Renungan Intim

Rezzy Febriawan
Karya Rezzy Febriawan Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 24 Januari 2016
Renungan Intim

Seberapa jauh kalian mengenal diriku sampai kalian berani begitu banyak membicarakan diriku? Seberapa intim kebersamaan yang pernah kita jalin sampai seolah kalian mengenal setiap mili diriku? Seberapa besar uang yang kalian keluarkan demi menghidupiku sehingga kalian kerap meneriakiku untuk mengikuti mau kalian? Omong kosong apa lagi yang coba kalian rangkai atas diriku?

?hahaha? Aku tertawa sambil bersandar di sebuah tembok lusuh sebuah gedung tua yang sudah kuanggap sebagai rumah.

Aku berfikir bahwa hidup ini sungguh membosankan bagi mereka-mereka yang selalu membicarakanku yang sebenarnya tidak terlalu mereka kenali. Betapa mereka sebegitu tertariknya membicarakanku, seorang pemuda paling dungu yang mereka tau. Ku sesap lagi botol vodka yang di dalamnya mengalirkan energi terbaik dari bumi ini untukku. Persetan dengan kalian semua yang membicarakan mengenai keakrabanku dengan botol ini maupun ?rekan-rekannya? yang lain.

?

Aku hidup dan besar di tengah hingar bingar ibukota yang digelayuti jutaan harap serta kesakitan, aku hidup diantara darai tawa dan airmata, dan aku hidup di antara kebohongan serta kemunafikan. Mayoritas orang yang kukenal adalah manusia yang memiliki ?peran? ganda dalam hidup mereka, mencoba hidup atas kehendak orang lain, menjadi lakon yang disutradarai oleh kebutuhan hidup yang memuakkan. Dan aku? aku adalah seorang lakon monolog yang kusutradarai sendiri, aku selalu belajar mengenai keduanya, belajar dari kesalahanku menyutradarai maupun mendalami peranku sendiri. Hidupku adalah sebuah ?panggung pertunjukan? besar yang kuharap dapat kulalui tanpa intervensi maupun kepentingan untuk memuaskan kepentingan si ini atau si itu, aku mengolah dan memainkannya atas kehendakku sendiri dengan berbagai pesan yang nyatanya belum banyak yang mampu mengerti. Setidaknya aku mengerti benar kenapa tidak ada yang dapat mengerti.

?

Aku suka mendapati diriku ?sedikit hilang kesadaran?, setidaknya aku bisa lupa bahwa aku akan mendapatkan sorotan saat nanti menampilkan ini ataupun itu dalam ?pertunjukanku? berikutnya. Beberapa orang berkata bahwa aku tak lebih dari seorang pengecut karena melakukannya, karena sebenarnya aku memikirkan apa yang orang-orang itu akan katakan mengenaiku. Aku mengakuinya tanpa berani membantah, tak ada alasan untuk membantahnya memang. Aku sedikit tertekan dengan apa yang akan mereka katakan nantinya, hanya saja aku benar-benar merasa perlu untuk mengamini apa yang akan mereka katakan. Bukan kah sudah pada dasarnya kalau manusia lebih suka membicarakan keburukan sesamanya? Bukan kah sebesar apapun kebaikan kita adalah apa yang akan hilang begitu saja saat kita melakukan kesalahan yang bahkan hanya mampu dilihat menggunakan mikroskop? Dan bukan kah sebuah kebaikan yang terbaik adalah apa yang tidak perlu kita pamerkan kepada siapapun? Bukan kah kita tidak akan pernah menjadi benar-benar baik hanya dengan terlihat baik? Bukan kah saat ini aku terdengar begitu menyebalkan karena seolah membicarakan pembenaran? Bukan kah membosankan? Yah, beginilah aku saat aku ingin terlihat baik.

?

Aku melakukan ini karena aku tau apa yang aku lakukan, tapi kalian membicarakanku karena kalian tidak tau apa yang harus kalian lakukan. Setidaknya itulah yang ku pahami, apa yang terjadi selalu memiliki alasan yang mendasarinya, hanya terkadang alasan itu sulit untuk diterima. Namun nyatanya kita memang lah berbeda bukan? Itu saja.

-rzy-

  • view 182