THE JUNGLE BOOK

Sanjaya San
Karya Sanjaya San Kategori Lainnya
dipublikasikan 28 April 2016
THE JUNGLE BOOK

To the point saja, film ini mengisahkan seorang anak yang tanpa sengaja ditinggal di hutan sehingga ia dibesarkan oleh sekawanan hewan yang kemudian memiliki kedekatan emosi yang luar biasa. Dan dalam perjalanan berikutnya ia harus menyelesaikan segala masalah serta konflik yang ada. Mirip tarzan? Ya kurang lebih tapi tidak 100%. Setidaknya film ini memiliki alur yang lebih sederhana dibandingkan Tarzan. Genrenya cocok untuk segala usia.

Saya patut acungi jempol untuk film ini. Sejak kemunculan trailernya, suguhan animasinya luar biasa. Speechless pokoknya. Manusia selalu memiliki keinginan untuk menciptakan sesuatu sesempurna mungkin, persis sebagaimana ciptaan Tuhannya. Itulah salah satu kecerdasan manusia. Ceritanya yang cukup sederhana bahkan mungkin penokohan yang tidak terlalu banyak membuat film ini mudah dicerna. Bahkan takjubnya bisa memancing ingin tahu lebih dari anak-anak yang nonton bersama saya saat itu.

Settingnya memang diambil dari hutan tropis -hutan pedalaman India tapi kok mirip amazon ya hehe- yang memang memiliki keanekaragaman hayati sangat tinggi. Setidaknya deskripsinya Indonesia banget lah ya-karena tropis. Banyak hewan diperkenalkan disana termasuk segala kebiasaan dan sifatnya. Bicara soal sifat, manusia disindir habis-habisan disini. Penonton disuguhi dengan pemalasnya si beruang madu, kompaknya kawanan serigala, tertibnya para antelope, liciknya ular, serakahnya kawanan monyet, bijaksananya kawanan gajah, hingga angkuhnya sang raja hutan. Semua itu ada dalam sifat manusia dalam kehidupan nyata. Mungkin juga karena ini animasi kehidupan rimba, dan tergolong fabel, sehingga para hewan seolah di'manusia'kan. Tapi setidaknya deskripsi itu memang begitu melekat pada karakter setiap hewan hingga menjadi simbol tersendiri bagi hidup manusia.

Selain itu, film ini benar-benar menampar keras manusia yang memang sejak awal penciptaannya ditakdirkan sebagai khalifah di muka bumi. Secara maknawi bukan sekadar memimpin melainkan juga menjaga dan merawat apa yang ada di sekitarnya. Konflik terbesar dalam film adalah dendam tak berkesudahan antara manusia dan hewan. Di mata hewan, manusia senantiasa menjadi ancaman mereka. Satu hal yang membuat mereka membenci manusia yakni kekuasaan manusia yang berada di puncak rantai makanan memiliki kecerdasan tertinggi dan mampu membuat red flower (bukan menciptakan lho ya tapi membuat). Red flower inilah yang menjadi mimpi buruk bagi seluruh hewan di hutan hujan tropis bahkan di kawasan manapun. Hanya dengan kebijaksanaan manusia lah yang mampu mengendalikan red flower agar tetap bermanfaat bagi kehidupannya. Manusia tak berhak mengembangbiakkannya di hutan dan mengancam kehidupan rimba yang susah payah telah dijaga oleh warga rimba. Ya, mereka menciptakan rantai makanan mereka dan hidup damai lestari dalam posisi mereka masing-masing yang seharusnya tidak perlu diganggu oleh keberadaan manusia.

Mungkin film ini juga perlu disaksikan oleh bapak-bapak pejabat di atas sana atau korporat kelas kakap yang selalu mengutamakan keserakahan dan kekayaan fana di atas segalanya sekalipun harus mengorbankan alam sekitarnya. Perlu kita ingat, manusia sudah ditampar habis-habisan di film ini, manusia tidak hidup sendiri di bumi. Manusia butuh alam tapi alam tidak butuh manusia. Allah mampu menjamin keutuhan ciptaanNya tanpa bantuan manusia tapi keberadaan kita justru untuk mengatur, merawat, dan mengelolanya dengan baik sekaligus pembelajaran hidup bagi kita sendiri dalam memaknai kekuasaanNya. Melalui ciptaanNya lah kita mampu mengenal keagunganNya. Lebih dekat dan lebih dekat lagi.

Masih penasaran dengan apa sebenarnya red flower yang dimaksud? Mau tahu nasib si anak yang hidup di hutan sejak kecil? Atau mungkin ada yang perlu belajar biologi -khususnya zoologi untuk sekadar memperkaya wawasan? Langsung saja deh saksikan filmnya. InsyaAllah bermanfaat, dan siapkan pipimu untuk ditampar keras oleh film ini. (y)

  • view 132

  • DEBORA KAREN
    DEBORA KAREN
    1 tahun yang lalu.
    Aku belum sempet nonton. Ngiler suer.

    • Lihat 1 Respon