Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Catatan Harian 20 November 2017   22:05 WIB
Mati Ngenes di Tengah Arus Algoritma Kebahagiaan

Pukul setengan sebelas malam. Gerimis lembut menghambur. Wajah saya basah. Jalanan Yogya masih ramai dan padat.

“Kereta jam berapa, Mas?” tanya Fadil.

“Jam satu,” jawab saya setengah berteriak.

“Kita ngopi dulu ya?”

“Siap…!”

Lampu hijau menyala. Fadil tancap gas, belok ke kanan. Entah akan dibawa kemana saya. Ruas jalanan Yogya yang bercabang-cabang sungguh gaib bagi saya. Pokoknya, setengah satu saya sudah tiba di stasiun Tugu. “Kita ngopi di Malioboro saja,” katanya. Saya diam.

Motor menepi. Saya benar-benar “awam” tentang Yogya. Ternyata saya sudah terdampar di Malioboro. Dua gelas besar kopi diantarkan. Ini bisa membuat perut klempoken. Tapi, takaran kopi jumbo itu rasanya akan cukup untuk menemani obrolan saya dengan Fadil, sambil menunggu kereta yang akan membawa saya kembali ke Jombang.

Kami berdua seperti anggota KPK yang sedang menyamar di trotoar jalan. Ngobrol tentang tema-tema gawat di negeri ini. Gawat menurut versi perspektif kami, yang belum tentu gawat menurut orang lain, apalagi gawat menurut Pemerintah.

Tenang saja. Tidak ada yang gawat di negeri ini. Bukankah ruas jalanan kota-kota besar tetap ramai dan padat oleh lalu lalang orang belanja? Ekspresi raut wajah mereka bahagia. Nyaris tidak tersirat wajah-wajah sedih, kecuali wajah pengemis dan gelandangan. Otak rasionalis kita segera menyangkal: wajah-wajah sedih itu sekadar berpura-pura. Jangan memberi uang kepada pengemis. Itu tidak mendidik. Jangan terkecoh oleh wajah yang memelas. Setyo Novanto yang bukan gelandangan saja lihai memasang wajah teraniaya.

Setiap orang sedang bahagia, selalu bahagia dan harus selalu bahagia. Setiap orang mengabarkan ke dunia bahwa dirinya sedang bahagia. Dunia harus tahu kita sedang berbahagia. Untuk itu, kita memerlukan media, simbol, atau sejumlah asesoris kasat mata yang menunjukkan kita sedang berbahagia. Materialisme akan mengajari kita bagaimana menstandarisasi bahagia.

Tidak ada alasan untuk tidak bahagia. Alam hidup modern menyediakan semua fasilitas hidup. Ungkapan-ungkapan kebahagiaan pun telah dirumuskan. Kita tinggal mengikuti kalkulasi rumusan itu. Bahagia adalah ketika kita berhasil memenuhi rumusan-rumusan eksternal yang berlaku secara masal.

Kebahagiaan tidak ada kaitannya dengan otentitas kesadaran internal. Teknologi batin hanya berlaku dalam dunia klenik yang pasti akan dikutuk dan ditelanjangi habis-habisan oleh rasionalisme dunia modern. Manusia hidup dalam barisan—dikomando, diarahkan, digiring, dipeta-kelompokkan melalui logika algoritma kebahagiaan. Kursus hidup bahagia sudah lama menjamur.

Yang nyempal dari barisan, atau yang mempertahankan subjektivitas otentiknya, di tengah banjir bandang "algoritma kebahagiaan", akan memiliki dua kemungkinan. Pertama, ia akan mati ngenes. Kedua, pelan namun pasti ia terseret oleh arus kecenderungan masal yang dahsyat.

Mati ngenes tidak berarti mati beneran karena nyawa dicabut. Ia akan merasa terisolir, sendiri, aneh, asing di tengah hiruk pikuk zaman now yang edan. Bahkan stigma maenstream akan memasang label gila, ngewohi, ngrepoti, ngreweli dan semua “nge-” itu dianggap benih ancaman bagi tatanan sistem yang telah mapan dan nyaman oleh selimut algoritma materialisme.

Tapi, percayalah. Kalau kapan-kapan Anda berjumpa dengan individu atau komunitas gila semacam itu, perhatikan bagaimana mereka menata dan menjaga keseimbangan hidup. Proyeksi hidup mereka sederhana: menertawakan diri sendiri. Kebiasaan yang terakhir ini, sungguh, tak kalah membahagiakan. Bahagia itu otentik. []

Jombang, 20 November 2017

Ilustrasi: http://www.akuinginsukses.com/

Karya : Achmad Saifullah Syahid