukup untuk hidup selama sebulan ke depan, belum lagi untuk biaya hidup adiknya bulan ini.

Selain bekerja tetap, ia juga memiliki usaha serabutan sampingan. Apapun itu, bisa mengojek, membersihkan toilet umum, menjual makanan kecil untuk dititipkan ke warung, penjaga toko harian dadakan bahkan kuli angkut bayaran di sebuah toko sepulang kerja. Hasil itulah yang paling tidak bisa menyambung hidupnya dan adiknya yang tengah menempuh kuliah di universitas ternama kota sebelah.

Ternyata, kesulitan tidak sampai disitu. Orang tuanya berniat untuk mengunjungi anak bungsunya yang masih kuliah. Maklum saja, sejak pertama kali adiknya dinyatakan lulus di PTN tersebut, orang tuanya belum pernah mengunjunginya. Seluruh proses pendaftaran dan pembiayan kost, dialah yang menanggung. Dia sendiri tipikal orang yang tidak mau menyusahkan orang tuanya sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama. Apapun ia lakukan agar seluruh kebutuhan hidupnya ia cukup secara mandiri. Sekalipun orang tua tetap memberikan uang saku yang tidak seberapa dibandingkan teman-temannya yang lain, ia menyisihkan uang itu untuk kebutuhan lainnya. Uang saku memang tidak selalu ada setiap hari, untuk itu ia lebih sering berpuasa selama sekolah dan bekerja paruh waktu sepulang sekolah. Hebatnya sebagian besar kerja paruh waktunya tidak pernah diketahui orangtuanya. Pernah suatu kali orangtuanya mengetahui ia menjaga sebuah warnet di depan sekolahnya, namun ia tidak mengelak dan memiliki alasan yang tidak bisa disanggah orang tuanya. Tepat saat itu ia juga beralasan ingin mandiri.

Bulan ini, orangtuanya meminta izin untuk mengunjunginya dan adiknya.  Hal ini tentu membuat dia kalang kabut. Sekalipun orangtuanya tidak meminta uang atau dilayani dengan fasilitas wah, ia bukanlah anak yang tega untuk menjamu orangtuanya dalam keadaan yang sedemikian buruk. Saya mengenal dia sebagai seorang pemuda yang sangat memuliakan orangtuanya. Bagaimanapun, ia ingin sebisa mungkin orangtuanya tidak kesulitan menuju kota tempat tinggalnya. Dengan kata lain, setidaknya perlu uang tiket, sewa penginapan, dan kebutuhan lain selama orangtuanya tinggal bersamanya. Hal ini wajar karena orangtuanya datang dari jauh sehingga tidak mungkin pulang-pergi dalam sehari.

Otomatis seluruh kebutuhan bulan ini yang sejatinya hanya mampu ditopang oleh separuh gaji ditambah beberapa lembar hasil usaha sampingannya, harus juga memenuhi kebutuhan demi orangtuanya. Orangtuanya memang belum memastikan tanggal berapa mereka akan mengunjungi anak-anaknya di perantauan. Belum ada juga pembicaraan soal beli tiket, namun orangtuanya paham bagaimana kehidupan anaknya di perantauan. Mereka juga sama sekali tidak ingin merepotkan anak-anaknya. Orangtuanya meyakinkan dia bahwa ada cukup uang untuk hidup di kotanya yang konon mahal biaya hidupnya itu. Dia tidak perlu khawatir atas orangtuanya.

Sebagai anak yang berbakti, ia merasa perlu menjamu sebaik mungkin dengan kemampuan maksimal yang ia punya. Sayangnya, ia benar-benar merasa tak mampu untuk itu karena kondisi keuangan yang sangat memprihatinkan baginya. Tanpa tedeng aling-aling, aku mengajaknya menyaksikan sebuah kajian daring di internet. Disana cukup menjawab atas apa yang menjadi kesulitannya sehingga aku tidak perlu lagi menjawab segala masalahnya. Dalam kajian tersebut dibahas bahwa setiap masalah akan diselesaikan dengan mudah oleh Sang Pencipta jika kita-sebagai hambaNya- mau menambah tingkat ketakwaan dan mendekat kepadaNya. Apapun jenis ibadahnya lakukan untuk mendekatkan diri kepadaNya. Karena Sang Pencipta lebih besar daripada masalah yang ia hadapi. Mudah baginya untuk menambah rizki hambaNya dari arah yang tidak disangka-sangka atau membuat keputusan yang juga tidak pernah terkira.

Setelah itu, ia melakukan sesuai apa yang ia dapatkan dari kajian itu. Tentu saya turut berpesan bahwa hal itu tidak dilakukan hanya saat kita butuh bantuan kepadaNya saja tetapi juga selalu dilakukan dalam kondisi apapun. Jika tidak dalam keadaan meminta maka apakah kita pantas untuk tidak mensyukurinya. Ibadah merupakan salah satu bentuk syukur kita atas segala nikmat yang diberikan olehNya. Siapa yang pandai bersyukur, Dia berjanji akan menambahnya. JanjiNya tidak akan pernah meleset.

Beberapa hari kemudian ia datang kepadaku lagi. Ia bercerita bahwa orangtuanya batal mengunjunginya bulan ini karena ada kerusakan rumah yang perlu segera diperbaiki. Dengan kata lain, seluruh alokasi dana yang rencananya akan digunakan untuk ongkos dan biaya hidup di perantauan, dialihkan untuk membenahi kerusakan rumah tersebut. Ajaibnya lagi, ia langsung mendapatkan order makanan kecil yang biasa ia titipkan di warung langganannya dalam jumlah banyak. Ia berusaha menawarkan agar orangtuanya tetap mengunjunginya. Ia begitu khawatir bahwa orangtuanya rindu teramat sangat dengan anak-anaknya. Namun orangtuanya menolak tawarannya sekalipun dibelikan tiket pulang-pergi. Orangtuanya beralasan kerusakan rumah harus diawasi secara intens. Akhirnya ia memutuskan untuk mengirimkan sejumlah uang yang didapat dari usaha tambahannya-tanpa disangka-sangka- berharap agar bisa membantu orangtuanya.

Sedikit agak lega memang, namun saya penasaran apa yang ia lakukan. Apa yang ia mohonkan. "Aku hanya meminta agar Tuhan membuatku mampu untuk menjamu orangtuaku semaksimal mungkin saat mereka mengunjungi aku dan adikku. Aku meminta Dia memberiku rizki dalam bentuk apapun yang datang dari arah yang tak kukira sehingga dapat menjamu mereka dengan baik di sini." Luar biasa, permohonannya itu dikabulkan langsung oleh Sang Pencipta. Sebegitu mudah Dia mengubah skenario rencana orangtuanya untuk batal mengunjunginya dan di sisi lain permohonannya soal rizki juga dikabulkan dalam bentuk finansial tambahan bulan itu. Tentu tidak pernah ia kira sebelumnya. 

Jika Tuhan sudah berkehendak maka tidak akan ada yang dapat menghalanginya. Siapapun itu dan bagaimanapun caranya, Sang Pencipta selalu punya cara terbaiknya dalam memutuskan sesuatu. Dan yang paling penting, hal itu adalah sungguh mudah bagiNya.

“Apabila Dia hendak Menetapkan sesuatu, Dia hanya Berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka terjadilah sesuatu itu.” (QS.al-Baqarah:117)

  • view 20