SABTU BERSAMA BAPAK

Sanjaya San
Karya Sanjaya San Kategori Lainnya
dipublikasikan 20 Juli 2016
SABTU BERSAMA BAPAK

"Mungkin Bapak tidak dapat duduk dan bermain di samping kalian. Tapi, Bapak tetap ingin kalian tumbuh dengan Bapak di samping kalian. Ingin tetap dapat bercerita kepada kalian. Ingin tetap dapat mengajarkan kalian." (Gunawan Garnida, tokoh Bapak dalam Sabtu Bersama Bapak)

Satu lagi film yang diadaptasi novel terlaris, Sabtu Bersama Bapak karangan Adhitya Mulya. Bagi pembaca novel pasti sudah sangat menanti-nantikan seluruh adegan dalam buku tersebut untuk difilmkan. Kisah yang ringan, menyentuh, dan pastinya Indonesia banget menjadi nilai jualnya. Sesuai judulnya, film ini mengisahkan sebuah keluarga soal arti kehidupan, rencana kehidupan, dan nasihat-nasihat bijak yang disiapkan oleh seorang ayah melalui rekaman video. Lewat video? Ya, karena ia tidak dapat hidup lebih lama untuk mendampingi keluarganya mengarungi kehidupan karena sebuah penyakit mematikan. Sejak usianya divonis hanya tinggal 1 tahun lagi, ia mulai membuat rekaman-rekaman video dimaksudkan agar kelak anak-anaknya bahkan istrinya sendiri dapat tetap mendengarkan wejangannya, kisah-kisah hidupnya, dan pelajaran-pelajaran hidup. Video yang dibuat itu sekaligus menghapuskan rasa rindu keluarganya terhadap sosok ayah yang selama ini telah merencanakan dengan baik soal hidupnya dan masa depannya meski akhirnya ia sendiri tidak sampai di titik masa depan itu bersama keluarganya. Dengan demikian, keluarga tersebut tetap merasakan kehadirannya setiap kali video itu diputar. Singkatnya, Sabtu Bersama Bapak menyuguhkan pelajaran soal bagaimana menjadi seorang anak yang baik, pria yang baik, suami yang baik, bapak yang baik, istri yang baik dan keluarga yang baik dari sudut pandang yang tidak biasa.

"Waktu dulu kita jadi anak, kita nggak nyusahin orang tua. Nanti kita sudah tua, kita nggak nyusahin anak."
(Gunawan Garnida)

Sebelum menonton filmnya, saya telah membaca novelnya terlebih dahulu. Sebagaimana pembaca umumnya, saya memiliki imajinasi tersendiri soal tokoh, latar, dan alur cerita laksana sebuah film yang diputar sembari mata saya menari-nari dari paragraf yang satu ke paragraf yang lainnya. Lalu, bagaimana dengan filmnya? Secara umumnya, saya sangat puas dengan apa yang disajikan Monty Tiwa selaku sutradara, Falcon Pictures dan Max Pictures sebagai Production Housenya. Seluruh titik-titik penting cerita disajikan secara jujur tanpa penambahan atau pengurangan yang lebay. Eiitss, tetapi bukan berarti tidak ada perbedaan antara film dan novelnya. Perbedaan itu pasti adanya karena novel adalah produk tersendiri yang berupa tulisan sedangkan film adalah produk lain yang berupa visual sekalipun apa yang ditayangkan mengadaptasi kisah dalam novel tersebut. Jadi sah-sah saja, selagi tidak terlalu berlebihan dalam berimprovisasi cerita. Perbedaan antara novel dan film akan saya bahas di bagian berikutnya setelah saya menguraikan beberapa kelebihan dan kekurangan sebuah karya anak bangsa ini.

Dari segi penokohan, pemilihan cast untuk memainkan karakter terbilang cukup sempurna. Sosok Ibu Itje mampu diperankan oleh Ira Wibowo yang sudah tidak diragukan lagi kemampuan aktingnya. Apalagi ibu-ibu penyuka sinetron 90-an pasti tahu, beliau termasuk jagonya soal akting keibuan dan penuh dengan air mata. Sosok ayah, Gunawan yang diperankan oleh Abimana sudah sesuai jika ia berperan sebagai ayah seorang diri. Usia yang terpaut cukup jauh antara Abimana dan Ira Wibowo begitu nampak kurang pas jika mereka disandingkan. Rias wajah yang menyulap wajah Ira Wibowo sebagai Ibu Itje muda cukup sukses namun tetap tidak dapat menyamai sosok Abimana yang kentara usianya lebih muda. Saat mereka bersanding berdua, seolah nampak antara anak dan ibu, bukan suami dan istri.

Adapun sosok Satya diperankan oleh Arifin Putra, tepat sesuai gambaran novel, sosok yang sempurna. Ia pun mampu memainkan karakter cadas dan perfeksionisnya seorang Satya. Sebagai anak sulung ia adalah pengikut utama garis keras ayahnya. Ia merasa paling pertama untuk mengikuti wejangan ayahnya sepenuhnya, 100% sempurna tanpa sedikitpun yang luput. Atas ambisi itulah ia memaksakan seluruh wejangan ayahnya kepada anak dan istrinya, sekeras apapun jalan yang ditempuh. Tak ada standar lain yang patut diikuti selain wejangan ayahnya. Sayangnya ia lupa bahwa ada hal-hal yang sesungguhnya luput ia cermati dari wejangan ayahnya. Tanpa sadar ia tidak mengaplikasikan sesuai dengan wejangan tersebut. Hingga di satu titik ia disadarkan oleh sesuatu dan ayahnya hadir dalam cara yang lain.

Sang adik, Cakra diperankan oleh Deva Mahenra, dirasa pas memainkan karakter adik yang selalu kalah dalam urusan cinta, patut menjadi bahan ledekan, dan terkadang humoris. Sosok Rissa, istri Satya yang diperankan oleh Acha Septriasa juga tidak terlalu buruk. Begitupun dengan sosok Ayu yang diperankan Sheila Dara juga dapat menjadi peran pendukung yang pas. Setidaknya ia mampu jadi karakter yang hadir untuk melengkapi sejarah cinta Cakra, sebagaimana dikisahkan dalam novel.

Sinematografi sudah cukup baik, pengambilan gambar yang dramatis, sayangnya ada satu bahkan dua scene yang diambil dengan sudut pandang kamera fish eye sehingga dalam lingkup bioskop sangat mengganggu penonton (terutama saya sendiri, beberapa penonton di sebelah saya pun mengeluhkan hal yang sama). Dampak yang ditimbulkan dari pengambilan gambar dengan efek fish eye tersebut adalah pusing. Adegan dramatis yang ditampilkan jadi terganggu padahal jika diambil dengan sudut pandang kamera biasa pun sudah cukup membawa emosi penonton dan mengerti jika scene tersebut tidak terjadi di masa sekarang atau dunia nyata.

Latar adegan beberapa terlalu terlihat sangat sintetis, seolah-olah bukan pada lokasi nyata. Kondisi yang seperti ini nyaris mengaburkan nuansa cerita yang dibawakan. Emosi yang terkandung terasa tidak khidmat karena efek yang mengganggu.

Soal sesuatu yang tabu, tidak ditampilkan sevulgar novelnya. Aman soal ini. Hanya memang ditampilkan satu ‘kissing’ sambutan antara Satya dan Rissa yang tidak sevulgar film yang baru saja turun layar beberapa waktu lalu dan menimbulkan demam se-Indonesia hingga ke negeri jiran. Bagi pembaca, pasti akan menilai novelnya lebih ‘vulgar’ ketimbang filmnya.

Secara keseluruhan, film ini kaya akan pelajaran dan nasihat kehidupan. Bagi pasangan yang belum memiliki rencana jangka pendek maupun panjang bisa memtik hikmah dari film ini. Overall, saya puas dengan film ini terlepas dari kekurangan yang ada dan sejauh ini masih dalam hal wajar serta dimaklumi.

"Harga diri kita tidak datang dari barang yang kita pakai. Tidak datang dari barang yang kita punya. Di keluarga kita, nilai kita tidak datang dari barang. Nilai kita datang dari sini (menunjuk hati)." (Gunawan Garnida)

Sebagaimana janji saya sebelumnya, saya akan menyampaikan perbedaan antara buku (novel) dan film. Berikut perbedaannya:

  1. Setting cerita Satya dan Rissa berubah, dalam novel dinyatakan Satya ditugaskan di Copenhagen Denmark setelah sebelumnya di Aceh kemudian lepas pantai Nigeria. Adapun dalam film. Rissa dan anak-anaknya pun ikut tinggal di Denmark, di rumah yang mereka beli. Dalam film, mereka tinggal di Paris. Satya meminta pindah kerjaan ke Paris setelah satu titik perubahan terjadi dalam hidupnya.
  2. Dalam novel, Rissa tidak pernah menginginkan kerja kembali sekalipun ia sangat gembira untuk diajak tinggal di Eropa berharap bisa kerja disana. Nyatanya saat ia ditawari oleh suaminya, ia tidak pernah tergerak untuk bekerja karena ingin fokus membesarkan anak-anak mereka. Sedangkan dalam film, tokoh Rissa terus memaksa keberadaan sosok Satya hingga berujung pada keputusan Rissa untuk bekerja di sebuah perusahaan di Paris. Hal ini ia lakukan untuk membantu suaminya dengan harapan segala kebutuhan mendesak segera terselesaikan dan nuansa kekeluargaan kembali lagi ke rumah mereka bahkan jika perlu mereka bisa pulang ke Indonesia sesering mungkin.
  3. Perbedaan jumlah anak. Dalam novel, pasangan Satya dan Rissa dikaruniai 3 anak, Ryan, Miku, dan Dani. Dalam film, yang muncul hanya Ryan dan Miku. Si bungsu Dani ditiadakan. Khusus yang satu ini memang tidak terlalu mengganggu cerita secara keseluruhan.
  4. Memiliki baby sitter/pengurus anak. Dalam novel, tidak pernah disinggung Rissa menyewa seorang pengurus anak pribadi. Ia tidak pernah sekalipun menitipkannya kepada siapapun. Dalam film diceritakan sebaliknya. Rissa sibuk dengan dunia kerja sehingga perlu seseorang yang menjaga anak-anaknya, Ryan dan Miku.
  5. Insiden penculikan. Dalam novel tidak ada konflik ini, kecuali seputar kemampuan dan perkembangan anak serta lingkup keluarga internal Satya dan Rissa. Dalam film, dikisahkan Ryan dan Miku luput dari pengawasan Ika, teman yang dipercaya Rissa untuk menjaga anak-anaknya.
  6. Adegan kilang offshore. Dalam novel dijelaskan secara detil soal aktivitas offshore dan komunikasi antara keluarganya. Dalam film, sama sekali tidak dijelaskan. Mungkin demi menghemat budget film.
  7. ITB atau UNPAD. Dalam novel dinyatakan Satya merupakan lulusan Teknik Geologi UNPAD. Dalam film, diperlihatkan ijazah Satya yang dipajang merupakan lulusan Teknik Perminyakan ITB.
  8. Aceh atau Borneo. Dalam novel Satya ditugaskan ke Aceh setelah lulus dan memutuskan untuk meminang Rissa. Dalam film, Satya menyatakan ia telah meninggalkan Rissa bertugas ke Borneo sedangkan Rissa sudah tidak sabar untuk dilamar.
  9. POD Bank atau GA Bank. Dalam novel dijelaskan Cakra bekerja sebagai Deputy Director POD Bank. Dalam film ditampilkan kantornyanya memiliki nama GA Bank.
  10. 3 hal yang dilaporkan Firman. Ingat saat Firman menuju ke ruangan Cakra setelah adegan dimana Cakra diledek oleh Wati? Nah, Firman melaporkan 3 hal, induksi di ruang meeting, rapat pembahasan pengembangan usaha daerah timur, dan Cakra masih jomblo. Firman sendiri yang menyebut 3 hal. Sedangkan dalam novel hanya 2 hal laporan, yakni induksi di ruang meeting pukul 9 dan mengingatkan bahwa Cakra masih jomblo.
  11. Ibu Itje sebenarnya sudah tahu foto Ayu yang dimaksud Cakra. Cakra sendiri yang menunjukkan kepada ibu Itje melalui facebook yang dibuka dalam ponselnya. Adapun dalam film, ibu Itje tidak diberitahu apapun siapa itu Ayu. Cakra pun mengaku tidak memiliki foto untuk ditunjukkan ke ibunya apalagi sampai menunjukkan akun facebook Ayu melalui ponselnya.
  12. Museum Fatahillah atau Ancol. Kedua latar ini memang dijelaskan di novel. Tapi khusus saat blind date, janjian di lokasi awalnya adalah di depan museum Fatahillah. Sedangkan dalam film mereka bertemu di dermaga pantai Ancol.
  13. Ayu Retnaningtyas atau Ayu Retna Ningsih. Dalam novel, tokoh Ayu memiliki nama lengkap Ayu Retnaningtyas sedangkan dalam film Ayu menyatakan nama lengkapnya Ayu Retna Ningsih.
  14. Sepatu Ayu di musholla. Dalam novel dijelaskan pengakuan bahwa Cakra melihat sepatu Ayu di musholla. Sedangkan dalam film tidak diungkapkan sama sekali bahwa Cakra menyatakan Ayu adalah pasangan dunia akhirat, bagian akhiratnya adalah karena ia kerap melihat sepatu Ayu di musholla. Cakra hanya mengungkapkan bahwa ia tertarik pada sepatu Ayu. Titik.
  15. Dikenalkan bapak atau ibunya Ayu. Dalam novel, Cakra diperkenalkan ke bapaknya dan menyatakan bahwa ia adalah pacarnya, saat pertama kali Cakra datang ke rumah Ayu untuk mendengar langsung jawaban lamarannya tempo hari. Dalam film, Cakra hanya diperkenalkan kepada ibunya Ayu dan menyatakan bahwa ia pacarnya.
  16. Latihan Taekwondo. Dalam novel, dinyatakan Satya dan Cakra sedang latihan bersama Pak Gunawan sambil diberikan pelajaran soal arti menang. Hal itu adalah rekaman video. Dalam film, ditampilkan dalam video hanya Satya saja yang latihan taekwondo bersama pak Gunawan.

"Bapak sayang kalian!" (Gunawan Garnida)


(MS)