Satu - Asisten Pengasuh

R.Senja Dandelion
Karya R.Senja Dandelion Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 29 Agustus 2017
(BA)PERAN, BER(ANI)PERAN

(BA)PERAN, BER(ANI)PERAN


Aku mendengar di sudut panggung, setiap orang membicarakan para pemain peran di pementasan nanti. Mereka yang terpilih nampak merasa berharga, dan mereka yang tidak terpilih duduk tersedu di pojok gelap. Aku berfikir, sebegitu pentingkah peran ? maksudku peran di atas sana?.

Kategori Acak

129 Wilayah Umum
Satu - Asisten Pengasuh

Kemarin sore, aku mendapat pesan dari salah seorang saudara, ia meminta bantuan agar esok dapat menitipkan jagoan kecilnya (2y) karna ada keperluan. Aku mengiyakan saja, karena rasanya pengangguran ini sudah lama melakukan aktivitas “itu-itu saja”. Buat ku, bermain dengan bocah-bocah adalah kesempatan bisa berlari, bernyanyi, bercerita, menggambar dan menari, mencharger innerchildhood positiv yang lama berkarat.

Dari dulu aku terbiasa dikelilingi bocah-bocah, karna memiliki 2 adik dan segerbong sepupu yang biasa di angkut teteh kalau dia pulang sekolah atau libur kuliah, kalau ada dia rumah serasa "baby and children daycare", dia ibarat ibu asrama karna kepiawaiannya menggiring bocah-bocah menghantarkan dia memiliki gelar baru, “MPO”. Dan aku? Bertugas sebagai asisten pengasuh, gelar? tentu ada, atas dedikasi terhadap profesi ini aku mendapat gelar yang selalu terdengar menyenangkan bila jadi nama penggiring saat mereka memanggil namaku, karena kalau gelar itu di sebut bersamaan dengan namuku membuat aku selalu merasa spesal berada di tengah-tengah mereka. “Bi uty, Biuty, Biuty’ful’ (baca Beautyful)” panggil mereka, luar biasakan gelar yang mereka kasih ?(:D hahahahaha), seiring berjalannya waktu, dengan hadirnya kekey sebagai ponakan satu nasab terdekat gelarku bertambah menjadi ”Ateu”, alasan bertambahnya gelar itu mungkin mereka jengah memanggil bi (wkwkwkwkw), aku sih yang memang memulai panggilan ini, biar ngebedain aja sama bibi-bibi lain yang kekey punya, tapi dengan hadirnya gelar “Ateu” gelar “Biuty” masih tetap di gandrungi ^_^.

Terlahir dari keluarga besar tinggal dalam satu komplek dengan 7 turunan yang selalu bersama, yang disetiap masanya selalu ada anak kecil sebagai pewaras hidup, ternyata kebisingan mereka ini menjadi kebiasaan yang ternyata aku nikmati dan aku rindukan itu, apalagi selama diperantauan. Tidak ada mereka berarti, tidak ada menari, tidak ada bernyanyi, tidak ada kejar-kejaran, tidak ada eksperimen, hanya ada kehidupan orang dewasa yang membosankan.

Singkat cerita Azzam pagi-pagi telah menggemparkan alam raya. Tantrum, yesss. Walau dari semalam udah di kasih warning akan di tinggal, tetep aja namanya anak 2y yg baru di sapih beberapa minggu bewek lah dia, di mulai ambunya ancang-ancang mau pergi pamit. Konon katanya, bocah satu ini punya mitos ga bisa berhenti nangisnya sampe ambunya pulang, sampe pernah satu waktu di tinggal ke bank selama 2 jam dan selama itu juga dia bewek kaya ga di kasih makan.hehe

Sempet sih paginya pas ngasih tau ibu sama teteh, kalo hari ini akan ketitipan azzam, sontak dong di tegor mereka, emang bisa nenangin azzam yang kuat banget nangisnya ? Sampe dijuluki si bewek 2 ( bewek 1 ada lagi, lebih profesional dari azzam, dia punya jam senyum sendiri dari habis maghrib ke atas. Hehe :D ) Aku jawab cuma senyum aja, sambil bingung juga sih sebenernya kalo emang ini anak bakal bertahan dengan derai drama queennya, apa yang harus dilakukan?. Dengan modal tekad biar bisa keluar dari kenyamanan rumah, sekalian sambil eksperimen sedikit ilmu-ilmu di kampus akhirnya challenge ini di Bismillahi saja.

Jam 07.00 lebih akhirnya ambu say good bye dengan diiringi sound treck azzam bersenandung. Melihat azzam lari-lari ngejar ambu, setan pun berbisik dalam hati "Ateu, peperangan sudah di mulai, selamat meningmati tangisan selama seharian". Tak di pungkiri, awalnya bisikan itu berhasil bikin aku sedikit panik, mungkin karna oli " ngasuh" dulu diperantauan lama ga pernah di pake jadi berkarat, apalagi sekarang aku bukan berperan sebagai asisten karna kepala pengasuh sedang menggendong janin yang 2 bulan lagi akan meramaikan barisan kapal kecil kami umumnya bahtera Bani Ahmad dan Bani Ghazali (sebutan keluarga besar keluarga ibu dan ayah), jadi sementara  kepala pengasuh pensiun.

“Ateuuuu, niih akang” panggil kepala pengasuh.

Ku hembuskan nafas panjang dan ku gendong azzam yang menangis sambil tak henti menyebut "ambuuu, ambuuuuu". Sambil menggendong Azzam, terdengar lagi suara beberapa suara bising yang ga asing ricuh dari tangga.

 “eh bocah-bocah kenapa ada di sini?. Kekey ga sekolah” tanyaku pada kekey yang sedang menjadi komandan menggiring una dan maki/boboy ke rumah (rumahku dan rumah neneknya Azzam bersebelahan, mungkin bisa disebut menyatu sebagian karna teras loteng kami bersatu).

“apa da ey libur sekarang mah” jawabnya singkat sambil terus memberi komando.

“iya, una mah emah nya pawei sama ambu sama wa hani, tunggu disyini ya maki ya” una menambahkan.

Ok baiklah, secara kebetulan ternyata bukan hanya Azzam yang ditinggal, RA (TK) hari itu di liburkan karna para guru ikut pawai karnaval, dan saudaraku kebanyakan penggiat pendidiikan anak usia dini ya tentunya  ikut acara tersebut, dan jadilah hari itu Azzam ga sendiri, ada kekey(6y), una(5y), maki(5y), jafran(3y), kumpul bocah dimulai, tombol “ngasuh” mulai dinyalakan kembali.

  • view 128