Kematian yang Tidak Disadari

Achmad Saifullah Syahid
Karya Achmad Saifullah Syahid Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 23 November 2017
Kematian yang Tidak Disadari

Perjalanan menggunakan kereta api selalu melemparkan saya ke dunia lain. Sejak memasuki gedung stasiun dengan model bangunan Belanda yang masih kental, walaupun telah direhab berulang kali, lalu duduk diantara bangku yang berderet-deret, suasana yang lengang, hingga memasuki gerbong kereta—imajinasi saya mengatakan, bersiaplah memasuki ruang tanpa tepi, mengaliri waktu tanpa batas.

Duduk termenung di stasiun Tugu Yogyakarta, pukul setengah satu dinihari, membawa ingatan saya pada cerita pendek Seno Gumira Ajidarma, Tujuan: Negeri Senja. Pada dinihari loket di stasiun Tugu sepi pengantri. Bukan berarti itu loket sedang menjual tiket kereta tujuan Negeri Senja. Saya akan kembali ke Jombang, pergi untuk kembali. Sedangkan penumpang yang naik kereta jurusan Negeri Senja tidak akan pernah kembali.

Tidak ada yang aneh. Bisa saja orang pergi untuk tidak kembali.

”Apanya yang aneh? Ini kan cuma seperti kematian. Apa yang aneh dengan kematian?”*

Kematian memang tidak aneh. Apalagi orang memahami kematian adalah dicabutnya nyawa dari badan. Selebihnya adalah adegan kehidupan yang menyenangkan walaupun kadang juga menjijikkan.

Orang memahami hidup adalah fakta sendiri, dan mati adalah fakta yang lain. Hidup dijalani di dunia, dan mati dijalani di alam berikutnya. Ada yang menyebutnya alam kubur, alam barzakh, alam di situ. Demikianlah, hidup dan mati dicerna sebagai dua kenyataan yang berlawanan.

Akan terasa aneh ketika seseorang memutukan pergi untuk siap tidak kembali. Padahal pergi itu ya untuk kembali. Hidup dan mati yang dikotomis itu menyisakan kesedihan mendalam, karena bagi mereka yang ditinggalkan kematian adalah pergi untuk tidak kembali.

Kita pergi untuk tidak kembali ataukah pergi untuk kembali? Pergi untuk tidak kembali itu sama dengan orang minggat. Tidak tahu arah dan tujuan. Pencapaian terakhirnya adalah tersesat, walaupun ia merasa tidak sedang tersesat. Bahkan ia sudah mati sebelum dirinya sadar bahwa ia sedang mati. Jasadnya masih bergerak dan mengerjakan aktivitas kesana kemari, namun inti jiwanya sudah mati. Ia menjalani hidup dengan peran kematian.

Membicangkan kematian tidak perlu diseram-seramkan. Kita yang merasa asing menatap Diri tak ubahnya sedang menempuh perjalanan untuk tidak kembali. Kita sibuk melayani tuntutan eksternal pergaulan sehingga Diri yang otentik terabaikan. Logika algoritma mengurung kita, membentangkan selimut dan mengacaukan struktur mana kepala mana tangan mana kaki.

Kematian Diri telah berlangsung ketika otentitas kita dirampas oleh logika citra status. Merespon kenyataan tidak sebagaimana manusia hidup, melainkan menanggapinya dengan nafsu hewani.

Kereta melaju menembus malam. Saya menatap ke arah jendela. Butir-butir air menempel di kaca jendela. Lengkap sudah: gerimis di luar, malam pekat dan terlempar ke dunia sepi yang dingin.[]

Yogya – Jombang, November 2017

* Dialog dalam Cerpen Tujuan: Negeri Senja, Seno Gumira Ajidarma

 Ilustrasi: https://pxhere.com/

  • view 36