Aku Anak Sehat

Saidiman Ahmad
Karya Saidiman Ahmad Kategori Kesehatan
dipublikasikan 20 Januari 2016
Aku Anak Sehat

Tahun 80an, terjadi lonjakan angka kelahiran di Indonesia. Lonjakan ini tidak disertai dengan peningkatan fasilitas kesehatan. Akibatnya, angka kematian bayi dan ibu melahirkan juga melonjak. Fasilitas kesehatan yang disediakan oleh pemerintah Orde Baru saat itu hanya sampai ke tingkat kecamatan, tidak menyentuh level desa, apalagi dusun, rukun warga atau rukun tetangga. Pada saat yang sama, untuk membangun fasilitas kesehatan sampai pada level paling bawah, pemerintah tidak cukup punya sumber daya untuk melakukannya. Untuk mengatasi persoalan ini, pemerintah menggagas usulan yang brillian, yakni membangun pusat-pusat kesehatan pada tingkat paling bawah dengan bertumpu pada keterlibatan aktif masyarakat itu sendiri.?

Sebagian besar fasilitas infrastruktur dan tenaga medis berasal dari warga. Tenaga-tenaga medis adalah sukarelawan lokal yang dilatih. Tugas utama mereka adalah memberi pelayanan kesehatan pertama, menimbang dan mengimunisasi bayi. Sebagian besar biaya merupakan hasil iuran masyarakat sendiri melalui koordinasi rukun tetangga atau rukun warga. Dengan biaya yang hampir nol rupiah dan lokasi yang dekat dengan tempat tinggal, masyarakat seluruh pelosok tanah air menggandrungi program ini. Melalui program ini, seluruh masyarakat sampai pada level terkecil pemerintahan akhirnya mendapatkan akses kesehatan.

Itulah pusat pelayanan terpadu (Posyandu), sebuah inisiatif dari pemerintah tapi dengan keterlibatan maksimal masyarakat. Pada program ini, masyarakat bukan sekedar objek pelayanan, tapi juga subjek. Hubungan negara dan masyarakat adalah mitra sejajar. Bahkan pada level tertentu, negara hadir hanya sebagai fasilitator. Negara memfasilitasi pelatihan sukarelawan melalui Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) yang biasanya hanya ada di kota kecamatan. Tentu saja, negara juga terlibat aktif dalam sosialisasi. Salah satu bentuk sosialisasi itu adalah dipopulerkannya lagu ?Aku Anak Sehat? di Televisi dan Radio Republik Indonesia (TVRI dan RRI).

Percobaan pertama dilakukan pada tahun 1983 di tiga provinsi (Sumatera Selatan, Jawa Tengah dan Sulawesi Selatan). Sejumlah catatan muncul dari tiga wilayah percobaan itu. Pengenalan masyarakat atas inisiatif ini perlu diperluas. Tenaga-tenaga sukarelawan perlu ditambah melalui pelatihan-pelatihan. Sektor-sektor lain perlu lebih banyak terlibat. Diperlukan system evalusi yang lebih sistematis. Dan seterusnya. Dari evaluasi itu gerakan Posyandu dikembangkan lebih jauh. Program ini kemudian diintegrasikan dan berjalan seiring dengan program-program lain seperti Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa (LKMD). Hasilnya, tahun 1983, Indonesia sudah memiliki 40.000 Posyandu. Angka ini kemudian berkembang berkali lipat. Tahun 1988, jumlah Posyandu di seluruh pelosok Indonesia tercatat sekitar 200.000 (Leimena: 1989, hlm. 267).

Di masa jayanya, Posyandu menjadi primadona masyarakat Indonesia. Sayang sekali program ini lambat laun memudar. Tentu masih banyak yang mengunjunginya. Tapi pemanfaatannya kurang maksimal. Biaya imunisasi yang super murah, puluhan kali lipat lebih murah dari biaya imunisasi di rumah sakit swasta, tetap memikat masyarakat. Tapi mungkin karena biaya yang super murah itu pula yang membuat masyarakat kelas menengah atau yang beranjak jadi kelas menengah di kota lebih memilih berimunisasi di rumah sakit. Hal lain adalah kunjungan masyarakat masih terlalu fokus pada imunisasi. Mereka kurang peduli pada aspek monitor pertumbuhan bayi (Noviaty, et al.: 2006, hlm. 58).

Ya, Indonesia pernah memiliki satu gagasan brillian mengenai sistem pelayanan terpadu yang bernama Posyandu. Ini adalah gerakan kebijakan sosial yang tidak bertumpu pada negara, tapi sebesar-besarnya berasal dari partisipasi masyarakat. Sayang sekali bahwa gerakan yang berjaya di masa otoriter Soeharto ini justru memudar di era demokrasi yang seharusnya bisa lebih banyak mendorong partisipasi warga.

Di masa demokrasi ini, kebijakan sosial didominasi oleh bantuan-bantuan langsung dari negara a la Amerika Latin. Bantuan Operasional Sekolah, Bantuan Langsung Tunai,? Bantuan Langsung Sementara Masyarakat, Beras Miskin, Kartu Jakarta Sehat, pendidikan gratis, dan seterusnya adalah model-model kebijakan sosial masa kini. Cirinya adalah negara membantu masyarakat secara langsung. Pada negara-negara demokratis yang baru bertumbuh, program semacam ini diminati oleh rezim penguasa. Dengan menggunakan uang negara, rezim penguasa bisa memberi uang secara langsung kepada masyarakat.

Bolza Familia?di Brazil bisa menghabiskan 13 persen dari seluruh pendapatan negara. Itu adalah program bantuan sosial langsung terbesar di dunia. Di Venezuela, almarhum Hugo Chavez, membentuk hampir 20,000 lembaga-lembaga komunitas (consejos communales) untuk menampung bantuan-bantuan langsung negara. Dugaan sementara saya, rezim-rezim penguasa di pelbagai negara demokratis yang baru tumbuh itu cenderung terpilih dalam Pemilu kedua karena penghamburan uang negara dengan alasan bantuan langsung. Bantuan langsung (cash transfer) asal muasalnya bisa ditelusuri sampai pada praktik politik uang. Salah satu bentuknya, misalnya yang pernah populer di beberapa negara Amerika Latin,?adalah politisi memberi sebelah sepatu pada calon pemilih pada masa kampanye, sebelahnya lagi akan dikasih setelah sang politisi terpilih.

Intinya, demi kemaslahan bersama, kebijakan sosial dalam bentuk bantuan langsung perlu dikoreksi. Proyek pembangunan infrastruktur jauh lebih membutuhkan anggaran negara. Kebijakan sosial yang bertumpu pada partisipasi warga perlu terus didorong. Mari kita menyanyikan kembali lagu ini:

?

Aku anak sehat

Tubuhku kuat

Karena ibuku rajin dan cermat

Semasa aku bayi slalu diberi asi

Makanan bergizi dan imunisasi

?

Berat badanku ditimbang slalu

Posyandu menunggu setiap waktu

Bila aku diare, ibu slalu waspada

Pertolongan oralit selalu siap sedia

  • view 278

  • Irfan Kriyaku.com
    Irfan Kriyaku.com
    1 tahun yang lalu.
    Mungkin sekarang banyak ibu muda yg lebih bermedsos ria..ketimbang memperhatikan balitanya jadi lupa klo dulu mereka juga sering diajak keposyandu.. *ups

  • Sri Prihatini Boestan
    Sri Prihatini Boestan
    1 tahun yang lalu.
    Pada masa jayanya Posyandu, sangat membantu agar anak bayi, batita dan balita serta Ibu hamil mendapat pelayanan pencegahan primer. Vaksinasi, pemeriksaan Ibu hamil sangat membantu bayi, batita dan balita dan Ibu hamil medapat perlindungan dari penyakit-penyakit yang banyak menyerang sampai fatal bagi mereka. Terutama sekali untuk masyarakat terpencil. Semoga sekarang direvitalisasi.