PEMBEBASAN

R.Senja Dandelion
Karya R.Senja Dandelion Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 24 Februari 2018
PEMBEBASAN

“Senja” sambil berbisisk.
“ jadi, teologi pembebasan yang ditawarkan untuk menjadi solusi kasus ini adalah teologi yang di paparkan itu kah?” tanya anya.
“hmmm mungkin” aku jawab sekenanya.

akupun masih meraba kemana arah jalan diskusi malam ini. Setelah pemateri selesai memaparkan  Teologi Pembebasan menurut Asghar Ali Enginner, seorang ibu dari salah satu warga penggusuran di Taman sari ini kemudian mengangkat tangan.

“jadi kang, pembebasan itu untuk hanya untuk orang-orang seperti kami ? orang-orang tertindas?”

Ahh, sungguh cerdas sekali rasa resah menggiring seseorang untuk menjadikan realitas sebagai wacana yang membukakan mata perannya sebagai insan, fikirku sejenak mengapresiasi apa yang diutarakan ibu tersebut sambil tak sabar menanti jawaban pemateri.

 “iya betul, islam hadir untuk kaum-kaum tertindas. Orang-orang yang haknya direbut oleh penguasa yang serakah. Mereka musuh yang harus kita lawan, dan dengan melawan mereka yang menindas kita itu adalah jihad. Maka, menolak relokasi dan pembangunan rusun ini yang tidak memperdulikan kesejahteraan ekonomi kita masyarakat terguusur, menjadi sebuah tindakan yang harus dilakukan dan tidak diragukan”
Sontak seluruh audiens dalam forum mengangguk-angguk setengah riuh dari suara tanda setuju atau diskusi dari beberapa sisi di luar forum, termasuk aku dan anya.
“nah kan, pasti seperti ini”setengah berbisik
“kenapa nya?”
“ngerasa ga sih bahwa ada hal esensial yang tidak terbahas di sini?makna pembebasan, makna teologi, makna ketertindasan?”

Ya, kamu memang benar nya, ada sesuatu yang lupa di selipkan atau bahkan keliru dari diskusi ini. Tapi apa dan bagaimana?.
"shuutt, gih sana kamu tanya apa yang menurut kamu belum jelas, atau kamu menambahkan apa yang kamu ketahui"
"bahh, bercanda kamu senja, ga mungkin lah".
"kenapa ? malu?"
"kamu dulu deh, nanti setelah itu aku"
"ishh.....kebiasaan"
“silahkan, adalagi yang mau bertanya atau menambahkan?”

Ditengah bisikan-bisikan diskusi yang sedang kawan disebelahku paparkan, tetiba tangan ini memberikan ruang untuk lisan ini ikut meramaikan diskusi, dan dengan atau tanpa sadar tanpa aba-aba mulut ini bun membuka kata

“kang, saya Boleh saya menanggapi ?”

Ahh….bodoh. apakah kamu telah memperhitungkan apa yang akan di sampaikan ini sesuai dengan bahasan yang mereka angkat atau tidak??jika tidak, selamat, kau telah mempersiapkana lianglahat di tengah forum ini . bunuh diri kau senja !!!!

“oh iya silahkan”. Lelaki, dengan rambut seperti Moana yang dirapikan dengan handband kain itu, mengarahkan audiens lainnya untuk mengunci mulut mereka, dan serta merta mengarahkan mata mereka pada satu titik demi sekejap mendengarkan sedikit ocehan yang kesesuaiannya dengan tema pembahasan masih diragukan juga oleh si empunya wacana.

“mmmmmm…..saya tertarik dengan pertanyaan yang ibu tadi ajukan”. Sekali lagi, ku tengok wajah gelisah dan berani ibu di sisi kanan ku ini. Ku pandang lekat-lekat. dan tetap aku menemukan ketulusan akan Tanya yang beliau tularkan. Ku ulang lagi tanya beliau, agar mempertegas maksud supportingku dalam argumentasi nanti atas apa yang beliau resahkan.

“ Pertanyaan mengenai apakah pembebasan itu hanya untuk orang-orang kelas bawah dalam tanda kutip masyarakat tertindas seperti yang di alamai di taman sari hari ini saja, sehingga melawan mereka termasuk dalam jihad ”

Seketika , sejumpu air liur terasa sulit tertelan, jantung memompakan darah lebih cepat, dan udara terasa menjadi elemen yang sulit terhirup. Kuhirup seluruh ketakutan yang ada di udara dalam ruangan ini, dan kuhembuskan dengan kencang berrharap terhembuskan menjadi kebenaran yang menyeruak bagai mantra sihir untuk ruangan ini. Rabb, mampukah hamba menyampaikannya?? Kuatkan hamba, seperti dulu Engkau kuatkan lidah nabi Musa.

“Hmmmm. Menurut saya, ketika warga-warga konsisten melakukan perlawanan ini dengan baik dan benar, maka yang merasakan kebebasan bisa jadi bukan hanya masyarakat taman sari saja, namun juga kaum kelas atas yang dalam tanda kutip aparatur pemerintah. Saya memiliki pandangan justru kehadiran islam ini memposisikan pembebasan itu berlaku untuk seluruh strata social yang ada, tidak membedakan satu dengan yang lainnya, pembebasan itu bukan hanya milik satu kaum dalam strata social saja, namun pembebasan milik seluruh ummat manusia yang ada, dikarna islam hadir sebagai  rahmatan lil ‘alamin”

Mengisi ulang lagi energy. Ku hembuskan lagi kekeluan kata, dan ku hirup aroma kebaikan dari mereka.

“Melawan orang-orang yang menindas, ya itu memang kewajiban dan saya sangat sepakat sekali . malah bagi saya, jika ibu dan warga taman sari ni melawan secara konsisten dengan baik dan benar, maka secara tidak langsung kita semua sedang mengupayakan pula saudara kita di atas sana agar merasakan pembebasan, bisa saja kan sebenarnya kaum-kaum di atas sana melakukan ini karena mereka juga sedang terjajah oleh sesuatu bukan??yang karena itulah mereka tidak dapat melaksanakan kewajibannya sebagai muslim yang sedang diamanahi menjadi pemimpin?”.

Tetiba pemateri dan moderator mengerutkan kening mereka sambil saling menatap, orang-orang diam menatap, ah apa hanya aku saja yang merasa suasana ini mencekam??

“ Kenapa bisa seperti itu kawan-kawan?, karena  ketika seorang muslim melaksanakan kewajibannya sebenarnya dia sedang memberikan hak terhadap orang lain, dan sedang menuntut orang lain untuk melaksanakan kewajiban agar kitapun mendapaykan hak kita pula, ini sebuah proses kausalitas yang terus berputar, aturan Allah itu membebaskan semua kalangan dan meniadakan penjajahan atas satu dominasi. Contoh : seperti terlaksananya zakat yang Allah perintahkan, ketika mustahik atau orang-orang yang berhak menerima zakat mendapatkan harta dari haknya sebagai mustahik, maka secara tidak langsung sedang terjadi proses pembebasan kaum atas dari kemapanan berupa menumpuk-numpukkan harta. Begitupula dengan mustahik, ia sedang di berihak agar terbebas dari rasa lapar yang dapat menggelapkan ikhtiarnya agar menjadi budak dunia hanya untuk memakan segenggam nasi atau minum seteguk air”.

Sekali lagi ku tatap wajah-wajah seluruh orang yang berada di masjid ini, ku pastikan menjadikan masjid sebagai tempat diskusi bukan hanya meminta perlindungan jasadiah saja seperti melindunginya bangunan ini dari rintik, gelap dan dinginnya malam yang menusuk jasad seluruh audiens, namun disini aku meyakini Allah sedang membukakan pintu-pintu perlindungan ruh yang begitu banyak untuk penyucian diri, hehe ya, sebanyak titik-titik hujan di jendela atau bahkan lebih.

“Tapi harus di ingat, agar aturan Allah ini menjadi siklus yang seimbang kita harus memastikan bahwa pelaksanaan zakat yang kita lakukan sesuai dengan yang Allah harapkan, bukan hanya sekedar baik saja. Maka, bila itu terjadi kaum elite tidak menjadikan kekayaannya alasan untuk menindas dan berlindung di ketiak pemilik otoritas, dan kaum bawah tidak menjadikan kekurangannya sebagai alasan untuk tidak melaksanakan ikhtiar sehingga berlindung di ketiak kaum tertindas. Dan begitu pula dengan jihad ini kawan-kawan, jika masyarakat Taman sari ini melaksanakan Jihad pembebasan ini sesuai dengan perintah Allah maka bukan hanya masyarakat taman sari saja yang terbebas namun juga pemerintah kita dan saya sangat mendukung kawan-kawan semua, karena ini adalah agenda yang besar, dan inilah Teologi Pembebasan, pembebasan untuk mencapai keseimbangan, seperti seimbangnya Allah menciptakan yang kaya dan yang berkecukupan, ingat berkecukupan bukan miskin, yang mengatur dan diatur, bukan menjajah dan dijajah, dan itu termaktub dalam Al-Qur’an. Sekali lagi, maka dari itu agar jihad ini benar saya sangat setuju adanya forum-forum seperti ini untuk saling mengingatkan sejauhmana kebenaran ikhtiar perlawanan yang sedang dilakukan”.

Kulemparkan senyum pada ibu penanya tadi. Ah lingkaran diskusi ini semakin membuatku merasakan sungguh benar, musyawarah, silaturahmi, berjama’ah itu indah karena membuka peluang lebih besar kalam-kalamNya yang menjadi panduan. Semoga.

“jadi begini teh[1], menurut saya Allah tidak pernah menyuruh untuk kita kaya seperti yang di gembar-gemborkan pemerintahan sekarang, muslim itu harus jadi enterprener lah biar kaya dan lain sebagainnya yang itu berpotensi untuk mengumpul-ngumpulkan harta. Konsep kaya kan bukan menumpuk-numpuk harta tapi bagaimana kita bisa menjadi tangan di atas karna itu lebih baik dari tangan di bawah, tanpa melihat dulu kemapanan material kita. Lagian juga kalau pemerintah mengadakan zakat untuk yang teteh sebutkan di atas tadi, sok kita liat lembaga yang paling korup itu lemabaga apa? Lembaga zakat, kenapa seperti itu? Karena orang-orang di atas sana hanya tahu bagaimana menimbun harta dan menindas kaum kecil, seperti di taman sari ini, mereka kaum elite hanya memenuhi kebutuhan corporate tidak memperdulikan kebutuhan ekonomi dan social yang telah terbangun di masyarakat selama berpuluh-puluh tahun lamanya. Lagian, kalau memang lahan taman sari ini harus di gusur karena sebab-sebab yang disebutkan mereka, kenapa hanya RT kami saja yang di gusur”.  

Allahu, bukan ini maksud pesan yang ingin saya sampaikan.  Ampuni kekeliruan yang bersumber dari kurangnya ilmu hamba ya Rabb.
 
To be Continue........



[1] Panggilan kepada perempuan dewasa atau dianggap dewasa di suku sunda seperti kak, mba.

Sumber foto : http://cdn2.tstatic.net/tribunnews/foto/images/preview/warga-tamansari-demo-di-balai-kota-bandung-tolak-penggusuran_20171019_212838.jpg

  • view 100