REVIEW MARS

Sanjaya San
Karya Sanjaya San Kategori Lainnya
dipublikasikan 10 Mei 2016
REVIEW MARS

“Jika menanyakan padaku siapa yang paling tahu tentang makna pendidikan
akan kukatakan Ibu…
Seorang Ibu adalah cahaya dari galaksi ketujuh
yang menerangi jiwaku, bagaikan cahaya abadi.
Ia bagaikan angin yang mendendangkan nyanyian hidup.
Begitu indah dan penuh keajaiban.”

Saya pernah bertanya pada ibu saya, “Ma, apabila suatu saat saya harus menempuh pendidikan ke luar negeri (London misalnya), apakah mama merestuinya?” Senyum terkembang di wajahnya, ia menjawab dengan tenang, “Jika memang itu mimpimu, yang mama bisa lakukan hanyalah mendoakan agar itu segera terwujud. Jika Allah menakdirkannya demikian, mama hanya mengamininya saja. Apapun yang terbaik untukmu akan mama dukung dan perjuangkan sekalipun harus mengorbankan nyawa mama.”

Setiap ibu di dunia ini, pastilah memiliki nada yang sama seperti di atas. Kelembutan dan ketulusan hatinya takkan terkalahkan. Kasih sayangnya tidak pernah lekang oleh waktu. Apapun akan ia lakukan demi buah hatinya. Takkan ada yang dapat menghalanginya kecuali kehendak Tuhan. Sebagaimana Tupon yang memperjuangkan anaknya, Sekar Palupi untuk menempuh pendidikan setinggi-tingginya.

Cerita ini berlatar di Gunungkidul, tempat tinggal Sekar bersama ayah dan ibunya, yang dihadapkan pada segala keterbatasan. Tak ada listrik tak ada teknologi informasi yang mewarnai kehidupan warganya. Mayoritas mata pencaharian warganya petani, peternak, dan penambang. Ayah Sekar, Surip, yang merupakan seorang buruh tambang. Adapun sang istri, Tupon, hanya seorang ibu rumah tangga. Di tengah kemiskinan yang menghiasi kehidupan mereka, serta merta tidak menjadikannya hambatan untuk meraih mimpi setinggi langit. Setiap malam sebelum tidur, Tupon menunjukkan satu bintang yang paling terang di langit. Sebenarnya ia merupakan planet Mars, mereka kerap menyebutnya sebagai Lintang lantip. Secara tersirat, Tupon mengajarkan bahwa mimpi itu patut diletakkan dan dicapai setinggi bintang di langit. Ia meyakinkan Sekar sejak kecil bahwa bintang itu mampu ia raih, dengan ilmu pengetahuannya.

Dari film ini, saya menyoroti beberapa hal dalam sudut pandang sebagai penonton. Hal pertama adalah ALUR. Tanpa harus diterka secara mendalam, garis besar cerita sudah dapat terbaca dari trailer karena ide dan topik yang diangkat sangat sederhana. Dengan kata lain, penonton dapat dengan sangat mudah menebak keseluruhan cerita dari awal hingga akhir. Sayangnya, alur cerita cenderung melambat dan kurang memanfaatkan emosi penonton yang sebenarnya telah digugah oleh fasilitas pendukung film. Beberapa cenderung dikisahkan terlalu detil sehingga terkesan menghabiskan durasi film padahal banyak hal-hal yang seharusnya dapat dijelaskan dan digali dalam porsi penuh. Klimaks dan antiklimaks menjadi sangat samar dan berdiaspora sehingga nyaris tak dapat dibedakan. Saya dibuat bertanya-tanya dalam beberapa scene, mulai dari prosesi pendaftaran pendidikan dasar Sekar yang terasa janggal. Awalnya memang dijelaskan begitu apik dan khas kaum awam soal pendidikan. Tiba-tiba saya harus tercengang dengan diterimanya Sekar di sekolah yang dimaksud dengan pernyataan sang ibu bahwa Ustad Ngali (M. Cholidi Asadil Alam) telah banyak membantu. Padahal secara peraturan sekolah dinyatakan tidak bisa. How can it be? Lantas penonton diajak secara singkat pindah ke sekolah baru Sekar sejak ia dikeluarkan karena sikap Sekar terhadap kasus bullying teman-temannya yang tidak diketahui pihak sekolah. Sekolah baru pun tidak dijelaskan bagaimana prosesinya hingga semudah itu. Kejutan lompatan alur berikutnya adalah tahapan pendidikan Sekar yang tidak dijelaskan bagaimana prestasi akademiknya selama di sekolah menengah hingga di perguruan tinggi di Yogyakarta. Penonton langsung disuguhkan dengan keberhasilan Sekar menempuh pendidikan lanjutnya di Oxford University di bidang astronomi. Bukankah seharusnya ia kuliah di Bandung yang notabene memiliki studi astronomi terbaik se-Indonesia. Bukan Yogyakarta. Alasan Sekar mengambil program studi pun tidak dijelaskan kecuali karena kebiasaannya melihat lintang lantip di langit. Semuanya seolah terburu-buru dan memancing pertanyaan penonton.

Hal kedua adalah PENOKOHAN dan KARAKTER. Sekar sebagai tokoh utama diperankan oleh dua orang aktris. Chelsea Riansy memerankan Sekar Palupi kecil sedangkan Acha Septriasa memerankan Sekar dewasa. Peran Sekar kecil jauh dari kesan sebagai anak yang mengerti kondisi ibunya, prihatin, dan membantu ibunya sekalipun ada dalam satu scene dimana Sekar berkata bahwa ia sangat sayang ibunya dan ingin membantu ibunya ketimbang harus sekolah. Sayangnya, mimik wajahnya tidak terlalu mendukung bahkan seolah kontradiktif dengan perkataannya. Beberapa sikap Sekar kecil malah cenderung seperti memaksakan kehendaknya terhadap sang ibu, tak segan meminta sesuatu, dan sama sekali tak berempati.

Adapun Sekar dewasa kembali memunculkan pertanyaan penonton bagaimana bisa ia tidak tahu dan memantau kondisi ibunya di tanah air. Setidakpeduli itukah ia? Kehidupan Sekar dewasa dan ibunya seolah terpisah dengan sekat sejak ia menempuh pendidikan tinggi di Yogyakarta. Sama sekali tidak ada penjelasan bahwa ia benar-benar berempati terhadap ibunya di desa. Penonton hanya disuguhkan simpati Sekar dewasa dalam pidato sambutan wisudanya di Oxford. Untuk kemudian, penonton dibiarkan berasumsi sendiri.

Peran sang ibu oleh Kinaryosih sangat total. Porsinya cukup besar dalam cerita karena memang ia yang menjadi motivator utama Sekar bahkan setelah sang suami, Surip (Teuku Rifnu Wikana) tiada karena tewas di lokasi penambangan. Secara tata rias, saya menilai aneh saat Tupon beranjak usia tua. Lanjut usia digambarkan dengan memutihnya rambut dan semakin keriputnya kulit. Sayangnya apakah alis dan bulu mata juga turut memutih sebegitu ekstrimnya? Hal ini terlalu berlebihan saya rasa. Namun di luar hal-hal tersebut, curahan kasih sayangnya cukup membuat larut emosi penonton.

Hal ketiga adalah LATAR/SETTING. Siapa bilang film ini hanya menjual landscape kota London dan Gunungkidul? Saya menilainya sang sutradara menempatkannya dengan ciamik. Penonton dibiarkan mengambil jeda dari satu scene ke scene yang lain melalui pengambilan panorama yang layak dinikmati. Panorama yang disuguhkan juga bukan itu-itu saja dan menjadi pembeda dari film-film lain yang benar-benar ‘menjual’ sebuah lokasi dalam cerita film yang tidak seberapa menarik.

Hal keempat adalah SOUNDTRACK. Film ini didukung oleh original soundtrack yang mumpuni. Kali ini, ‘Doa Untuk Ibu’ besutan Ungu dipercaya untuk semakin mengangkat skenario film. Saat lagu diputar menjadi music background sebuah scene dimana sang ibu mencarikan pensil untuk Sekar di saat hujan deras cukup menguras emosi penonton. Lagu juga sempat diputar di beberapa titik scene lain untuk kembali menggugah emosi penonton. Sejauh ini menurut saya penempatan dan tema lagu sangatlah tepat.

Hal kelima sekaligus yang terakhir adalah PESAN. Banyak pesan moral yang diberikan dalam film sehingga membuatnya sarat makna dan tidak membosankan dari segi cerita. Sejak kemunculannya di hari pendidikan nasional, film ini sarat membawa pesan pendidikan. Selain itu, pesan kasih sayang ibu dan emansipasi wanita dalam bidang pendidikan juga diangkat dalam film ini.

Terlepas dari kekurangan yang ada, film ini memiliki kelebihan dari segi makna cerita dan pesan moral. Menurut saya, sejauh ini kekurangan yang ada masih dalam batas yang dapat dimaklumi meskipun tetap perlu perbaikan di masa mendatang. Hal ini menjadi tugas sineas untuk semakin mengemas kisah dalam film menjadi menyenangkan dan porsi yang pas. Dengan kata lain, film MARS menjadi salah satu film yang layak tonton bagi segala usia, terutama mereka laskar pemimpi yang telah meletakkan mimpinya di langit dan tengah memperjuangkannya. Indonesia butuh film-film sejenis guna menumbuhkan optimisme bahwa pendidikan adalah milik siapapun, tidak terbatas pada status sosial dan harta tertentu. Siapapun berhak mendapatkan pengajaran dan pendidikan yang layak sesuai amanat undang-undang. Demikian pula, siapapun berhak memperjuangkan mimpinya. Tak ada kata tidak mungkin selagi kita masih mampu bermimpi. Apapun itu, sebuah mimpi adalah sesuatu yang patut untuk diperjuangkan.

“Lokasi lahir bisa dimana saja tetapi lokasi mimpi haruslah di langit.” (Anies Baswedan)

Mau tahu cerita selengkapnya bagaimana perjuangan Sekar Palupi meraih mimpinya? Yuk, ambil bagian menjadi pendukung film baik dengan menonton film MARS di bioskop terdekat kesayanganmu. Ajak teman-teman, sahabat, saudara, dan keluargamu untuk menyaksikan film Indonesia inspiratif ini.

 

 

 

  • view 172