Halusinesia (Part-6)

Rezzy Febriawan
Karya Rezzy Febriawan Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 05 Oktober 2016
Halusinesia (Part-6)

Kuperhatikan seorang ibu sedang menggandeng anaknya yang tampak sangat ceria dibalik seragam sekolahnya. Anak tersebut bernyanyi-nyanyi riang seraya tangannya berayun-ayun. Sang ibu menatap anaknya dengan bahagia dibalik wajahnya yang tampak lelah.

Ini adalah hari dimana aku akan mendaftarkan anakku sekolah, syukurlah pada era ini sekolah sudah diperbolehkan bagi orang miskin seperti kami. Yang jelas sebagai orangtua kita mampu membayar, maka anak kita diperbolehkan untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar. Aku sedikit tak mampu menahan haru saat seorang guru menyalamiku seraya memberi selamat karena anakku diterima sebagai murid di sekolah ini. Seakan aku bisa membayar hutang orangtuaku yang dulu tak mampu melakukannya untukku.

Sebenarnya bukan perkara mudah bagiku dan Ningsih untuk bisa menyekolahkan anak kami. Himpitan ekonomi yang semakin hari semakin menggila tentu membuatku memutar otak untuk mewujudkan keinginan menyekolahkan anak kami. Setelah sekian lama Ningsih berdiam diri di rumah sebagai ibu rumah tangga yang menyiapkan segala kebutuhan kami, tiba-tiba saja ia mengatakan bahwa ia ingin bekerja. Kami sempat berdebat kecil karenanya, egoku lagi-lagi memainkan perannya dengan sangat liar  dan sempurna saat aku menduga bahwa keinginan Ningsih tersebut didasari oleh ketidak-mampuanku dalam mencukupi kehidupan kami. Terlebih lagi aku berharap anakku mendapatkan perhatian yang besar dari ibunya. Ada semacam trauma yang kudapat dari masa kecilku, trauma yang tidak boleh dirasakan juga oleh anakku. Aku takut anakku nanti juga dijadikan “alat tambahan” saat dia ikut Ningsih bekerja. Ningsih bersih keras sekali dan memohon kepadaku atas niatnya untuk sedikit membantu,

“Aku nggak mau anakku ini diperlakukan kayak babu, cukup bapaknya aja yang ngerasain itu” bentakku didepan muka Ningsih

“Ya aku ndak bakal ngizinin toh mas, biar dia duduk aja dekat aku nanti” jawabnya pelan

“Itu juga yang dimauin ibu sama aku” nadaku meninggi

Kamu ini mau jadi babu aja sok nggak ngizinin... izinmu itu nggak penting buat mereka... kalau mereka mau ya kamu harus nurut lah” sambungku sedikit lebih tenang namun tetap bergetar menahan emosi

“Ya kalau nanti kayak gitu aku tak keluar wae mas” jawabnya

“Kalo nggak dibolehin juga?” tantangku

“Aku lak yo punya hak to mas.. masa’ ya mereka aja yang boleh nuntut dari aku” jawabnya lugas

“Haaahhh terserah!!!” aku berdiri dan kemudian masuk kamar

Sejenak aku berfikir Ningsih akan mengurungkan niatnya saat melihat aku masuk kamar karena marah, tapi aku salah. Ternyata Ningsih menyusuliku secara perlahan, wajahnya sangat teduh dan tenang, terasa sekali jika dia berusaha untuk menjaga perasaanku. Kemudian dia memegang pundakku sambil berkata,

“Maass, aku ini cuma mau minta izin sama kamu, kalau kamu ndak kasih izin ya wess ndak apa...” ia berhenti sejenak seakan menahan tangis

“Tapi ya jangan ninggal gini to mas, dibicarain sampai selesai” dia menarik nafas panjang untuk sedikit menenangkan dirinya agar tidak menangis

“Sudah mas ini kalau pulang malam, gitu ya di rumah Cuma sebentar, masa’ yo masih ndak mau ngobrol sama aku” kali ini air matanya sudah tidak bisa ia tahan, kemudian ia memelukku, kurasakan cairan hangat itu menetes di pundakku. Hancur rasanya hatiku

“Iya kalau masih ada bapak sama ibu mas, bisa kuajak omong-omongan, ada yang aku ladeni” lanjutnya diiringi tangis yang semakin menjadi.

“Astaga, ternyata selama ini Ningsih merasa kesepian” rasa bersalahku tiba-tiba saja membimbing tanganku untuk memeluknya, remuk redam sudah segala emosi dalam hatiku. Padam terkubur kasihku yang mendalam terhadap sosok yang terisak sedih dipelukanku ini.

“Yasudah, kamu mau kerja dimana memangnya?” bisikku pelan di telinganya.

Kemudian kurasakan dihapusnya air matanya, dilepaskannya pelukannya dengan sangat lembut namun penuh semangat, kulihat ada binar yang sebelumnya tersamar oleh genangan air matanya.

“Mas, ini bener to mas? Mas ngizinin to?” tanyanya antusias sekali seakan tidak percaya.

Anggukan kepala beserta senyumankyku pada akhirnya kembali menenggelamkan diriku kedalam pelukannya, ada semacam kebahagiaan lain saat kurasakan kebahagiaan yang ia tumpahkan pada diriku. Ningsih, tahu kah kamu seberapa dalam aku mencintaimu?.

Setelah perdebatan kecil yang pada akhirnya “dimenangkan” Ningsih, kami berbincang cukup lama hingga mendekati penghujung malam. Sungguh kebahagiaanku berlipat saat mendengar cerita serta harapan-harapannya, beruntung sekali rasanya aku memiliki dia sebagai istri. Segala bentuk pemikiran yang ia sampaikan membuatku merasa sangat kecil dihadapannya. Awal mula keinginannya bekerja adalah rasa kesepian yang dialaminya, rasa kesepian yang ditemuinya tak lama setelah kepergian bapak dan ibu. Namun lambat-laun keinginan tersebut menjadi lebih kuat saat dia menemukan sebuah alasan lain yang dirasanya sangat mendesak, alasan lain yang pada akhirnya membulatkan tekadnya untuk memohon izin padaku.

Alasan mendesak tersebut muncul setiap dia memperhatikanku selalu menyempatkan diri untuk pulang sejenak setiap siang hari dan mengajari anakku membaca, sebelum tiba waktu baginya untuk tidur siang. Itulah awal perkara keinginannya membantuku dalam urusan perekonomian kami menguat, terlebih ini adalah saat dimana masuknya anak kami pada usia sekolah. Ningsih mengatakan bahwa sebenarnya dia sama sekali tidak meragukan kemampuanku untuk memenuhi harapan dalam menyekolahkan anak kami, hanya saja dia berfikiran lebih jauh lagi mengenainya. Ningsih mengharapkan anak kami untuk bersekolah setidaknya sampai selesai pendidikan dasar, tidak boleh kurang. Ia mempertimbangkan perasaan anak kami apabila ia harus terpaksa berhenti nantinya, lagi-lagi dia menekankan bahwa pemikiran ini tidak berdasarkan kemampuanku, kalaupun seperti itu tentu lebih dikarenakan keadaan saat ini yang memang sangat sulit untuk diprediksi. Ningsih membayangkan bahwa kebutuhan sekolah itu sangat tidak terduga, tidak akan selesai masalah hanya dengan mendaftarkan anak kami sekolah.

Astaga, ego atas sakit hati terhadap masa lalu telah kembali membutakan mata hatiku rupanya, membuatnya bermain-main dan menelurkan nafsu pada hatiku tanpa menyediakan sedikit ruang bagiku untuk dapat berfikir hingga sejauh ini. Syukurlah, istriku telah menyembuhkannya pada kesempatan ini, beruntung sekali aku bisa memilikimu Ningsih.

Beberapa hari berselang, Ningsih pun mulai bekerja. Ternyata Ningsih bekerja sebagai pembantu rumah tangga ditempat pak Dibyo yang terletak di ujung jalan. Pak Dibyo ini entah kenapa begitu baik terhadap keluarga kami, kebaikan beliau ini terasa sangat pas bagiku, karena beliau tidak baik pada kami dikarenakan rasa kasihan seperti yang biasa dilakukan orang-orang dengan nasib seberuntung beliau ini. Pak Dibyo bagiku adalah orang yang mendidik dalam memberi, beliau tidak serta-merta mau memberi seseorang tanpa seseorang tersebut melakukan sesuatu yang sekiranya membuat beliau tergerak untuk memberi. Namun bukan berarti juga beliau ini memperbudak, beliau tidak pernah juga memerintahkan seseorang untuk melakukan sesuatu demi keuntungannya semata. Ah sudahlah, terlalu banyak membicarakan kebaikannya hanya akan membuatku terlihat seperti seorang penjilat yang menyanjung orang yang sudah mau mempekerjakan Ningsih. Toh tetap saja segala bentuk kebaikannya itu tidak mampu menghapus ingatanku tentang kegalakannya saat mengusirku dulu, bagaimana seriusnya pak Dibyo itu mengerjaiku saat memenuhi keinginan Ningsih, bapak, dan ibu. Ah, semoga saja segala sesuatunya memberikan kebaikan bagi keluarga beliau dan juga keluarga kami tentunya.

Sudah beberapa hari sejak Ningsih bekerja di rumah pak Dibyo, diajaknya anak kami atas izin pak Dibyo, dan ditepatinya janjinya untuk tidak membiarkan anak itu untuk bantu-bantu dalam hal apapun saat ia bekerja. Belakangan aku tahu kalau hal tersebut sudah di konsultasikan sebelumnya kepada pak Dibyo, syukurlah beliau mengerti, dan bahkan menyediakan sebuah kamar dan kasur kapuk untuk anakku jika ia ingin tidur atau bermain sambil menunggu ibunya bekerja. Ningsih selalu berangkat setelah aku berangkat bekerja, dia mempersiapkan dulu segala sesuatunya seperti biasa, dan saat aku pulang kerumahpun dia tetap menyambutku layaknya biasa. Dia bahkan tidak pernah mengeluh lelah, apalagi sampai membawa pekerjaannya untuk dikerjakan di rumah. Bagian yang paling aku suka dari semua ini adalah setiap siang Ningsih memohon izin untuk pulang sejenak, dia bahkan menyempatkan waktu agar aku tetap bisa mengajari anak kami belajar. Bahkan bagiku semua ini terasa seolah dia tidak pernah bekerja,

Tibalah hari saat Ningsih mendapatkan upah bulanannya dari pak Dibyo. Belum berhenti rupanya Ningsih membuatku terkejut saat dia memperlihatkan upahnya tersebut masih rapat tersimpan dibalik amplop, dia memintaku untuk sama-sama menghitungnya saat telah ia satukan dengan uang yang kuberikan setiap hari padanya. Kemudian kami memilahnya untuk kebutuhan sehari-hari seperti biasanya, lalu selebihnya ia masukkan ke dalam celengan kaleng tempatku menabung untuk keperluan sekolah tak terduga anak kami kelak. Kurasakan bobot kaleng tersebut bertambah jauh lebih berat dari sebelumnya. Kaleng itu kini sudah pantas untuk dijadikan sebagai sandaran masa depan anak kami, kaleng yang didalamnya tidak hanya berisi kepingan dan lembaran uang, lebih jauh dari sekedar itu juga terisi harapan, ketulusan, serta kasih sayang kami pada anak kami.

***

Terlihat seorang bapak tua berkacamata tebal sedang membaca Koran dengan jarak yang kurasa cukup tak lazim. Dipeganginya Koran dengan kedua tangannya yang membentang kedepan, sementara kepalanya sedikit ia condongkan kebelakang seolah sedang mencari sudut pandang terbaik dari bacaannya tersebut.

Hampir dua tahun berlalu saat kuingat betapa bangga dan bahagianya ketika pertama kali aku yang menyempatkan waktu untuk pulang sebentar pada suatu pagi, kemudian bersama-sama dengan Ningsih aku mengantarkan anak kami bersekolah. Terselip sebuah kegetiran dalam hatiku saat membayangkan kebahagiaan macam apa yang akan bapak dan ibu tampilkan saat melihat cucunya bisa bersekolah. Kurasakan butiran hangat menggenangi mataku sebelum akhirnya sedikit menetes membasahi pipiku saat dari kejauhan kulihat anakku sedang baris berjajar rapih dengan teman-temannya yang lain di depan kelas. Anakku terlihat kecil sekali dibandingkan teman-temannya yang lain, namun kepercayaanku sangat tinggi terhadap tubuh kecil itu. begitu yakinnya aku bahwa tubuh kecilnya menyimpan sebuah potensi yang tidak kalah besar jika dibandingkan teman-temannya, bahkan mungkin jauh lebih besar. Semoga saja keyakinanku mengenainya benar.

“Kini aku mampu membuat anakku memiliki kesempatan untuk menjadi siapa yang dulu kuanggap golongan terdidik. Tugasku kini adalah memastikannya agar terus berada pada jalur yang benar” harapan tersebut kudengungkan dalam hati sambil beranjak mengantarkan Ningsih ke rumah pak Dibyo sebelum aku berangkat untuk melanjutkan berjualan koran.

Tahun ketiga setelahnya, kebanggaan atas terwujudnya keyakinanku mengenai potensi anakku lagi-lagi terbukti. Setelah beberapa kali anakku mendapatkan ranking 2 atau 3 di kelasnya karena kalah bersaing dengan anak seorang dokter dan guru, akhirnya anakku menjadi juara kelas. Aku sangat bersyukur karena dia pintar dan berprestasi, mungkin inilah hasil yang kudapat karena mengajarkannya membaca sebelum ia masuk sekolah. Anakku memang adalah 1 dari 3 murid yang sudah lancar membaca saat teman mereka yang lainnya masih mengeja. Ingatanku kemudian kembali pada saat pertama kali aku mengambil rapor sekolah anakku, habis-habisan aku dipuji oleh gurunya waktu itu. besar kepalaku saat gurunya bertanya aku bersekolah dimana sewaktu kecil, dan betapa gelinya aku atas keterkejutannya mendengar bahwa aku tidak bersekolah. Pertanyaan tersebut tentulah bermula ketika anakku mengatakan bahwa aku yang mengajarkannya membaca saat gurunya bertanya mengenai kemampuan membacanya. Bahkan guru-guru di sekolah anakku mengira kalau aku ini adalah seorang guru atau bahkan dokter seperti orangtua dari 2 orang anak pintar lainnya, padahal aku hanyalah seorang tukang koran yang merangkap sebagai pekerja serabutan yang beristrikan seorang pembantu rumah tangga. Kekagetan meraka itu semakin menguatkan pemikiranku tentang betapa mudahnya membedakan status sosial seseorang pada masa lalu. Bisa membaca kah kamu? Cukup, dan akan kau temukan jawabannya.

  • view 217