pemuda yang dimandikan malaikat

Salfanil Farizy
Karya Salfanil Farizy Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 03 Agustus 2016
pemuda yang dimandikan malaikat

Baru tadi pagi dia dinikahkan dengan gadis yang dicintainya, gadis yang dia pilih karena ketaatannya pada tuhan. Usianya masih muda saat itu tapi mentalnya untuk menggenggam tanggung jawab sangat besar, niatnya menjadi pemimpin sangat tinggi. Harapannya, melengkapi separuh agama.

Baru pagi itu, dan waktu sesingkat itu dengan ketulusan  jiwanya yang gagah dia berani bersumpah dibawah kekuasaan tuhan bahwa dia akan bertanggung jawab dan menanggung semua dosa gadis yang dicintainya kelak setelah menikah. Dengan akad, dia terang terangan menyampaikan ikrarnya di depan orang tua si gadis dan orang tuanya sendiri. Sangat gentle.

Ketika sumpah itu selesai diucapkan dan disaksikan seluruh makhluk dimuka bumi, telah mulailah kehidupan baru. Bertambahlah satu pasangan lagi yang diikat dengan janji suci. Hati laki-laki itu senang, tenang, dan penuh tanggung jawab. Begitupun dengan si wanita, hatinya terasa baru hingga tak terasa air matanya menetes. Maka pecahlah tangisan bahagia dalam dua keluarga besar itu. Semuanya besyukur dan memuji tuhan dengan seagung agungnya..

Waktu terus berlalu dari jam ke jam tanpa sedetikpun dilalui dengan rasa bahagia, kerena tidak ada kebahagiaan bagi 2 orang yang saling  mencintai selain dengan pernikahan. Hingga pada malam harinya, saat keduanya berbincang bahwa mereka akan tetap mecintai karena tuhan yang mereka yakini dan karena agama yang ada pada diri mereka, jika hilang agama pada salah satu dari mereka maka hilang pula cintanya. Begitulah ungkapan perasaan kedua kekasih yang baru beberapa jam lalu telah halal bersentuhan.

Begitulah cinta mereka dilandasi dengan keteguhan kepada agama, dan keridhoan pada rabb-Nya.

Hingga saat keduanya saling mendekap dengan penuh ketulusan, ditengah tengah kesunyian malam. Tiba-tiba melutuslah genderang jihad bagi kaum mulimin. Terompet ditiup membangunkan semua orang. Suara salah seorang berteriak penuh kesungguhan menyeru untuk berkumpul.  Para laki-laki berseru memanggil seluruh saudara laki-lakinya untuk keluar dari rumah. Pekikan takbir menggema di seluruh kota.

Seluruh laki-laki dikota itupun keluar memenuhi panggilan jihad dengan penuh semangat. Tak terkecuali pemuda yang baru tadi pagi dinikahkan, hatinya bergetar memacu semangat dalam dirinya mendengar genderang yang menggema dan takbir yang saling bersautan. Belum selesai dia mencurahkan seluruh perasaan kepada istrinya tapi kecintaannya kepada agama dan keridhoan kepada rabb-Nya mengalahkan rasa cinta kepada istrinya. Mereka berdua saling mengerti bahwa rasa cinta itu dilandaskan dengan agama. Maka ketika tuhan memanggil, dia rela bergegas meninggalkan istri yang sangat dicintainya. Pemuda itu memendam rasa bahwa tidak mungkin dia mencintai istrinya jika panggilan tuhan saja dia lalaikan, begitupun istrinya dia bangga akan ketaatan suaminya kepada tuhan.

Hingga berangkatlah pemuda itu memenuhi seruan jihad yang dikobarkan pasukan muslimin, dengan zirah tempur  yang melekat dibadan dan pedang yang digenggamnya erat, dia berada ditengah-tengah pasukan kaum muslimin, kaum yang cita-citanya adalah kematian yang syahid. Dia berjalan tegap, langkahnya kokoh, tangannya erat menggenggam pedang dan matanya tajam melihat kedepan. Dalam hatinya tidak terbesit sedikitpun perasaan takut karena yang dicita-citakannya adalah mati dijalan Allah. Dadanya disesaki dengan semangat meninggikan kalimat Laa Ilaha Illallah. . . . . Dia sudah mantap berperang.

. . .  . . . . .

Dataran yang dikelilingi pegunungan dan padang pasir. Disana tempat bertemunya antara kebenaran dan kejahatan yang sebentar lagi akan beradu pedang.

Ketika sampai kedua pasukan dengan jumlah yang tidak sebanding dan dengan niat perang yang berbeda, pasukan musyrik berangkat perang karena dendam yang menumpuk dalam hatinya sedangkan pasukan muslim berangkat perang karena ingin meninggikan kalimat Allah. Maka pecahlah perang antar keduanya, semua saling serang. Pekikan takbir dan teriakan kesakitan menyesaki gendang telinga, suaranya menakutkan. Namun bagi kaum muslimin hal itu  yang membuat semangatnya meningkat. Dentingan pedang yang beradu, darah yang mengalir, anggota badan yang terpotong, kuda yang meringkik semua adalah saksi bahwa anatara kejahatan dan kebaikan akan terus bersaing.  Pertempuran paling dahsyat berada dititik sekitar panji mereka masing-masing seluruh pasukan mati-matian berjuang agar panjinya tidak tumbang.

Pemuda itu dengan semangat dan keikhlasan kepada rabb-Nya. Dia bertempur seperti banteng yang mengamuk, tangannya erat menggenggam pedang mengibas-ngibaskannya ke leher lawan, gerakannya lincah dan cepat, kakinya kokoh bagai dipasakkan kebumi, matanya selalu dipincingkan untuk waspada melihat gerak gerik lawan. Disela-sela pertarungan bibirnya selalu berdzikir meminta keridhoan dari tuhannya. Semangatnya tidak pernah redup, hingga hatinya dipenuhi perasaan jika mundur satu langkah saja maka dia akan mati kafir. Semangat itu terus mendorongnya maju ketengah-tengah barisan musuh tanpa takut mati, sudah terlalu banyak yang menjadi mayat kerena tebasan pedangnya. Hingga dia berhasil menembus pertahanan barisan lawan, masuk kedalam barisan paling dalam dan bertemu pemimpin pasukan musuh, nama pemimpin musuh itu yang selalu tersemat dalam pikirannya untuk dibunuh, Abu Sufyan.

Ketika melihatnya dia berjalan menghampiri pimpinan musuh yang sedang menebas tubuh saudara-saudara muslimnya. Matanya awas, tidak pernah lepas dari pergerakan Abu Sufyan. Hingga jaraknya sudah dekat, pemuda itu dengan cepat dan tanpa berkata apapun langsung menerjang tepat di tempurung kepala Abu Sufyan yang dilapisi helm baja. Abu Sufyan tersentak kehilangan keseimbangan, dengan kesempatan itu dia menghantam wajah Abu Sufyan dengan tangan kirinya hingga tersungkur ke tanah. "pemimpin kafir akan kalah" pikir pemuda itu, lekas dia mengambil posisi berada diatas tubuh Abu Sufyan dengan bersiap-siap menghunus pedang ke arah jantungnya.

. . . . . . . . . . .

Ketika dia berada diatas tubuh Abu Sufyan dengan pedang terhunus, salah satu musuhnya yaitu Syaddad yang berada dibelakangnya melihat kejadian itu langsung memukul batang leher pemuda itu dengan pedang hingga dia tersungkur ke tanah. Tanpa jeda, dan tanpa selingan nafas sedikitpun, apalagi perlawanan. Pemuda itu meregang nyawa. Darah mengalir deras dari lehernya, matanya terpejam, raut wajahnya tenang, dan bibirnya tersenyum penuh kemenangan. Dia berhasil mendapat prestasi syahid dengan penuh perjuangan, dengan penuh kesabaran dan keikhlasan meninggalkan istri yang dicintainya, hingga langkah juangnya berhasil sampai   dititk terdekat pemimpin musuh. Dadanya yang penuh semangat itu dan hatinya yang  ikhlas karena mengiginkan keridhoan tuhan telah mendapat hadiah spesial, yaitu kematian yang syahid. Kematian yang diimpi impikan setiap muslim.

. . . . . . .  . .

Ketika perang usai, pemimpin kaum muslimin Muhammad bin Abdullah memerintahkan seluruh pasukan mencari saudara-saudara mereka yang telah wafat. Mereka mengumpulkan semua mayat kaum muslimin untuk menguburkannya, hingga salah seorang sahabat melihat sebuah jasad pemuda  yang dari seluruh bagian tubuhnya menetes air. Para sahabat melaporkannya kepada Muhammad Rasullullah tentang kejadian aneh tersebut. Rasulullah memberitahu para sahabatnya bahwa para malaikat telah memandikannya, lalu beliau mengatakan "Tanyalah pada istrinya apa yang telah terjadi padanya". Setelah semua pasukan selesai menguburkan semua mayat dan mengumpulkan harta rampasan perang mereka kembali ke kota asal, sesampainya disana salah seorang sahabat bertanya kepada istri pemuda yang jasadnya banyak menetes air kemudian sang isrti mengatakan bahwa mereka baru menikah dan belum genap sehari pernikahan itu suaminya berangkat untuk membela agamanya. Dari situlah tersiar keselurh penjuru negeri bahwa pemuda itu dijuluki "orang yang dimandikan malaikat". Dialah pemuda tangguh yang menempatkan sesuatu pada tempat yang benar, dia letakkan agama diatas kepalanya melebihi apapun.

Dialah Hanzhalah, pemuda yang dimandikan malaikat.