LEAVE OR STAY?

Sanjaya San
Karya Sanjaya San Kategori Inspiratif
dipublikasikan 12 Mei 2017
LEAVE OR STAY?

Setiap orang memiliki hak untuk memilih sesuatu yang menurutnya baik dan benar. Setiap individu diperkenankan mengeluarkan pendapat baik secara lisan dan tulisan. Hal ini tentu telah dijamin dan dilindungi oleh undang-undang. Manusia diciptakan dengan kemampuan persepsi dan akal masing-masing. Semuanya dalam kadar yang sama. Tinggal sejauh mana bumbu berupa ego, kondisi lingkungan, dan hubungan antar manusia itu memengaruhi satu sama lain.

Akhir-akhir ini tentu kita diriuhkan dengan konflik yang berlarut-larut hanya karena seseorang yang kurang berhati-hati dalam menggunakan lisannya. Kalaupun itu persepsinya terhadap apa yang ia katakan, ya silahkan itu haknya. Sayangnya negeri ini tidak menganut kebebasan yang sebebas-bebasnya. Bebas namun terbatas. Kebebasan dilindungi Undang-Undang dan ditegaskan melalui aturan hukum dengan sumber yang sama. Persepsi yang sudah melampaui batas dan menyebabkan ‘gesekan’ dengan sesama, Undang-Undang menjadi jalan terakhir yang kemudian untuk menertibkannya.

Sejak kasus tersebut mencuat, mulailah terjadi ‘gesekan’ dahsyat di lingkungan masyarakat. Pro dan kontra sudah pasti. Sebagai negeri yang juga telah melek teknologi, konflik berlanjut di dunia maya. Media sosial kita penuh dengan hujatan, amarah, makian, dan sejenisnya. Tidak hanya dari satu pihak yang pro melainkan hal yang sama juga dilakukan pihak kontra. Saya tidak akan membahas detil bagaimana konflik itu meluas. Konflik dua arah yang membenturkan dua kelompok ini tak kunjung usai hingga hukum telah memutuskan sesuai Undang-Undang yang berlaku. Bahkan protes pun melayang dari luar batas Negara untuk kemudian meminta mengkaji ulang dan sebagainya.

Hal yang sangat disayangkan dari semua konflik ini adalah kita menjadi bangsa yang terbelah tanpa sadar bahwa kita sebenarnya sebagai bangsa yang satu, bangsa Indonesia. Tak sedikit dari kita akhirnya muak dan jengah dengan konflik ini akhirnya meninggalkan media sosial baik sementara maupun selamanya. Banyak yang menanyakan pada saya, mengapa saya tetap tinggal diam dan masih ‘setia’ dengan media sosial itu sendiri? Berikut alasan yang mungkin bisa juga dipertimbangkan oleh teman-teman dan syukur-syukur bisa menjadi inspirasi.

  1. Dengan mengamati warganet beradu pendapat dan saling terlibat konflik di media sosial, kita bisa tahu siapa teman-teman yang berinteraksi dengan kita selama ini. Hal ini bisa secara positif atau negatif. Semuanya tergantung pendapat dan sikap yang mereka tunjukkan di media sosial.
  2. Lebih lanjut, melalui pengamatan konflik warganet di media sosial, kita bisa memetakan segmentasi teman-teman kita. Berada di segmen A, B, C atau D. Pemetaan ini bisa langsung berdasarkan pada karakter yang terbaca melalui lontaran pendapat atau sikap yang ditunjukkan. Hal ini tentu menguntungkan kita ke depannya yakni kita bisa memilih lawan bicara dan memilah topik pembicaraan atau bahasan di media sosial.
  3. Belajar menghormati hak kebebasan individu dalam berpendapat. Dengan mempelajari ini, tentu saja pemikiran dan wawasan kita akan terbentuk makin dewasa. Syaratnya memang harus kuat dan bermental baja dalam memantau ocehan mereka di beranda media sosial kita.
  4. Belajar untuk mengendalikan diri dan emosi. Ini tak kalah penting, manajemen emosi perlu dilatih sejauh mana kita bisa menghasapi sesuatu dengan kepala dingin. Mungkin awal-awal kamu akan merasa panas dan kepala serasa mendidih saat banyak opini orang baik yang beradab ataupun tidak beradab, yang sependapat dengan kita atau bertentangan, dan masih banyak lagi. Ingat! Kesabaran tidak pernah ada batasnya. Nah lho.
  5. Dengan segala hal yang terjadi di media sosial, kita bisa tetap bisa memantau situasi, sebaik apa atau seburuk apa atas kondisi yang sebenarnya. Tentu saja dengan memilah dan memilih berita yang terpercaya sekaligus situasi warganet di dunia maya.
  6. Mempertimbangkan dan mendapatkan solusi yang terbaik atas apa yang tengah terjadi.
  7. Terakhir, melatih konsentrasi dan fokus dalam pikiran yang jernih di tengah kesemrawutan yang ada. Ini sangat penting dan diperlukan saat kita berada di tengah situasi yang genting atau bahkan darurat.

Nah, kurang lebih seperti itulah manfaatnya jika kita mencoba untuk tetap menjadi warganet yang baik. Setiap orang berhak untuk tetap aktif di media sosial atau memilih non aktif. Setiap orang juga punya kekuatan masing-masing. Ada yang kuat menghadapi situasi namun ada juga yang tak kuat atau jengah menghadapinya. Segala hal bisa menjadi media belajar termasuk media sosial. Berani coba? Kalau tidak kuat, lambaikan tangan ke kamera ya. Hehehehe.

SANJAYA_SAN

  • view 68