JILBAB TRAVELER

Sanjaya San
Karya Sanjaya San Kategori Lainnya
dipublikasikan 18 Juli 2016
JILBAB TRAVELER

"Ah, cuma menjual latar Korea doang."
Kata seorang penonton pasca pemutaran film Jilbab Traveler.

Mmmm.... wait. Jangan terpancing dulu, kita lihat dulu lebih jauh. Setiap karya manusia memang tidak akan ada yang sempurna. Karena yang sempurna hanya Allah azza wa jalla. Jadi, pasti ada sisi kelebihan dan kekurangannya. Sebagai disclaimer, film ini diadaptasi dari novel berjudul sama. Jangan pernah berharap kesamaan 100% antara novel/buku dan film karena memang keduanya adalah produk yang berbeda dan memiliki garis cerita masing-masing, namun bukan berarti berbeda 100% juga. Ada beberapa hal yang dipertahankan namun adapula yang dibuang sesuai kebutuhan.
Dan satu lagi, saya tidak membaca novel sebelumnya. Jadi saya tidak tahu cerita secara garis besar sebelum nonton.
Saya akan membahas dari sisi positifnya dulu alias kelebihannya ya.

Tokoh yang diusung dalam film ini adalah seorang gadis berjilbab yang penuh dengan prestasi, semangat, dan keberanian tinggi. Impiannya begitu lantang untuk menjelajahi negeri-negeri di atas muka bumi sesuai dengan semangat Ibnu Batuta. Padahal perlu diingat, sang tokoh adalah seorang gadis berjilbab. Banyak orang yang beranggapan bahwa berjilbab atau berhijab (keduanya memang memiliki sedikit perbedaan makna namun sama-sama sebuah upaya berpakaian sesuai dengan syariat) adalah sebuah pembatasan serius bagi kaum hawa. Saya tidak terlalu tahu rasanya di posisi kaum hawa sih, tapi paling tidak saya akan meluruskan anggapan ini melalui apa yang saya ketahui. Dalam Islam, seorang wanita berhijab tetap dibolehkan melakukan apapun-sekalipun traveling- selagi bukan melakukan hal-hal yang melanggar syariat. Hijab bukan sebuah simbol pembatasan hak-hak perempuan. Sedikitpun hak-hak mereka tetap pada tempatnya tanpa terkurangi. Justru dengan berhijab, membuat hak-hak yang ada pada wanita terlindungi. Keamanan mereka pun lebih terjaga baik secara fisik maupun non fisik. Nah, dapat dilihat dalam film bahwa hijab bukan alasan keterbatasan untuk berkarya, berpetualang, dan berbagi. Ini sudah mencontohkan hal positif soal wanita berjilbab atau berhijab.

Karakter yang dimainkan oleh aktor dan aktris cukup total. Peran Hyun Geun oleh Morgan dimainkan dengan apik. Saya memang belum bertemu langsung dengan orang Korea tetapi sebagai orang Indonesia aksen Morgan tidak kalah dengan lawan main aktor Korea yang ada di film. Jangan-jangan dia keturunan Korea ?#‎eh? hehehe
Peran Rania oleh Bunga Citra Lestari (BCL) pun dimainkan cukup sempurna. Ia mampu menggambarkan wanita yang berani namun lembut, rapuh, dan penyayang di dalam. Begitupun seluruh peran pendukung juga telah menjiwai sehingga tidak terkesan dibuat-buat adegannya. Sosok Alvin yang diperankan Ringgo Agus sukses membuat suasana menjadi segar di tengah ketegangan cerita. Dia menjadi sosok penengah dan penyaji humor yang apik.

Dari segi cerita sebenarnya nampak klise-apalagi bagi mereka yang telah membaca novel sebelumnya-namun penonton tidak diajak langsung ke inti cerita sehingga sesuai dengan semangat 'traveler'nya. Penonton dibuat penasaran dan berpikir bagaimanakah scene selanjutnya.

Kalau saya cermati, inti cerita akan mudah ditebak di seperempat film. Bagi yang jeli, penonton akan langsung tahu, film akan berakhir bagaimana. Oya, jika boleh disandingkan, inti cerita film ini ada kemiripan seperti film Kuch Kuch Hota Hai yang legendaris itu. Hanya saja tidak mirip 100% memang. Namanya juga cuma mirip. Dari trailernya saja sudah ketahuan, yang disuguhkan sebagai bumbu adalah kisah cinta segi tiga bahkan segi empat. Nah, bagaimana tuh cinta segi empat. Lanjut dulu ke review berikut ya.
Sinematografi tidak terlalu buruk, setiap detil gambar diambil dengan cukup sempurna, nyaris tanpa cacat. Suguhan pemandangan koreanya, mantap. Wah, surga bagi pencinta korea deh.

Kalau ada yang tanya, filmnya baper kah? Unsur baper tetap ada tetapi sebagai bumbu sesaat. Dari baper itulah, penonton-khususnya pria-diajak untuk belajar bagaimana hati seorang wanita sesungguhnya. Sayangnya tokoh Rania tidak begitu menyiratkan perasaan yang jelas dan tegas. Berulang kali, penonton harus menerka-nerka dengan sebal. Waspada ibu-ibu sinetron. Hehehe.
Namun disitulah tantangannya, penonton diajak belajar memahami hati seorang wanita dari sekaligus dibiarkan bergelimang dalam rasa penasarannya. Sayangnya, bagi saya memang hal itu tidak berpengaruh, karena sejak seperempat film saya sudah dapat menerka dengan tepat inti dan akhir ceritanya seperti apa. Tenang saja, semakin ke pertengahan film, pertanyaan demi pertanyaan serta rasa penasaran penonton akan dijawab satu persatu secara lunas lewat tanda-tanda, mimik wajah, dan adegan per adegan.

Adapun sisi negatif atau kelemahan yang masih perlu diperbaiki sebagai berikut.
Alur cerita pengenalan tokoh tidak digali sehingga bagi penonton yang tidak membaca novelnya, tidak akan tahu siapakah si Rania ini kok tiba-tiba melanglangbuana ke seantero negeri. Siapa pula latar belakang orang tuanya. Semuanya tidak dijelaskan, penonton dipaksa mengiyakan dengan mentah.

Entah karena efek sound bioskop atau memang bawaan dari film, hasil perekaman suara terlalu kentara sehingga terkesan dubbing. Terutama di adegan awal. Paling banyak ditemui saat Ilhan berdialog dengan lawan main.

Entah apakah ini murni kesalahan atau di sengaja karena adegan yang berbeda tempat dan waktu, akan nampak kostum yang dikenakan tokoh Alvin berbeda antara satu shoot dengan shoot yang lain dalam satu latar yang sama. Nah kok bisa begitu. Dimana bedanya? Saat kamera menjauh, kancing kemeja Alvin terbuka hingga ke dada sehingga kaus dalam berwarna merahnya nampak sedangkan saat kamera mendekat, nampak kemeja Alvin tertutup rapat nyaris ke leher sehingga kaus dalam sama sekali tidak terlihat.

Bagi yang terlalu jeli, penonton akan menilai alur akan melambat menjelang pertengahan hingga akhirnya berniat twist yang tidak terlalu menegangkan sehingga mengesankan cerita yang biasa saja dan sesuai dugaan.

Satu hal lagi, ini soal kebahasaan. Bisa cek ke KBBI ya. Saat sebuah scene menayangkan adegan serangan di Palestina, judulnya berita menuliskan ... efakuasi. Nah, yang benar evakuasi atau efakuasi? Setahu saya itu serapan dari evacuation jadi mengikuti sesuai huruf serapannya sebagaimana activity menjadi aktivitas dalam bahasa indonesia.

Setidaknya terlepas dari itu semua, film ini memberikan nasihat penting bahwa jelajahilah seisi muka bumi untuk mengenali tanda-tanda kekuasaanNya, jagalah hati dan pantaskanlah diri sebelum menetapkan jodoh hingga tidak perlu memaksakan kehendak apalagi cinta, dan gapailah mimpi setinggi apapun sekalipun harus 'mencuri'nya (mencuri disini maksudnya terinspirasi atau ikut termotivasi untuk mimpi yang sama) dari mimpi orang lain. Allah Maha membolak-balikkan hati, tidak ada yang mampu memaksakan hati yang satu terhadap hati yang lain. Hati adalah sebongkah daging paling jujur yang pernah ada. Rasa di dalamnya mungkin tersembunyi namun mampu terlihat jika telah membuka diri. Sebuah ikatan pernikahan hendaknya diwujudkan atas dasar keridhoan cinta dan kasih sayang bukan paksaan apalagi atas nama harta, jabatan, dan materi duniawi lainnya. Selagi masih ada hati yang belum mati, maka biarkan ia berbicara. Tidak ada yang salah selama jalan yang di tempuh adalah jalan kebaikan.

"Kamu yang mencuri mimpiku, dan aku suka." (Rania pada Hyun Geun)

  • view 240