Kilatan, Gelegar, dan Ironi Orang-orang Tak Berdaya

Boy  Adisakti
Karya Boy  Adisakti Kategori Lainnya
dipublikasikan 27 Oktober 2016
Kilatan, Gelegar, dan Ironi Orang-orang Tak Berdaya

Uhuy, lagi.. lagi.. lagi. manusia lahir, manusia pergi, bersama segala permasalahan mereka, bersama kemenangan yang sengaja atau tak sengaja diraih, bersama kekalahan yang datang begitu saja atau sengaja didatangkan oleh dirinya sendiri maupun orang lain. Dan harus di siang bolong panas berdebu yang membawa nestapa seperti ini, tiba-tiba pikiran liar pun datang. Bagai kilatan yang tak sempat terlihat dengan jelas, yang suaranya menggelegar. Namun ia bagai pecundang, iya pecundang. Menampakkan diri sebentar, meninggalkan suara kotor yang menghadirkan ketakutan dan kekalutan hati.

Ah, kilatan. Kau korbankan suara gelegar itu utk disalahkan. Sengaja kau tumbalkan si gelegar untuk disalahkan, dikomat-kamiti, dikutuk-kutuki, seolah dia bersalah, sekalipun ia memiliki salahnya sendiri, namun tetap saja kau pengecut. Kau ini penyambar, yang menyambar siapa saja yang menghalangi jalanmu, lajumu, keegoisanmu, keangkuhanmu, kemauanmu pribadi. Kau lakukan itu berulang-ulang, terus menerus, dan semakin banyak gelegar yang kau tinggalkan untuk kau salahkan.

Gelegar bersuara besar. Datang menghadirkan kekalutan, ketakutan orang-orang tak berdaya. Ia seakan-akan besar, adidaya, punya segala. Suaranya paling besar malah sanggup mengalahkan amplifier merk apapun dari negara manapun. Ah, sayang. Kau hanya tumbal. Bukan kamu yang benar-benar merasakan kegembiraan menghantui kami, orang-orang tak berdaya, si kilatan lah sesungguhnya. Kau hanya budak kilatan , tak lebih. Kilatan yang lagi lagi sengaja, dan tak jera tak kapok meneror orang-orang tak berdaya, dibalik punggung gelegar. Memangnya, kau ini dibayar berapa oleh kilatan penjajah itu, hai gelegar?

Dilihat 135