Sejarah Waduk Jatiluhur

Sal Alfarisi
Karya Sal Alfarisi Kategori Sejarah
dipublikasikan 03 November 2017
Sejarah Waduk Jatiluhur

https://soulineducation.wordpress.com/ - Salah satu destinasi wisata di daerah Purwakarta yang terkenal dan menarik minat para pengunjung  adalah Waduk Jatiluhur. Dilihat dari sejarahnya, Sejarah Waduk Jatiluhur itu memang bisa dikatakan unik.

Proyek pembangunan salah satu waduk terbesar di Indonesia ini dilakukan melalui beberapa tahap.

Hal ini lantaran pemerintahan di negara kita sendiri mengalami sembilan kali pergantian kabinet sejak mulai Kabinet Karya Tahun 1957 hingga Kabinet Ampera pada Tahun 1967.

Pada abad sebelumnya, tercatat beragam penelitian mengenai rencana sebuah waduk yang membendung aliran sungai Citarum juga sudah dimulai oleh kolonial Belanda.

Penelitian awal dilakukan oleh seorang ahli pengairan Belanda yang terkenal bernama Prof. van Blommestein dengan judul penelitiannya “Een Federaal Welvaartsplan voor het Westelijk Gedeelte van Java”.

Pada gilirannya hasil penelitian Blommestein dipelajari kembali , dikaji ulang oleh seorang insinyur bernama Van Scravendijk  dengan tulisannya yang berjudul “Integrated Water Resources Development in Citarum River Basin”.

Lalu pada masa kepemimpinan Ir Soekarno, pembangunan pertama Waduk Jatiluhur dimulai pada tahun 1957. Proyek ini terbilang proyek raksasa dan membutuhkan biaya yang sangat banyak. Padahal, di tahun-tahun tersebut, negara kita juga tengah dilanda krisis ekonomi. 

Akan tetapi ada dua tokoh nasional yang ngotot dan gigih memperjuangkan terlaksananya proyek bendungan jatiluhur tersebut, baik melalui lobi di pemerintahan maupun mencari investasi di forum internasional, salah satunya adalah Ir H Djuanda.

Pelaksana proyek adalah Perusahaan Listrik Negara yang bekerjasama dengan perusahaan konsultan dari Perancis bernama Sogreah.

Sogreah adalah perusahaan Perancis yang bergerak di bidang konsultasi, dari mulai tahap perencanaan hingga fabrikasi pembuatan unit - unit turbin serta waterways.

Namun sayang, perencanaan awal yang dilakukan perusahaan Prancis itu urung dikerjakan. Ada permasalahan pada desainnya, akhirnya di bawah kepemimpinan Ir. H. Djuanda, desain waduk jatiluhur dikerjakan kembali oleh perusahaan Perancis lainnya yang bernama A. Coine & J. Beller Consulting Engineers Paris.

Namun lagi-lagi karena faktor sosial politik di negara kita, perusahaan Perancis  tersebut juga tidak menyelesaikan pembangunan Bendungan Jatiluhur.

Sekitar dua minggu pasca tragedi G 30 S, para SDM dari konsultan Perancis tersebut kembali pulang ke negaranya.

Selanjutnya, pada masa kepemimpinan Soeharto yang gencar melakukan pembangunan fisik di mana-mana hingga disebut sebagai bapak pembangunan, bendungan jatiluhur tetap dipaksakan untuk diresmikan kendati secara fisik juga belum seratus persen rampung.

Saat ini waduk Jatiluhur ini dipercayakan pengelolannya di bawah  Perum Jasa Tirta II, dan kini menjelma menjadi tempat wisata. Wisata waduk Jatiluhur menjadi populer bagi  masyarakat purwakarta dan sekitarnya sekaligus menjadi infrastruktur vital di Jawa Barat, tak kurang dari 70 sungai di Jawa Barat menjadi satu kesatuan hidrologis di Waduk Jatiluhur.

Begitulah sejarah bendungan jatiluhur, semoga bermanfaat bagi pembaca.

  • view 139