Halusinesia (Part-4)

Rezzy Febriawan
Karya Rezzy Febriawan Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 28 September 2016
Halusinesia (Part-4)

Seorang wanita kuperhatikan sedang berjalan lunglai sambil ibu jari tangan kanannya menggosok-gosok cincin yang melingkar pada jari manis di tangan yang sama, entah apa maksudnya namun bagiku seolah menyiratkan sebuah permasalahan besar bila kupandangi ekspresi dan tatapan mata kosongnya itu.

Beberapa hari berselang aku pun mempersunting Ningsih atas restu dari bapak dan ibu. Bahagia mengiriki setiap hariku karena bisa memiliki wanita yang menjadi cinta pertama dalam hidupku. Sosok lain yang kuanggap memiliki kisah yang hampir serupa denganku. Ya, kami adalah sepasang suami isti yang sebelumnya adalah pribadi-pribadi yang telah sekian lama berkubang di lumpur kesengsaraan hingga sulit rasanya bagi kami membedakan keadaan antara nyaman atau memang tidak ada pilihan. Namun seiring dengan janji yang kuucap dihadapan penghulu yang biasa dimintai tolong untuk menihkahkan di daerah rumahku dan juga para saksi-saksi yang sebelumnya mengetahui bahwa tidak ada perayaan apapun setelah ini, aku bersumpah kami akan senasib sepenanggungan untuk mengarungi kerasnya hidup di negeri ini. Walau sadar betul aku bahwa dengan bersatunya kami ini seakan sama dengan memberdayakan kemiskinan, kebodohan, kehidaan, beserta rentetan lain yang menyerupainya. Pada akhirnya aku tidak menghiraukan hal-hal tersebut, aku hanya menghiraukan tentang kelangsungan hidup kami, tentunya juga juga kehidupan bapak dan ibu yang semakin hari semakin tua. Sebuah keputusan yang tentu saja sudah kuperbincangkan dengan Ningsih yang syukurlah mau memahami dan menerima.

Dua dapur dalam rumah tangga pasti membuatku harus memutar otak (tepatnya memutar otot), sementara Ningsih terpaksa harus berhenti dari pekerjaannya karena majikan Ningsih menginginkan seorang pembantu rumah tangga yang tinggal di rumah mereka agar siap melakukan tugas juka sewaktu-waktu dibutuhkan. Sesuatu yang sudah tidak mungkin dapat dipenuhi Ningsih karena sekarang ia sudah berkeluarga. Sebagai kepala keluarga dan juga anak satu-satunya dari bapak dan ibu, aku tentunya memiliki kewajuban untuk memenuhi kebutuhan mereka, setidaknya aku bisa memastikan mereka bisa makan setiap harinya. Kebutuhan apa lagi yang sekiranya penting bagi kami-kami yang miskin ini. Akupun menambah pekerjaan, selain menjadi penjaja koran aku kini juga bekerja sebagai kuli bangunan bila ada yang membutuhkan atau menjadi kuli angkut yang setiap hari dibutuhkan di pasar. Karenanya aku harus terbangun subuh sekali jauh sebelum matahari terbit untuk menjadi kuli angkut di pasar saat ada bongkar muat, kemudian mengambil koran dan mengantarkannya kepada para langganan dan kemudian menjajakan koran di lampu merah dengan sistem “jemput bola”. Kemudian setelah koran habis aku akan berangkat ke proyek bangunan jika memang ada atau ke pasar. Sorenya aku kembali menjajakan koran terbitan sore hari, begitu seterusnya.

Hari sudah gelap setiap kali aku pulang ke rumah, adalah kebahagiaan bagiku setiap kali segelas kopi sudah tersaji, akan beruntung kalau sedikit manis, dan akan menjadi sangat luar biasa bila disertai singkong atau ubi. Aku sangat suka setiap istriku menyiapkan makan bagiku beserta bapak dan ibu, begitu tulus dan dengan senang hati sekali raut mukanya setiap melakukan itu semua. Ibu sampai tidak diperbolehkan mencuci oleh Ningsih, semuanya dia yang lakukan. Ibu hanya diperbolehkannya menyapu rumah kami yang memang kecil, itupun karena beliau memaksa. Sementara bapak selalu disediakan minuman untuk menemaninya mendengarkan radio tentang ludruk maupun lagu-lagu keroncong, segala kebutuhan bapak dan ibu semuanya dipersiapkan Ningsih dengan sangat baik. Aku sangat bersyukur dengan apa yang kumiliki sejauh ini, sudah enggan bagiku untuk bermimpi, kuanggap saja inilah mimpi dalam hidupku. Keluarga, apapun keadaannya adalah apa yang aku anggap sebagai hidup, sebagai alasan paling kuat untuk tetap bertahan hidup, merekalah kekayaan besarku yang harus terus kuperjuangkan dalam hidup.

***

Seorang laki-laki berjalan sambil memapah seorang wanita yang berjalan beriringan dengannnya. Sebenarnya wanita itu tampak baik-baik saja walau perutnya sudah terlihat besar dikarenakan ia tengah mengandung, namun ia mengerti dan memahami kekhawatiran serta ketulusan suaminya dalam menjaganya serta calon buah hati mereka, perempuan itu pun menurut dan sesekali tersenyum bahagia sambil melirik kearah suaminya yang memang terlihat terlalu berlebihan dalam bersikap.

Kebahagiaan kurasakan saat Ningsih menyampaikan perihal kehamilannya padaku, tidak menyangka bahwa sebentar lagi aku akan menjadi seorang bapak. Harus lebih giat aku bekerja rupanya agar kami dapat dengan siap meyambutnya kelak. Aku menambah waktu kerjaku di pasar, sehingga aku pulang sedikit lebih malam karenanya, setiap aku pulang kerumah kadang aku mendapati bapak dan ibu sudah tertidur. Ningsih selalu menunggu kepulanganku setiap malam, kemudian kami saling berbincang tentang bagaimana rupa anak kami nanti, tentang bagaimana lucunya dia nanti dalam meramaikan suasana rumah kecil kami ini. Hampir tidak sabar rasanya menunggu kehadirannya nanti, tidak pernah lupa aku mengusap dan menciumi perut Ningsih yang tengah dihuni oleh anak kami. Ningsih terlihat senang setiap aku melakukannya, kadang dia menggodaku dengan tidak memperbolehkanku melakukannya. Kalau sudah tidak diperbolehkan mencium anakku ya apa yang bisa kulakukan selain mencium ibunya. Tertawalah kami berdua karenanya. Bahkan anak ini belum terlahir sudah mampu membuat bahagia kedua orangtuanya ini, begitulah fikirku.

Bapak dan ibu tidak kalah antusiasnya, bila selama ini merekalah yang dilayani oleh Ningsih, maka kini keadaan berbalik. Ningsih tidak diperbolehkan melakukan kegiatan yang berat, malah kalau perlu Ningsih diminta bapak dan ibu untuk istirahat saja sampai cucu mereka lahir. Ada-ada saja, semakin bahagia aku melihat keceriaan ini, luntur semua rasa lelah dalam diriku. Pernah sekali waktu mereka bertiga mengerjaiku, Ningsih berpura-pura ngidam ingin memakan buah mangga, akan tetapi ia hanya ingin makan buah mangga yang tertanam di halaman rumah pak Dibyo. “Mati aku” fikirku waktu itu, masalahnya ini sudah jam 9 malam, tidak sopan rasanya mengetuk pintu rumah orang selarut ini, terlebih lagi Pak Dibyo ini adalah seorang polisi yang terkenal galak. Aku mencoba untuk membujuk Ningsih untuk menggantinya dengan mangga di pasar tapi dia tidak mau, atau setidaknya diundur besok pagi karena tidak sopan bertamu malam-malam. Namun Ningsih bersih keras tetap ingin mangga malam ini juga, dan juga mangga yang tertanam di halaman belakang rumah pak Dibyo. Bapak dan ibu juga ikut memarahiku saat mendengar aku membujuk Ningsih untuk mengganti keinginannya atau setidaknya menundanya, mereka mengatakan kalau orang ngidam itu harus dituruti, klu tidak nanti anaknya ileran. “Baiklah, demi anak apa sih yang nggak bisa kulakuin!” dengan keyakinan aku berjalan menuju rumah pak Dibyo yang terletak diujung jalan.

Sesampainya dirumah pak Dibyo aku mengetuk beberapa kali, mulai dari pelan kemudian sedang sampai dengan keras aku mengetuknya. Kemudian terdengar suara berdeham pak Dibyo yang khas, aku merasa ketakutan karena sepertinya beliau marah sekali karena aku mengganggu tidurnya. Benar saja, saat dia membuka pintu yang kulihat adalah wajah garangnya yang berkumis itu sudah memelototiku seolah ingin menerkam. Kusampaikan lagi niat hatiku untuk meminta mangganya, namun tak kusangka dia makin marah karena menganggap aku ini sedang mabuk. Aku terus memohon padanya namun dia semakin marah. Malah dia sampai mengatakan kalau dari sejak awal rumahnya berdiri tidak  pernah sekalipun dia menanam mangga. Aku yang saat itu merasa mengemban misi untuk menjaga anakku pun tidak percaya begitu saja, aku memeluk kakinya saat dia mengusir dan mendorongku karena menganggap aku sudah gila karena tetap ngotot. Akupun mengatakan setidaknya aku memastikan ucapannya itu benar, karena aku ingin memenuhi keinginan istriku yang sedang ngidam ingin makan mangga yang dipetik dari pohon yang ditanam di halaman rumah beliau. Entah kenapa tiba-tiba pak Dibyo malah tertawa dan menyuruhku untuk melihatnya sendiri ke belakang. Benar saja, ternyata tidak ada pohon mangga di halaman belakang rumahnya walau sudah kupastikan berkali-kali. Aku berjalan keluar malu-malu saat melewati pak Dibyo yang ternyata tetap menunggu di depan pintu, ekspresinya kembali tampak marah, kemudian dia berkata padaku,

“Gimana? Ada pohonnya?” ujarnya yang langsung kubalas dengan gelengan kepala

“Kalau bukan gara-gara istrimu ngidam sudah kupites kamu menuduh saya bohong” lanjutnya ketus sambil mulai masuk dan memegang pintu. Aku diam saja, dan hendak memutar badan untuk pulang saat tiba-tiba beliau melanjutkan

“Kamu ini sering di pasar tapi kok ya nggak tau kalau sekarang itu bukan musim mangga” nadanya terdengar mengejek

”yasudah pulang sana, salam buat istri, bapak, ibu dan calon bayimu” ditutupnya pintu dengan kasar, kemudian terdengar pak Dibyo tertawa pelan sambil terus berjalan masuk.

Benar saja ternyata Ningsih, bapak, dan ibu bersekongkol mengerjaiku. Mereka tertawa puas menyaksikanku pulang dengan lemas, mereka mengerjaiku karena mereka tau aku ini penakut. Apalagi kalau berhadapan dengan aparat-aparat semacam pak Dibyo. Dan yang lebih mengagetkan lagi ternyata pak Dibyo sudah tahu tentang hal ini, Ningsih sendiri yang meminta bantuan beliau sore tadi saat kebetulan pak Dibyo lewat depan rumah. Tidak habis fikir aku dengan rencana mereka ini, kesal juga aku sebenarnya tapi perlahan-lahan aku tertawa juga bila mengingat kejadian tadi, gila. Kami pun tertawa bahagia malam itu.

Hujan turun dengan begitu lebatnya sore itu, kakiku bergerak cepat menerobosnya, mengabaikan genangan air yang dalam dan membuatku terjatuh beberapa kali hingga menjadi semakin kuyup diriku. Aku dikejar oleh sebuah momen bahagia dalam hidupku, ya baru saja seorang tetangga menyusulku untuk mengabarkan bahwa Ningsih akan segera melahirkan. Aku berlari dengan begitu cepatnya sampai hampir tidak kusadari saat ini aku sudah berada di depan pintu kamar tempat Ningsih berjuang melahirkan anak kami. Aku berjalan hilir-mudik tak beraturan, tanganku bergerilya menyentuhi setiap bagian kepalaku dengan tujuan yang hampa. Dari balik pintu reyot ini aku dapat mendengar suara rintihan Ningsih yang sedang kesakitan, suara ibu yang terus memotivasinya, dan suara perempuan lainnya yang memerintahkan Ningsih untuk berjuang sedikit lagi.

“Oeeee.... Oeeee.... Oeeee” pecahlah suara tangis itu disusul air mata yang meleleh membasahi pipiku begitu saja

Anak laki-laki ini, tubuh mungilnya menumbuhkan beban berat dalam fikiranku. Kehadirannya di dunia ini tentunya juga memiliki alasan yang lebih besar dari beban yang memenuhi fikiranku. Anak ini memiliki alasan terlahir yang lebih besar dari sekedar sebagai buah cinta dari aku dan ibunya, kehadirannya telah mengumandangkan tabuh dan mengibarkan bendera perang bagi kehidupanku di hari depan, sebuah perang lanjutan dari perang-perangku melawan kehidupan yang sampai saat ini masih kuhadapi. Dan kali ini aku bersumpah untuk membuat perang ini menjadi lebih besar bahkan dari yang perang itu sendiri bisa bayangkan. Perang kali ini bukan semata perang terhadap kelaparan, tapi juga perang melawan kebodohan dan kesemena-menaan. Semagat akan sumpah ini kualirkan padanya melalui peluk eratku pada tubuh mungilnya, kuselipkan janjiku tentang hak-hak yang akan ia dapatkan dariku dan ibunya mulai detik tadi sampai hari nanti, kugantungkan satu saja kewajiban baginya untuk diluluskannya kelak. Kewajiban yang kufikir akan sangat mudah saja dia luluskan apabila semua haknya memang ia dapatkan. 

“Yah, hanya satu kewajiban yang dengan sangat terpaksa harus bapak gantungkan padamu nak!” sedikit tercekat aku membisikkannya sangat pelan di dekat telinganya, kemudian aku lanjutkan lagi perlahan 

“jadilah manusia yang jauh lebih baik dari kami, orangtuamu” kuciumi pipinya yang lembut, kemudian sedikit kujauhkan dia dari wajahku agar aku mampu menatap wajahnya yang sedikit mirip denganku. 

Selintas kemudian aku merasa ada yang sedikit tertinggal dari “petuah prematur” yang baru saja kubisikkan padanya. Lalu kuhadapkan dia padaku dengan memposisikan kedua tanganku yang menggendongnya tepat dihadapanku, sehingga anakku ini terlihat seperti berhadapan denganku. Aku menarik nafas sebelum berkata pelan padanya 

“Kau tahu kenapa?” sedikit kuguncangkan dia agar terlihat seperti mengerti ucapanku, kemudian kulanjutkan lagi dengan mantap 

“Karena kamu anakku”. 

  • view 218