REVIEW AADC2

Sanjaya San
Karya Sanjaya San Kategori Lainnya
dipublikasikan 02 Mei 2016
REVIEW AADC2

“Bandara dan udara memisahkan New York dan Jakarta. Resah di dadamu dan rahasia yang menanti di jantung puisi ini dipisah kata-kata. Begitu pula rindu, hamparan laut dalam antara pulang dan seorang petualang yang hilang. Seperti penjahat dan kebaikan dihalang uang dan undang-undang.

Seorang ayah membelah anak dari ibunya—dan sebaliknya. Atau senyummu, dinding di antara aku dan ketidakwarasan. Persis segelas kopi tanpa gula menjauhkan mimpi dari tidur.

Apa kabar hari ini? Lihat, tanda tanya itu, jurang antara kebodohan dan keinginanku memilikimu sekali lagi.”


Kutipan puisi karya Aan Mansyur di atas adalah salah satu nyawa yang menghidupkan Rangga (Nicholas Saputra), pemeran utama dari film Ada Apa Dengan Cinta 2 di samping Cinta (Dian Sastro) sebagai tokoh paling sentral dalam ceritanya. Sejak kemunculannya pertama kali, film ini memang mengedepankan sastra sebagai cara jitu memancing romantisme dari keseluruhan cerita. Cara yang sama pula masih digunakan dalam sekuel keduanya. Hanya saja yang membedakan ada hal lain yang disuguhkan kali ini. Ya, sebuah kota yang konon memiliki romantisme di setiap sudut-sudutnya sehingga mampu menyihir siapapun yang singgah disana. Manalagi kalau bukan, Yogyakarta.
Baiklah, langsung saja saya bahas soal bagaimana euforia dan penilaian dari sudut pandang saya terkait film romeo dan julietnya Indonesia ini.

Hal pertama yang saya simpulkan dan tangkap dari film adalah NOSTALGIA. Ya, banyak orang yang rela berdesak-desakkan antri bahkan melakukan apapun demi mendapatkan kursi gala premiere-nya. Mereka bukan terjebak dalam nostalgia melainkan dipenuhi rasa penasaran dan rindu akan kisah cinta dua sejoli yang menjadi kisah romantis pertama bangkitnya kembali film Indonesia. Film ini memiliki banyak fans yang telah tumbuh dewasa bahkan kini telah berkeluarga. Bayangkan saja rentang waktu antara sekuelnya selama 10 tahun. Kisahnya sendiri diceritakan sejauh 14 tahun setelah sekuel pertamanya dirilis ke pasaran. Dimana 5 tahun memupuk dan mengembangkan cinta kemudian 9 tahun untuk memupusnya karena egoisme masing-masing. Maka tak ayal, kerinduan fans memuncak kala sekuel film ini dirilis. Antrian mengular di seluruh bioskop. Tidak hanya penonton setia yang sejak awal mengikuti kisah Cinta dan Rangga tetapi juga mampu merangkul segmentasi pasar baru, yakni remaja masa kini yang dulu belum mengenal apa itu AADC. Secara otomatis, jumlah penonton film ini semakin berlipat ganda. Bahkan sang sutradara dan produser tidak khawatir atas gempuran film Hollywood yang datang bersamaan dengan penayangan film ini.


Hal kedua yang menjadi perhatian saya sebagai penonton adalah BERANI. Mengapa kata itu yang saya pilih. Bagaimana tidak? Jika kita melihat ke sekuelnya yang pertama, AADC menjadi satu film remaja yang berani mendobrak budaya timur kala itu, meskipun ini bukanlah yang pertama kali dalam industri film Indonesia. Salah satu adegan romantis di bandara cukup menjadi trend setter kaum muda kala itu bahkan bagi mereka yang awalnya malu-malu melakukannya setelah AADC 1 sukses di pasaran, mereka beranggapan hal tersebut bukan sesuatu yang tabu lagi bagi Indonesia. Nah, bagaimana dengan sekuelnya yang kedua. Combo, yap combo. Bukan cuma double. Adegan itu dilakukan lebih dari dua kali. Lantas apakah menjadi kontroversi? Bisa jadi ya, bisa jadi tidak karena kini di tengah gempuran liberalisme dan modernisme hal itu sudah tidak menjadi hal yang tabu lagi sekalipun dilakukan di Indonesia yang notabene sangat menjunjung budaya timur. Ya, adegan dunia barat itu muncul serta-merta di film ini. Seolah semakin memperkenalkan bahwa hal itu biasa-biasa saja dan tidak perlu dipermasalahkan. Yang bisa kita lakukan hanyalah sejauh mana prinsip kita sebagai orang timur dan menjunjung tinggi keluhuran serta aturan keagamaan (bagi yang beragama).


Hal yang ketiga adalah PARIWISATA. Hal yang positif memang tapi bisa jadi membuat bumerang bagi Indonesia yang diperkenalkan wilayah cantiknya lewat film ini. Yogyakarta menjadi lokasi syuting terbanyak dalam setiap adegan. Berbagai tempat terindah diperkenalkan. Sudah dapat dipastikan seluruh tempat-tempat yang dijadikan pengambilan gambar dalam film akan langsung booming keberadaannya. Akan banyak kaum muda / wisatawan yang melakukan hal serupa seperti dalam film karena rasa penasaran dan ingin merasakan sensasi yang sama. Buruknya, jika sebuah tempat wisata dikenal oleh wisatawan yang kurang bertanggung jawab, masalah yang ditimbulkan selanjutnya adalah kerusakan yang berujung pada ‘kepunahan’ lokasi wisata tersebut.


Hal yang keempat sekaligus terakhir adalah CINTA. Ciptaan Tuhan satu ini memang menjadi warna sekaligus salah satu pembeda antara manusia dengan makhluk lainnya. Makhluk ini umumnya berwujud sebuah rasa yang tak pernah kasat mata. Sanggup membuat siapapun takluk, berkasih sayang, bahkan saling membunuh. Dahsyat. Tergantung bagaimana ia disikapi memang. Dalam film ini, selain tokohnya bernama Cinta, kerumitan makhluk bernama cinta sanggup mengublek-ublek perasaan dua sejoli ini. Rangga tidak mampu menuruti cintanya karena sesuatu hal yang tidak dapat ia ungkapkan pada Cinta. Meskipun sepele tapi akibatnya sangat besar karena dibiarkan berlarut-larut. Hanya butuh waktu hingga akhirnya perasaan mereka dapat dikompromikan kembali atas nama cinta. Kehilangan tidak melulu membuat seseorang lupa, bahkan bisa jadi kehilangan malah akan membuat seseorang selalu ingat akan bagaimana sesuatu itu terjadi.


Film ini diwarnai gengsi wanita yang konon dimisalkan berasal dari Venus dan karakter kuat dari seorang pria yang konon dimisalkan berasal dari Mars. Jelas sekali mereka menunjukkan sikap dua sejoli yang saling memiliki rasa cinta hanya saja karena sebuah keadaan yang terpendam menjadi semua tidak terjelaskan sama sekali hingga memunculkan kerumitan dan kesulitan untuk saling mengungkapkan rasa yang tersisa sebenarnya. Penonton bisa belajar banyak bagaimana karakter seorang wanita a.k.a Cinta yang sebenarnya menyukai sosok masa lalunya (dalam cinta pertamanya) sekalipun telah ada sosok lain yang mampir ke hatinya kini, bagaimana ia menjaga perasaan, bagaimana ia sesungguhnya masih sulit untuk melupakan namun gengsi untuk mengakui, semuanya ditampilkan secara jelas di film ini. Begitupun dengan sosok Rangga sebagai pria yang benar-benar mempertahankan perasaannya kepada sosok wanita yang dulu dicintainya. Cinta pertama memang sulit untuk dilupakan bagaimanapun cara yang dilakukan untuk menyingkirkannya. Begitulah kurang lebihnya. Penonton dapat belajar bagaimana seorang pria memiliki gelagat masih menyimpan rasa, cara menyukai seorang wanita, dan apa yang ia lakukan demi mewujudkan perasaannya itu agar tak sia-sia dikubur dalam hati kecilnya.


Hal yang menjadi unik dari film ini adalah sentuhan komedi yang tepat di setiap scene. Keseriusan yang memuncak kemudian dilumerkan dengan punch-punch komedi yang pas tanpa berlebihan. Secara tidak langsung, membuat cerita yang mengisahkan kerumitan cinta dua sejoli yang terpisahkan jarak dan waktu ini tidak mengerutkan kening penonton. Penonton seolah diberikan jeda dalam setiap bagian menuju klimaks. Secara keseluruhan, sekalipun alur cerita dan ending yang mudah sekali ditebak, film ini memiliki cerita yang kaya sebagai film bergenre romantis sehingga tidak terkesan romantisme yang itu-itu saja.


Salah satu pesan yang mungkin dapat disampaikan adalah cinta tidak melulu soal harapan, ia membutuhkan sebuah kepastian. Sekali harapan itu ditanam, ia tidak akan pernah hilang dan akan bertumbuh kembang bahkan bertunas. Apalagi terkait dengan hati seorang wanita. Harapan yang ditanam di hatinya, akan sulit sekali untuk dicabut seakar-akarnya sekalipun ia merelakannya. Tidak perlu mengumbar janji atau sumpah serapah demi mengharapkannya menjadi jodohmu. Jika kelak dia memang jodoh yang ditakdirkan untukmu, dia akan kembali dengan cara dan jalan apapun. Tuhan yang akan memberi jalan karena Dia yang menakdirkan. Jadi tidak perlu takut atau khawatir tidak akan mendapatkan jodoh yang diinginkan. Sibuklah perbaiki diri, bukan sibuk memberi harapan sekalipun harapan itu benar adanya dan serius. Karena umumnya manusia diciptakan dengan sifat mudah memberi janji namun sulit untuk menepati. Introspeksi diri sejauh mana diri kita telah siap menerima sang jodoh yang bisa datang sewaktu-waktu karena ketentuanNya. Percayalah, jodoh yang hadir padamu adalah yang sesuai dengan dirimu, sebaik apa dan sesiap apa dirimu. Bagi yang muslim dapat merujuk pada QS. An Nur: 26 sehingga tidak perlu ada kata-kata seperti berikut:

“Jendela terbuka dan masa lalu memasukiku
sebagai angin,
meriang, meriang, aku meriang,
kau yang panas dikening kau yang dingin dikenang.”

Mau tahu apa yang sebenarnya terjadi 14 tahun belakangan ini antara Cinta dan Rangga? Akankah mereka dapat disatukan kembali dalam ikatan cinta?

Oya, mau tahu adegan apa yang saya maksud di atas?

Langsung saja saksikan AADC 2 di bioskop terdekat kesayanganmu. Petik hikmahnya, buang jauh sisi negatif filmnya. Eittss, antri yang tertib ya! :)