Kesturi di Ujung Senja

saiqoh dianah
Karya saiqoh dianah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 02 Mei 2016
Kesturi di Ujung Senja

Pukul 15.35, 16 September 2006.

Mata terpejam itu berkedip. Ya, menandakan masih ada yang tinggal dalam raga itu. Dengan sangat lemah ia membuka matanya. Ternyata visualnya belum dapat melihat dengan jernih. Buram. Tiba-tiba , ia mendengar derap-derap langkah kaki. Mendekat ke arahnya. Namun, sekali lagi, visualnya belum dapat membantunya. Ia kembali mengedipkan matanya. Perlahan ia dapatkan visualnya kembali. Sepasang mata berwarna hershey itu mendapati seringaian dari seorang pria bermata abu-abu. Ia mencoba mengingat siapa sosok bertubuh kekar di hadapannya.

Masih dengan tubuh yang lemah, mata hershey itu menyapu seluruh tempat itu. Rumah yang berantakan, sangat berantakan. Mencoba mengingat, apa yang terjadi sebelum ia kehilangan kesadarannya. Menyadari ada yang hilang, ia mencoba bangkit, “Allaah…” lirihnya. Tentu, memohon kekuatan. Ia rasakan sakit yang luar biasa dari tubuhnya dan ia dapati tubuhnya penuh luka. Pelipisnya berdarah. Mata abu-abu itu terus mengawasi gerak tubuh pria bermata hershey. “Masih mencoba berdiri? Sadarlaah… kau di ujung ajalmu!” ucap pria bermata abu-abu, dengan seringaiannya. “Ryan, dimana dia? Dia,Salsa. Salsa dimana?” tanya pria bermata hershey. Penuh harap. Cemas. “Rav, sadarlah. Siapa dirimu sebenarnya? Kau yang kukenal dulu.. Rava yang glamour. Rava yang penuh pesona. Dimana Rava yang dulu. Rava sahabatku. Ooh.. kau mencemaskan wanita Muslim itu? Lihatlah di pojok tembok itu, siapa yang telah kuhanguskan. Sekarang tiada lagi yang membuatmu mencintai keyakinanmu itu. Kembalilah Rava. Kembali kepada kebebasan, kedamaian. Bukan seperti keyakinanmu yang senang melukai, mengekang, me…” Perkataan pria yang dipanggil Ryan itu terpotong oleh gerakan Rava yang mendekat ke arah wanita yang hangus. Dengan tajam, mata abu-abu itu menyorot penuh emosi. “Cukup Ryan! Ini semua bukan seperti yang kau bayangkan. Dan harusnya kau tahu, aku tidak mencintai keyakinan ini karena Salsa, tapi… karena aku telah benar-benar jatuh cinta pada keyakinan ini. Islam. Ia tidak melukai, tidak mengekang….” Pernyataannya terpotong. Sebuah benda yang cukup keras tepat menghantam bahunya. Seakan dunia berputar-putar. Ia rasakan sakit yang teramat sangat. Ia mencoba tetap bertahan. Namun, tiba-tiba visualnya menangkap bayangan. Ia lihat seulas senyum penuh arti disertai uluran tangan nan halus. Ia ikuti seseorang itu. Salsa. Ia lihat sekitarnya bukan lagi rumah berantakan. Melainkan semua yang berwarna putih. Begitu bersih. Rupanya ia telah kehilangan kesadarannya. Ia kembali dalam alam yang lain. Dan di sanalah, ia mengingat semua yang terjadi sebelum hari ini. Sebelum hari ini.

***

Flashback : on, September 2006. Spain United.

Selamat pagi dunia. Aku, seorang Rava siap menaklukkanmu hari ini. Seorang pemuda bermata hershey itu bercermin. Senyum ia sunggingkan. Ia siap berangkat ke Universitas tempatnya menimba ilmu. Di sana, ia termasuk mahasiswa yang cukup populer. Bukan karena otaknya yang encer, meski otaknya cukup brilian. Melainkan karena, ia seorang Rava yang terkenal glamour, meski yang ia lakukan bukanlah hal buruk untuk dirinya. Melainkan, glamour karena ia senang berganti-ganti mobil, alat komunikasi, dan alat-alat canggih lainnya agar ia tak dinilai pemuda ketinggalan zaman. Ia memiliki banyak teman yang sering mengajaknya pergi. Minum, meski ia sendiri tidak suka minum, ia lebih senang mengeluarkan uang untuk temannya. Dan satu hal lagi yang membuatnya cukup populer adalah, ia banyak digandrungi para pemudi di kampusnya. Meski begitu, haruslah kau tahu kawan, Rava bukanlah pemuda yang bermain wanita.

Seperti biasa, Rava hendak berangkat ke kampusnya. Namun, ia rasakan hal yang berbeda hari ini. Entah iapun merasa heran akan dirinya sendiri. Apakah rerumputan turut merasakan apa yang dirasakan Rava? Aku tak tahu. Apakah angin mampu mengikis sedikit demi sedikit rasa yang aneh pada dirinya? Aku pun tak tahu. Sebab, roda baru hendak digelindingkan oleh Sang Pemiliknya. Dan aku, tentu masih belum tahu.

***

“Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh.. nama saya Salsabila Nurul Fitri. Cukup panggil saya dengan nama Salsa. Saya mahasiswa pindahan asal Universitas Indonesia, Indonesia.” Dengan gugup seorang akhwat dengan jilbab panjang memperkenalkan diri. Sebab ia tahu resiko menimba ilmu di negri minoritas muslim. Ia sudah menimbang-nimbang dengan cukup lama. Resiko akan ia terima dengan ikhlas. Yang ia takutkan adalah jika turunlah kadar istiqomahnya. Akhwat bermata bulat dan hitam bak biji leci itu menyapukan pandangannya ke seluruh kelas. Dan apa yang ia dapati? Semua mata tajam menjurus padanya. Semua tercengang.

Baru kali ini, ada mahasiswa muslim yang benar-benar mencolok akan keislamannya. Sadar menjadi pusat perhatian, ia buru-buru mencari tempat duduk dan duduk di tempatnya. Setiap pasang mata kembali fokus akan materi hari ini, materi yang cukup berat. Tak ada lagi yang memperhatikannya. Kecuali, sepasang mata berwarna hershey di sudut kelas. Ia seakan-akan terpaku, tak mampu berpaling dari wajah akhwat bermata biji leci itu. Ia masih terus memandang. Terpukau.

***

Hari tentu saja terus melaju. Ia tak akan peduli jika ada yang meminta perpanjangan waktu. Ia sungguh tak peduli. Ia hanya menuruti perintah Rabbnya, berapapun banyaknya rengek yang memohon. Sebab ia tak mampu mengabadikan waktu.

Seperti biasa, rumput telah basah kembali oleh bening embunnya. Cakrawala mulai mencipta garis berwarna saga. Seperti biasa, ia akan menerima mentari yang kan datang bersambut. Bintang penuh rendah hati kan menghilang sejenak. Ia kan datang lagi malam ini. Jika Pemiliknya berkehendak, tentu saja.

Seorang akhwat dengan membawa banyak buku sudah melintasi hari sepagi ini. Sudah berhasil tiga bulan aku lalui, dan Alhamdulillah.. istiqomahnya terjaga. Ia mengulum senyum kecilnya. Tiba-tiba sebuah klakson terdengar begitu nyaring. Ini seperti tak asing di telinga akhwat ini. Mengapa aku di klakson? Bukankah ini sudah di trotoar? Pikirnya. Tiba-tiba, sebuah mobil berhenti tepat di sampingnya, “Kau Salsa, bukan? Kenalkan aku, Rava. Kita teman satu kelas. Tapi kita tak pernah berkenalan. Aku harap kita bisa menjadi teman diskusi, mungkin.” Mata hershey yang muncul, dan kini berbicara pada Salsa. Masih dengan ketidak percayaan, ia mengumpulkan segenap kesadarannya. Tanpa sadar mata hershey itu menelusup relung hati. Mencipta rasa yang tak ia mengerti. “mm.. ia. Aku harap begitu.” Ia paksakan senyum. Dan dilanjutkan melangkahkan kaki. Ia tak ingin terjebak. Ini jebakan syaitan. Batinnya. Rava masih ingin berbicara, namun ia urungkan sebab ia mengerti kemana arah lawan bicaranya kan berlabuh. Yakni menghindar.

Salsa masih tak mengerti. Ia lafadzkan selalu istighfar dalam hatinya. Hingga akhirnya gerbang kampus pun tertangkap oleh visualnya.

***

Seperti yang kau tahu, kawan. Waktu tentu terus bergulir. Hingga berjumpalah akhwat ini pada saat-saat yang tiada pernah ia duga sebelumnya. Pria bermata hershey yang ia ketahui namanya dari temannya itu datang melamarnya. Ia tiada pernah menyangka hal ini yang akan terjadi. Rava telah berislam beberapa waktu sebelumnya. Didampingi dengan seorang teman muslim dari fakultas lain ia menemui orang tua Salsa. Dan entah mengapa, batinnya memutuskan untuk menerima lamaran itu.

Beberapa hari kemudian, resepsi pernikahan diadakan. Sederhana. Dan penuh haru.

Bersama mereka, ribuan bintang turut berdzikir.

 

***

“Rav, kapan kita ke Indonesia? Kamu pasti akan terpesona oleh keindahannya. Sungguh..” tanya Salsa pada teman hidupnya. “hei, kamu tidak tahu ya?, aku sudah 3 kali ke Indonesia. Penelitian, liburan, jalan-jalan, hehehe” ledek yang ditanya. Yang bertanya memanyunkan bibirnya. “hei bukan begitu. Oke oke, kita bisa pergi kapan saja. Kamu mau pergi kapan?” bujuk Rava pada Salsa yang mulai merajuk. Tiba-tiba, Salsa tertawa. “I’m joking, Rav.” Ucapnya dengan masih tertawa. Begitulah waktu bergulir. Percakapan-percakapan hangat, obrolan diskusi, hingga debat mewarnai hari-hari mereka.

Mereka tak menyadari, betapa sesungguhnya bahaya datang mengancam mereka. Tepat setelah hari itu. Ya, hari itu.

***

Cakrawala berwarna saga. Ini hari baru. Baik Rava maupun Salsa akan memulai kuliahnya lagi setelah cuti beberapa hari lalu. Ketika mereka memasuki area kampus semua mata menuju pada mereka. Lihatlah, kini kelas kita memiliki sepasang muslim dan muslimah. Serasi. Pandang mereka. Mereka hanya membalas pandangan-pandangan sinis itu dengan senyum.

“Selamat Rav. Semoga bahagia selalu. Kapan nih pesta kecil-kecil buat kami?” tanya Ryan. Sahabatnya. “sediakan anggur terbaik ya. Don’t forget ya?” berikut dengan seringaiannya. “Sorry, Rav. Sudah tidak kenal lagi dengan yang seperti itu, hehe” jawab Rava. “Ya Rav. Aku tahu, aku akan kehilangan sahabatku. Dan ternyata aku kehilangannya lebih cepat dari yang aku kira.” Wajah Ryan meredup. “hey.. hey..! kita hanya sedikit berbeda kawan. Kau akan tetap menjadi sahabatku.” Jawab Rava. “ya sedikit. Tapi yang sedikit itulah yang mampu melukai lebih dari yang aku kira.” Ryan bertambah muram. “tapi, satu hal yang kusesali, mengapa kau harus menjadi muslim. Masih banyak wanita di luar sana. Yang cantik. Yang cocok untukmu. Bukan seperti dia.” Tambah Ryan sambil melirik Salsa yang tengah asyik membaca buku. “dia itulah kesempurnaan, Ryan. Aku bahagia bersamanya. Dan aku bahagia bersama keyakinan ini.” Jawab Rava, memandang penuh arti. “ia Rav. Tapi kau tahu? Banyak masalah yang terjadi di dunia disebabkan oleh Islam.” Ryan masih dengan argumennya. “yang seperti itu bukan islamnya Ryan. Yang melakukan itu, orang yang menggunakan nama islam. Mereka bukan muslim yang sesungguhnya, jika kau telah bergabung, kau akan tahu, kami memiliki teladan yang luarbiasa. Nabi Muhammad saw. Kau harus tahu itu.” Rava tersenyum. “baiklah itu terserah padamu. Aku hanya mampu memberi tahumu.” Tukas Ryan. “Allah jauh lebih tahu.” Sambung Rava, lantas berlalu.

***

14 September 2006.

“Terjadi ledakan bom di Spanyol. Dari narasumber didapati pelakunya adalah para teroris. Hal ini membuat para penduduk merasa harus terus beranti-sipasi pada setiap muslim. Kejadian ini menjatuhkan 3 korban meninggal dan 2 orang kritis…”. Tayangan dimatikan. Ini sungguh sebuah konspirasi. Betapa sungguh, media saat ini sulit dipercaya. “Allah…” desis pria bermata hershey. “Rav, aku takut.” Tutur Salsa, cemas. “tidak apa, Sal. Everything will gonna be okay. Just let it be.” Jawab Rava, menenangkan.

Sejak hari itu, mereka selalu diselidiki. Sebab, secara kebetulan hanyan merekalah muslim yang bertempat tinggal di sana. Ibu Rava selalu meminta Rava untuk kembali kepada keyakinan mereka sebelumnya. Tapi, Rava senantiasa meyakinkan ibunya. Bukannya ia tak cemas. Namun, hatinya berkata padanya untuk senantiasa bersabar. Kau ingat seperti apa perjalanan Nabi Ibrahim, kawan? Hingga akhirnya beliau bergelar kekasih Allah. Rava ingin menjadi hamba yang dicintaiNya. Selalu ia tanamkan pada hatinya untuk sedikit lagi bersabar.

Maka, ia senantiasa berdo’a, agar Allah senantiasa titipkan kesabaran dan ketabahan pada angin yang berhembus. Atau, datang setap kali ia bersujud. Sebab, di sanalah ia temukan kekuatan, untuk terus melangkah.

***

“Bismillahir Rahmaanir….” Belum tuntas Rava membaca basmallah, sebab ia ingin membaca Al-Qur’annya. Tiba-tiba, rumahnya didatangi beberapa orang dengan keributan. Rava buka pintu, dan ia dapati sahabatnya sudah bersama 2 orang berbadan kekar. “ada apa, Ryan?” tanya Rava. “kau, Rav. Mengapa kau lakukan itu? Mengapa kau bunuh ibu dan ayahku?” tanya Ryan. Ada luka dibalik mata abu-abunya. Ada amarah dibalik mata abu-abunya. “sungguh Ry. Aku tidak tahu apa-apa. Sungguh, ini sebuah konspirasi.” “persetan dengan konspirasi. Aku tak peduli lagi. Kau.. aku tak pernah meyangka, ini yang akan kau lakukan. Hey! Kalian berdua! Cepat ikat dia!” jawab Ryan.

Rava sudah dalam keadaan terikat. Ia tak menyangka akan terjadi hal seperti ini. Ia mengingat cerita Salsa tentang keluarga Ammar bin Yasir. Ia menangis, akankah ia berakhir seperti itu? Ia sungguh bahagia. Namun, bagaimana dengan Salsanya. “Assalamu’alaikum.. Rava! Ada apa?” ia terkejut bukan main, melihat Rava sudah erikat dan berlumuran darah. “akhirnya kau datang juga.” Tutur Ryan. Salsa terkejut. Ia mendekat ke arah Rava. “kau… kau apakan Rava?” setelah ia berkata seperti itu, yang Salsa lihat adalah bayangan hitam. Tepat mengenai dahinya. Kemudian yang terihat hanyalah, gelap.

***

Flashback : off, 16 September 2006, at. 17.30.

Semua mengalir seperti mimpi. Cinta, Sahabat, pernikahan, islam, penyerangan dan Salsa. Salsanya sudah tiada lagi. Terakhir, ia mendengar Salsa ucapkan Laa ilaha illaallah… lirih memang, namun tenang. Kini ia tersadar kembali, setelah potongan-potongan episode yang membuatnya teringat akan apa yang terjadi kemarin.

Ia terbangun lagi, kini visualnya ia hadapkan pada Ryan. Mata hershey itu beradu dengan mata abu-abu. “Ryan. Sungguh, ini bukan perkara kami. Kau.. tetap sahabatku.” Suara Rava melemah. Namun, lagi. Ryan masih dengan amarahnya. Lagi-lagi, ia hantamkan sebilah balok di punggung Rava. “kau harus rasakan bagaimana kehilangan, perih.” Itu kata-kata yang dapat ia dengar dari mulut Ryan. “baiklah…” jawab Rava. “satu hal, yang harus kau tahu. Aku tdak akan melepaskan seinchi pun keyakinan ini.” Sambungnya. “baiklah jika begitu. Kau! Rava bukan lagi seorang Rava sahabatku! Persetan kauuuu!” teriak Ryan, sambil ia hantamkan balok itu. Inilah yang paling kuat hantamannya. Namun, Rava tiada sedikitpun terasa sakit padanya.

Ia lihat, Ryan lari menjauh. Dan kini, visualnya pun lari menjauh. Buram, lagi. Hingga tiba saatnya, sang Izrail datang mengulurkan tangannya.

Rava tersenyum penuh kemenangan. Senyumnya begitu merona. “Laa ilaha Illa Allaah…” .

Kemudian bertiuplah angin lembut. Gemerisik dedaunan menyanyikan lagu selamat tinggal. Hujan gerimis menghantarkan kepergian. Hingga wangi kesturi, menghias senja sore ini. Syahdu…


  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    1 tahun yang lalu.
    Catatan redaksi untuk tulisan:

    Tulisan yang sangat inspiratif mengenai perjuangan Rava, mualaf di negeri dengan penduduk minoritas Muslim. Ia berjuang mempertahankan keyakinan barunya meski harus berseberangan ide dengan sahabatnya dan menjadi korban konspirasi. Hingga akhirnya ia dan istrinya harus wafat sebab menolak ke agamanya terdahulu dan bersikukuh dia bukanlah pembunuh orang tua sahabatnya. Selain ide cerita yang menarik tentang kegigihan memperjuangkan agama Islam, karya ini layak terpilih sebab mengalirkan ide dengan alur mundur yang membuat pembaca penasaran. Deskripsi tokoh, peristiwa tersaji secara pas. Emosi saat klimaks penyerangan terhadap Rava dan momen kematiannya juga sangat dapat dirasakan oleh pembaca. Dan pastinya pesan tentang agama, cinta dan persahabatan tertuang secara bagus. Karya yang komplit.

  • saiqoh dianah
    saiqoh dianah
    1 tahun yang lalu.
    speechless actually. Alhamdulillah, hanya itu yang terlontar dari hati dan lisan. Jazakumullah readers and the honorable redaksi inspirasi.co

  • Pemimpin Bayangan III
    Pemimpin Bayangan III
    1 tahun yang lalu.
    Ingat Pingkan: Sehangat Mentari Musim Semi, mungkin karena latarnya yang senada... Karya bagus... ^_

  • Ariyanisa AZ
    Ariyanisa AZ
    1 tahun yang lalu.
    Top of the week. Well done, honey..

  • saiqoh dianah
    saiqoh dianah
    1 tahun yang lalu.
    ooo... oke kak. terimakasih koreksinya