Phoenix yang Ingin Lahir Kembali

Achmad Saifullah Syahid
Karya Achmad Saifullah Syahid Kategori Inspiratif
dipublikasikan 30 Juni 2016
Phoenix yang Ingin Lahir Kembali

Suaranya terdengar parau.

“Aku ingin terbang. Sungguh, aku ingin terbang.”

Kau diam tidak menanggapinya. Mulutmu masih terkunci. Atau kau masih menjelajah rimba raya makna seraya meraba tanya, ada apa dengan semua ini?

Sepontan saja kau bertanya, “Kau ingin terbang?”

“Aku ingin terbang. Sungguh!”

“Mengapa tidak terbang saja, sekarang?”

”Sayapku patah.”

Kau bukan seorang waskito yang sanggup menatap inti batinnya. Yang bisa kau lakukan adalah diam sesaat, membaca Al-Fatihah seraya memohon apapun atas apa yang kau katakan dan yang tidak kau katakan semoga menjadi cahaya.

Dalam situasi seperti ini kau sungguh takut – takut terhadap sangka dan prasangka, takut terhadap apa yang hendak kau katakan, takut terhadap apa yang tidak ingin kau katakan, takut terhadap asumsi pikiranmu sendiri, yang kau bangun bukan dengan bimbingan ilmu-Nya.

wahai langit

tanyakan pada-Nya

mengapa Dia menciptakan sekeping hati ini

begitu rapuh dan mudah terluka

saat dihadapkan dengan duri-duri cinta

begitu kuat dan kokoh

saat berselimut cinta dan asa *)

“Pheonix itu indah,” ia berbisik pelan. ”Suaranya menyejukkan, kekuatannya menakjubkan, dan airmatanya bisa menyembuhkan semua luka.”

“Phoenix yang sudah tua, terbang, menitikkan air mata, lalu terbakar.”

“Mati untuk hidup lagi. Terbakar untuk menyala kembali, lebih terang!” Ia berkata pelan penuh tekanan.

Melintas di benakmu ia sedang memulai titik kritis awal safari internal: perjalanan masuk ke dalam diri bagai Wrekudoroo dalam lakon Dewaruci. Atas segala teori perjalanan masuk ke dalam diri tentu kau tidak asing lagi. Lantas bagaimana kau akan menyampaikan laku masuk ke dalam diri adalah keniscayaan bagi siapapun yang musti dituntaskan sebelum ia melayani sesama dan semesta.

Bundelan-bundelan sangkan paraning dumadi musti terurai. Titik ordinat Rahman Rahim dalam semesta amanah musti ditemukan. Sinergi gerakan thawaf dan sa’i harus disatukan. Jika tidak, maka ia akan terjebak dan terjerembab dalam mimpi, thuulul amal, panjang angan-angan.  Dan Tuhan pun tiba-tiba hilang tertutup dinding ego, lalu sumpeg, lalu putus asa.

Akankah kau menyampaikan semua itu padanya? Sedang kau masih diliputi rasa takut bahwa pandangan soal safari internal, titik ordinat rahman rahim, sinergi gerakan thawaf dan sa’i baginya adalah solusi klasik yang mengekang dan sarat dengan dalil-dalil. Ataukah ini hanya soal bagaimana istilah mengucapkannya?

”Transedensi.” Tiba-tiba kau berkata.

Reborn.”

”Lahir kembali.”

”Untuk itu aku butuh bahan bakar,” katanya. ”Dan bahan bakarnya adalah pengetahuan-baru.”

Hemm, pengetahuan-baru. Kau tidak seketika membatahnya. Ini sudah bukan soal bodoh atau pintar, bebal atau cerdas. Ini adalah soal bagaimana tatakrama seseorang yang hendak memulai perjalanan masuk ke dalam diri. Ini adalah soal bagaimana memahami dialektika terbalik yang dijalankan Allah.  

"Pengetahuan-baru. Carilah pengetahuan-baru sepuasmu," kau berkata lantang. "Tumpuklah buku-buku. Bacalah sejuta literatur. Tulislah berlapis-lapis teori. Berdiskusilah dengan siapa saja sampai  bibirmu berbusa. Setelah semua itu selesai, tataplah langit malam yang sunyi dan dengarkan apa kata suara dari bilik hatimu."

Kau tidak bisa membendung kata-katamu.

"Kalau ingin lahir kembali mengapa engkau tidak berkata pada-Nya, 'Wahai Allah, aku nyerah, aku lelah, aku lunglai. Jalanku buntu. Hidupku suntuk. Cahaya cintaku meredup, bahkan nyaris padam. Stok energiku menipis. Ilmu yang selama ini aku pelajari belum bisa menuntunku di jalan-Mu. Buku-buku yang aku tulis hanya menjadi simbol intelektual belaka. Amal ibadahku belum menenteramkan kalbuku. Aku dikepung tembok-tembok. Wahai Allah, aku nyerah, aku lelah, aku lunglai..."

Tentu saja kata-kata gagah berani itu tidak kau ucapkan di depannya. Kau terengah-engah sendiri setelah berkata lantang dalam hati.[]

*) Sayap-Sayap Patah, Kahlil Gibran

Jagalan 11 - 16

Gambar: http://www.hotel-r.net/

 

  • view 193