Cerpen Sanifah : Marapu Hamayang

Cerpen Sanifah : Marapu Hamayang

Sanifah
Karya Sanifah  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 13 Desember 2017
Cerpen Sanifah : Marapu Hamayang

Pagi hari yang cerah dengan kicauan burung yang bersiul begitu sangat merdu, cahaya mentari memantulkan keindahannya pagi itu. Tampak sepasang lai papaha atau suami istri sedang duduk sambil menikmati secangkir teh panas di kaheli atau balai-balai disamping rumah. Sementara itu anaknya masih terlelap dalam tidurnya sehingga tidak ikut menemani orang tuanya menikmati indahnya suasana pagi.

Siang dan malam Umbu Maramba dan istri bekerja hanya untuk mendapatkan uang demi sekolah anak mereka dan juga kelangsungan hidup mereka di Desa Kamalawatar yang jauh dari rumah-rumah warga. Sementara di kota, Umbu Ndita tidak pernah mengabari orang tuanya ataupun pulang ke kampung halamannya sekalipun ia sangat merindukan kedua orang tuanya. Karena keadaan jaringan komunikasi yang belum begitu memadai, Umbu Ndita tidak pernah menghubungi orang tuanya.
Selang berganti bulan, berganti tahun. Umbu beranjak masuk SMA. Semenjak ia duduk di bangku SMA, pergaulannya sedikit demi sedikit mulai bebas. Ia mulai mengikuti sekelompok anak-anak yang pergaulannya mulai tidak karuan. Umbu sering ugal-ugalan di jalanan, sering mabuk-mabukan dan tawuran. Tetapi dia tidak pernah bolos sekolah ataupun meninggalkan sekolahnya. Dia termasuk anak yang pintar di kelasnya, walaupun dia nakal tetapi kepintaran dan kerajinannya membuat semua guru sayang dan senang terhadapnya.

Pagi hari aktivitas Umbu Ndita hanya di sekolah, setelah pulang dari sekolah baru ia melanjutkan berkumpul dengan teman-temannya. Umbu tidak miskin dalam berteman, pergaulannya sangat luas. Dia banyak dikenali semua orang-orang terlebihnya anak-anak seumurannya. Sehingga kemanapun ia pergi, ia tidak pernah merasa kesusahan.
Bagi teman-temannya, Umbu sangat baik. Ia tidak pernah tidak membantu siapa saja yang dikenalinya saat butuh pertolongan. Bagi Umbu, setiap orang membutuhkan orang lain. Membantu sesama merupakan kewajiban setiap orang, karena dengan membantu sesama ia juga mampu berinteraksi baik dengan orang lain.

Suatu ketika di pinggiran jalan, Umbu sedang berjalan dengan buru-buru karena ingin bertemu pamannya dirumah neneknya. Saat itu pamannya sangat merindukan dia dan ingin segera bertemu dengannya. Kebetulan pamannya baru saja tiba dari Denpasar. Tiba-tiba dia bertemu temannya yang sedang berlari.
“Tunggu! Mau kemana? Kenapa terburu-terburu seperti orang ketakutan?” tanya Umbu Ndita terhadap temannya itu.
“Tidak, kakak saya kana’bu atau jatuh dari motor di depan rumah. Saya berlari ingin mencari bantuan. Karena di rumah saya tidak ada orang selain kami berdua,” jawab temannya itu.
“Kalau begitu mari kita pergi sama-sama, mudah-mudahan saya bisa bantu kakak kamu,” balas Umbu Ndita sambil berlari dengan temannya.

Setelah mendengar itu, Umbu tidak terlalu memikirkan lagi tentang pamannya, dia lebih mementingkan membantu kakak dari temannya itu. Meskipun nanti ia dimarahi oleh paman dan neneknya ia tidak masalah, asalkan ia bisa membantu temannya itu.Umbu Ndita sangat disenangi oleh teman-temannya karena selain baik ia juga pintar mengatur waktu. Meskipun ia nakal tapi kenakalannya tidak pernah merugikan orang. Ia hanya nakal karena berawal dari pergaulannya.

Suatu ketika, Umbu pergi mencari hiburan bersama sahabat-sahabatnya di Pantai. Selama bepergian Umbu tidak memberitahukan kepada saudaranya meskipun mereka sudah berjanjian akan berangkat berkunjung orang tuanya. Karena itu juga ia takut saudaranya mengikutinya, sebab ia sadar bahwa sahabat-sahabatnya tidak baik pergaulannya jika diimbangi dengan saudaranya. Sesampainya di Pantai, Umbu di ajak salah satu temannya untuk mencicipi minuman keras yang memabukkan. Ia pun mabuk tanpa disadari lagi keadaannya. Belasan kali saudaranya menelpon untuk menanyakan keberadaannya dimana tetapi ia tidak mengangkat panggilan itu sekalipun, padahal saudaranya sudah berharap bisa pulang berkunjung orang tua di kampung halaman.

Tibanya waktu untuk pulang ke rumah, Umbu mengendarai sepeda motor bersama kedua temannya. Mereka pulang dalam keadaan mabuk parah dan bernyanyi dengan suara keras di jalanan. Dengan tiba-tiba salah satu temannya yang bernama Andian berkata,
“Umbu, itu ada keramaian disitu. Mari kita mampir.”
“Tidak usah, kita harus pulang cepat,” jawab Umbu kepada temannya.
Temannya yang bernama Ikram menyambar pembicaraan mereka dengar suara nyanyian yang keras dan tepukan tangan dipundak Umbu Ndita.
“jalaaaan, buru waktu,” kata Raldi.

Akhirnya mereka melanjutkan perjalanan dengan suasana nyanyian tanpa henti sepanjang perjalanan. Perjalanan mereka ditemani hanya dengan suara nyanyian yang ribut. Sesampainya di pertengahan jalan, mereka melewati jalan yang sedikit terasa sepi meskipun ada rumah warga dan gedung-gedung besar di sekitar pinggiran jalan. Umbu Ndita mengendarai motor dengan sedikit kencang. Tiba-tiba temannya Ari yang duduk dibagian tengah menegurnya
“Umbu, pelan-pelan saja. Tidak usah terlalu ngebut. Slow saja, kita tetap sampai di tempat tujuan. Tenang saja, pembalap yang bawa jadi santai. Harap tenang,” jawab Umbu.
Dengan tiba-tiba Umbu menurunkan kecepatan laju motornya, lalu menoleh ke belakang. Temannya Ikram yang duduk dibagian belakang kebingungan.
“Ada apa? Jangan menoleh ke belakang, terus saja bawa motor perhatikan di depan,” kata Raldi.
“Tidak kawan, saya seperti dengar ada yang tegur saya tadi dan panggil nama saya disitu,” jawab Umbu sambil kembali menoleh ke belakang.
Tiba-tiba Bruuukkkk, Motor mereka jatuh menabrak tiang listrik di tengah jalan. Mereka bertiga jatuh berhamburan terpisah. Ari terlempar di dekat pohon bunga depan rumah warga, Ikram jatuh terlempar di sekitar pagar besi di pinggiran jalan. Sedangkan Umbu jatuh tidak jauh dari tiang listrik dan motor. Dadanya lehernya tertusuk papan-papan besi disekitar tiang dan jidatnya terbentur keras pada tiang. Umbu sempat bangun duduk dan melihat kedua temannya. Salah satu temannya tertidur melihat Umbu bangun dan ia langsung meminta tolong kepada Umbu.
“Tolong Umbu, tolong saya,” kata Ari yang lukanya juga lumayan parah.
Antara telapak kaki dan pergelangan kakinya terbelah. Seketika itu Umbu langsung mengeluarkan darah dari mulutnya. Dan tubuhnya bercucuran darah. Saat itulah ia kembali tertidur dan meninggal dunia. Kedua temannya berteriak meminta tolong, tetapi tidak ada seorangpun yang datang menghampiri mereka. Lalu beberapa menit kemudian sebuah mobil lewat dan Ikram teriak menahan kendaraan tersebut.
“Om, tolong om. Tolong teman saya om. Tolong! Dia jatuh tidak bangun lagi om, tolong bantu bawa dia ke rumah sakit.” Orang tersebut berhenti lalu melihat kondisi Umbu sudah tidak tertolong lagi dan orang tersebut menelphone pihak rumah sakit dan jenazahnya dibawa kerumah sakit. Mendengar berita itu, orang tua Umbu sangat syok dan Ibunya sempat pingsan. Suaminya berusaha untuk menenangkan hati istrinya walaupun hatinya juga tersiksa mendengar berita itu.
“Bawa pulang Umbu, saya mau lihat dia. Bawa dia,” kata ibunya.
“Iya, kita bawa pulang dia. Kita bawa pulang. Tapi sabar, yang tenang,” kata ayahnya.
“Umbuu, langgi nyummu?dimana kamu Umbu? Mbeli hi. Pulang sudah Umbu,” teriak ibunya dengan suara tangis yang amat sangat sakit.
Beberapa jam kemudian, paman dari si Umbu memberi kabar bahwa jenazah Umbu akan di pulangkan malam ini juga ke kampung halaman dan di kuburkan di dekat rumahnya. Mulai saat itu ibunya merasa luka yang amat mendalam dan terpuruk karena kehilangan anak satu-satunya yang paling di sayang.
Sesampainya di kampung halaman, jenazah Umbu di sembahyangkan dengan cara marapu. Marapu adalah Agama yang memiliki kepercayaan pemujaan kepada nenek moyang dan leluhur. Mereka percaya bahwa kehidupan di dunia hanya sementara dan mereka akan hidup kekal kembali pada akhir zaman di Parai Marapu atau Surga. Sehingga di lakukan upacara tersebut.
Upacara kematian selalu dilengkapi penyembelihan hewan seperti kuda maupun kerbau. Hal tersebut yang menjadi tradisi turun temurun penganut Marapu yang sampai saat ini masih terus berjalan dan selalu dijaga oleh umat Marapu di Sumba. Tau Humba atau orang Sumba percaya bahwa roh nenek moyang juga ikut menghadiri upacara penguburan. Roh hewan yang disembelih dipersembahkan untuk nenek moyang dan daging hewan tersebut diberikan dan dimakan oleh orang yang hidup atau tamu undangan.
“Cepat siapkan perlengkapan untuk upacara adat hari ini. Dan segera siapkan hewan lalu undang beberapa keluarga untuk ikut berkabung,” ucap kata kepala adat di Desa Kamalawatar tersebut.
Menurut kepercayaan Marapu, setelah kematian masih ada kehidupan. Semua makhluk hidup dipercaya memiliki dewa atau arwah. Setelah seorang meninggal, tubuhnya memang lenyap tetapi arwahnya tetap hidup. Pemeluk agama Marapu percaya bahwa kehidupan didunia ini hanya sementara, bahwa setelah mati akan ada kehidupan yang kekal abadi di dunia roh dan mereka tidak mengenal konsep Marapu. Jika ada warga yang meninggal tidak wajar di tempat-tempat umum seperti yang dialami oleh Umbu Ndita maka harus diadakan acara ritual cungkil arwah atau yang dikenal dengan Lekke-dewa. Arti dari ritual tersebut adalah bahwa arwah yang meninggal tertanam di tempat tersebut dan harus diambil kembali dengan melakukan upacara adat. Tujuan dilakukan upacara adat di tempat itu agar arwahnya dipandu pulang ke kampung penghimpunan para leluhur. Acaranya dimulai dengan ma’urrata di rumah Umbu lalu diiringi ke tempat musibah. Barisan paling depan pemegang tombak sebagai penunjuk jalan. Kemudian dato marapu atau kepala adat yang membawa manu atau ayam kurban dan dilakukan upacara singkat di tempat tersebut.
Menurut adat Marapu, saat seorang meninggal jenazah dibungkus oleh keluarganya dengan menggunakan kain tenunan sumba dan diposisikan seperti bayi dalam kandungan yaitu dibuat duduk meringkuk. Kaki tangannya dipukul agar bisa dilipat. Manusia harus dikembalikan posisinya seperti saat masih berada di dalam rahim seorang ibu.
Jenazah Umbu tidak dikuburkan langsung pada hari itu juga saat ia meninggal. Tetapi jenazahnya masih dibiarkan selama satu tahun atau paling cepat hanya delapan bulan saja. Setiap hari keluarga duka harus menjamu tamu yang melayat dengan makanan dan minuman serta sirih pinang.
Upacara kematian ini tidak diperkenankan untuk menangis dan belum boleh memberitahu keluarga lain. Jika wafatnya dirumah sakit maka almarhum dibawa ke kampungnya untuk diadakan acara memanggil, salah satu orang tua harus melakukan pemanggilan dan menyebutkan nama orang yang wafat tersebut sebanyak empat kali dengan sebutan.
“Na njorunyaka Njara, Na Mbatanyaka Landu, Jatuh darikuda, patah jambul dikepalanya,” ucap kepala adat.
Membangunkan mayat atau pa hadangu Marapu yakin bahwa yang wafat sudah kembali ke negeri leluhur, karena itu jenazahnya harus diawetkan lalu disimpan dengan cara duduk menyerupai bayi dalam kandungan. Membangunkan berarti membuat rohnya berada kembali di dalam tubuh sehingga dapat diberi sirih pinang dan makanan. Dalam acara membangunkan mayat ini dipotong seekor kuda sebagai kurban. Dangangu atau gong dibunyikan siang malam hari sebagai tanda berduka, bunyi irama yang dimainkan berbeda dengan bunyi irama yang dimainkan pada saat perayaan pesta.
Kuburan Umbu sudah dibuat sebelum waktu penguburan. Pembuatan kuburan terdiri dari lubang bulat. Jenazah Umbu diturunkan dan ditutup dengan batu bulat kecil atau ana dalura, lalu ditutup bagian atasnya dengan batu besar dan kemudian ditopang dengan empat batang batang batu sebagai kaki penyangga yang disebut reti ma pawiti.
Setelah membuat kuburan, keluarga Umbu mengundang para tamu jika penguburannya masih lama dilakukan. Sambil menunggu waktu penguburan tiba, jenazah Umbu disimpan disalah satu kamar kosong dalam rumah puhi la karungu. Para tamu disambut dengan membunyikan gong disertai pemberian sirih pinang. Para penjaga jenazah harus menangis dengan suara keras. Bagi pembawaan tamu atau pangandi tau, pihak yera atau paman membawa dua lembar tenun ikat.
Saat hari penguburannya tiba, jenazah Umbu dibawa turun ke pandopo depan, gong dibunyikan dengan irama cepat sebagai tanda bahwa penguburan akan segera dilaksanakan. Teman-teman serta guru-gurunya juga ikut menghadiri acara penguburannya itu di Kamalawatar. Pada saat jenazah Umbu diturunkan, diadakan pemotongan satu ekor kuda besar. Jenazah dimasukkan kedalam lubang kubur dan ditutup dengan batu pipih kecil lalu batu besar. Sementara itu dipotong lagi beberapa ekor kerbau.
Beberapa hari kemudian, semua keluarga dari Umbu yang terdekat atau tetangga diundang untuk mengikuti penutupan masa berkabung atau warungu handuka. Dalam acara ini, dipotong seekor babi atau sapi untuk makan bersama, setelah itu dibagikan sisa-sisa pembawaan kepada jenazah untuk diberikan kepada tamu.
“Acara upacara adat pada kematian umbu sudah berakhir hari ini, maka dari itu kami dari keluarga besar mengundang untuk datang dalam upacara penutupan ini dengan mengucapkan banyak terima kasih,” ucap kepala suku adat tersebut.
Upacara penguburannya sudah berakhir, arwah Umbu pun telah dihantar ke alam barsyah atau negeri khayangan. Arwahnya itu berangkat bersama dengan arwah para leluhur lainnya ke negeri marapu. Arwah tersebut akan datang lagi jika diundang melalui hamayangu atau sembayang dalam upacara adat. Dan arwah yang dipanggil tidak sembarangan, harus ada maksud tertentu. Untuk mengadakan upacara pemanggilan arwah tersebut harus dipimpin oleh pendeta dan didasari pada kalender adat atau tanda wulang.

  • view 136