Sesaat Merasakan Kematian

Achmad Saifullah Syahid
Karya Achmad Saifullah Syahid Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 02 Juli 2016
Sesaat Merasakan Kematian

Ketika kondisi seorang berpuasa melihat Wajah Allah, ia memang persis seperti keadaan orang yang telah meninggal. Ia tak lagi dapat terpesona oleh apapun, tidak pula meminta sesuatupun, dan bahkan tidak pernah mengadukan perilhal apapun. Akibatnya, ia tak lagi jinak kepada apa dan siapapun, karena ia telah mendapatkan Allah yang tak tertandingi oleh apa dan siapapun.

Cukuplah Allah untuk kita.

Melihat Wajah Allah (Wajhullah) bukanlah Allah menampak dalam pengertian fisik. Melihat Wajhullah adalah menangkap sisi perintah (amrullah) di balik fakta atau realita yang hadir depan kita. Seorang shaimun (orang berpuasa) memiliki tenaga ekstra untuk menangkap itu semua.

Tenaga ekstra muncul berkat kepekaan batin seorang shaimun yang meningkat pesat, seiring dengan makin disadarinya keseimbangan diri dalam menakar apa saja yang mestinya halal, tapi di saat yang sama hal itu harus dicegah (imsak) karena ia memang sedang berpuasa.

Sesungguhnya Allah berbicara sangat lantang di depan kita dengan mengirim berbagai amrullah. Adalah seorang Wak Jun, penjaga malam sebuah sekolah dasar. Saat itu di saku celananya tersisa uang terakhir yang cukup untuk beli nasi rawon. Ia kepingin sarapan yang agak istimewa, nasi rawon. Kemewahan sarapan nasi rawon baginya adalah keistimewaan yang belum tentu dinikmatinya setiap bulan.

Wak Jun tidak ingin saat menikmati nasi rawon lewat begitu saja. Ia baru menatap betapa nikmatnya nasi rawon, di halaman rumah sudah berdiri nenek nenek tua yang mengaku lapar. Wak Jun memanggil istrinya, dan istrinya melaporkan tidak ada nasi sama sekali. Ini berarti lumbung di dapur benar-benar sedang kosong.

Yang terjadi selanjutnya nasi rawon yang belum tersentuh diberikannya kepada sang nenek.

"Aku makan nasi rawon karena didorong oleh keinginan. Sedangkan nenek ini sudah bukan kepingin lagi. Ia sedang lapar," kata hati Guk Ju. Ini orang bukan kyai, bukan guru spiritual, bukan ulama. Kalimat yang mucul di benaknya adalah kalimat manusia biasa yang mengalami mi'roj sepersekian detik, sehingga di saat itu, ia bagai diterpa gelombang cahaya.

Dalam momentum bertemunya Wak Jun dengan nenek tua yang lapar adalah momen kematian. Wak Jun sebagai manusia sudah tiada. Yang tertinggal adalah amal shalih dan digerakkan oleh Tangan Kekuatan Tuhan. Rahman Rahim Allah hadir. Wak Jun mengalami kematian maknawi: saat seseorang hilang kepentingan egoisme-nya, demi sebuah kesadaran agung menunaikan amrullah. Inilah saat seseorang bertatapan dengan Wajhullah. Wajah Allah.

Bagaimana kesadaran manusiawi Wak Jun tidak sirna? Bahkan di pagi itu ia belum memperoleh kepastian, apakah nanti bisa sarapan atau makan siang. Wak Jun tetap saja tegak di ke-kini-an.

Wa laa khoufun'alaihim wa laa hum yahzanun. Tidak ada rasa cemas (memandang masa depan) dan tidak pula bersedih (menengok masa lalu). Bukankah ungkapan ini adalah ungkapan untuk tipologi seorang Kekasih Allah?

Kekasih Allah akan dikurung oleh sepi. Ia berada dalam situasi hangatnya sinar rembulan yang sedang purnama. Rumi melukiskan pengalaman ini secara puitis:

Saat fajar, rembulan membentang

menukik dari langit mendekatiku.

Laksana elang yang memburu mangsa,

Rembulan menangkap dan pergi membawaku!

Kucari diriku, tapi diriku telah lenyap:

Di bulan, ragaku jadi seperti jiwa, berkat rahmat-Mu,

Bercahaya, aku berkelana seperti jiwa,

Hingga misteri Diri dan diri jadi tentu.

Oleh sebab itu, menurut Al-Qur'an amal shalih bukan milik pelakunya: bukan milikku, bukan milikmu, bukan milik kita – melainkan milik Allah semata (QS. Al-Nisa': 79). Kita tidak akan sanggup beramal shalih tanpa mitra-dialog yang mampu menggerakkan niat baik ini. Siapakah mitra dialog itu? Kita yang telah membuka mata lebar-lebar tidak selamanya mengetahui nilai Amrullah dibalik obyek atau fakta, kecuali telah dikaruniai 'cara membaca' oleh Allah. (QS. Al-'Alaq: 5). Karena mitra dialog itu tak lain adalah Dia Sang Maha Kasih.

Dengan bekal cara membaca itulah kita tenggelam dalam samudera kematian maknawi hingga ragaku, ragamu, raga kita semua menjadi seperti cahaya, berkat Rahmat-Nya. []

jagalan 10 - 16

Ilustrasi:  tetesanlembut.blogspot.com

  • view 234