Cerita Cinta

Rezzy Febriawan
Karya Rezzy Febriawan Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 23 Januari 2016
Cerita Cinta

Pada suatu siang saat matahari sedang giat-giatnya menikam bumi, di salah satu kelas sebuah universitas di kota Malang yang tengah menunggu kehadiran dosen, para mahasiswa dan mahasiswi berbincang hilir mudik, mereka seakan larut dalam keceriaan hari pertama perkuliahan setelah beberapa minggu berlibur... Hal ini bertolak belakang dengan Sakti, Mahasiswa berpenampilan super cuek yang duduk diujung terdepan dekat pintu kelas (bangku perkuliahan membentuk letter U). Sakti memang terlihat berbeda, rambut setengah gondrong tanpa disisirnya tentu sangat mencolok bila dibanding mahasiswa lainnya yang berpotongan rapih, ditambah sepatunya yang sudah porak poranda, jeans yang sudah berbulan-bulan tidak dicuci, dan kaos putih yang bertransformasi menjadi krem yang ditutupi jaket jeans yang terlihat sudah tidak layak pakai.

?

Sakti adalah mahasiswa senior di kelas tersebut, beberapa anak mengenalnya (mengetahui) melalui karya filmnya yang beberapa kali masuk nominasi penghargaan film baik ditingkat lokal maupun nasional. Akan tetapi keidealisannya dalam berkarya ternyata membuatnya mengabaikan kuliah, ia terpaksa harus mengulang beberapa semester, dan kali ini dia mengikuti perkuliahan semester 5 dimana sejatinya ia adalah seorang mahasiswa semester 11... Hampir semua mata mencuri pandang padanya, ada yang menggunjing, risih, aneh, menertawakan. Tapi tak jarang pula mahasiswi yang mengaguminya, maklum "keajaibannya" dalam berpenampilan tak mampu menutupi kharisma dan ketampanan raut wajahnya.... Bahkan Chika, mahasiswi paling populer di kelas tersebut selalu mencuri pandang sambil mencoba mencari perhatian dari Sakti, duduk tepat berseberangan dengan Sakti membuat Chika leluasa untuk beraksi dan menatapi Sakti. Sakti tidak menyadarinya, ia asik corat-coret di atas kertas di mejanya, kerisihan melandanya, dalam hati ia mengumpat akan ketidak-nyamanannya berada diantara "anak-anak kecil" ini. Untuk sedikit meredakan rasa bosannya, kemudian dia menyisir pandangannya ke seisi kelas mulai dari bangku sebelahnya, diamati teman-teman barunya itu, dan setiap ada yang beradu pandang dengannya pasti sontak merunduk, tatap mata Sakti sangat tajam dan tegas. ia menyisir seisi ruangan sambil jari tangan kanannya memutar-mutar ballpoint-nya, dan ketika pandangannya sampai ke Chika, ia berusaha bergerak lagi melanjutkan, tapi ia tidak sanggup, dan menunduk, ia salah tingkah.

?

Melihat kelakuan Sakti tersebut, Chika merasa ?GeeR?, ia lalu menatapi Sakti dengan genitnya sambil memutar-mutar ujung rambut panjangnya, ia tersenyum kecil setiap melihat Sakti berusaha kembali menatap tapi tidak jadi dan kemudian berpura-pura melakukan sesuatu. Chika hafal betul bahwa itu keadaan yang biasa dilakukan laki-laki ketika sedang menyukai wanita, dan dalam hati ia berkata,

?Cowo? keren itu sekarang sudah terperangkap pesonaku" begitu fikir Chika...

Setelah itu Sakti terus berusaha mencuri pandang tapi dia malu, tapi dia merasa sangat penasaran,

"Tapi bagaimana caranya? Bagaimana mungkin?" fikirnya...

Jarinya memegang ujung ballpoint dan memukulkan? ujung lainnya ke meja dengan tempo yang cepat namun tidak beraturan, kemudian ia menyenderkan tubuhnya condong ke kanan, ia menoleh ke kiri, kearah seorang anak laki-laki yang duduk disebelahnya, anak tersebut merasa risih dan takut mendapati tatapan Sakti yang tajam itu, ia melempar senyum sedikit tapi Sakti diam saja, ia pun menunduk, rasa takut menghampirinya, terlebih saat Sakti mulai mendekatinya, dan "heeegghh" ia terkejut mendapati pundaknya ditepuk Sakti yang kepalanya sudah cukup dekat dengan telinganya, anak itu tersenyum lagi, kikuk, Sakti tidak perduli, ia memberi isyarat agar anak itu mendekat, dengan ragu ia mendekatkan telinganya kearah bibir Sakti yang telah ditutupi tangan agar tidak terlihat dari sisi berlawanan, Sakti pun mulai berbisik, anak tadi tampak mengernyitkan dahi, berfikir, bingung, matanya menatap kearah Chika yang entah kenapa senyumnya menjadi jauh lebih lebar menyaksikan kejadian tersebut... Dan, ekspresi anak tadi mendadak berubah, ia tersenyum mengerti seolah berhasil menemukan jawaban dari sebuah teka-teki besar, ia mengangguk dan segera berganti posisi untuk berbisik ke telinga Sakti. Sakti tampak mendengarkan dengan seksama, kemudian tersenyum puas sambil menepuk pundak anak tadi berterima kasih, anak tadi mengangguk dengan ekspresi bangga sekaligus heran dan takjub dengan apa yang baru saja Sakti bisikkan. Sakti pun kembali duduk dengan posisi sebelumnya, tangannya sibuk corat-coret lagi setelah matanya kembali mencuri pandang, entah kenapa Chika tersenyum jauh lebih manis dari sebelumnya.

?

Kejadian Sakti dan "tetangganya" tadi ternyata mengundang perhatian beberapa orang, termasuk "tetangga" dari si "tetangga" tadi, karena begitu penasarannya, si ?tetangga? tersebut-pun menodong konfirmasi mengenainya, dengan takut-takut dan menunggu Sakti benar-benar lengah, si ?tetangga? pertama pun membisikkan juga mengenai apa yang baru saja terjadi. Si "tetangga" barusan tersenyum puas dan geli, mereka berdua cekikikan tertahan dengan ekspresi jenaka... Kejadian tersebut tentu mengundang perhatian yang lainnya, mereka pun kemudian turut menagih pemberitahuan kepada kedua ?informan? tersebut, dan terjadilah "bisik-bisik tetangga" diiringi tawa tertahan serta tatapan penuh arti terhadap Sakti dan sosok di seberangnya, begitu seterusnya sampai akhirnya bisikan tersebut sampai ke "tetangga" dari Chika. Chika yang memang sudah sangat penasaran dengan sangat antusias menagih informasi dari "tetangganya", dengan senyuman penuh harap ia mendekatkan telinganya, dan... tiba-tiba saja ekspresinya berubah kesal, menjadi sangat kesal, ia membetulkan posisi duduknya, menatap Sakti dengan tatapannya yang entah mengapa terlihat sekali bahwa ia marah, kemudian melirik kearah perempuan kecil berkerudung di sebelahnya yang sedang terhanyut dalam bacaannya. Tiba-tiba seisi kelas menjadi panik, memang reputasi Chika sebagai biang gosip tidak dapat disepelekan, sifatnya yang tidak mau kalah dan merasa paling cantik juga sangat mengerikan, ia terkenal tidak segan-segan melakukan hal buruk bila ia merasa tersakiti atau terkalahkan. Beberapa mahasiswa menepuk dahi, tegang menyaksikan apa yang akan terjadi.

?

Chika kembali menatapi perempuan berkerudung bertubuh mungil dan berparas cantik disampingnya dengan tatapan yang sangat sinis dan semakin sinis, perempuan tersebut akhirnya merasa risih karena merasa ada yang memandanginya terus menerus, dia menoleh ke arah Chika yang terlihat sangat marah, ia tersenyum bingung, kemudian berkata,

"Kenapa Chik? Sempit ya? Maaf" sambil berusaha menggeser bangkunya,

Chika tidak suka dengan raut berpura-pura (menurutnya) itu, ia pun mendorong bahu perempuan yang benama Ajeng itu dengan sedikit kasar, ia merasa dikalahkan, ia merasa bahwa usahanya menebar pesona gagal, ia harus menghancurkan ini semua,

"Mereka berdua harus malu" fikir Chika saat itu,

Kemudian Chika bangkit dan berdiri di hadapan Ajeng yang masih tampak bingung dan canggung, seisi kelas tengang, Sakti kemudian mulai merasa bingung menyaksikan apa yang terjadi, rautnya menyiratkan kekhawatiran, anak disebelahnya jauh lebih khawatir tentunya, ia merasa sebagai awal dari kekacauan ini. Chika pun berkata dengan ketus kepada Ajeng,

"Heh kutu buku, jangan sok jual mahal ya, itu loh ada yang suka sama kamu,... Itu tuh, berandalan itu" ujar Chika ketus padanya seraya menunjuk kearah Sakti.

Seisi kelas hening, Sakti kaget, Ajeng kaget, mereka bertatapan, Ajeng hampir menangis. Chika tersenyum puas, Sakti terlihat kesal, matanya menatap teduh kearah Ajeng sebelum menatap sinis ke arah Chika, ia berdiri dan keluar kelas setelah ballpoint dan kertasnya ia masukkan dengan kasar ke dalam tasnya, Chika belum puas membuatnya malu, ia berteriak keras pada Sakti yang sudah tidak terlihat,

"Woy cemen, cinta itu diungkapin, bukan diceritain, hahaha" teriak Chika seolah memuaskan rasa hatinya yang disusul tawa kemenangan.

Seisi kelas diam, Ajeng menangis, semua orang mulai berdiri, membenahi tas dan berjalan keluar, beberapa mahasiswi menghampiri Ajeng, memasukkan semua buku dan ballpoint Ajeng ke dalam tasnya dan memapahnya keluar. Chika masih tertawa puas, sampai seorang mahasiswa laki-laki menghampirinya dan kemudian mendorong pelan bahu Chika seraya berkata,

"Heh Chik, cinta itu dirasain, bukan dipaksain" Kemudian ia pergi meninggalkan Chika yang tertegun dan kemudian menampakkan wajah yang jauh lebih kesal dari sebelum-sebelumnya.

Perkuliahan dibatalkan siang itu karena ternyata dosen berhalangan, tapi sebuah materi penuh pelajaran telah tersampaikan...

?

Setelah kejadian tersebut, Sakti memilih berganti kelas, Chika tidak berani berulah lagi, dan diam-diam Ajeng merindukan Sakti... Rasa bersalah masih terus menghinggapi Sakti setelahnya, kemudian ia menuangkan rasa bersalah serta kerinduannya terhadap sosok yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama tersebut melalui sebuah film pendek berjudul "Hey kamu, maaf". Sebuah film yang menganalogikan rasa cintanya pada Ajeng yang ia gambarkan melalui selendang-selendang putih yang terjatuh ke dalam kubangan lumpur.

-rzy-

  • view 194