10 Pemuda

Rezzy Febriawan
Karya Rezzy Febriawan Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 23 Januari 2016
10 Pemuda

"Berikanlah aku 10 pemuda, maka akan kuguncangkan dunia" ungkapan sang proklamator tersebut adalah sebuah gegap gempita bagi seluruh bangsa Indonesia. Sebuah keangkuhan yang sangat pantas diucapkan oleh sosok beliau yang memang sangat disegani di dunia, dan kita sebagai rakyat yang mengagungkannya seolah terlecut semangatnya untuk mengamini ucapan tersebut. Tapi benarkah ungkapan tersebut pantas diamini secara global? apakah pemuda yang dimaksudkan adalah semua generasi muda? Apakah seluruh orang muda di negara ini yang dimaksudkan oleh bung Karno? terdengar iya, namun bagi gua nggaklah sesederhana itu.

Tulisan ini sangat minim literasi, tidak berlandas teori maupun pengamatan yang dilakukan dengan sangat mendalam atau dalam suatu periode waktu tertentu. Namun hal diatas tidak mengurungkan niat penulis untuk sekedar berusaha sedikit menerjemahkan ungkapan tersebut dengan berbagai keterbatasan serta kengawuran yang dimiliki. Mengapa begitu optimisnya Bung Karno dalam ungkapan tersebut? Pandangan gua justru hal tersebut adalah sebuah pesimisme dari beliau, bukan pesimis akan kemampuannya untuk mengguncangkan dunia, bahkan beliau sendiri mampu membuat negara lain bergidik ngeri hanya dengan mendengar namanya saja. Letak pesimis dari ungkapan tersebut adalah dari kata pemuda, 10 pemuda tepatnya. Apa yang diungkapkan beliau adalah lecutan bagi setiap generasi penerus bangsa yang justru dianggap belum siap. bagaimana gua bisa menyimpulkan begitu? gua cuma mencoba menyimpulkan melalui hal sepele yang bagi gua terasa sangat luar biasa, PEMUDA. Pemuda yang dimaksudkan disini memiliki makna yang retak, makna yang mengabur karena kesederhanaan serta kesahajaan kata itu sendiri. Bagi gua sendiri, pemuda itu bukan lah orang muda, anak-anak muda, yang lebih muda atau hal semacam itu. Pemuda tetaplah sebuah kata yang hadir dikarenakan adanya imbuhan, dan imbuhannya menciptakan sebuah pemaknaan baru yang kemudian mengkerucut sehingga menjadi lebih fokus dan kompleks. Pemuda berasal dari kata muda, muda adalah sebuah definisi dari sesuatu yang baru, sesuatu yang segar, sesuatu yang berkembang sesuatu yang berproses menuju sesuatu yang lebih baru (tentunya kearah positif) dan "pe" adalah sebuah imbuhan yang memberi makna kerja, sampai disinilah asumsi gua mengenai pesimisme dari ungkapan bung Karno diatas terbentuk.


Pemuda yang dimaksudkan oleh ungkapan Bung Karno tentunya adalah mereka-mereka yang tengah berproses menuju sesuatu yang baru, dan hal tersebut benar-benar dilaksanakan. Anak muda adalah golongan yang kerap dianggap sebagai golongan yang memiliki semangat membara dalam melakukan sebuah perubahan, memiliki inovasi serta kreasi. Berdasarkan esensi diatas, tetaplah imbuhan "pe" memiliki peranan penting dalam rangka merealisasikan setiap inovasi dan kreasi. Sampai disini gua berasumsi bahwa pemuda yang dimaksud dalam ungkapan Bung Karno bukanlah sekedar berlandaskan usia, dan nyatanya dengan sangat getir gua mengamini pesimisme Bung Karno telah terbukti (setidaknya sampai hari ini).
Tataran selanjutnya pada asumsi gua adalah penempatan angka 10 sebelum kata pemuda pada ungkapan tersebut. Pada hari ini gua meyakini sudah ada atau bahkan melebihi apabila hanya 10 pemuda yang beliau butuhkan untuk mengguncangkan dunia. Namun kenapa belum mampu juga kita mengguncangkan dunia? Asumsi bodoh gua kembali mencoba berkelit dengan ngawurnya, angka 10 pada dasarnya adalah angka "sempurna", atau biasanya disebut juga "angka Tuhan". Dan sampai disitu maka sebenarnya bukan permasalahan nominal atau jumlah, jauh lebih dari sekedar itu. Bung Karno menginginkan seluruh generasi penerusnya untuk terus bersemangat berproses dan berinovasi menuju perubahan kearah yang positif, bukan sekedar masif, tapi menyeluruh.


Pada dasarnya ungkapan "berikan aku 10 pemuda maka akan kuguncangkan dunia" adalah sebuah misteri besar dari seorang tokoh "terbesar" dalam sejarah bangsa ini, pun kita sebagai generasi muda sudah mampu saling bergandengan tangan untuk memenuhi kata pemuda yang beliau maksudkan, kita tetap telah kehilangan sosok beliau. Kita hilang arah, persis seperti ucapan Abdurahman Syahrazad (Stand Up Comedian asal Indonesia Timur) yang menganalogikan Indonesia sebagai kapal besar tanpa nahkoda. Maka demikianlah, negara ini masih sangat membutuhkan begitu banyak perbaikan di sana-sini, baik dari aspek pemerintahan maupun masyarakat sendiri. Terlebih kepada setiap generasi muda penerus bangsa yang kelak akan mengambil estafet kepemimpinan bangsa ini, marilah kita menyuburkan jiwa muda dengan terus berinovasi dan berjuang menuju arah yang lebih baik, sambil saling berjuang (bukan sekedar menunggu) memunculkan sosok yang menyerupai (kalau sulit menyamai atau bahkan melebihi) Bung Karno. Marilah, mari kita guncangkan dunia!!!.


Ingat, "guncangkan" dunia, bukan "goyangkan" dunia (apalagi goyang dombret, goyang ngebor, goyang patah-patah, goyang itik, dkk)

-rzy-

  • view 197