Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 24 Juli 2018   14:54 WIB
Please keep it a secret, okay?

And I have to tell you something. You are awesome and I love you.

Please keep it a secret, okay?

 -------- 

“Maaf, Tim Sierra 4.0 belum berhasil lolos seleksi tahap 2.”

           

            Kelak aku telah menduga bahwa kalimat tersebut akan muncul di layar website pada hari pengumuman seleksi lomba yang pertama kali aku ikuti semenjak awal masuk kuliah 2 tahun yang lalu. Aku merasa kecewa namun aku tidak terkejut karena aku telah merasa bahwa kehidupanku ini bukanlah apa-apa melainkan kegagalan yang bertubi-tubi. Tampaknya aku merasa sangat putus asa. Aku menatap ke langit-langit ruang. Apakah aku akan terus terjebak di kurungan yang sama? Tapi, jika aku mencoba keluar, apakah aku bisa bertahan hidup ditengah ketatnya kompetisi menuju titel “Orang Sukses”?

 

            Aku memeluk tubuhku sambil menatap ke depan. Hampa. Sepi. Dan suram.

           

            Tiba-tiba aku merindukan rasa kasih sayang di rumah yang kini jauh dari genggamanku. Di sini, aku merasa semua orang memandang rendah diriku dan aku adalah orang buangan karena belum ada apapun yang bisa aku banggakan di depan kedua mata mereka. Aku merasa tidak pantas untuk diberi kasih sayang karena aku tidak memiliki apa-apa. Apa yang bisa membuat orang menyukaiku? Apakah harus dengan seulas senyuman setiap saat? Aku tidak bisa. Apakah harus memiliki otak yang encer? Aku tidak punya.

 

            Aku adalah hampa. Dan tidak ada seorang pun yang peduli padaku.

 

            Tidak ada yang menyayangiku di sini. Aku merasa amat kesepian.

 

            Setetes demi setetes air mata membasahi kedua pipiku. Ku usap air mata yang terasa asin di lidahku dengan perlahan. Napasku tertahan tatkala air mataku terus mengalir. Aku merasa marah pada semua orang. Mengapa tidak ada seorang pun yang ada untuk menghiburku dikala aku berada di titik terendah tapi aku selalu ada ketika mereka berada di titik terendah?

 

            Ini sungguh tidak adil, pikirku.

 

            Aku pun terus menangis sampai aku tertidur di atas meja belajar. Alas meja yang begitu keras nampaknya terasa lebih nyaman daripada alas tempat tidur. Cuaca yang dingin sehabis hujan terasa hangat ditubuhku. Aroma lembab dari luar jendela tercium wangi di hidungku. Suara yang berisik dari kamar sebelah tidak terdengar sama sekali oleh kedua telingaku. Hening.

 

 

            “Selamat atas juaranya. Kamu hebat.”

 

            “Kami bangga menjadi temanmu. Terus semangat ya?”

 

            “Kamu keren sekali. Wajar saja kamu adalah seorang juara.”

            Kalimat demi kalimat tersebut berlalu lalang di kepalaku. Bukan. Kalimat-kalimat itu bukanlah untukku. Melainkan orang lain di hadapanku. Ia adalah salah satu dari sekian orang muda yang berprestasi di tengah orang-orang buangan sepertiku. Aku merasa iri kepadanya. Iri karena ia berhasil membuat orang-orang di sekitarnya bangga. Iri karena lebih banyak orang yang akan menyayanginya karena dia adalah orang yang hebat.

 

            Aku? Apalah aku ini? Lubang hitam yang menyerap semuanya menjadi hampa? Seseorang yang tak pantas menginjakkan kaki di sini karena pencapaianku yang kosong? Sampah kecil yang seharusnya tidak dipungut waktu seleksi penerimaan mahasiswa baru? Aku menahan air mataku. Sekarang bukanlah momen yang tepat untuk larut dalam kesedihan yang serupa.

 

            Kemudian, aku pun diam-diam meninggalkan keramaian kampus menuju ke tempat di mana aku bisa leluasa meluapkan seluruh perasaanku yang tercampur aduk. Aku tidak pernah mengucapkan selamat tinggal kepada mereka. Karena aku tahu tidak ada seorang pun yang akan peduli dengan kepergianku begitu pun juga dengan diriku yang sesungguhnya tidak peduli kepada siapa pun.

 

            Aku selalu membungkus ketidakpedulianku dengan seulas senyuman palsu. Sebab aku tidak pantas menerima perhatian mereka. Buat apa? Aku hanyalah sampah yang kosong. Aku bukanlah apa-apa. Aku adalah titik gelap yang tidak pernah dihiraukan oleh cahaya terang. Bahkan cahaya matahari hari ini terlihat suram ketika aku melihat ke atas langit. Aku hirup napas dalam-dalam, aku hempaskan semua perasaan burukku dari dalam diriku.

 

            Namun, masih ada yang tertahan di dalam. Rasa kegelisahanku dalam menghadapi masa depan yang tidak pernah menjauh melainkan mendekat tiap kali aku melangkah. Aku merasa tidak aman tatkala aku terjatuh, tidak ada yang mau membantuku bangkit dari permukaan. Itulah yang terus mengganggu pikiranku serta hatiku yang sudah hancur berkeping-keping sebab tidak akan ada orang bahkan diriku yang mampu memperbaikinya.

 

 

            Suatu hari, aku menerima pesan singkat dari salah satu temanku. Ia menanyakanku apakah aku memiliki waktu luang sebentar. Sebelumnya aku pernah menolak ajakannya berkali-kali sebab tidak mungkin dia serius mau mengajakku keluar. Dia adalah salah satu dari orang yang aku anggap hebat di kampus. Mana mungkin dia mau menghabiskan waktu nya bersamaku. Secuil sampah yang bisa diinjak kapan saja. Akan tetapi, untuk kali ini dan kali ini saja, aku menerima ajakannya. Sebab jika aku tolak sekali lagi, dia pasti tidak akan pernah menyerah.

 

Pada malam harinya, kami berjalan bersama ke suatu kafe kecil di pertengahan kota. Hiruk pikuk keramaian di malam minggu membuat telingaku bising. Aku menahan rasa tak nyaman supaya tidak mengecewakan temanku yang telah merencanakan pertemuan ini. Kami berdua duduk di pojok ruangan dekat jendela sambil melihat jalanan yang dibasahi oleh tetesan hujan. Aku bisa mencium aroma kopi hitam yang menusuk indra penciumanku. Mataku terus menghindar waktu orang lain menatapku dari jauh. Aku sungguh merasa tidak pernah nyaman jika ada banyak sepasang mata memperhatikanku. Rasanya seperti mereka sedang berbicara betapa buruknya diriku ini.

 

            “Kalau aku boleh bertanya, apa suatu saat aku akan hidup hampa seperti ini?” aku membuka percakapan untuk kali pertama dalam seumur hidupku sambil menatap jalan dari balik jendela. “Aku seringkali melihat orang-orang hebat di sekitarku. Dan mereka banyak dicintai oleh banyak orang pula. Aku merasa.. aku tidak akan memiliki kesempatan tersebut. Aku merasa.. tidak bisa menggapai titik di mana orang akan menganggapku sebagai orang hebat. Aku adalah sampah di antara mereka. Apakah kau memikirkan hal yang serupa pula?”

 

            “Berhentilah berpikir seburuk itu. Kamu adalah orang yang hebat,” temanku berhenti sejenak. Tampaknya ia kesulitan menjawab pertanyaanku yang sederhana ini. Kedua matanya terus tertuju ke pot bunga kecil di tengah meja. “Kau lihat bunga ini? Jika diperhatikan dari jauh, seperti tidak terlihat apa-apa. Namun, jika kamu melihatnya lebih dekat, maka kamu akan percaya betapa indahnya bunga ini.”

 

            “Ini persis seperti dirimu. Kamu adalah orang yang mengagumkan setelah aku lama mengenal dirimu. And I have to tell you something. You are awesome and I love you.” Pupil mataku tiba-tiba membesar saat ia membuktikan bahwa masih ada sedikit orang yang menilaiku sebagai orang yang hebat. “Please, keep it a secret, okay?” Seperti biasa orang yang kini duduk di seberangku selalu menyelipkan bahasa asing ketika ia sedang berbicara.

 

            Aku paham apa yang ia katakan. Namun, ada satu hal yang masih membuatku gundah.

 

            “Kenapa harus dirahasiakan? Apa kamu merasa malu karena mencintaiku? Kau pasti malu kan? Aku tidak memiliki apapun yang bisa dibanggakan. Aku bahkan bukan orang yang menarik di segi penampilan.” Aku mengepalkan kedua tanganku dengan amat keras. “Orang tuaku bahkan tidak pernah menerima kabar bahwa putrinya adalah orang yang berprestasi. Justru aku selalu menyampaikan kabar buruk kepada mereka yang selalu menunggu kabar baik. Mereka tidak pantas memiliki anak seperti aku ini.”

 

            Kemudian setetes air mata mulai mengalir dari salah satu mataku. Aku menunduk ke bawah agar ia tidak menemukan raut kesedihan yang terlukis jelas di wajahku. “Aku adalah sampah yang sebaiknya tidak dipungut. Kau sebaiknya tidak usah mencintaiku. Cintailah orang yang jauh lebih hebat dariku. Aku tidak patut menerima kasih sayangmu. Bahkan orang tuaku sendiri. Tapi, aku tidak sanggup memberitahu mereka karena aku takut. Aku takut terhadap semua penolakan. Aku takut kalau masa depan menolakku dan aku terus tertahan di titik yang sama.”

 

            “Dan aku paling takut terhadap diriku sendiri yang tidak mampu bangkit dari kejatuhan. Kau tahu? Aku merupakan mimpi paling terburuk dan nyata yang kau saksikan sekarang.” Suasana pun mendadak terasa suram. Alunan lagu True Colors yang dipopulerkan oleh Cyndi Lauper yang menggema di dalam ruangan terdengar kabur ketika memasuki gendang telingaku. Indera pendengaranku dilumpuhkan oleh bisikan-bisikan orang berkata, “Kau tidak pantas berada di sini. Prestasi apa yang kamu miliki? Tidak ada, bukan?”

 

            “Kamu tidak akan pernah bisa sejajar dengan kami. Menjauhlah.”

 

            Bisikan-bisikan itu menyebabkan aliran air mataku semakin deras seperti Air Terjun Niagara. Dan satu kalimat yang memberikan dampak paling besar adalah, “Seandainya kau bisa lenyap selamanya. Aku yakin ada orang yang lebih baik untuk menggantikan keberadaanmu. Kenapa tidak lenyap saja dari sekarang?”

 

            Aku tahu bahwa suara tersebut hanyalah halusinasi belaka.

           

            Namun, rasanya sangat nyata dan membuat hatiku terasa nyeri.

 

            Kemudian, sebuah tangan menyentuh pipiku yang basah. Secara refleks, aku langsung mengangkat kepalaku agar aku bisa melihat tatapan matanya yang lembut dan menghangatkan. Aku hanya bisa diam termenung saat ia mengusap air mataku pelan-pelan. Sentuhan nya persis mengingatkanku pada ibuku ketika aku menangis setelah terjatuh dari sepeda. “Kau tidak perlu menangis. Aku percaya rasa sakit yang kamu rasakan ini akan menghilang. Jika kamu merasa orang yang paling kesepian di dunia ini, maka kau salah. Kau memiliku. Aku ada di sini. Selalu akan ada di sini setiap kamu merasa sedih. Mungkin kamu tidak pernah mendengar bahwa akulah yang selalu membalas ucapanmu ketika kamu pergi. Aku selalu melihatmu dari jauh saat kamu pergi dari keramaian.”

 

            “Justru akulah yang pantas dicap pengecut, karena baru saat ini aku bisa menghiburmu padahal sudah jelas terlihat oleh kedua mataku bahwa, kamu amat membutuhkan rasa kasih sayang dari seseorang di saat kedua orang tuamu tinggal jauh darimu. Maafkan aku jika aku terlambat. Maafkan aku juga jika aku memintamu untuk merahasiakan rasa sayangku. Sesungguhnya aku tidak memiliki maksud buruk saat aku mengucapkannya.”

 

            “Terus, apa alasanmu? Kenapa kamu memintaku merahasiakannya?”

 

            “Karena jika aku beritahu semua orang bahwa aku mencintaimu, maka aku takut akan ada orang lain yang tiba-tiba mengungkapkan hal yang serupa kepadamu. Mungkin kedengaran nya sangat egois. Tapi, itu benar. Aku tidak ingin ada seseorang merebut posisi yang sudah susah payah aku gapai.”

 

            Lalu, dia semakin mendekatkan wajahku dan menyentuh bibirku dengan lembut. Ciuman nya yang singkat itu terus membekas di dalam memoriku. Jantung ku yang mungil berdegup lebih cepat dari biasanya. Kedua pipiku merona lebih merah dari saus tomat. “Maafkan juga kalau aku tidak bisa menahan diri lagi,” bisiknya. Tatapanku masih terkunci oleh nya. Aku sama sekali tidak bisa mengalihkan pandanganku walau ada orang terjatuh dari sepeda di luar jendela, aku tetap akan terus menatap kedua matanya yang biru sebiru Samudera Hindia. “Aku sudah lama menaruh perasaanku sejak kali pertama kita bertemu di tepi jembatan. Aku yakin kau sudah lupa karena kejadian nya terjadi cukup lama. Waktu itu aku mencoba bunuh diri namun kamu segera mencegatku. Kamu mengatakan bahwa orang hebat seperti ku tidak pantas mengakhiri hidup nya sendiri. Dan sejak saat itu, aku termotivasi untuk terus melangkah ke depan apapun rintangan nya.”

 

            “Kamu pernah menyelamatkanku dari jurang. Sekarang giliranku lah yang akan menyelamatkanmu.” Aku pun mulai mengulaskan senyuman kecil. Aku tidak pernah sendirian di dunia ini. Walau aku pernah merasa demikian, akan selalu ada seseorang yang akan menemaniku, mendukungku, dan melindungiku dari semua perasaan negatif yang ada. Meski hanya satu orang, bagiku itu sudah cukup.

Karya : Salsa Ramadhani