Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 16 Januari 2018   10:25 WIB
SAHUDIN: DRAMA DORO PECINGI

(Meskipun rumah itu sudah tidak layak lagi untuk dihuni, tetapi sang ibu tidak pernah berniat untuk pindah ke tempat lain atau membuat rumah yang lebih layak. Karena bagi Fatimah rumah itu menjadi bagian duka dan sangat terasa sunyi setelah kepergian sang suami yang meninggal akibat penyakit yang dideritanya sudah tidak bisa tertolong lagi. Setelah suaminya meninggal Fatimah bekerja banting tulang menggantikan suaminya yang telah tiada hanya demi kelangsungan hidup ia dan putrinya)

Ibu             :    Tak apalah jika harus bekerja seperti ini. Asalkan saya mendapat upah  meskipun hanya mampu mendapatkan sebungkus nasi. Demi anak saya, apapun itu akan   saya lakukan.

(Ayu adalah anak semata wayang, Ia sangat diharapkan oleh ibunya agar bisa membantu pekerjaan ibunya meskipun pekerjaan yang dikerjakan ibunya dinilai buruk dimatanya. Ia membiarkan ibunya untuk mencari nafkah sendirian. Ia tidak pernah menghiraukan penderitaan yang dipikul ibunya. Kerjanya hanya bermalas-malasan di rumah, dan segala permintaannya harus dituruti)

Ibu             : Ayu, datang bantu ibu kerja agar pekerjaan ini cepat selesai.

Ayu           : Ah saya malas, ibu saja yang kerja to, saya mau tidur.

Ibu             : Anak ee,ibu tidak pernah memaksamu untuk kerja yang berat, tapi bantu ibu kerja  semampu kamu. Jangan terlalu manja diri mu itu, nanti kamu terbiasa samapai kamu punya suami.

Ayu            : Jika ibu tidak mampu bekerja lepas saja pekerjaanya.

Ibu               : Kalau ibu tidak bekerja,kita dapat uang dari mana? Kita mau makan apa? Ini  semua untuk kamu, ibu tidak mau melihat kamu kelaparan.

(Ibunya sambil meneteskan air mata karena merasa kecewa dengan perkataan anak gadisnya itu. Ayu adalah anak semata wayang, Ia sangat diharapkan oleh ibunya agar bisa membantu pekerjaan ibunya meskipun pekerjaan yang dikerjakan ibunya dinilai buruk dimatanya. Ia membiarkan ibunya untuk mencari nafkah sendirian. Ia tidak pernah menghiraukan penderitaan yang dipikul ibunya. Kerjanya hanya bermalas-malasan di rumah, dan segala permintaannya harus diturut)

Pemuda           : Sungguh kasian wanita tua itu dengan pakaian yang compang camping berjalan tanpa dihiraukan oleh anak gadisnya.

Ibu                       : Nak, tunggu ibu. Pelankan langkah kakimu. Jangan terlalu terburu-buru.

Ayu                      : Jalan saja, jangan menegur saya. Saya malu dilihat orang. Apa nanti kata orang-orang jika melihat saya berjalan dengan ibu yang berpenampilan kotor  seperti itu.

Ibu                        : Baiklah Nak, ibu akan berjalan dengan menjaga jarak denganmu.

(Setelah mendengar perkataan Ayu, ibunya merasa hatinya sangat terpukul. Dan ia berusaha berjaga jarak antara ia dan anaknya tidak merasa malu berjalan dengan dirinya yang berpenampilan seperti orang kampung dan kotor. Hal ini menjadi pertanyaan orang- orang yang ada di pasar, ada seorang pemuda mendekati dan bertanya pada gadis itu)

Pemuda           : Hei gadis cantik, apakah yang jalan dan mengikuti kamu dari belakang itu  adalah ibu kamu?

Ayu                     : Bukan, itu bukan ibu ku tapi itu PEMBANTU

(Mendengar jawaban anak gadisnya, hatinya begitu sakit. Anak yang ia besarkan dengan kasih sayang, dimanja, dan diikuti segala keinginannya. Ternyata tak di hargai oleh anaknya. Sang ibu hanya bisa menahan air mata yang hampir menetes dipipinya. Karena sakit hati sang ibu pun hanya bisa berdoa dalam hati)

Ibu       : Ee Ruma ee katenggopu ade ada ke. Meskipun sakit hati ini, sebagai seorang Ibu  yang sangat menyayangi anaknya yang Engkau titipkan pada hamba. Hamba sebagai seorang ibu akan selalu memaafkan anaknya.

(Setelah kejadian itu Aisyah sang ibu berusaha melupakan perkataan anaknya. Sebesar apapun rasa sakitnya, ia berusaha menahannya dan menerimanya sebagai ujian dari Maha Kuasa. Baginya, kebahagiaan anaknya lebih penting ia utamakan daripada mementingkan hatinya. Setelah dalam perjalanan pulang, ibunya masih tetap saja berjalan jauh seakan-akan menjaga jarak dengan anak gadisnya sendiri hingga sampai ke rumah. Setibanya di rumah)

Ibu                   : duduk beristirahat sejenak sambil melihat anaknya dengan raut wajah  tersenyum menahan perih.

Ayu                 : tiba-tiba Ayu pun berbalik melihat ibunya.

Ibu                   : Segera ibunya menghapus air matanya.

Ayu                 : Apa yang ibu lakukan? Tidak lihatkah saya sudah merasa lapar. Ayo segera buatkan makan untuk saya bu.

Ibu                   : Baiklah Nak, akan ibu buatkan untukmu makanan.

(Setelah ibunya membuatkan makanan untuknya, Ia pun memakan makanan buatan ibunya. Sehabis makan ia pun langsung pergi ke kamar lalu tidur. Selang beberapa jam kemudian, ibunya pun pergi dari rumah meninggalkannya dengan begitu banyak kenangan. Sebelum ibunya pergi, ibunya sempat memasuki kamar anak gadisnya dan melihat anaknya tertidur lelap. Ibunya hanya tersenyum melihat kecantikan anaknya saat tertidur, ibunya pun mencium kening anaknya lalu berkata)

Ibu                   : Semoga kamu bahagia nak, ibu sangat menyayangimu

(Sebelum beranjak pergi, ibunya menitipkan surat kecil untuknya tepat di samping bantal kepalanya. Yang dimana surat itu berisikan rasa sayang kepada anaknya dan ucapan selamat. Setelah itu Ibunyapun pergi kesebuah bukit yang terdapat sebuah goa kecil dan terus berdiam diri di tempat itu tanpa makan dan minum. Ia terus tersenyum sendiri mengingat anaknya yang sangat ia sayang. Setelah berhari-hari duduk merenungi kenangan bersma anaknya dulu, akhirnya Ibunya pun seketika jatuh tertidur berhari-hari hingga membentuk sebuah gunung yang seolah-olah tertidur dengan memancarkan senyuman yang indah. Hingga kini gunung tersebut disebut dengan nama Doro Pecingi.)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Karya : Sahudin