DIA TELAH DATANG

Sanahun _
Karya Sanahun _ Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 14 Agustus 2016
DIA TELAH DATANG

                       Dia Telah Datang
Nahun adalah nama yang diberikan orangtua ku untuk anak tunggalnya ini. Aku dilahirkan di Kotabumi, 27 Oktober 1996. Scorpio dan itulah bintang ku. Sebagai anak tunggal aku diberi tanggungjawab yang besar oleh orangtuaku. Ketika tamat SMP aku dipaksa untuk masuk pesantren dan itu sangat berlawanan dengan keinginanku untuk masuk SMA, tapi akhirnya aku turuti demi membahagiakan mereka. Setelah dua bulan masuk pesantren baru kurasakan sakitnya perasaan ini jauh dari orangtua, terbersit dibenakku alangkah jahatnya mereka tapi ya sudahlah aku akan menikmatinya.
“ ya udah lah mak, mungkin lebih baik aku disini dari pada dirumah ntar tambah jadi mumet mama’e”, kataku pasrah melalui telepon kantin.
“alhamdulillah, na coba ngomong kaya gitu dari dulu, mamak kan jadi tambah seneng”, jawab mamak.
“yah mak hidayah kan enggak langsung masuk perlu proses dulu”, jawabku.
“alah kamu ni baru mondok dua bulan aja dah nyeramahin mamak, mang kaya roti di proses”, jawab mamak.
“ya dah lah terserah mamak aja, giliran udah baek disalahin apalagi kalo aku gx mau masuk pondok jadi roti mungkin aku”, jawabku sewot.
“hehe mamak kan cuma bercanda to ndok, biar kamu seneng”, jawab mamak.
“hmm, dah dulu ya mak aku mau ngaji dulu”, kataku.
“ya baek-baek disana ya ndok, mamak ma bapak dirumah selalu doain kamu”, pesan mamak.
Tut...tut...tut... terputuslah teleponku dengan mamak tersayang.
Aku membayar pada kasir dan berjalan keluar menuju tempat pengajaran dan seiring berjalanya waktu serta pasang surut cobaan yang selama ini aku alami sendiri akhirnya membuat ku bisa bertahan selama 3 tahun dipondok. Saat ini aku sudah beranjak dewasa tapi sampai saat ini juga aku belum pernah mengenal yang namanya CINTA. Aku tak mengerti apa itu arti cinta yang sesungguhnya, aku hanya mengenal cinta dari luarnya saja termasuk pengalaman cinta dari teman-temanku tanpa bisa merasakan cinta dari dalamnya. Tapi tak mengapa mungkin ini sudah menjadi takdir yang terbaik dari tuhan untuk ku.
“hmmm ya sudahlah mungkin ini yang terbaik, jangan pengen Nahun jangan pengen...” bisikku dalam hati saat melihat Dona teman sekelasku sedang berbincang-bincang dengan kekasihnya di depan kelas. Tiba-tiba Ria datang padaku dengan nafas yang terengah-engah. Aku terheran.
“Nahun.. ada kabar penting”
“ada apa sich Ria, gupek banget lho?”
“tadi aku liat dimading ada Try Out di IAIN Raden Intan, kamu mau ikutan enggak? Kalo mau nanti aku daftarin ke kantor”.
“ aku ikut kamu aja dech” Ria berlari menuju kantor madrasah untuk mendaftarkan aku dan dirinya. Ketika tiket sudah diberi oleh pihak sekolah keesokan harinya kami berangkat ke IAIN dengan persiapan seadanya, uang secukupnya dan kemampuan yang masih terlalu sederhana kami berangkat dengan kereta. Setelah kereta datang seluruh penumpang kereta berebut untuk masuk ke dalamnya termasuk aku dan Ria. Bel berbunyi tanda kereta akan melaju seluruh pintu ditutup, aku dan Rhia duduk dikursi dekat pintu kereta, kami berbincang-bincang betapa bahagianya bisa naik kereta maklum sebelumnya kami belum pernah merasakanya. Ditengah asyiknya perbincangan kami datanglah tiga mahasiswa beralmamater dan disisi belakang almamater tersebut tertulis UNIVERSITAS LAMPUNG. Kami tercengang melihatnya karena di pondok jarang terdengar kabar tentang universitas yang satu ini. Dari pada kami berdua hanya bisa melongok akhirnya dengan rasa sedikit grogi aku memberanikan diri untuk bertanya.
“assalamualaikum kak, dari UNILA ya? boleh tanya- tanya tentang UNILA enggak?”
“waalaikumsalam, boleh, mang mau tanya apa?” setelah mendengar respon dari salah satu mahasiswa tersebut terlontarlah begitu banyak pertanyaan yang kami ingin ketahui tentang dunia perkuliahan dan alhamdulillahnya tiga mahasiswa itu tidak bosan menjawabnya. Aku merasa sangat puas dengan segala sesuatu yang ku dapat dari ketiganya.
“ow begitu to, makasih ya kak atas semua informasinya. Eh ngomong-ngomong dah panjang lebar belum kenalan lho kak.”
“eh eh dasar kamu ini, kenalin saya Kak Imam, kakak ngambil FKIP MTK disana. Kalo yang ini Kak Danu, dia ini ngambil FKIP Biologi” tunjuk Kak Imam ke arah Kak Danu yang berdiri tepat didepan Ria “dan yang ini Kak Putra, dia ngambil pertanian disana” menunjuk kearah Kak Putra yang berada disamping Kak Imam.
“ow ya ya, kalo aku kak, kenalin saya Nahun dan ini teman sepondok saya namanya Ria. BTW kapan ada Try Out di UNILA?”
“ kalo Try Out UN udah, tapi insyaalloh selesai kalian UN ada Try Out SNMPTN.”
“beneran kak, ya udah biar kami enak hubunginnya gimana kalo kami minta no hp kakak aja. Boleh ya kak?”
Kak Imam menyebutkan satu persatu digit no telkomsel miliknya.” Mau tanya apa lagi? Bentar lagi kakak turun.
“yah kok cepet banget kak?”
Tak lama kereta berhenti tepat di stasiun Pelabuhan Ratu. Pintu terbuka. Ketiga mahasiswa itu bergegas mengambil tas nya masing-masing ditempat penitipan tas yang sudah disediakan.
“duluan ya dek.”
“ ya kak, hati-hati, semoga sukses dan bisa bertemu kembali.” Hanya senyuman manis yang terlempar dari bibir Kak Imam. Cliinnggg........
Terbersit rasa dihati tak ingin berpisah dengan Kak Imam, duh kenapa si aku ini? Kok jantungku tiba-tiba berdegup dengan kencang, seluruh tubuhku bergetar, keringat dingin pun mulai bercucuran ditubuhku, pikiranku kacau. Entahlah aku pun bingung dengan perasaan ini, rasa yang tak pernah aku rasakan sebelumnya. Sepanjang perjalanan aku masih memikirkan tentang perasaan yang ku alami saat ini dan tak terasa tut...tut...tut... bel berbunyi tanda kereta akan berhenti, aku dan Ria bersia-siap untuk turun. Setelah turun kami mencari angkot tujuan IAIN, didalam mobil pun senyuman Kak Imam masih terniang dibenakku dan aku masih terdiam.” Kamu kenapa Nahun? Dari tadi kok diem aja?” tanya Ria khawatir. “enggak papa kok, kepalaku sedikit pusing aja mungkin kecapean.” Jawabku lirih. “ya udah bentar lagi nyampe kok, sabar ya.”
Aku berbisik dalam hati: Maafin aku Ria, bukan maksudku berbohong padamu tapi aku belum siap untuk menceritakan semua ini. Setelah sampai kami membayar ongkos angkot tersebut lalu berdiri sejenak memandangi seluruh bangunan IAIN Raden Intan yang sangat luas, terhampar didepan kami taman dan danau dengan airnya yang berwarna putih vanila. Angin berhembus lembut kearah kami seolah-olah mengajak kami berdua untuk ikut melayang bersamanya... hanya damai yang kurasakan..... Kedamaian itu lalu hancur ketika terdengar suara salah satu dari panitia memberi informasi kepada seluruh peserta Try Out bahwa seluruh peserta Try Out diharap menyetorkan tiketnya kepada panitia dan segera memasuki GSG IAIN Raden Intan. Acara pembukaan dimulai, dilanjutkan dengan sambutan oleh rektor IAIN Raden Intan, beberapa motivasi diberikan olehnya agar kami semua mempunyai cita-cita yang tinggi dan kekuatan untuk menghadapi UN. Tak lama dari itu panitia pun berbaris didepan untuk membagikan soal Try Out sesuai dengan jurusan yang diambil. 150 menit yang diberikan untuk menyelesaikan 100 soal campuran.
Aku tak sanggup menyelesaikan semuanya, kepalaku rasanya sudah mau meledak. Aku pasrah.
“ haduh Riaaa, pusing kepalaku. Sebaiknya sekarang kita keluar dan cari makan. Ok!”
“ setuju banget nah, aku juga pusing.”jawab Ria mendukungku.
Langkah demi langkah kuberjalan lalu perlahan ku tarik pintu gedung itu, kulihat keluar dan kudapatkan seorang pria bertubuh tegap, berkulit putih, berwajah tampan dan senyum yang pernah kudapati sebelumnya. Siapa dia, Kak Imam, benarkah dia Kak Imam, mau apa dia disini... tanyaku dalam hati yang mulai gelisah. Kak Imam pun berbalik badan kearahku dan berkata: lho adek yang kemaren kan? Gimana Try Out nya, mudah kan?
“susah banget kak, pusiiing rasanya. Ngomong-ngomong kakak ngapain disini?” tanyaku.
“ini lagi bagi pamflet acara talkshow di UNILA, mau?”
“iya kak, ya walaupun enggak mungkin bisa kesana seenggaknya dapat pamfletnya. Hmm maaf ya kak kami duluan soalnya lapar mau cari makan dulu.”
“ow iya silahkan, sebentar lagi kakak juga mau pulang.” Senyum itu akhirnya terlempar kembali dari bibir Kak Imam. “Aaaaaaaaaaa” jeritku kegirangan dalam hati tanpa sepengetahuan si Ria. Aku bertekat untuk menyimpan perasaan ini sendiri dan biar aku saja yang bisa merasakanya. Diperjalanan menuju sebuah warung makan aku sedikit berjalan berjauhan dengan Ria tiba-tiba.....
Brakk!!! Terdengar suara benturan keras menabrak tubuhku yang melaju dengan kecepatan tinggi. Gelap pandanganku, mati rasa tubuhku dan sekarang aku tak bisa melakukan apa-apa. Aku pingsan.
“ya allah Nahuuuuuuuunnn!!!!” teriak Ria histeris. Air matanya mulai bercucuran membasahi jilbabnya, tubuhnya bergetar tak beraturan seakan-akan tak sanggup melihat keadaanku saat ini yang terkapar ditengah jalan, darahku terus mengalir keluar lewat kepalaku. “allohurobbiiii.... toloooong...tolooong.... pak tolong pak...tolong teman saya.” Ria terus berteriak meminta pertolongan warga sekitar agar aku segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan. Usahanya tidak sia-sia dan akhirnya warga disekitar warung datang berbondong dan membawaku ke rumah sakit terdekat. Setelah tiba dirumah sakit, aku langsung dibawa ke UGD untuk ditangani. Sedangkan Ria duduk pasrah melihat keadaan ku saat ini, dia bingung, pikirannya sudah tidak bisa memberikan solusi pada dirinya sendiri. “ya alloh bagaimana ini? Aku harus bagaimana?” sejenak dia berpikir “ apa aku telpon Kak Imam aja ya? Apa telpon orangtuanya? Tapi aku takut.” Kata Ria bimbang. Akhirnya Ria memberanikan diri untuk menelpon keduanya lalu menceritakan apa yang sudah terjadi padaku. Mendengar penjelasan dari Ria, Kak Imam langsung menuju ke rumah sakit tempat aku dirawat begitu pula orangtuaku. Selesai menelpon Ria dipanggil ke ruang dokter, disana Ria diberitahu tentang apa yang terjadi padaku dan apa yang dibutuhkan olehku sekarang. Darah, hanya itu yang ku perlukan sekarang. Kebetulan persediaan darah dirumah sakit tersebut sedang kosong. Mendengar penjelasan dari dokter Ria langsung menawarkan dirinya untuk di donor. “ ya dah dok, segera periksa darah saya. Kalo memang sama dengan darah Nahun ambil saja dok.”
“baiklah, mari kalau begitu.” Dokter dan Ria menuju ke sebuah ruangan guna memeriksa darah Ria. “ gimana dok, sama darahnya?”
“maaf nak, darahmu berbeda dengan darah Nahun.” Ria menangis, menangis sekeras-kerasnya. Dokter pun mencoba menenangkannya. Tak lama Ria keluar dari ruangan itu lalu menuju tempat duduk semula, ditengah perjalananya dia melihat sesosok Kak Imam sudah menunggu di tempat duduk. ”Kak Imam” kata Ria sambil menghela nafas lega. “ Ria gimana kondisi Nahun? Dimana dia sekarang?” tanya Kak Imam khawatir. “Nahun kak, dia kritis sekarang, dia butuh darah kak..” jawab Ria sambil menangis. “eh Ria jangan nangis, ya dah sekarang kakak mau coba cek darah kakak, kalo sama pasti kakak kasih, ok!” Ria hanya bisa mengangguk tanpa berbicara sedikit pun. Kak Imam menuju ruang dokter dan mengutarakan tujuan mulianya itu. Setelah diperiksa, hasil tes darah Kak Imam dan Nahun dinyatakan sama lalu dokter dengan cepat melakukan tahap selanjutnya. Hampir satu jam lamanya Ria menunggu hasil tesnya dan tiba-tiba Kak Imam datang dengan penuh senyuman. “kakak, gimana tesnya? Kok dah senyum-senyum?” tanya Ria heran. “makanya besok-besok kalo ada cobaan yang menimpa kita, buka pikiran buka hati, usahakan pikiran kita tetap tenang dan jernih dan yang paling utama pasrahkan kepada Alloh SWT. Karena hanya Dialah yang bisa menolong kita.” Nasehat Kak Imam kepada Ria. “ ya kak maaf, wajar kak aku masih SMA. Terus bagaimana tadi hasilnya?” tanya Ria. “alhamdulillah, darah kakak cocok sama dia. Tadi juga sudah didonorkan jadi tinggal nunggu hasilnya nanti. BTW kamu dah ngabarin orangtuanya?”
“alhamdulillah, coba kakak datangnya dari tadi pasti aku enggak akan bingung kaya gini. Udah kok tinggal ditunggu aja.” Matahari mulai terbenam dan hari pun ikut gelap. Kejenuhan mulai melanda perasaan keduanya. Ditengah-tengah kejenuhan itu keluarlah dokter dari ruang dimana aku dirawat. Mereka berdua spontan berdiri dan bertanya “ gimana dok?” tanya Kak Imam. ”alhamdulillah tuhan masih memberi kesempatan Nahun untuk hidup dan segala operasi yang kami lakukan berjalan lancar. Kondisi Nahun saat ini masih lemah tapi sudah sadar dan bisa kalian temui.” Jelas dokter. “alhamdulillah ya Alloh, makasih ya dok.” Jawab Ria gembira.
Aku masih terdiam diruangan itu, menunggu kedatangan Ria. “Nahuuuunnn...” panggil Ria dari depan pintu. Dia berlari kearahku dengan penuh rasa senang. Aku hanya bisa tersenyum. “Nahun, gimana kondisi kamu? Enggak sakit lagi kan? Tau gak sich aku tu bingung banget ngadepin semua ini, rasanya dah gak kuat lagi hati ini. Tapi sekarang udah seneng soalnya tuhan telah mengirimkan salah satu malaikatNya turun kebumi untuk menyelamatkanmu dan mendonorkan darahnya untuk mu. Dan hasilnya kamu sekarang sudah sadar.” Ria mencoba menghiburku. “siapa coba? Kamu pasti mengenalnya.” Katanya lagi.
“mang siapa?” tanyaku lirih. “ya Kak Imam lah, siapa lagi? Orang darahku enggak cocok sama punyamu yang cocok malah darahnya Kak Imam.”
Kak Imam memandangiku dengan penuh makna dan aku memberanikan diri untuk membalas tatapanya. “lain kali kalo jalan jangan mikirin kakak terus ya.” kata Kak Imam. “ow jadi selama pertemuan singkat ini yang membuat Nahun jadi agak aneh itu gara-gara Kak Imam to?” sahut Ria dengan cepat. “apaan sich kamu Ri?” balasku. “ ya udah lah kalo memang adanya aku disini mengganggu, aku mau cari makan dulu aja. Daaa ....” Ria pergi sambil melambaikan tangannya.
Keheningan pun menghampiri, saat ini hanya ada aku dan Kak Imam. Aku bingung harus berbuat apa. Lalu Kak Imam tersenyum untuk memulai memecah keheningan. Aku membalasnya dan berkata “makasih ya kak.” “ makasih apa?” tanya Kak Imam. “ alah barusan Ria ngomong sama aku kalo kakak yang donorin darah buat aku.” Kak Imam hanya tersenyum. “ itu sudah kewajiban kakak Nah.” Aku pun tersenyum. “ Nah” panggil Kak Imam. “iya” jawabku. “kakak mau ngomong sesuatu sama kamu.”
“ ya udah kak ngomong aja.”
“kamu tau gak dari pertama kali kakak melihat mu, ada yang beda dimatamu.”
Aku hanya terdiam mendengarkan setiap kata yang terucap dari bibirnya.
“kakak melihat ketenangan, kedamaian yang tak pernah kakak temui sebelumnya. Sebenarnya ada rasa khawatir dalam hati kalau sampai tidak bisa bertemu dengan mu lagi. Tapi ternyata Tuhan Maha Mengetahui.”
“maksud kakak?”
“buktinya kita selalu dipertemukan olehNya dalam berbagai keadaan. Benar bukan?”
“heemm” jawabku. Sambil menghela nafas akhirnya kata-kata itu pun terucap dari bibirnya.
“ bismillahirahmanirahim, Nahun aku mencintaimu karena Allah, aku pun yakin kalo Dia menakdirkan kita untuk bersama.” Aku terkejut dengan semua kata-katanya. Selama aku hidup didunia baru kali ini aku merasakan cinta dari sisi dalamnya. Aku bingung harus menjawab apa. Tapi ku beranikan diri. “sebelumnya aku mau berterima kasih sama kakak, karena sekantong darah kakak yang saat ini mengalir ditubuhku bisa menolongku untuk hidup. Terus tentang masalah hati, kayanya aku merasakan hal yang sama.” Kak Imam tercengang dan langsung menatapku tajam. “adek serius?” tanya Kak Imam. “ mang ada muka bercanda ya?” tanyaku kembali. Tiba-tiba masuklah kedua orangtuaku yang ternyata sedari tadi sudah mendengarkan pembicaraanku dengan Kak Imam.
Mereka tersenyum dan berkata padaku.” ya udah, gak papa kok. Kami berdua beri restu kamu Nah, asalkan kamu sama Dek Imam bukan yang lain.”
“cieeeeee....langsung dapet restu nich?” sahut Ria. Kebahagianku terasa semakin lengkap, tak pernah ku sangka dibalik tertabraknya aku akan mendatangkan kenikmatan yang lain. Allah memang Maha Adil. Kini aku sudah sembuh, dan aku akan kembali ke Kotabumi untuk melanjutkan pembelajaranku yang sempat tertunda.
“kak, adek pulang dulu ya. Ntar kalo adek udah lulus pasti adek akan datang kesini lagi untuk kuliah diUNILA.”
“iya pokoknya kakak tunggu. Kakak janji gak akan macem-macem apalagi sampai menduakan adek. Hal itu gak akan terjadi.”
“udah janji lho. Awas kalo ingkar, ditagih diakhirat.” Ancamku.
“udah dulu ya Dek Imam, Nahunnya dibawa pulang dulu, kalo udah lulus pasti kesini lagi.”kata bapakku.
“iya pak, akan saya tunggu.”
Aku, Ria dan kedua orangtuaku menuju mobil. Kak Imam hanya bisa melihatku dari depan rumah sakit. Satu persatu dari kami masuk ke dalam mobil. Aku yang akhir, sebelum masuk aku sempatkan untuk menengok ke tempat Kak Imam berdiri. “kak, adek pulang dulu. Assalamualaikum.”
“ya hati-hati, waalaikumsalam.” Jawabnya.
Aku masuk ke mobil dan perlahan mobil berjalan pergi. Sepanjang masih terlihat, ku pandangi selalu Kak Imam sambil berbisik dalam hati “I LOVE YOU”.


By: Sanahun_Uzumakie
To: ka’ Imam Purnama

 

 

 

 

 

Stasiun cinta

Aku langsung tlah jatuh cinta saat kita bertemu hingga terasa begitu
gila aku terasa gila, gila karena kamu getarkan isi hatiku

sayang ku tlah jatuh cinta
cinta pandang pertama
jumpa di stasiun kereta
sayang ku tlah jatuh cinta
cinta pandangan pertama
jumpa di stasiun kereta

rasa rasa ku tlah gelisah
merasuk ke jiwaku
hanyut memikirkan kamu
hingga rasa cinta ku pada mu
tak perdulikan waktu
ingin langsung bilang i love you

reff

ku harap kaupun mau tuk menyabut cintaku
sayang kamu begitu indah
janganlah ragu kepadaku
cintaku bukan nafsu
sayang ku benar2 cinta

reff 

 

  • view 337