Halusinesia (Part-5)

Rezzy Febriawan
Karya Rezzy Febriawan Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 02 Oktober 2016
Halusinesia (Part-5)

Dari salah satu sudut kudengarkan suara seorang anak kecil yang merengek dan kemudian kualihkan pandanganku, tampaklah anak kecil tersebut menarik ujung kaos bapaknya sambil menunjuk sebuah balon yang dijual oleh seorang penjaja. Bapak tadi kemudian memberi pengertian pada anaknya yang terlihat tidak mau mengerti dan tetap menangis, kemudian bapak tadi berdiri dan menghadap penjaja balon yang dimaksud sang anak. Ia berdiskusi dengan penjaja tadi, entah apa yang dibicarakan sampai kemudian bapak tersebut melepaskan cincin dan memberikannya pada penjaja balon dihadapannya. Penjaja balon tersebut tampak menolak, ia kemudian tersenyum dan menunduk seraya memberikan sebuah balon kepada sang anak yang langsung berhenti menangis dan tampak gembira, bapaknya tersenyum kepada sang penjaja dan sedikit merundukkan badan berterima kasih sebelum ia beranjak pergi bersama anaknya yang terlihat senang bukan kepalang.

Hari demi hari berjalan dengan sangat cepat, pertumbuhan anak laki-lakiku terjadi hampir mendekati apa yang kuharapkan. Ada sedikit kekurangan yang memang tidak bisa kupenuhi, namun sepertinya hal tersebut masih bisa ditoleransi, karena kaitannya hanya dengan keinginanku, bukan benar-benar kebutuhannya. Masa pertumbuhan anak itu adalah prioritas utama bagi keluarga kami, aku bahkan rela untuk mengurangi jatah lauk atau bahkan nasiku supaya Ningsih makan lebih banyak demi kualitas ASI yang ia berikan bagi anak kami.

Aku juga menambah waktu bekerjaku lagi di pasar,  begitu lewat tengah malam  aku berangkat ke pasar. Selain menjadi buruh angkut aku juga saat ini aku juga ditugaskan untuk membersihkan pasar sebelum para pedagang datang dan membongkar muatan barang dagangan mereka, syukur-syukur bisa untuk tambahan beli susu pendamping ASI. Anakku memang kuupayakan untuk minum susu, tidak seperti bapaknya yang cukup diberi air putih atau setidaknya air kacang hijau saat kecil agar tidak cepat menangis karena lapar.

Periode berikutnya adalah periode yang sangat menyedihkan bagiku, dimana bapak dan ibu “pergi” meninggalkan kami secara bergantian. Bapak pergi terlebih dahulu dikarenakan radang paru-paru serta infeksi lambung. Mungkin inilah buah yang harus beliau petik atas pola hidupnya yang diperah bagai binatang saat muda dulu. Bapak pergi meninggalkan kami pada usia menjelang 60, masih cukup muda menurutku, namun itulah jalan yang memang harus beliau tempuh, selamat jalan bapak.

Aku tidak pernah menyangka saat ibu yang terserang diare beserta typhus beberapa waktu berselang setelah kepergian bapak juga “pergi” meninggalkan kami. Kadang aku berfikir bahwa kepergian ibu adalah sebuah bentuk dari puncak kerinduan terhadap suaminya. Bapak dan ibu memang belum pernah terpisah sebegitu lama sebelumnya, dalam duka maupun suka ibu selalu berada di sisi bapak. Mereka lah yang mengajarkan padaku tentang besarnya nilai kebersamaan, tentang betapa suka maupun duka itu hanyalah bumbu yang kehadirannya bahkan tidak menambahkan rasa apapun dalam kebersamaan. Karena kebersamaan memiliki rasanya sendiri, rasa yang tidak boleh dirusak oleh rasa apapun diluar kebersamaan itu sendiri.

Orang-orang disekitar tempat tinggalku mungkin mengutukiku sebagai anak durhaka saat 2 kali kesempatan mereka melihatku yang bahkan tidak meneteskan air mata atas kepergian kedua orangtuaku. Aku abaikan semua itu, aku sangat bersedih tentunya, namun dilain sisi juga aku merasa bahagia. Aku mengenal kedua orangtuaku tersebut jauh lebih dalam daripada hanya untuk berduka atau bersedih secara berlebihan. Aku bahkan tidak pernah menemukan alasan bagiku untuk menangis saat aku dapat memastikan mereka akan terbebas untuk membuat dosa tambahan dalam hidup mereka, serta bagaimana mereka akan secara mutlak dapat terbebas dari kelaparan yang bahkan terkadang masih bisa mereka dan kami rasakan? Apa salah mereka yang harus dipertontonkan ketidak-mampuan anaknya dalam menatap hidup melalui tabir kematian orangtuanya yang pada dasarnya adalah sesuatu yang sudah dapat dipastikan? Maaf  bapak, ibu, kami terlalu sibuk untuk mendoakan kalian agar mendapatkan tempat terbaik di sana. Tidak ada waktu bagi kami untuk menghiasi kepergian kalian dengan tangisan kami yang bahkan belum mampu membahagiakan kalian... semoga kalian lebih bahagia dan tenang diatas sana.

***

Sekelebat kutangkap bayangan orang asing melintas menggunakan sebuah mobil mewah, sepertinya ia sibuk berbincang dengan seseorang lagi di bangku belakang mobil tersebut.

Sebagai seseorang yang terlahir pada masa sebelum kemerdekaan dan besar di era setelahnya, aku merasakan betul perbedaan-perbedaan yang terjadi. Dengan landasan pemikiranku yang tidak terdidik serta pengalaman dalam menggauli dan atau berkecimpung di kelas bawah, aku rasa-rasanya pasrah dengan apa yang pernah kuteriakkan “Merdeka!”. Bagiku perbedaan paling mencolok dari perjuangan kita mengupayakan apa yang sedari dulu kita teriakkan itu hanyalah bahwa kita sudah tidak diperbudak oleh bangsa lain. Setidaknya sudah tidak ada lagi orang-orang asing yang berkeliaran di jalan-jalan maupun pasar-pasar yang kerap kali menghardik dan memerintah kami sambil menatap jijik seakan mau muntah melihat wujud kami. Iya kami, kelas bawah. 

Sepertinya mereka-mereka itu tidaklah pernah benar-benar hilang, aku memiliki kecurigaan bahwa mereka sebenarnya hanya dibatasi atau setidaknya membatasi diri untuk memperlihatkan moncong mereka di hadapan kami. Seperti yang sering kubaca dari koran-koran maupun kudengar dari radio warisan bapak mengenai kunjungan-kunjungan mereka atau sebaliknya kunjungan orang kita ke tempat mereka, atau apalah itu aku tidak mengerti. Yang aku mengerti hanyalah aku secara pribadi tidak benar-benar merasakan adanya perubahan dalam tataran hidup kelas kami. Ataukah ini adalah masa dimana kita-kita ini dijajah atau menjajah bangsa sendiri?.

Aku sebenarnya memiliki pemahaman sederhana mengenai arti dari kemerdekaan. Kemerdekaan adalah sebuah cita-cita besar bagi seluruh bangsa maupun individu, atau siapapun. Kehadirannya tentu saja akan memunculkan hegemoni yang luar biasa, kebahagiaan yang besar, dan antusiasme yang menggila. Tapi bagi siapa? Belakangan aku benar-benar mencurigai kepantasanku untuk turut ambil bagian dari berbagai bentuk perayaan mengenainya. Pertanyaan tersebut begitu dalam menghantuiku, aku bahkan memiliki anggapan lain dari kemerdekaan yang pada dasarnya sama-sama kita upayakan. Bagi kami kelas bawah, kemerdekaan mungkin saja adalah sebuah abstraksi keindahan dari kesemua hal yang mampu memunculkan hal-hal seperti yang sudah kusebutkan sebelumnya. Kami tidak pernah benar-benar mengerti tentangnya, sampai kemudian kami hanya mampu merayakannya secara hampa, karena memang tidak pernah secara nyata merasakannya, apa yang harus kami rayakan?.

Aku memahami kemerdekaan sebagai sebuah keadaan yang bebas, kebebasan untuk melakukan segala sesuatu yang sebelumnya sulit, tidak bisa, atau bahkan mustahil untuk dilakukan. Kemerdekaan adalah saat dimana kita terbebas dari belenggu kesemena-menaan, yang kemudian akan memapah kita menuju perbaikan baik secara moril maupun materiil, tentunya karena segala sesuatunya sudah memungkinkan dan menjadi lebih mudah. Kemerdekaan hanya akan terjadi apabila ada kegigihan untuk mendapatkannya (secara perorangan), serta adanya kesamaan nasib dan kepentingan yang mendorong untuk menyegerakannya (secara masif), disinilah yang pada akhirnya memunculkan pertanyaan diatas mengenai kemerdekaan ini diperuntukkan pada siapa? Nyatanya kini kita berbeda nasib, dan yang menyebabkannya kemudian adalah kerena memang pada dasarnya kita ini memang berbeda kepentingan.

Beberapa tahun awal kemerdekaan sebenarnya aku memahami tentang ketidak-siapan kita sebagai bangsa yang mandiri, aku hanya beranggapan tidak siap, bukan tidak mampu. Tidak ada alasan bagiku untuk mengatakan bahwa kita tidak mampu menjadi bangsa yang mandiri, terlebih apabila mengingat sosok Bung Karno yang kuyakini adalah sosok hebat yang sudah pasti akan memperjuangkan setiap sendi-sendi kehidupan yang terkait dengan bangsa ini, bahkan sampai detik ini dimana perekonomian mengalami kekacauanpun aku masih sangat meyakini beliau mampu mengatasi semuanya. Sangat disayangkan bagiku adalah kehebatan dari beliau ini bagaimanapun tidak akan bisa seorang diri menjangkau kami, karena memang hampir tidak mungkin. Indonesia ini memang terlahir sebagai bangsa yang sangat besar, akan habis waktu beliau bila harus seorang diri menjangkau dan mengurusi kami-kami ini.

Atas dasar pemikiran sederhana diatas kemudian muncullah sebuah kecurigaan. Aku membayangkannya sebagai segitiga mata air yang kemudian mengalir kebawah, ujung teratas sebagai mata air tentulah Bung Karno yang memberi kebijakan demi kemaslahatan hidup kami melalui “perpanjangan tangan”  beliau yang ternyata juga memiliki “perpanjangan tangan” yang lagi-lagi memiliki “perpanjangan tangan” yang sialnya juga memiliki perpanjangan tangan perpanjangan tangan” hingga lapis terbawah hingga pada akhirnya sampailah pada kami. Ya! Sampai pada kami dalam keadaan sangat layu tanpa sari pati.

Dalam hal ini juga kemudian menimbulkan permasalahan yang sama, kali ini bayanganku adalah segitiga tadi posisinya terbalik. Semua permasalahan yang kami hadapi untuk kemudian tentu juga memiliki proses yang sama sebelum sampai ke Bung Karno. Masalah yang kami alami kami titipkan pada “perpanjangan tangan lapis terbawah” untuk kemudian mengalir bagaikan proses penjernihan air menggunakan lapisan bebatuan, untuk kemudian sampailah kepada “perpanjangan tangan” yang paling dekat dengan Bung Karno. Alhasil sudah bisa ditebak, permasalahan kami yang pada mulanya berwarna keruh dan pekat tadi sampai dengan jernihnya di hadapan Bung Karno. Kemudian beliau merasa tenang karena berita yang beliau dapat dianggap menyenangkan. Kemudian kami? Jelas tidak tenang, masalah kami luput dari penanganan.

  Pada dasarnya asumsi bodohku mengenai bangsa kita belum siap untuk merdeka ini adalah salah. Salah apabila kita lihat dari upaya Bung Karno menyusun Pancasila. Ya, Pancasila adalah sebuah dasar atau pondasi yang dirancang oleh Bung Karno dengan nilai dan cita-cita luhur. Setiap butir dari kelima silanya memiliki makna yang baik bagi bangsa ini apabila dijalankan dengan baik tentu saja. Namun asumsi tersebut benjadi benar adanya bila mengingat munculnya orang-orang atau bisa jadi kelompok-kelompok yang silau dan lupa diri dalam memaknai kemerdekaan ini. Bagiku ini adalah hal yang sangat menjijikkan, sebuah hal yang muncul karena didasari oleh keserakahan, kesempatan, serta kebiadaban yang sejatinya mengakar pada jiwa-jiwa yang bermental lebih dari budak, mungkin tepatnya mental maling.

Pada dasarnya aku mendapat pemaknaan yang lain dan hal ini membuatku merasa tidak sepakat juga menyebut orang-orang yang meraup keuntungan sebanyak-banyaknya tanpa memikirkan hak dan kepentingan orang lain seperti yang kusebut diatas itu hanya disebut bermental budak. Aku menganggap seharusnya mental budak memiliki konotasi yang positif, karena budak pada dasarnya adalah kelas pekerja, yang membuat mereka menjadi hina hanyalah penyebutan mereka saja. Justru kebanyakan budak yang dianggap menjijikkan ini adalah mereka yang bekerja dengan sangat keras, atau bisa dikatakan bekerja dibawah batas-batas kemanusiaan namun dibayar dengan tidak layak. Mereka adalah orang-orang yang bekerja seadanya namun menerima hak yang sangat berlebihan, mereka kelas rendahan, tidak punya harga diri. Persis seperti maling, hanya saja skalanya berbeda. Sebagai anak bangsa aku mulai merasa cemas, aku hilang akal bila mendapati kenyataan bahwa hampir tidak ada bedanya antara sebelum dan setelah kemerdekaan. Tidak mampu fikiranku menerima kenyataan bahwa saat ini kita masih selayaknya dijajah, hanya saja oleh bangsa sendiri. Harus apa lagi kukata apabila republik hanyalah milik mereka yang terdidik dan cerdik, tentu saja juga yang licik.

  • view 207