Teruntukmu, terima kasih (Krapyak, April 2011)

Sahara Ramadhani
Karya Sahara Ramadhani Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 08 Mei 2017
Teruntukmu, terima kasih (Krapyak, April 2011)

Teguhkan Aku Dalam CintaMu

from : Mas Putra

11.45 pm

04 April 2011

             “Asslmlkm… Ra, sprtny hbngn kita slma ini sdh t’lalu jauh, aku smkin mnydari bhw akn t’lalu bnyk mudharat yg t’jdi jika kta mnrskan smua ni, maaf..mgkn aku t’lambat mnydarinya dan kita t’lalu jauh mngkti arus  yg tdk smstinya kita perturutkan ini.”

             Kepalaku terasa tak berhenti berputar selepas aku membaca sms darinya beberapa detik yang lalu. Sungguh, aku tak pernah bisa mengerti alasan mengapa tiba-tiba ia mengirimkan sms ini padaku. Saat ini aku hanya mampu duduk terdiam di konblok depan kamarku bertemankan cahaya lampu yang tidak begitu terang,  Pikiranku masih saja sepenuhnya terpusat padanya, hingga tak kuhiraukan sapaan teman-teman yang berjalan lalu lalang melewatiku.

            Tiga puluh menit berlalu, kebingunganku semakin menjadi-jadi. Tapi lambat laun aku mengerti apa maksud dari sms yang ia kirim kepadaku. Ia benar-benar tak ingin melanjutkan hubungan ini. Bahkan sms-smsku  pun tak pernah dibalasnya lagi. Hatiku benar-benar remuk saat ini, Hancur benar-benar hancur. Rabbi, salahkah jika aku mencintainya? Salahkah jika aku terus mengharapkannya?  masih kuingat awal kurasakan perasaan berbunga-bunga itu, sebelum akhirnya bunga itu layu seperti ini.

***

            TEEEETT!!!!

               Bel berbunyi. Dengan mata yang belum terbuka sempurna, aku bergegas mengambil air wudlu kemudian menuju musala untuk melaksanakan salat subuh. Begitulah rutinitas keseharianku di pesantren. Salat subuh, maghrib, dan isya wajib dilaksanakan secara berjamaah. Kami yang sebagian besar adalah mahasiswa diberi kebebasan pada pagi harinya untuk melakukan aktivitas di luar pesantren. Sedangkan pada sore hingga malam harinya kami habiskan waktu untuk mengaji hingga pukul sebelas malam.

               Oh ya, namaku Najwa Salsabila Azzahra, tapi biasanya teman-teman memanggilku Zahra. Aku  berasal dari kota yang jika setiap orang mendengar namanya, pasti mereka akan teringat dengan ukiran kayu yang memang menjadi ikon kota kelahiranku, yapz.. benar sekali aku berasal dari Jepara, Jawa Tengah. Usiaku baru menginjak 19 tahun dan kini aku tercatat sebagai mahasiswa semester empat di Fakultas Psikologi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

            Hari beranjak senja. Kupercepat langkahku menuju parkiran kampusku. Di sana hanya tinggal beberapa motor  yang tertangkap oleh pandangan mataku, sepertinya para pemiliknya masih enggan untuk meninggalkan kampus. Segera kuambil motorku yang terletak di bagian paling belakang parkiran ini lalu kupacu dengan  setengah melamun sambil membayangkan rutinitas yang harus kujalani setelah sampai di pondok nanti. Pfff,…terkadang terasa sangat membosankan.

             BRAAAK!!!!

          “Aduuuh….”

          “Kamu ga papa?” Sebuah suara muncul dengan samar-samar.

          Aku menengadah dan… Tuhan! Sesosok malaikat tengah menatapku dengan mata indahnya, membuatku mendadak terpaku. Suaranya terdengar sangat merdu.

          “Hei?” malaikat itu melambaikan tangannya di depan wajahku. “Maaf, kamu nggak pa pa?” tanyanya lagi.

          “Eh? Oh, i-iya, aku nggak pa pa.” Aku segera bangkit sambil mencoba memberdirikan motorku. Malaikat itu membantuku, dan entah mengapa tiba-tiba jantungku berdegup sangat kencang  kali ini.

          “Maaf, aku agak melamun tadi. Apa ada yang sakit? Motormu bagaimana?”

          “Nggak, kurasa semua baik-baik saja.” kataku yang masih agak linglung.

          “ Mm… maaf, begini saja, ini kartu namaku. Jika nanti dicek ternyata ada yang nggak beres, hubungi saja aku. Mm… maaf, aku bukannya mau kabur, tapi kebetulan sekarang aku ada janji. Atau aku bisa minta nomor ponselmu?”

          “Eh?” aku terenyak sesaat. Lalu masih dengan agak linglung dan berdebar-debar kujawab, “085230000000”

           “085230000000? Ok. Nanti kuhubungi ya?” kata malaikat itu. Aku mengangguk. Malaikat itu pun pergi setelah berpamitan sembari melempar senyum indahnya.

                                                                        ***

            Malam pun telah tiba, bergegas aku menuju ruang madrasah yang terletak di lantai dua pesantrenku. Ruangannya tak jauh berbeda dengan ruangan-ruangan lain di pesantrenku. Tak ada yang istimewa, berbentuk balok  dengan deretan kursi-kursi yang berjajar membentuk huruf  U. Di atas dinding putihnya, dua lukisan kaligrafi yang sudah mulai terlihat kusam menempel dengan anggunnya. Seorang pria berpakaian koko dan berpeci putih berdiri di depan whiteboard, terlihat sangat berwibawa.

           “Zakat untuk buah adalah lima persen jika…”

            Aku memandang papan tulis putih yang sedang ditulisi oleh Pak Yunan saat menerangkan bab zakat. Tapi pikiranku saat ini sama sekali tak tertuju pada buah, beras ataupun jenis zakat lainnya, melainkan pada sesosok manusia yang menyerupai malaikat yang telah Tuhan pertemukan denganku sore tadi.

            “… sedangkan jika dialiri tanpa biaya, maka zakatnya sebesar sepuluh…?”

            Aarghh!! Apa-apaan aku ini? Apa yang sedang kaupikirkan, Zahra?!

            “Coba, Zahra, jika diairi tanpa biaya, berapa wajib zakat buah kurma?” tanya Pak Yunan.

            “Eh? Berapa ya? Sepuluh, Pak,” jawabku sekenanya.

            “Sepuluh apa?” tanya Pak Yunan.

            “Sepuluh… juta?” kataku.

            “Ya, benar. Benar dugaan saya, kamu melamun ya?” ujar Pak Yunan. Kontan seisi kelas tertawa. Hanya aku yang tertunduk malu tanpa bisa berbuat apapun.

***

            Seingatku tadi kuletakkan di saku blazer. Tapi, dimana ya? Aku merogoh-rogoh saku blazer  yang kupakai siang tadi setelah pengajian usai, tapi barang itu tak jua aku temukan. Atau kuletakkan di saku rok? Kucari-cari, tak ada juga. Jangan-jangan di dompet?

            Ah, ketemu!!!

            Kuamati kartu nama berwarna krem itu. Muhammad Putra Adi Nugraha. Tertera nomor teleponnya juga. Segera kucari ponselku di dalam tas.

            “08763012345”

            “Ah, apa yang akan aku lakukan?! Menghubunginya? Apa yang hendak kukatakan? Aku baik-baik saja meski ada beberapa memar di tangan dan kakiku. Motorku juga baik-baik saja, hanya tergores sedikit.  Kamu yakin akan menghubunginya, Zahra? Ah, yang benar saja!?” Gumamku.

Beep..beep!

            Sebuah pesan masuk. Nomor baru. Nomornya…

            “Waah…,yes!” teriakku spontan.

            “Apaan sih Ra, heboh banget?” tanya Fiza, teman sekamarku.

            “He? Ah, nggak, bukan apa-apa. Hehehe…”

            Fiza menyipitkan matanya, lalu mendesis,”gag jelas!!”

            Tak kuperdulikan ledekan Fiza. Segera kutekan keypad ponselku dan segera membaca isi smsnya.

From : 08764012345

09.25 pm

19 juni 2010

            “Asslmlkm. Hai, sy Putra, yg tadi ga sengaja nabrak km di dpn gelanggang. Maaf  ya tdi buru2. Gmn keadaanmu skrg?”

To : 08764012345

09.35 pm

19 juni 2010

            “Waalailkumsalaam. Alhmdlh, aku baik-baik saja kok. Tenang aj Jmang tdi buru2 mau  kmn?”

From : 08764012345

09.42 pm

19 juni 2010

            “Alhmdlillaah kalau gitu. Oh, tadi mau ada rapat buat seminar enterpreneurship di fisipol, hari kamis besok. Ikut ya?”

            Tanpa berfikir panjang aku iyakan tawarannya. Sejak saat itu, kami cukup sering smsan. Aku pun sering berkonsultasi tentang masalah-masalahku, dan dia selalu memberi solusi yang cukup membantuku.  Entah mengapa semakin hari aku semakin jatuh hati padanya. Ia sosok yang sederhana, bijaksana, dan dewasa. Aku yakin siapapun yang mengenalnya pasti akan jatuh hati padanya, termasuk aku. “Apa mungkin aku bisa memilikinya? Sedangkan posisiku sendiri masih tercatat sebagai santri pondok pesantren? Apa kata teman-teman dan ustad-ustadku nanti? Tapi apa salah jika seorang santri jatuh cinta?” Hatiku semakin galau.

***

 

              Pagi ini aku sangat bersemangat pergi ke kampus. Yang pasti bukan karena ada mata kuliah favoritku, tetapi, karena ada satu hal spesial yang benar-benar kunantikan pada hari ini. Seminar enterpreneurship yang ia tawarkan melalui smsnya padaku  dua hari yang lalu.

               Kali ini aku mengajak Syifa, sahabat terbaikku untuk menemani ke acara  seminar ini. Kebetulan dia sangat antusias dengan dengan tema yang diusung dalam seminar ini. Kalau aku  bukan seminarnya yang kunantikan, melainkan sesosok pangeran yang akhir-akhir ini memenuhi pikiranku.

            “Hai…,” sapa Kak  Putra. “Akhirnya dateng juga?”

            “Haiiii…. Iya, dong! Eh btw, kamu panitia bagian apa? kayaknya sibuk banget?

            ”Ahh..., aku cuma bantu-bantu kok” jawabnya. “Oh ya, maaf, aku tinggal dulu, ya. selamat mengikuti seminar!” katanya sembari tersenyum lalu berlalu.

            “Tadi itu siapa, Ra?” Tanya Syifa.

            “Namanya Putra. Dia jurusan Ilmu Komunikasi, semester delapan.” Jawabku. “Kenapa  Kamu tertarik sama dia?”

            “Ah, enggaklaah… ntar saingan sama kamu lagi?”

            “Kok bisa?”

            Syifa mencibir, ”Hmmp, keliatan kok kalo kamu naksir sama dia!”

            “Hahaha, tau aja!”

            Seminar pun dimulai. Ruangan penuh sesak dengan wajah-wajah yang sebagian besar tak kukenal. Di depan terlihat tiga orang dengan berperawakan tinggi besar dan bermata biru duduk berjajar yang salah satunya asyik berkutat dengan laptopnya. Acarapun dimulai. Dengan segera moderator berbaju batik itu mulai memperkenalkan narasumber seminar. Sontak riuh tepuk tanganpun menggema memenuhi ruangan.

            “Wah, itu kan Kak Putra Ketua BEM kita, tambah keren aja ya! Udah pinter, ganteng, keren, alim lagi..kurang apa coba??”  kudengar bisik-bisik gadis di sebelahku dengan temannya.

            “Iya, pasti beruntung banget ya kalau bisa jadi ceweknya!” Sahut Temannya.

            “Iiiih, kamu kok centil banget sih!”

            “Yee, biarin daripada aku suka ma orang ga jelas!”

            “Tapi, dianya mau ga sama kamu? Wakakak….”

            Apa??? Seketika kuarahkan pandanganku pada sosok lelaki yang sedang berbicara di depan. Oh!! Ternyata memang Mas Putra yang menjadi moderator. Pikiranku melayang, mengulang memori awal perkenalan kami.

                                                                           ***  

           Entah kenapa akhir-akhir ini fikiranku hanya disibukkan untuk memikirkannya, hanya dia..dia..dan selalu dia. Dia telah menjelma menjadi matahari kehidupanku dan malaikat penjaga hatiku saat ini, sampai-sampai  dalam rapat bulanan kepengurusan kali ini pun aku sama sekali tak tertarik untuk memperhatikan penjelasan dari ketua pondok serta laporan kerja bidang-bidang lainnya, hingga rapat usaipun rongga kepalaku masih dipenuhi olehnya. Tiba-tiba aku tersentak dari lamunanku saat Teh Ria menepuk pundakku.

           “Ra, pembicara diskusi mingguan di pondok kita pindah ke Jakarta minggu depan, kamu ada rekomendasi penggantinya nggak?” tanya Teh Ria, ketua pondokku usai rapat bulanan pondok.

           “La kok tiba-tiba Teh? hmm..siapa ya?” jawabku sambil berfikir.

           “Iya Ra, Beliau harus mengikuti suaminya yang dipindahtugaskan, bilangnya juga dadakan jadi teteh bingung nyari penggantinya, siapa tahu kamu ada rekomendasi.”

           Aku berfikir sejenak. Sepertinya aku tahu siapa yang paling layak menjadi pembicara pengganti. Mas Putra!! Dia orang yang tepat menurutku. Dia sangat pandai, pengetahuan agamanya pun luar biasa bagusnya.

           “Yapz, aku punya Teh, namanya Putra. Dia mahasiswa semester enam  di Fisipol, tapi jangan salah…pinternya gag kalah sama ustad-ustad papan atas kok, hehehe..,” jawabku sambil tertawa kecil.

           “Hmm, oke deh…kamu yang atur semuanya ya Ra.”

           “Siap Bos…” jawabku sambil tersenyum.

           Segera aku menghubungi Mas Putra dan memintanya untuk menjadi pembicara di pesantrenku. Awalnya dia menolak, namun setelah aku berusaha membujuknya dia pun menyetujuinya. Semenjak itu hubungan kami semakin dekat dan intensitas pertemuan kami pun semakin sering. Tak jarang dia memintaku untuk menemaninya membeli buku-buku referensi untuk  kuliah dan diskusi kami. Aku tak menyangka kalau aku akan sedekat ini dengan mas Putra, ketua BEM FISIPOL yang tampan, sopan, alim, dan baik hati. Pasti banyak gadis yang iri padaku.

            Saat diskusi di pesantren dia sering memintaku untuk menanggapi topik diskusi kami, sampai teman-temanku mulai sering menggoda kami saat  diskusi berlangsung. Bahkan sebagian besar dari mereka mengira kami memiliki hubungan yang cukup spesial. Hubungan spesial dengan mas Putra? Mungkin itu yang aku harapkan selama ini.

                                                                           ***

           “Ra, masih belum dibales smsnya sama Kak Putra?” Tanya Fiza membuyarkan lamunanku.

            “Belum Fi, entahlah…kukira kedekatanku dengannya selama ini masih dalam batas kewajaran. Trus kenapa dia tiba-tiba bersikap kayak gini ke aku? apa aku yang salah mengartikan kebaikannya selama ini ya Fi?” tanyaku hampir menangis.

             “Sebentar Ra, bukannya gimana ya, tapi apa mungkin masnya berpikir hubungan kalian memang sudah terlalu jauh dalam pandangan syar’i dan dia merasa tidak bisa menjaga hatinya?” kata Fiza. Aku terdiam, terenyak lebih tepatnya.

              “Bukankah selama ini kamu juga paham, rasa cinta itu memang fitrah yang diberikan oleh Allah kepada hamba-Nya, hanya saja jangan sampai cinta kita kepada yang lain melebihi cinta kita kepada Sang Maha Pemberi Cinta,” ujar Fiza.

              “Tapi kan selama ini kita ga da status apa-apa, ga pernah nglakuin hal yang aneh-aneh, kita cuma temenan deket, sering share, jalan bareng, ga lebih!” elakku

              “Tapi tetap saja, hubungan intens dua lawan jenis bagaimanapun bentuknya tetap saja mendatangkan mudharat yang besar, Ra. Kamu akui atau tidak, aku yakin selama ini hatimu lebih tertaut pada Mas Putra daripada-Nya. Waktumu lebih tersita untuk memikirkan Mas Putra daripada memikirkan-Nya. Ya, tho? Hayo…?”

              “Hmmm” Aku mulai merenungi kata-kata Fiza.

              “Ya udah, aku bubu dulu ya…maaf, jika kata-kataku tadi ada yang nyinggung kamu, tapi percayalah itu semua aku katakan karena aku sayang ma kamu, aku ga pengen kamu terus sedih terus cuma gara-gara dia, Ra?”

              Aku mulai merenungi kata-kata Fiza tadi. Ya Rabbi…ternyata dia benar, betapa selama ini aku sudah sangat menjauh dari-Mu. Betapa selama ini aku sudah cukup melalaikan-Mu dan terlenakan oleh nafsu sesaatku. Betapa cinta sejati hanya milikMu. Dan  aku memutuskan untuk mengirim sms padanya lagi.

To : Mas Putra

01.25 am

05 april 2011

             “Assalmlkum, mas… maaf atas keegoisanku slma ini ya. Akhirny aku mngrti  jk slma ini aku tlh slh mengelola fitrah yang diberikan olehNya. Trimksh sudah mengingatkan. Semoga ini mnjdi awl yg baik bg kita untuk berubah kearah yg lbh baik untuk menggapai cinta sejatiNy. Sekali lg trmksih utk smuanyaJ”

              Bergegas kuambil air wudu, dan kutunaikan salat lail.  Kusimpuhkan diri ini kepada-Nya dan memohon ampun atas kesalahan-kesalahan yang telah aku perbuat selama ini. Betapa diri ini malu atas semua nikmat yang telah Ia berikan dan terlalu sering pula aku mengecewakan-Nya.

ya Allah...

ampunilah segala kelalaian yang pernah hamba perbuat…

bimbing dan arahkan hamba-Mu ini ke jalan yang Engkau ridhai, jalan yang lurus sesuai dengan jalan yang Engkau berkahi, bukan jalan orang-orang yang tersesat dari jalan-Mu…

jangan biarkan hamba berada dalam lorong gelap yang membawa kesesatan…

ya Rabbi…

hamba mengerti, hanya pada-Mu dapat kutemui cinta sejati dan hanya pada kasih-Mu hati ini harus berlabuh…

jadikanlah hati yang lemah ini ya Allah…

selalu tertambat kukuh hanya pada-Mu…

jadikanlah setiap hembusan nafas hamba, setiap detak jantung hamba, setiap kedip mata hamba, setiap tetes darah hamba, setiap langkah kaki hamba, dan setiap bait perkataan hamba hanyalah untuk-Mu…

ya Rabbul ‘izzati…

masukkanlah hamba ke dalam golongan hamba-Mu yang Engkau cintai..

karuniakanlah pada hamba cinta seseorang yang hatinya hanya tertaut pada-Mu, seseorang yang melabuhkan hatinya hanya pada-Mu, agar bertambah pula kekuatan hamba untuk mencintai-Mu…

jagalah hati hamba ini ya Allah, jangan sampai cinta hamba pada selain-Mu melebihi cinta hamba pada-Mu…

hanya pada-Mu hamba bersandar dan bertawakkal dan hanya pada-Mu hamba memohon pertolongan...

Amiiin…

             Seusai salat, hatiku terasa lebih lapang walaupun bayangannya sedikit banyak masih memenuhi rongga kepalaku. Setelah itu, kucoba untuk memejamkan mata tetapi ternyata masih sulit.

Beep-beep…, ponselku berbunyi, satu pesan baru.

“Mas Putra?? ga salah ni?”

From : Mas Putra

01.50  am

05 april 2011

              “Wlkmslm, terkadang kita hrs menggenggm tngn kita sendiri utk meyaknkan bhwa diri kita ini kuat, dn t’kdg kita hrs mlps org lain agr kita kmbali bngkit. Nmn, yknlah kita tak akn prnh mlps Allah, utk mmbuktikn bhwa kita mmpu. Ada jln yg tak prnh kita pkrkan dn ad kekuatan yg tak prnh kita byngkan. Semoga hari ini, lusa, dn strsnya lbh baik lg, dn sllu ad prbhn utk mnjdi lbh baik. Laa Tahzan, innallaaha ma’anaa, terus semangad ya, Ra”.

            Subhanallaah, aku tertegun membaca sms darinya. Aku semakin yakin bahwa dia melakukan ini memang untuk kebaikan kami.  Aku berjanji mulai detik ini aku harus bangkit, masih banyak kewajiban yang harus kutunaikan. Aku harus berubah menjadi seseorang yang lebih baik dan terus berjuang untuk menggapai ridha-Nya.

             Aku percaya wanita yang baik untuk lelaki yang baik, itu janjiMu. Terimakasih ya Rabb, Engkau telah mempertemukanku dengannya. Kalau dia memang jodohku Engkau pasti akan mempertemukan kami kembali. Namun, jika dia bukan jodohku aku yakin Engkau akan memberikan seseorang yang terbaik untukku kelak. Teguhkan aku dalam cintaMu ya Rabb.

(Krapyak, 2011)

  • view 122