Skill vs Toleransi

Rezzy Febriawan
Karya Rezzy Febriawan Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 22 Januari 2016
Skill vs Toleransi

Pernah nggak sih lu lagi enak-enak naik motor eh tau-tau kaget gara-gara ada pengendara motor lain yang dengan surprise-nya keluar gang gitu aja?... Atau pernah nggak lu lagi naik motor terus sengaja berhenti buat ngasih jalan pengguna jalan lain, atau gara-gara lu nggak tega ada pengendara motor lain yang lagi diem diujung gang sambil kebingungan mau nyeberang tapi jalanan lagi rame?... Gua yakin kita semua yang "sadar", atau yang lagi mengingat-ingat pasti pernah ngalamin semua, entah dalam posisi yang mana.

Jalan raya, sebuah area publik yang sarat dengan peraturan hukum adalah salah satu hajat hidup orang banyak, entah atas kepentingan apa dan entah disadari atau tidak. Banyak banget rambu yang dibuat demi keselamatan pengguna jalan, efektif? Somehow iya, tapi lebih sering nggak... Diantara semua ketetapan hukum yang berlaku di jalan raya, nyatanya nggak bisa ngalahin "hukum jalanan" yang nggak tertulis, and you know what? Itu persis kayak hukum rimba, siapa yang "kuat" dia yang selamat. Jadi hampir disetiap perjalanan berkendara kita itu kayak lagi ngelakuin survival di hutan, bedanya kalo hutan kanan kiri pohon, jalanan kanan kiri beton, kadang bawahnya juga beton, apes-apes semen, atasnya langit, eh salah langit ada diatas asap sama debu. (Whatever)

Nabrak atau ditabrak, hal itu kayak matahin istilah hati-hati dijalan, "alon-alon asal kelakon", atau istilah apalah yang nyatanya banyak yang udah nggak fungsi. Kadang kita udah hati-hati, nggak taunya ketabrak sama orang ugal-ugalan. Kita udah waspada, dikagetin sama orang belajar atau baru bisa naik motor, bahkan orang lagi jalan kaki tenang-tenang bisa ditabrak sama orang mabuk. Coba yuk kita renungin apa sih yang salah? Kok jadi begini.... Bicara tentang kesalahan atas kasus-kasus diatas, ada banyak faktor memang, kayak volume kendaraan di jalan yang terus meningkat, infrastruktur yang udah " kepayahan", dan terlebih kesadaran pengguna jalan (khususnya pengendara).

Sebenernya sudah cukup lama juga gua mikirin soal ini, gua kayak tergelitik buat nyari tau dimana persoalan dari ketidak-nyamanan berkendara (khususnya yang gua rasain). Setelah sering liat dan bahkan ngerasain ketidak-nyamanan itu, akhirnya insting ngawur gua mencoba bekerja, mengerucutkan berbagai permasalahan diatas dengan memilih dan memilah, mengamati dan mencermati, mencoba dan merasa (auah). Sampailah pada sebuah teori tentang skill vs toleransi (prokprokprok).

Apa itu teori skill vs toleransi? Gini, "semakin tinggi skill seseorang dalam berkendara, maka semakin berkurang tingkat toleransinya, sebaliknya? tingkat toleransi berkendara seseorang tidak berbanding lurus dengan skill berkendaranya". Hal ini awal mulanya adalah guyonan aja, tapi setelah gua pikir ternyata bener. Semakin tinggi skill berkendara kita, maka kita akan semakin seenaknya. Dan kalau ada orang yang selalu hati-hati dalam berkendara, itu 70% (presentase ngawur) disebabkan karena skillnya yang kurang mumpuni. Nggak percaya? Lu yakin orang yang baru bisa naik motor berani nerobos lampu merah? Nggak mungkin!!! Lu yakin orang yang baru belajar naik motor bakal ngebut dan mencoba mendahului kendaraan bermotor yang mau motong jalan buat nyeberang jalur? Nggak mungkin!!! Lu yakin kalo orang yang udah jago banget naik motor (terlebih yang ngerasa jago) bakal ngeduluin pejalan kaki yang mau nyeberang lewat zebra cross ketika dia anggap punya sedikit aja kesempatan buat duluan lewat? Nggak mungkin!!!!!!!!!!!!!!

Mirisnya, pola seperti itu ternyata bukan hanya representasi para pengguna jalan aja, lebih dari itu, hal itu juga terjadi di semua aspek kehidupan. Sampai kapan aspek teknis yang bisa kita pelajari itu selalu berhasil ngalahin sisi kemanusiaan kita yang memang sudah terlahir berbarengan dengan kelahiran raga kita? Sampai kapan toleransi hanya berlaku sebagai alasan karena ketiadaan skill? Sampai kapan kekuatan kita harus mengacuhkan kelemahan pihak lainnya?.

Dengan ngebut dan berusaha mendahului orang lain yang hendak menyeberang itu nyatanya cuma bisa meminimalisir jarak tempuh dalam tempo yang sedikit kok, apalagi kalau dibandingin sama resikonya...

Tingkatin skill berkendara lu, tapi jangan kurangin toleransi lu karenanya... Kita semua punya hak untuk sampai tujuan, tentunya dengan selamat...
Permisi :)

-rzy-

  • view 182