Jatuh Cinta pada Ketiadaan

Achmad Saifullah Syahid
Karya Achmad Saifullah Syahid Kategori Inspiratif
dipublikasikan 29 Juni 2016
Jatuh Cinta pada Ketiadaan

Selamilah secuil rasa ini, akan kau temukan sejuta pengertian lembut. Amatilah setitik embun, seratus samudera rahasia kemurnian akan membanjirimu. Aku lihat di manik matamu tersimpan cahaya Cinta, dan jantungmu pun aku dengar berdenyut seirama dengan detak semesta raya.

Aku tidak boleh dan tidak akan bermain-main dengan sesuatu meski ia hanya setitik secuil sejumput. Yang setitik secuil sejumput itu menyisakan misteri kabut yang memerlukan ketangguhan untuk menyingkapnya. Allah Yang Maha Agung Maha Besar Maha Segalanya – yang hampir selalu kita konotasikan dengan Keperkasaan dan Kekuatan Agung – teryata menciptakan juga seekor lalat, nyamuk, tengu, atau bahkan binatang yang lebih kecil lagi.

Allah tidak malu dan tidak segan ngopeni hal-hal kecil. Keagungan dan kedasyatan Ilmu-Nya justru ditunjukkan dengan segala hal yang lembut, kecil, mungil, remeh, dan sempat tak terhitung oleh kecerdasan dan kesigapan akal kita. Maka, jangan pernah bermain-main dengan segala yang kecil dan sering luput dari mata kecerdasan.

Satu rasa di hati yang paling samar sekalipun sesungguhnya adalah limpahan bergulung-gulung ombak samudera ilmu yang memang sengaja diteteskan di meja makan ruhani kita. Mengenal diri adalah mengenal dan menyelami satu rasa, yang bagai limpahan bergulung-gulung ombak samudera itu, hingga kita tiba di pusat kesadaran diri yang paling hening.

Di hening senyap itulah ketiadaan hadir.

Rumi berpesan:

Jangan takut pada ketidaan
Jika engkau ingin takut
takutlah pada keberadaanmu sekarang

Harapanmu akan masa depan
kenanganmu akan masa silam
apa yang kau sebut dirimu
sesungguhnya tiada.

Ketiadaan adalah keberadaan yang lahir dari ketiadaan,
dan ketiadaan diserap oleh Ketiadaan Tunggal.

Kita jatuh cinta pada ketiadaan karena ia mengantarkan kita memasuki orkestrasi keikhlasan alam semesta. Denting embun jatuh di atas daun pun terdengar juga. Aku lihat di manik matamu tersimpan cahaya Cinta, dan jantungmu pun aku dengar berdenyut seirama dengan detak semesta raya.

Tetapi, selagi kita masih benda, masih wujud, masih ada, bersiaplah ditikam kesakitan demi kesakitan yang melelahkan dan melenakan.

Realitas Itu, sebagai Realitas sendiri, tak punya lawan. Dia hanya mempunyai lawan bila dipandang sebagai wujud. Iblis lawan dari Adam, Musa lawan Fir'aun, dan Ibrahim lawan Namrud. Sedangkan diri kita alangkah banyak lawan yang melingkari: nafsu, harta, ambisi, lelah berkepanjangan, suntuk hingga mabuk. Bahkan cita-cita pun kerap hadir menjadi lawan yang menuntut agar segera tercapai.

Ketika dua wujud saling berlawan dan lantas berbenturan, yang terjadi selanjutnya adalah terkurasnya energi. Lelah. Rasa lelah ini adalah semacam undangan agar kita bersegera menghadiri jamuan transformasi diri. Menu utamanya adalah hijrah dari kesadaran diri sebagai sosok yang terikat asesoris sosio-kultural menuju insan yang menemukan identitas final sebagai hamba Allah (abdullah).

Kalbu tidur sampai ia dibangunkan oleh tamparan. Kalbu bagai batu, dan memercikkan api ketika berbenturan dengan batu lain.

Engkau bisa memiliki semua hal yang baik – harta, teman, keramahan, cinta untuk memberi, dan cinta untuk menerima – jika engkau belajar untuk tidak dibutakan oleh semua itu; belajar untuk menghindari rasa kecewa dan jijik, sebab hidup ini tak selalu seperti yang engkau inginkan.

Permaafan yang membakar segalanya kecuali keindahan adalah cinta. *

*) Hazrat Inayat Khan, The Complete Sayings of Hazrat Inayat Khan.

jagalan 29062016

Gambar: https://lh3.googleusercontent.com/