Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 24 Januari 2018   11:24 WIB
CERPEN ALIR OBA

Alir oba ( Gurita Raksasa )

suatu tepat di wilayah lembata daerah kedang,hiduplah masyakat yang makmur dan tentram dengan sumber daya alam yang melimpah.kampung tersebut dipimpin oleh seorang ketua adat,masyarakat di kampung itu sebagian besar bermatapancaharian sebagai petani.

Namun suatu ketika munculnya subuah lubang besar di pertengahan kampung,ternyata lubang itu adalah rumah dari seekor gurita raksasa yang setiap hari memakan maksa baik itu bintang ternak maupun manusia.

Hal tersebut membuat masyarakat setempat resa dan enggan keluar rumah kerena kuatir akan dimangsa oleh gurita raksasa itu.

Akhirnya ketua adat kampung tersebut mengumpulkan masyarakat setempat untuk mencari selusi dalam memecahkan persoalan itu.

Ae Ame berkata “ ino amo kangaring sekalian,disaat ini kita sedang dilanda bencana yang menakutkan,ketentraman kita diusik oleh persoalan ini sehingga hari kita berkumpul untuk mencari keluar dari masalah ini.......!”

Masyarakat kampung itu berpikir dan merenung sejenak atas perkataan ketua adat,tidak lama kemudian seorang warga kampung mengakat tangan dan bertanya “ jo apa yang harus kita lakukan sekarang ae ame ?,apakah kita harus meninggalkan kampung ini dan mencari hidup di tempat lain ?”

Kemudian salah satu waarga lanngsung menyambar “tidak....!!! .kita sudah lama hidup kampung ini,tempat dimana kita dilahirkan dan tempat di mana nenek moyang kita disemayamkan,kita tidak bole mudah putus asah dengan cara pindah dari kampung ini...!”

Suana menjadi senyap dan masyrakat kembali berpikir...

Kemudian salah satu warga mengakat tangan dan berkata “bagaimana kalau kita membununya saja?

Salah satu warga langsung menyambar “ ia saya sepakat, tapi bagaimana cara membununya gurita itu terlalu besar dan apabila merasa teracam makluk itu selalu bersembunyi di dalam sarangnya!”

Salah satu Warga lansung menanggapi “kalau begitu kita serang langsung saja ke sarangnya”

wargapun sepakat untuk mencoba membunuh makluk itu.

Keesokan harinya masyarakat setempat langsung pergi kesarang binatang itu namun setelah beberapa jam menunggu binatang itu tidak kujung keluar dari sarangnya,kepala adat pun memutuskan untuk pulang dan merembuk kembali cara membunuh binatang itu.

Kemudian merekapun sampai dan berkumpul di rumah epu ame,suasana di situ menjadi senyap,epu ame segera mulai rapat

Ino amo sekalian hari ini kita pulang dengan tangan hampa,namun bukan berarti kita gagal tetapi awal dari kemenangan, dengan lantang epu ame berkata membuat masyarakat kampung itu kembali berkobar semangat untuk mencoba lagi.mereka kemudian kembali berpikir....

Menjelang beberapa saat kemudian salah seorang pemuda kampung itu mendapat ide dan langsung mengajukannya ke ae ame dan masyarakat kampung itu, “bagaimana kalau kita membuat umpan untuk mengeluarkan makluk itu dari sarangnya,sehingga kita bisa membunuh makluk itu ketika dia keluar dari sarang!”

Epu ame lansung menenggapi,betul namun umpan apa yang kita sediakan dan ketika ia keluar alat apa yang kita gunakan untuk membunuh makluk itu amo?

Pemuda itupun langsung menjawab,bagaimana kalau seekor kambing yang kita ikat di dekat sarangnya dan ketika ia keluar kita lasung menyiramnya dengan motong yang mendidih”

Epu ame langsung mengiyakan pendapat pemuda itu,”baiklah kalau begitu mari kita semua kangaring ine ame supaya menyiapkan apa yang diperlukan untuk besok pagi”.

Keesokan harinya sebelum matahari terbit masyarakat di kampung itu sudah menyiapkan segala suatu yang berkaitan dengan hal yang di perintahkan oleh ae ame,merekapun langsung menuju sarang gurita raksasa itu,sala satu pemuda mengikat seekor kambing di dekat sarang gurita itu sendangkan ibu-ibu bersiap untuk menyiram gurita itu,beberapa saat kemudian suara kambing mengembik keras kerana merasa ada bahaya yang datang,gurita raksasa itupun muncul dan menyerang kambing yang diikat tadi,seketika itupun ibu-ibu dibantu oleh para pemuda dan tetua langsung menyiram gurita itu dengan motong panas,gurita tersebut melilit-lilitkan tubuhnya kerena terkena motong yang mendidih dan seketika itupun langsung mati.

Horeee.....hore.....hore....!, akhirnya ia mati juga ,hore.....hore.......kita berhasil membunuhnya,kita berhasil......!

Para peduduk bersuka cita kerena berhasil membunuh gurita raksasa itu,merekapun kembali ke rumah masing-masing hati yang gembira.

Menjelang beberapa hari kemudian kampung tersebut diserang bau menyengat yang berasal dari bangkai gurita raksasa itu,bautersebut menusuk hidung dan menimbulkan beberapa penyakit.

Sehingga ada sebagian masyarakat terpaksa pindah dan ada juga yang tetap bertahan kerena bau itu. sampai sampai saat ini masyarakat kedang percaya mereka semua berasal dari satu kampung yang sama yaitu kampung Alir oba, namun kerena peristiwa itu ada sebagian yang pindah dan membentuk kampung baru,ditambah masyarakat kedang enggan memakan gurita dengan motong yang kemungkinan besar berasal dari cerita ini.

Karya : saban azlan