Mendengarkan Yang Tak Biasa Terdengar

Mendengarkan Yang Tak Biasa Terdengar

Achmad Saifullah Syahid
Karya Achmad Saifullah Syahid Kategori Inspiratif
dipublikasikan 30 Juni 2016
Mendengarkan Yang Tak Biasa Terdengar

Bagaimana aku akan bicara apabila diam adalah sebuah jawaban paling lantang menggema. Apakah aku musti diam di bulan yang tenang mengalirkan berlaksa-laksa cahaya. Aku menyasikan berlapis-lapis tirai tersibak di panggung agung tempat segala pertunjukan diperankan.

Dan suara itu kembali menegurku. "Makan-minumlah secukupnya. Kalau mengukur isi perutmu sendiri kau tidak bisa, bagaimana kau bisa memahami orang lain?" Kalimat itu menempel di benakku. Aku mendengarkannya setiap ia berbicara di hening malam sunyi. Inayat Khan menyebutnya kehidupan sunyi: kesunyian azali yang memulai kehidupan alam semesta.

Dalam termangu mengalir di depanku bait-bait syair:

Orang-orang sering mengajukan pertanyaan-pertanyaan

yang tak dapat aku jawab sepenuhnya

dengan kata-kata,

Dan ini membuatku sedih

karena mereka tak sanggup mendengar suara diamku. *

Bulan Ramadlan, saat untuk mendengarkan secara reflekstif suara-suara sunyi: suara-suara yang selama ini tertindih oleh bising knalpot mobilitas kehidupan yang meraung-raung. Suara-suara wadag yang tanpa kita sadari membimbing setiap keputusan hidup untuk melukiskan warna masa depan.

Mendengar bukan berarti pasif menunggu ilham. Ia menjadi sangat reflektif ketika kita terlibat secara total-ikhlas melayani dan meladeni dialog berbagai realita yang mampir di depan kita. Mendengar dan merenung bagai sikap kuda-kuda: menyerap energi tanpa batas lantas memantulkannya kembali ke wilayah dimana kita sedang mengaktual diri menjadi wakil-Nya di dunia.

Dalam ruang batin ini ada titik dimana sifa Al-Mujib mengejawantah. Dia selalu menjawab siapapun yang memanggil-Nya. Seruan-seruan apapun yang hadir di depan kita melalui bermacam realita peristiwa adalah menjadi seruan-Nya. Yang memanggil bukan siapa-siapa, melainkan Dia juga.

Dengarkanlah Dia tatkala nurani sedang asyik-masyuk menghayati situasi lapar yang justru mengalirkan berlimpah-limpah tenaga. Ada suara-suara di sana. Suara-suara nan lembut bergetar-getar meski kadang ia sangat lemah dan sayup.

Asahlah kebeningan ruhanimu dengan mendengar suaraning asepi. Bukan dengan bertapa di kuburan atau bersila di gua. Suwaraning asepi ada di sekelilingmu. Ada di rintih tetanggamu yang lapar. Ada di hati orang-orang yang tersakiti sepanjang hidupnya. Ada di keluh sambat pekerja-pekerja kecil yang terdhalimi.

Denting suara hati mereka akan engkau tangkap bagai gemetar sukma yang membara. Dengarkanlah denting sukma jiwa mereka dengan sikap hening nan khusyuk seperti saat engkau sujud di haribaan-Nya. Di sanalah kebenaran ilmu dari Allah merasuk dan bersemayam di kedalaman sukma.

Hingga suatu saat, Nasrudin sedang nangkring di atas rumahnya. Ia membetulkan genting rumahnya yang bocor. Seorang temannya lewat.

"Bisakah engkau turun sebentar saja?" pinta temannya.

Dengan bersungut-sungut karena pekerjaannya terganggu Nasrudin bergegas turun.

"Ada apa?" tanya Nasrudin.

"Nasrudin…," kata temannya sambil berbisik. "Aku mau pinjam uang sepuluh dinar. Bisakah kau meminjaminya?"

"Sobat, aku sudah susah-susah turun. Kenapa tidak berteriak saja dari bawah?”

"Aku tidak ingin tetangga kita mendengar kalau aku tidak punya uang."

"Hemm...baiklah. Bisakah kau membantuku sebentar saja membentulkan genting rumahku yang bocor?" pinta Nasrudin.

Nasrudin dan temannya naik ke atas genting. Dengan bersemangat teman Nasrudin ikut membetulkan genting yang bocor. Setelah pekerjaan selesai, Nasrudin berkata, "Sobat, aku minta maaf. Jangankan sepuluh dinar, satu dinar pun aku tak punya."

"Mengapa tidak bilang sejak masih di bawah?" tanya sahabatnya jengkel.

"Aku tidak ingin engkau lekas pergi dan tetangga kita tahu bahwa aku sedang tidak punya uang," jawab Nasrudin.

Kadang kita dihadapkan bukan pada apa yang baik dan buruk, melainkan dua kebaikan yang terlihat saling bertentangan. Kita yang terbiasa mendengar suara sunyi akan mampu menjawabnya. Semoga. []

*) Hazrat Inayat Khan, The Complete Sayings of Hazrat Inayat Khan

Jagalan 11 - 16 

Gambar: http://4.bp.blogspot.com/

  • view 285