Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Renungan 15 Maret 2018   13:28 WIB
Skripsi Sampah

 

*Foto ini di dapat dari akun Facebook.


A; Apa yang membuat anda semangat menyelesaikan Skripsi?
B: biar member lahan pekerjaan bagi orang lain, contohnya seperti dia atas.
Husnudzan = Biasanya, kalo di kampus saya cover hitam itu maha karya anak-anak Fakultas Ushuluddin. Mungkin ini upaya Universitas untuk melawan Penyakit TBC (Takhayul, Bidah, dan Churofat) dan SIPILIS (Sekulerisme, Pluralisme, dan Liberalisme) yang bangun stigma di masyarakat fakultas ini lah sumber sarjana-sarjana gagal menjadi perawi berkompeten. Eh atau memang ini sedang pindahan. Hehehe. Hey, Apakabar Transkip Skripsweet anda?? #tanya Pak perpus

Ini adalah Captin History WA saya hari ini. Ada komentar beberapa orang yang menggelitik saya untuk sedetik beralih dari kepompong proses metamorskripsi saya. Ada yang berkomentar "ga akan ngerjain skripsi ah kalau akhirnya jadi sampah. Entah itu orangnya, entah itu karyanya", ada pula komentar lain "itu Skripsi?? Makanya itu bikin skripsi jangan ideal amat, hanya berakhir di tukang loak", atau ada lagi "wkwkwkw, siap-siap jadi korban cuci gudang", bahkan kakak saya bilang "yaudah keluar aja dari kampus, sayang bayar SPP terus". wkwkkwwk >,< . sungguh, menggelitik. terimakasih kalian.

Untuk percakapan ngacapruk sih ini sangat menghibur, dan membantu meregangkan otot-otot kaku karena persemedian di kepompong. Namun, untuk tanggapan yang sedikit serius saya jadi teringat hasil kajian minggu an mengenai derajat Ilmu yang harus kita fahami, khususnya Ummat Muslim.

Bila dulu untuk menilai apakah hadits (saya posisikan ini sebagai Ilmu) yang disampaikan nabi itu benar atau tidak didengar seseorang, maka ada proses uji kualifikasi si pendengarnya (perawi), sehingga derajat hadits itu bisa dikategorisasikan apakah menjadi hadits yang sohih (benar) atau tidak. Ucapan sipendengar layak untuk di benarkan jika memiliki criteria-kriteria seorang perawi (kuat hafalan dan Benar/Adil), salah satunya ada saksi yang melihat dia tidak pernah berbohong, memiliki minimal 1000 hadits (kalau ga salah), seribu hadits gaisss.

Kalau aja ada saksi yang bilang bahwa dia diduga tidak memiliki salah satu criteria tersebut, maka hadits yang dia dengar diragukan bahkan bisa jadi di tolak !!! (ngeri ga sih, baru di duga loh ini). Ini salah satu yang menjadi sebab derajat Ilmu akan tetap tinggi, dikarna hakikat yang melekat padanya tidak main-main, tentu juga inklud dengan manfaat dan reward bagi yang menjaga, mencari dan mengamalkannya.

Di 58: 11 kita di kasih tau derajat orang berilmu, di 20:114 Allah ngasih kita kisis-kisi nih, perlu akal untuk berislam, di 20: 144 Rasulullah yang ilmunya udah udah langsung berupa wahyu dari Allah dengan perantata malaikat Jibrl, tetep minta di tambahkan ilmu, di 35:28 Allah ngasih tau, Cuma orang-orang berilmu yang takut padaNya, dan masih ada sekitar 750 istilah dan Al Quran yang membahas mengenai Ilmu.


Hipotesa saya, perlakuan orang lain sama Maha karya penulis ga jadi sebab berkurangnya kualitas idealitas penulis, dan bukan juga jadi alasan yang benar di pake penulis buat menurunkan idealitasnya.
Tulisan Said Nursi dan Tere liye misalnya.
pada zamannya tulisan said nursi di hangus bumikan oleh pemerintah, karena dirasa mengancam stabilitas Negara. Bang Tere berhenti memproduksi percetakan tulisannya, dikarna kebutuha ekonomi pemerintah yang dirasa tidak terakomodir dari hasil karya tulisan beliau. Namu toh tidak menurunkan kualitas daya fikir mereka.

Said nursi tetap menyuarakan pembebasan Turki dan kejayaan Islam kan? Bahkan dia rela di asingkan kesana kemari agar fahamnya yang dianggap mengancap itu tidak menyebar pada masyarakat. Di dalam penjara dia tetap menyuarakan idealitasnya dengan ucapan, tindakan, persetujuan, atau tulisan.

Bang Tere tetap menggembar-gemborkan nilai-nilai kehidupan sederhana yang effectnya bisa jadi berkontribusi untuk menyentil problem solving permasalahan yang tidak sederhana salam masyarakat.

Nah maka dari itu, yang menjadi penanggung jawab utama kualitas tulisan ya kita.
Kita harus menjaga kualitas tulisan kita sendiri, biar tulisan itu terpastikan berupaya membumikan kalam langit, dan buah pemikiran kita relevan sepanjang hayat, jadi long term knowledge seperti tulisan Said Nursi.

Dan Long term knowledge, saya rasa berpotensi diwacanakan oleh cendikiawan muslim, atau orang-orang rendah hati menerima keagungan Zat yang Maha Benar.

Dulu, salah satu ibu ideologis saya waktu beliau di moment kepompong menoganya sempet bilang bikin skripsi itu sebenarnya pertarungan ego diri kita dengan ideal diri, kamu bakal ngerasain deh betapa ini pertarungan pembuktian kita ke Allah. Makanya, jadiin bikin skripsi ini jadi moment lebih deket sama Allah, Moment tobat dan perbaikan diri. Bener banget ini, coba deh nanti kalian rasain, sebenernya moment ini bukan hanya dirasain saat bikin skripsi, tapi ini bisa di rasain juga saat kawan-kawan lagi merefleksikan ilmu lainnya dalam moment berbeda, kaya bikin makalah, jurnal, bikin program di Osis/Organisasi/Komunitas, UTS, UAS, atau sekedar diskusi. Tapi kadang kita akan lebih kesentil dan berani jujur sama Allah kalo lagi sendirian, salah satunya saat bikin Skripsi. Thats Moment yang harus dipergunakan.

Bahkan Guru imam Al Ghazali yaitu Imam Al Juwayni mengatakan bahwa syarat mencari ilmu itu
Jauh hari sebelum George Makdisi menuliskan 6 syarat mencari ilmu dalam buku The Rise og Collage tahun 1981. George menyebutkan bahwa syarat mencari ilmu itu A Humble Mind, Seal for Lelearning, a quite life, silent investigation, proverty, a foreign land.

Keinget definisi ilmu menurut Naquib Al Attas (semoga Allah memberkahi ilmu beliau, dan menjadikannya amal jariah) “Husnul suurat asy-syai fil aql, wushul an nafs ila mana syai Sampainnya gambaran sesuatu pada akal, sampainnya diri pada makna sesuatu tersebut

Well, ayo pelajar muslim optimislah.
Jadikan proses pendidikan formal sebagai uji kelayakan perawi di zaman now, biar ucap dan tulisan kita di Ridhoi Allah, sehingga kita dilayakkan untuk berupaya menerjemahkan kalamNya, dan kesohihan ilmu yang ada pada diri kita dapat diterima dan diamalkan ummat islam dan ummat manusia.

Ini bukan zamannya ngikutin zaman. Stop hanya bilang sistem bermasalah, pendidik yang ga kapabel, lingkungan yang ga mendukung, untuk membenarkan kemalasan dan kepengecutan kita melawan value diri yang salah.

Coba, kita mulai berkaca deh, sudah seimbangkah kewajiban pemantasan diri kita biar hak mendapat tamu ilmu dari langit itu segera datang memasuki ruang-ruang kehidupan kita ???

Jangan-jangan, kita sendiri yang sedang menjadi tim sukses pengekalan sistem yang bermasalah, pendidik di masa depan yang ga kapabel, serta menjadi masyarakat yang tidak mendukung terkondisikannya lingkungan untuk terbumikannya kebenaran.
Kata Ustadz Usep Mohammad Ishaq Ilmu Itu cahaya, tidak mendatangi orang yang suka bermaksiat.

Jadi, Mahakarya ini siapa yang sedang atau sudah memposisikannya menjadi sampah???

Akhir kata.
Teruntuk kawan-kawan seperjuangan khususnya yang sedang bertransmorskripsi, ingat formulasi 2 : 153, pajang di kamar besar-besar biar Allah slalu meluk kita manakala mager menyerang, lalai menghambat, lelah menina bobokan, dan dosen yang slalu menguji di waktu dan tempat tak terprediksi, hingga menoga kali ini menjadi anak tangga toga-toga yang lainnya . Semangat menjadi Cendikiawan-Cendikiawan yang dirindu Ummat. Dan Mohon bantu saya dalam bermetamorskripsi. Doa Pembaca menjadi kekuatan saya, karena bisa jadi mungkin karena kawan-kawan lebih layak di dengarkan Allah menjadi perantara turun RidhoNya terhadap saya dalam mencari ilmu, atau bisa jadi Alarm pengingat agar saya selalu sadar melayakan diri untuk tidak menghasilkan Sampah. Naudzubillahimindzalik. Jazzakumullah ^_^

BACK TO KEPOMPONG.
-Bandung, 27 Jumadil Akhir -15 Maret 2017. Hari penutupan Pendaftaran UP bulan ini, ????-

Karya : Erlin Fatinah Haniyyah