Berlatar Langit

saiqoh dianah
Karya saiqoh dianah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 03 September 2016
Berlatar Langit

Rembulan sempurna menawan malam ini. Langit sempurna indah, bartabur beribu bahkan berjuta bintang. Sempurna sudah. Namun, terlihat ada yang gundah di pojok teras rumah. Duduk termangu, terlihat menyedihkan. Tak menikmati betapa nikmat tuhan malam ini terasa begitu sempurna. Gurat-gurat kesedihan tergores nyata seakan itu adalah relief pada wajahnya. Tatap matanya seakan menyatakan, “aku telah lama merasakan kepedihan, kesakitan, kekecewaan, dan segala hal yang mungkin tak ingin kau rasakan”.

Tatapan yang tajam dan dingin dari mata cantiknya, biru. Ia layangkan keseluruh permukaan langit. Menyapu setiap sudut yang ada. Ya, ia tak ingin diganggu malam ini. Ia hanya ingin berdua saja malam ini. Ya, berdua saja. Ia ingin berdua saja bersama tuhannya malam ini. Mengenang segala hal yang telah ia alami selama ini. Ia ingin kembali mengenang masa-masa dimana akhirnya ia bisa mengenal tuhannya saat ini, Allahnya. Ternyata kita salah. Ia tak gundah malam ini.

***

Flashback : on (2007)

Pesta yang sangat meriah. Tak terlihat satupun yang tak bahagia. Musik berdentum kuat dan seirama dengan para tamu yang menari-nari. Tak terlihat satupun yang lelah malam ini. Makanan-makanan mewah tersaji begitu menggoda. Minuman-minuman terhidang begitu sangat menggiurkan. Hah, apakah gerangan yang membuat pengada pesta ini begitu bahagia? Ternyata, ia berhasil mengadakan rekor yang baik bagi perusahaannya, ia naik pangkat. Dan tentunya, karna putrinya yang sangat ia sayangi, berhasil menduduki peringkat pertama saat ujian masuk perguruan tinggi. Setujukah engkau kawan, bahwa ini adalah hal yang membahagiakan?

Hidupnya seakan sempurna sudah. Ia sempurna tak tahu apa yang telah direncanakan tuhan untuknya. Ia sempurna lupa akan adanya tuhan. Ia sempurna menganggap semua adalah hasil kerja kerasnya. Ia sempurna menganggap ketiadaan tuhan di dunia ini.

Perjalanan hidup akan kembali dimulai. Pesta usai.

***

“Pa, minggu depan, Rachel sama kawan-kawan mau pergi bareng boleh? Sekalian kita mau study di Bali. Ya pa yaa? Boleh yaa?” pinta sang putri memanja. Rachel Putri Tirtayasa. Putri tunggal Tirtayasa. Nama Indonesianya. Pria bermata indah, biru. Sang Putripun tak kalah menawan. Seorang Indo campuran. Sang Ayah, Pria asal Wina. Dan Sang Bunda, wanita ayu, keturunan turki-indonesia. Sebuah perpaduan simponi yang indah. Namun, bahagia mereka terhenti, ketika Sang Bunda memilih kembali pada keluarga kala sang suami yang dicinta bersikeras terhadap keyakinannya. Meninggalkan luka mendalam bagi masing-masing pemilik hati. Tentu sebelum Rachel mengerti, itu semua terjadi. Yang Rachel tahu ialah Bundanya sedang mengadakan perjalanan dan pasti akan kembali suatu saat nanti. Ya, suatu saat nanti. Keyakinan yang selalu menguatkannya ketika semua mengoloknya. Dibalik uang dan harta, Rachel punya luka. Uang tak membahagiakannya.

“Iyaa Rachel sayang, apapun yang Rachel mau, selagi Papa mampu, Papa akan mencukupkannya untukmu.” Jawab Papa tersayangnya. “termasuk bila Rachel memohon pada Papa, agar Bunda kembalikah?” tanya sang putri, hati-hati. Yang ditanya membuang wajahnya. Menatap kosong. Diam. Tapi, ia membuka mulutnya, “tolong, jangan sebut lagi, nak. Tunggulah. Semua ada masanya.” Jawab Papanya dan berlalu. Rachel hanya terdiam. Mematung.

***

“Rachel.” Ada suara yang menyebut nama itu. “Astaghfirullah. Aku tak boleh seperti ini. Rabb ampuni aku.”  Ternyata malam ini, ada yang gundah. Ada yang sedang “jatuh cinta”. Tapi ia tak mau berlarut-larut terhadap perasaan itu. Ia tahu siapa Rachel. Ia tahu apa keyakinanya. Ia tak mau menambatkan harapan pada orang salah. Ia tak mau, ridho tuhan hilang untuknya. Ia, Ahmad Fauzan Fuadi. Mahasiswa kedokteran, ikhwan cerdas dan bisa disebut begitu mencintai tuhannya. Nama Rachel ia kenali saat sama-sama mengikuti tes masuk ke perguruan tinggi yang sama, fakultas yang sama. Sudah, semua harus selesai di sini. Ada yang harus lebih ia fokuskan untuk dipikirkan. Ia benamkan wajahnya dalam sujud malamnya. Larut dalam tangisnya.

***

Sudah seminggu Rachel  di Bali. Ia rindu dengan rumahnya. Hatinya hari tergores lagi. Tiga hari yang lalu, ia melihat keluarga yang sangat bahagia. Tentu saja, rumah mereka tidak sebesar dan semewah milik Rachel. Kendaraan mereka tak secanggih milik Rachel. Apalagi uang mereka tak sebanyak milik keluarga Rachel. Tapi, keluarga ini begitu bahagia, begitu hangat. Ia iri. Sangat iri. Keluarga Abi Ahmad dan Ummi ‘Aisyah. Mereka selalu bisa tertawa bersama. Makan malam bersama. Lengkap. Abi, Ummi, Nadir, Shofi dan si kecil Inayah.

 Pertemuan ia dengan keluarga itu terjadi saat ia bersama teman-temannya melakukan survei untuk buletin mereka. Abi Ahmad adalah Kepala Dusun dan mereka tinggal sementara di Rumah beliau. Membuat Rachel bertambah iri. Namun, ada hal yang ia dapatkan dari keluarga ini yaitu, bagaimana islam begitu mulia. Bukanlah Islam yang salah ketika terdapat aksi terosis atau apaun semacamnya, tapi muslimnyalah yang salah ketika mereka tak memahami bagaimana harusnya yang mereka lakukan. Mereka tak memahami secara keseluruhan. Islam begtu mengajarkan kasih sayang. Itu yang ia dapatkan. Matahari tenggelam dengan tenang di ufuk barat. Meninggalkan dunia bersama gelap.

Pukul tujuh pagi. Udara masih sangat segar. Tapi, Rachel sudah memutuskan untuk pulang ke hiruk pikuknya Jakarta. Ia sudah menelpon sang papa. Padahal, Papanya melarangnya untuk pulang sekarang. Ada masalah yang besar. Papanya ingin sang anak dalam keadaan yang aman. Ketika diminta untuk menjelaskan, papanya bilang ini masalah yang rumit. Maka dari itu ia pun bersikeras untuk pulang. Sudah ia putuskan. Tiket pesawat sudah dalam genggaman tangan.

***

 

Pesawat sudah mendarat. Terlihat Rachel menyeret kopernya, lelah. Ia memanggil taksi. Taksipun meluncur cepat. Rachel benar-benar telah di Jakarta.

Jalanan Jakarta macet total. Langit mendung, Jakarta diguyur hujan hari ini. Ia telah sampai di depan rumahnya. Namun, yang ia lihat adalah hangusnya rumah tempatnya berteduh. Tak ada lagi rumah mewah, kokoh dan besar itu. Ia berkali-kali mengecek alamatnya. Tak ada yang salah. Tapi, ia juga tak mau gegabah. Perlahan airmatanya meluncur tanpa syarat. Membasahi pipi gadis itu. Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia bahkan lupa bahwa ia belum membayar taksinya. Ia coba hubungi nomor handphone sang Papa, yang biasanya jadi penyelamatnya. “Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif.” Hanya kata-kata itu yang terus berulang. Ia berbalik badan. “kantor.” Itu yang ada di pikirannya. Ia akan pergi ke sana. 

Taksi yang belum dibayar pun kembali meluncur di kemacetan Jakarta. Hujan masih saja mengguyur. Ia benar-benar tak tahu apa yang terjadi. Dimana-mana kerusuhan yang terjadi. Ia tak paham, ada apa?. Dimana-mana dipasang banner-banner dengan kata-kata tak layak dilihat dan didengar. Tapi yang ia tahu, di setiap banner itu, kata-kata itu tertuju pada perusahaan papanya. “Pa, apa yang terjadi?” bisiknya dalam hati. Sang supir hanya memandang kasihan pada penumpangnya itu. Yang terus menerus meneteskan airmata dari dua mata indahnya.

Taksi berhenti tepat di depan kantor ayahnya. Tapi, yang ia lihat, bukan security-security yang biasa menyambut kedatangannya. Melainkan kaca-kaca pecah di sana-sini. Tembok-tembok berbercakkan darah. Ia tak tahu darah siapa. Dan yang ada di pikirannya adalah di mana papanya. Penolongnya. Ia mencoba masuk. Tentu setelah ia membayar taksi yang sudah ia repotkan. Hatinya bergetar hebat. Setiap ruangan yang ia masuki adalah ruang-ruang berantakan, hancur tak berbentuk lagi. Komputer-komputer telah raib entah kemana. Darah-darah hadir menghiasi ruangan itu. Hingga ia sampai pada ruangan papanya. Kosong. Photo ia dan papanya masih ada di atas meja. Tapi, ada yang salah, gambar kepala Rachel dilingkari dengan entah apa yang berwarna merah. Spidolkah? Atau darahkah? Ia tak tahu, harus bagaimana lagi. Ia tak tahu harus kemana. Bagaimana ia meneruskan hidup. Bagaimana ia melanjutkan kuliahnya, merajut asa-asa yang telah ia bangun dalam waktu yang lama. Ia tak tahu.

Matanya menyorot pada seluruh ruangan. Ia temukan sesuatu. Semoga bisa menjadi petunjuk. Itu adalah corat-coret ayahnya. Yang tertulis adalah, “hari yang kelabu. Banyak tamu tak diundang datang. Bukan untuk berdiplomasi, apalagi bekerja sama. Mereka membawa batu, golok dan senjata-senjata tajam. Bahkan senjata api. Mereka menyerang tanpa ampun pada setiap penjuru. Mereka tak peduli. Aku ingin menyerang, memperjuangkan hakku. Tapi aku terlalu takut, aku hanya mampu melihat mereka dari tempatku sembunyi. Tak ada yang tahu dimana aku. Yang aku paling takutkan adalah putriku tercinta. Bagaimana jika ia tiba-tiba datang. Bagaimana jika aku tak mampu melindunginya? Bagaimana jika ia menjadi korban. Sudah tentu, bukan dia yang harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi. Akulah yang harus bertanggung jawab. Dan aku sadar, akulah kini pecundangnya. Untuk anakku dimanapun engkau berada papa minta maaf atas apa yang terjadi. Perusahaan terkena fitnah tentang pembuangan limbah. Mereka kira perusahaan kitalah yang membuangnya padahal itu dalah kesalahan besar. Tapi telinga mereka sudah tak mampu mendengar. Mereka tuli. Dan salah satu yang membuat mereka tak mau mendengar adalah karna papamu ini adalah seorang komunis. Anakku berlindunglah segera. Maafkan aku atas apa yang terjadi.” Tulisan itu usai.

“ehem.. kita kedatangan tamu besar!! Hahahaha!” ada suara. “si..siapa kalian? Kenapa ada di sini?” suara Rachel bergetar. “kami? Sedang apa? Kenapa? Harusnya kau yang berpikir! Siapa kau berani menguasai negara orang. Di tanah siapa kau sekarang? Di mana kau berdiri sekarang? Apakah kau asli orang sini? Kau harus tahu! Kau harus dimusnahkan! Hahahaha!” suara itu terus mendekat. Rachel terus mengambil langkah mundur. Hingga ia terbentur tembok. Tak ada lagi jalan untuk keluar. Ia telah terkepung. “oh.. tidak! Dalam nadiku masih mengalir darah Indonesia. Kau salah besar! Kalian begitu tak peduli, kalian tak mau mendengar. Hati kalian mati!” rachel menjawab. Masih bergetar. “yang mati hatinya siapa?? Kami masih mengenal tuhan. Kau? Apa kau percaya adanya tuhan? Bah! Kau tak ada bedanya dengan binatang jika begitu, tak mampu berpikir!” ada suara yang lain. Ada banyak orang.

Rachel sudah tak mampu berbicara, terkunci. Lampu menyala redup. Mereka mamunculkan diri. Laki-laki semuanya. Apa yang akan mereka lakukan? Tanya Rachel dalam hati. “wah! Ternyata ia begitu menawan. Kita apakan dia?” suara itu terus mendekat. Pintu tertutup. Lampu padam.  Rachel jatuh. Ia tak mampu berbuat apapun. Ia telah berteriak sekuat mungkin. Tak ada yang mendengar. Hanya langit yang ikut menemaninya menangis. Malam yang hancur. Rachel hancur.

***

Wanita itu berjalan gontai. Hidupnya, mimpinya musnah seketika. Hancur dalam waktu kurang dari 24 jam. Harinya berubah menjadi tangis. Tak ada lagi yang patut ia banggakan. Fakultas kedokteran hanya tinggal cerita-cerita hebat di masa lalunya. Ia tersenyum getir. Betapa pahit hidup yang ia jalani. Saat itu juga ia merasa sebagai orang paling merana hidupnya. Ia kembali menangis.

Hidupnya kini tinggal olok-olok. Setiap ia melewati perumahan atau perkampungan, olok-oloklah yang ia dapatkan. Ia ingat betul bagaimana ia dulu sering mengolok orang gila. Rupanya begini sakitnya, ia kembali tersenyum getir. Menangis lagi.

Hari-harinya selalu ia tangisi. Ia menyalahkan nasib. Setiap pagi, ia selalu berteriak-teriak, menuntut keadilan atas hidupnya. Jika malam datang, ia akan berlari mencari tempat yang terang. Lalu menganis lagi, bahkan tanpa air mata. Jika ia lapar ia akan mencoba mencari apa saja, yang penting mampu ia kunyah. Ia tak tahu harus kemana ia berlabuh semua baginya tinggallah hal-hal yang tak mungkin lagi ia dapatkan. Ia lelah. Dan kini ia tengah menangis.

Hujan turun. Ia berlari-lari girang melihat air. Lalu bermain-main dengan hujan. Lalu kembali menangis. Hujan diturunkan untuk menemaniku menangis, bukan untuk memberi tanaman kalian nutrisi lebih, ia berkata seperti itu pada setiap petani yang lewat di hadapannya.

 

Malam menjelang. Ia buru-buru mencari tempat yang terang. Ia memilih sebuah teras rumah. Ia menggigil. Demam menggelayuti tubuhnya bersama hatinya yang hancur. Ia terlelap.

***

“Rachel Putri Tirtayasa. Itu namaya. Cantik jelita dirinya. Cerdas otak, lembut hatinya. Tapi kali ini ia sedang terpukul sangat dalam. Ia menderita depresi akut. Ia banyak mengalami kepahitan dalam hidupnya.” Jawab sang Dokter. Ada wanita berjilbab di sebelahnya. Cantik. Ia tersenyum lembut pada Rachel. Tapi yang ditatap malah membelas dengan tatapan ngeri. Apa dia jahat? Ia berfikir dalam hati. Sang dokter seakan mengerti. “ini Fatimah, Rachel. Dia yang menolong kamu. Kamu demam. Dia juga tidak jahat.” Dokter menjelaskan.

Rachel selalu menuruti apa yang Fatimah katakan. Ia seakan memiliki kekuatan baru. Hingga suatu saat, ada yang mendatangi rumah Fatimah. Dia berkata kasar pada Fatimah, “heh! Sejak kapan kamu merawat orang gila tak bertuhan itu?.” Fatimah menjawab,”dia tidak gila dan dia bertuhan, dia masih dalam masa penyembuhan dan pencarian jati diri. Pergi sana!” jawab Fatimah. Dan yang diusir pun pergi.

Rachel menangis di kamarnya. “fatimah, apakah aku gila?” tanya Rachel. “kamu tidak gila Rachel. Kamu akan sembuh. Percaya padaku.” Jawab Fatimah. “fatimah, aku boleh bertanya?” lanjut Rachel, “tentu…” jawab Fatimah. “yang kau kenakan di kepala itu apa?, fungsinya apa?” tanya Rachel. “oo.. ini jilbab. Fungsinya untuk melindungi aurat. Aurat wanita itu seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan. Semua muslimah diwajibkan untuk berjilbab. Itu akan menjaga diri mereka.” Jawab Fatimah. “lalu.. apakah aku seorang muslimah?”  tanya Rachel, kali ini airmatanya jatuh lagi. “emm.. kau harus berislam dulu. Mau aku antar untuk berucap syahadat di masjid?” tanya Fatimah. “boleh.. aku sudah sangat yakin dengan agama ini.” Jawab Rachel lirih. Ia tersenyum.

***

4 tahun berlalu. Semua berjalan begitu indah setelah hari itu. Rachel Putri Tirtayasa yang baru telah hadir. Kembali mewarnai dunia. Hijabnya terpakai indah. Tapi, kali ini ada yang menyusup dalam hembus napasnya. Rindu. Ia rindu akan papanya. Ia tak tahu dimana papanya.

Angin hangat berhembus. Bersamaan itu datanglah seorang lelaki paruh baya. Dia mencari seorang putrinya. Ia mendapat kabar bahwa putrinya masih hidup. Ia dapat diterima oleh masyarakat. Ia seorang muslimah sejati sekarang. Lelaki paruh baya itu mengetuk pintu lembut. Pintu dibukakan. Mata biru itu menatap lurus mata yang berwarna sama dengan miliknya. Dihadapannya kini, putri tunggalnya, berubah 180 derajat dari adanya dahulu.

Lelaki itu maju melangkah, memeluk sang putri. “adakah kau ingat dengan pecundang ini?” tanya sang papa. “aku tak pernah lupa akan engkau, Pa.. aku selalu ingat dan kau bukanlah seorang pecundang.”jawab Rachel. “tapi aku tak mampu menolongmu…” “itu bukan salah Papa, itu adalah jalan kita. Akan ada masanya kita berada di atas Pa, dan ada masanya bagi kita berada di bawah.” Jawab sang putri. Kembali ia memeluk sang papa. Ia begitu merindukan sang papa.

Siang itu menjadi begitu indah. Rachel kembali bertemu sang papa. Sebuah kejutan, sang papa pun telah menjadi seorang muslim. Kabar yang membahagiakan. Semua yang pahit di masa lalu, menjadi sangat manis hari ini. Semua yang gelap dulu, menjadi terang sekarang. Semua menjadi indah.

***

Hari-hari menjadi lebih indah saat ini. Kebahagiaan demi kebahagiaan merajutkan diri, melebur dalam kehidupan Rachel dan keluarganya. Perlu kau ketahui kawan, 2 pekan yang lalu, bunda Rachel kembali pulang. Mereka kembali menjadi keluarga yang utuh. Dan hari ini tahukah engkau, tapi sebelumnya kupastikan dulu, kau ingat bukan dengan Ahmad Fauzan Fuadi? Ya, lelaki sholeh itu meminang Rachel hari ini. Mereka akan segera menyempurnakan agama mereka. Apa kau turut bahagia kawan??

Flashback : off (2011)

***

Hangat. Perlahan ia rasakan airmatanya turun lagi. Membasahi pipinya. Sosok yang duduk di pojok teras rumah itupun mengeringkan air matanya dengan ujung jilbabnya yang menjulur. Tiba-tiba ia rasakan ada yang menepuk lembut kedua bahunya. Ia tengokkan kepalanya ke kanan ada sesosok suaminya yang sangat ia sayangi. Fauzan. Lalu ia tengokkan kepalanya ke sebelah kirinya, ia lihat ada sosok Papa yang amat ia cintai. Dan tiba-tiba ada yang memeluknya dari belakang,  Bundanya, yang amat ia rindui, ia cintai. Ada juga Fatimah di sana. Memberi senyum terbaiknya.

Malam terasa sangat sempurna. Rachel merasa ini nikmat yang sangat harus disyukuri. Berkumpul dengan orang-orang yang ia cintai. Orang-orang yang sangat membantunya untuk kembali bertemu bersama Allah.

Langit terasa bertambah terang. Rembulan sempurna menawan. Langit sempurna elok bak taman berlian. Dunia terasa begitu lapang. Angin hangat nan lembut hilir mudik mengisi ketentraman hati. Ooh lihatlah di pojok dunia ini dengan berlatar langit, ada keluarga yang berkumpul bersama, meneteskan airmata bahagia di bawah Ridho Rabbnya.

Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah, yang engkau dustakan?

  • view 304