Cinta Semurni Cinta

Achmad Saifullah Syahid
Karya Achmad Saifullah Syahid Kategori Inspiratif
dipublikasikan 03 Juli 2016
Cinta Semurni Cinta

Dirimu mesti kau pertaruhkan
dan rela kalah.
Usai kaulakukan,
dan dirimu lenyap
kauyakini dirimu jadi apa,
lalu tiada doa lagi,
hanya mata yang berseri-seri
Yang mengetahui dan yang diketahui adalah satu.


(Mahmud Syabistari, sufi-penyair abad ke-13)

Menempuh kematian maknawi agar bisa hidup kembali. Hidup yang utuh-menyeluruh tanpa pilah-pilah ya dan tidak. Tanpa pernah merasa kehilangan karena memberi adalah satu-satunya kesanggupan.

Cinta.
Al-Rahman (Matahari Cinta). Al-Rahim (Rembulan Cinta). Di dalam diri kita ada Energi Cinta Matahari. Cinta adalah sifat alami matahari, yang membagikan hangat cintanya untuk siapa saja. Berapapun banyak Cinta yang datang, bila gelas kita terlalu kecil, Cinta itu akan luber sebelum lubuk terdalam pada kesadaran kita merasakannya. Untuk itu Allah mendera kita dengan panasnya riyadloh dan ujian, agar gelas hati kita perlahan-lahan mengembang.

Matahari adalah anggur, rembulan adalah gelasnya.

Tuangkan matahari ke bulan bila kau ingin meminumnya. -- ungkap Al-Hafidz.

Kita musti jadi matahari. Menjadi seorang pecinta sejati -- yang memancarkan Cinta Allah untuk dan kepada siapapun, baik untuk orang yang memang mencintai kita dan untuk orang yang mengungkapkan cintanya pada kita dengan bentuk kebencian dan ketidakadilan. Cinta semurni cinta seperti cinta Allah pada kita, seperti hangatnya mentari pada siapa saja makhluk di bumi, tanpa pamrih.

Rembulan cinta (al-Rahim) itu cinta yang memberdayakan karena di sana ada energi untuk menumbuhkan. Bukankah di setiap ibu ada rahim tempat cinta dan energi tumbuh dan berkembang? Bukankah cahaya cinta rembulan adalah pantulan cahaya cinta matahari?

::

Bersama seorang muridnya Nasruddin bergegas pergi ke sumur untuk menimba air. Nasrudin menimba, muridnya memegang ember untuk mewadahi air. Nasrudin menuangkan air di timba ke dalam ember muridnya.

Sejenak kemudian murid mendapati embernya tak kunjung penuh. Apakah embernya bocor? Murid memeriksa bagian BAWAH ember dan ternyata ada lubang cukup besar sehingga setiap air yang dituangkan Nasrudin tidak pernah penuh.

Hal ini berlangsung cukup lama sementara Nasrudin masih saja menimba dan menuangkan air ke dalam ember. Murid jengkel juga akhirnya.

"Guru, Anda ini bagaimana! Tidakkah engkau lihat embernya bocor?" seru murid.

"Sahabatku, kata Nasrudin, "Aku hanya melihat bagian ATAS ember. Lantas, kalau sudah bocor, bagaimana cara mengatasi kebocorannya?"

::

Setiap orang, aku, anda, dan kita semua memiliki lubang di hati. Dengan apa kita akan menutupnya? Dengan harta, anak, pangkat-jabatan, atau dengan sikap nrimo dan ridlo?

Maka, di salah satu titik simpul kesadaran itulah Allah kerap melakukan pijat refleksi ruhani agar urat-urat ruhani kita menjadi lemas dan kendur.

Di setiap titik kesadaran itu sesungguhnya diperlukan kesanggupan untuk menikmatinya. Kita cenderung mencari - bahkan kalau perlu - menciptakan obat antiluka hati, daripada menumbuhkan kemampuan untuk merasakan lukanya.

Untuk bisa nrimo, untuk bisa merasakan nikmatnya luka, kita musti menciptakan RUANG bagi diri kita untuk MENJADI. Ruang ini bukan untuk menampung rasa lelah dan putus asa. Ruang ini bukan pula tempat untuk kita bersembunyi dari rasa betapa hati ini sangat sakit setelah ada sesuatu yang tercerabut.

Ruang ini adalah tempat dimana sifat Al-Quddus mengejawantah. Di tengah lingkaran suara-suara dan bisikan hati, ruang ini seperti titik pusat lingkaran. Di sana ada keheningan yang jernih.

Sayup-sayup mendendang suara: hidup ini jauh lebih kaya dan berharga ketimbang raga benda-benda: makin banyak kita memberi dan menerima Cinta, makin besar energi kita dan makin terang pula visi kita. []

Jagalan 11 - 16

ilustrasi: www.lokerpuisi.web.id

  • view 287