Pagi Bersamanya

Sandi Penuh
Karya Sandi Penuh Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 10 September 2016
Pagi Bersamanya

Pagi itu selepas shalat subuh di mushola, wirid sebentar langsung pulang. Sampai dirumah lalu masuk kamar. Ketika pintu dibuka, nampaklah seorang perempuan sedang duduk disajadahnya membelakangi pintu. Siapa dia? Ya, dia Istriku. Sekarang aku sudah punya istri dan tidak sendiri lagi. Alhamdulillah.

Ini adalah pagi pertama bersamanya. Perasaan kikuk, malu, gemetar, campuraduk jadi satu. seperti bergulung-gulung, di dada terasa gemuruh. suaranya  gemuruhnya bagai ombak yang beradu-adu dilaut lepas. Tanpa ada bermaksud lebay, tapi ya begitulah kira-kira keadaanya. Inilah saat-saat dimana dunia pun seakan ikut merasakan kebingungan. bingung mulai, bingung mau apa, bingung mau nanya apa. draft pertanyaan yang sudah disusun dari jauh hari jadi lupa, hilang entah kemana. Strategi yang sudah disusun rapi pun nyaris sirna.

Pada sebagian besar pasangan suami istri, menjalani hari-hari diawal pernikahan adalah terasa manis, terasa indah, seru, dan sejuta perasaan bahagia lainnya. Apalagi bagi mereka yang sebelum menikahnya tidak pacaran dulu, tidak saling kenal, atau sudah kenal tapi saling menjaga kedekatan, maka saat berduaan pasca nikah adalah saat yang paling menguras emosi, strategi, gengsi, dan si- si lainnya. Dan ini akan jadi kenangan manis kala dikenang dikemudian hari.

Lalu bagaimana dengan mereka yang sebelum menikah sempat merasakan pacaran dulu?  hal ini tidak akan kita bahas sekarang.

 

Pasca menikah biasanya akan terjadi banyak perubahan. Perubahan hampir disemua bidang. Yang tadinya pekerjaan dilakukan sendiri kini dilakukan berdua. Pergi kemana-mana selalu ingin berdua, tidur berdua, makan berdua, beribadah & berdo’a berdua, semua hal menyangkut keluarga kini dipertimbangkan berdua, bahkan yang lebih hebatnya lagi orang tua yang mendo'akankan pun jadi dua, orang tua suami dan orang tua istri. sungguh energi yang dahsyat untuk pencapaian hajat-hajat.

Kembali ke laptop. Dulu ketika masih sendiri, katakanlah jomblo. Setiap pagi selesai sholat subuh biasanya melakukan salah satu dari tiga hal ini ; ngaji, nyuci pakaian atau parah-parahnya tidur lagi. Nah, kebiasaan mana yang akan dilakukan sekarang setelah ada istri?

Pagi itu saat kami berdua pada kebingungan, masing-masing kikuk mau ngapain. Tiba saja saya teringat salahsatu nasehat Imam Ibnu Qayyim, "dzikir pagi dan petang itu seperti baju besi, semakin bertambah ketebalannya maka pemiliknya semakin tidak terkenai (oleh bahaya). Bahkan kekuatan baju besi itu bisa sampai memantulkan kembali anak panah sehingga mengenai pemanahnya sendiri".

Aha….! nasihat yang mencerahkan, langit yang mendung seakan terang benderang kembali. Mungkin ini bisa dijadiin jalan keluar. Dengan gemetar dan setengah berbisik, saya dekati istri dan mengajaknya buat baca dzikir pagi. Alhamdulillah istri merespon, dan rupanya memang itu kebiasaan istri juga setelah sholat subuh. Baca dzikir al-matsurat. Allah memang menakdirkan yang terbaik ya. Yang baik buat yang baik. dan sebaliknya.

Alhamdulillah. baca dzikir almatsurat kini menjadi kebiasaan kami berdua dalam mengawali pagi maupun menutup sore hari. Terasa banyak manfaat, setelah dzikir kami jadi punya waktu untuk cerita tentang segala hal, membaca buku bareng, update info-info, sampai belajar dan mengkaji quran bareng, dsb. Selain itu kami juga bisa berpelukan saling menguatkan ketika ada masalah. Saling menyemangati ketika salah satu diantara kami sedang merasakan rapuh.  oh... so sweet kan?

Alhamdulillah

Dari kebiasaan dzikir pagi ini Alhamdulillah atas izin Allah, saya jadi faham bahwa ketika Allah mengamanahi seorang perempuan yang siap menjadi istri kita, yang dia ridho membersamai sisa hidup kita, dia ikhlas menjalani suka dan duka bersama kita, dia berani menghadapi tantangan demi mewujudkan cita-cita bersama. Maka janganlah menyia-nyiakannya, dia adalah pilihan terbaik yang telah dipilihkan Allah. dia adalah asset, jalan kita menuju surga. Maka berusahalah sekuat tenaga untuk sehidup sesurga dengannya. Kelebihan dan kekurangannya adalah rizki. Janganlah berbangga diri dengan segala kelebihannya, dan juga tidak berkecil hati dengan segala kekurangannya. Terimalah!

Jika suatu saat terjadi kesalahfahaman dengannya, lalu tiba-tiba kita merasakan bosan menjalani hidup dengannya. Coba ingat-ingat lagi hal tadi, cari alasan apa dulu ketika kemudian benar-benar memutuskan ingin menikah dengannya. Apa dasar pertimbangannya? Apakah dia dulu pilihan terbaik yang surga seakan terasa lebih dekat ketika bersamanya?

Apakah alasannya seperti itu? Jika jawabannya Ya, maka segeralah mengalah. Minta maaf. Akhiri kesalahfahaman ini dengan kelembutan. Sebagian keterangan menyebutkan Istri diciptakan  dari tulang rusuk kita yang bengkok. Jika dipaksakan lurus maka dia akan patah. Jika dibiarkan begitu saja maka dia akan tetap bengkok. Maka peluk dia dengan segala rasa. Bisiki dengan permintaan maaf. Ketika keadaan sudah tidak panas maka berbicaralah dari hati ke hati. Bersikaplah lembut kepadanya.

Robbana hablana min azwaajina wa dzurriyaatina qurrota a’yun waz’alna lil muttaqiina imaamaa..

Dilihat 161