(Mripat 01) Petualang

Achmad Saifullah Syahid
Karya Achmad Saifullah Syahid Kategori Inspiratif
dipublikasikan 29 Juni 2016
(Mripat 01) Petualang

Siang yang terik. Engkau termangu sendiri. Segelas teh hangat tersaji di depanmu. Hanya tersaji, belum engkau jamah. Matamu nanar menatap jalan aspal yang terbakar. Sayup namun jelas, telingamu menangkap lirik lagu Sang Petualang.

Bagai potongan sekuel kejadian. Matamu berganti layar.

Ya sejenak hanya sejenak

Ia membelai semua luka

Ya sekejap hanya sekejap

Ia merintih pada samudera [1]

Kau temukan dirimu terkulai – bukan karena luka, karena bagimu luka sudah bukan luka lagi. Luka-luka ini sudah bagai kembang bersemi di musim semi mekar menyambut musim. Dan memang hanya sekejap, hanya sekejap luka mengiris: luka menyeretmu sampai di tepi samudera. Engkau merintih pada samudera.

Mengapa samudera? Karena di sana engkau melapang dada, menjamah cakrawala, duduk bersila di garis batas pandang manusia.

Sesaat aku berputar mengelilingi sembilan cakrawala

Kuedari bintang-bintang, masing-masing menurut sumbunya

Sesaat aku gaib, tinggal bersamanya di sebuah ruang [2]

Ruang yang sunyi. Engkau sendiri di hitam hari, di ruang sunyi. Engkau jatuh terkapar. Tenaga fisikmu pelan namun pasti lunglai dengan sendirinya. Namun, cintamu makin berkobar. Dalam gemuruh cinta yang memuncak Sang Guru membelai rambutmu. Engkau menangis di pangkuannya.

”Aku rindu padamu, Guru.”

”Aku tahu.”

”Apa yang mesti aku ucapkan sedangkan hati ini sungguh mencintaimu.”

”Berdoalah, semoga Allah mencintaimu sebagaimana engkau mencintai aku.”

Tangismu makin menjadi. Engkau bagai bocah gondelan jubah gurumu. Selalu, selalu sorot matanya yang teduh menatapmu dengan kedalaman samudera biru. Untuk itu ia tidak berkata-kata lagi. Bahkan ia tidak perlu kata-kata sehingga ia tidak harus selalu berkata. Ia cukup tersenyum dan boleh kapan saja datang lalu pergi.

Datang dan pergi. Pergi untuk kembali. Engkaulah petualang yang bergerak dalam arus hidup kesadaran thawaf dan sa’i. Engkau menyapa mereka yang bergerak dalam irama gelombang thawaf. Engkau hampiri mereka yang bergerak dalam arus lurus sa’i. Engkau temani mereka yang terjebak dalam lingkaran-lingkaran beku. Engaku duduk bersama mereka yang meyakini dirinya sudah bergerak kesana kemari, tapi ternyata tidak kemana-mana. Kau santuni mereka yang bersemangat untuk selalu bergerak hingga tidak tahu kemana harus bergerak.

Sungguh, di dalam diri yang tak tampak ada Dia yang tak tertaklukkan. []

Jagalan 11 - 16

 [1] Lirik lagu "Sang Petualang" - Kantata Takwa

[2] Sajak "Selubung Cinta" - Jalaluddin Rum

 Gambar: https://erwinperkasa.files.wordpress.com

  • view 106