Halusinesia (Part-3)

Rezzy Febriawan
Karya Rezzy Febriawan Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 27 September 2016
Halusinesia (Part-3)

Kuperhatikan sesosok perempuan yang entah sedari kapan ada disitu, dan entah dia memang secantik itu sampai-sampai aku baru menyadarinya. Kurasakan jantungku berdegup lebih cepat, dan mataku terkunci tak mau beralih pandang sebelum akhirnya melenggang liar saat matanya menangkap tatapan mataku barusan.

“Wanita, mengapa begitu jauh bagiku untuk sekedar sadar bahwa aku butuh dermaga untuk bersandar?. Mengapa sampai lunglai aku berfikir hingga akhirnya dengan begitu saja engkau hadir?... Ah, kerap kali aku mencaci takdir, sampai sadarku mengizinkan hasratku mangkir”.

Wanita, adalah sebuah judul dari tulisanku yang kubuat untuk kali kedua. Ada sebuah kesadaran terhadap sebuah rasa rindu dalam setiap kalimatnya, rasa rindu terhadap sesosok objek yang bahkan tidak mampu aku gambarkan, objek yang dengan sangat perlahan membuatku merasa begitu berantakan. Sesosok objek yang entah pada hari keberapa setelah kutuliskan melintas dihadapanku yang sedang mengantarkan koran. Mataku tiba-tiba saja  terbius oleh sosok ayu dari perempuan yang terlihat lugu dengan rambut kepangnya. Perempuan kurus berkulit kecoklatan yang baru saja melintas itu mengapa dengan cepatnya bisa menguasai perhatianku? Kemudian mataku terus mengikutinya saat kakiku justru “mati langkah”. Mengecil seketika nyaliku saat kulihat dia berbelok masuk kedalam sebuah rumah mewah, namun seketika itu juga ia menguat saat kudapati perempuan tersebut terlihat sedang berbincang dengan seorang wanita paruh baya yang mengenakan balutan busana mewah serta mengenakan begitu banyak perhiasan di pergelangan tangan dan juga lehernya. Kuperhatikan perempuan tadi tampak sangat “kecil” dihadapan wanita kaya itu, dan saat itu juga aku semakin jatuh hati padanya. Aku paham betul hanya dengan melihat gerak-geriknya, “Pas” begitu pikirku. Ada sebuah kebahagiaan dibalik adegan yang sudah kukenal pasti itu, ada sebuah kesamaan dari aku dan perempuan itu, ya kami sederajat. Dan sepertinya bukanlah dosa bagiku bila ingin mencoba untuk setidaknya dekat dengannya.

Aku akui tentang adanya pesimisme pada diriku dalam menyikapi perbedaan status sosial. Mungkin secara logika aku menolak eksistensinya di dalam kehidupan ini, namun begitu kuatnya mental bobrokku ini memeluknya. Mental yang selalu kuakui sebagai pembawaan lahirku ke dunia, yang kemudian diperuncing oleh kesemena-menaan serta penindasan, mental yang kugauli begitu dalam berkat kebiasaan. Ah sudahlah!

Pada akhirnya aku merasakan jatuh cinta juga, sedikit terlambat memang mengingat saat ini usiaku sudah menginjak 27 tahun dan aku tidak pernah sekalipun merasakan jatuh cinta sebelumnya. Ego kelaparanku pada akhirnya runtuh juga setelah sekian lama ragaku memainkan perannya secara maksimal untuk mengarahkan pikirku memuaskan urusan perut. Kini toleransinya muncul juga bagiku untuk menafkahi hati beserta hasrat kelelakianku. Perempuan yang tempo hari melintas dihadapanku nyatanya kini singgah begitu lama dalam relung hati dan ruang khayalku.

Hari keberapa tepatnya aku lupa saat pada akhirnya dia memanggilku yang memang selalu sengaja melintas perlahan saat melewati depan rumah mewah tempat dia berbelok masuk waktu itu. Diam-diam aku selalu berharap agar bisa melihatnya setiap kali aku melintas. Dan kali ini harapanku tersebut terwujud, bahkan jauh lebih dari itu,

“Mas... Mas” Panggilnya

Aku terus saja berjalan, entah kenapa tiba-tiba aku berharap panggilan itu tidak tertuju padaku. Karena tiba-tiba saja aku merasa gemetar karenanya,

“Loh loh mas,... piye to?” suaranya terdengar cukup terkejut, diiringi suara langkah kaki yang sedikit dipercepat seperti ingin mengejar langkahku,

“Hee maaass, kok ya terus wae” sentuhannya dipundaknya tentu saja membuatku terpaksa menghentikan langkah kakiku,

Deg!!! Aku tidak bisa mengelak kali ini, keringat mulai membasahi dahi dan tengkukku, seolah aku terlihat begitu lelah dan tersengat matahari sebegitu hebatnya. Padahal pagi itu sedikit mendung,

“Iya mbak? Ada apa ya?” kujawab sebisanya sambil berbalik badan kehadapannya,

“Ya mau beli koran to mas, piye to iki” jawabnya ketus

Astaga, logat jawanya itu begitu menyenangkan sekali terdengar di telingaku.

“Ooooh,... iya mbak, koran yang mana?” jawabku

Mendadak tanganku menjadi sangat sibuk tidak karuan membolak-balik tumpukan koran yang kugendong di tangan kiriku, kesibukan yang terlihat sangat aneh tentunya bila mengingat perempuan ini bahkan belum menjawab pertanyaannku.

“Aduh,... nganu mas, katae bapak yang tadi masnya teriakin niku loh”Jawabnya dengan ekspresinya yang tampak bingung dan sedikit ragu.

Astaga malunya aku, ternyata yang dimaksud adalah koran yang sedari tadi justru kupegang di tangan kananku. Entah dugaanku atau apalah saat sepertinya perempuan itu tersenyum memperhatikan gerak-gerikku. Begitulah awal mula aku mengenalnya, dan kemudian berlanjut karena majikannya berlangganan koran juga padaku. “Pucuk dicinta ulampun tiba rupanya” pikirku senang.

***

Seorang laki-laki terlihat membuka sebuah amplop besar yang didalamnya berisi selembar kertas, kemudian kuperhatikannya membaca kata demi kata dalam surat itu dengan giat. Selesai membacanya kurasakan ada semacam kegetiran dari raut mukanya, hanya saja ia tampak cukup mengerti dan berbesar hati dengan tetap bersikap tenang dibalik kegetirannya yang masih tetap tak bisa secara utuh ia sembunyikan.

Hampir 3 bulan sudah sejak pertama kali aku berkenalan dengan Ningsih (nama perempuan itu), selama itu pula aku selalu bertemu dengannya untuk memberikan koran bagi majikannya. Aku merasa ada nuansa lain dalam hatiku karenanya, memang sejak awal pertemuan kami dulu aku sudah menyimpan rasa terhadapnya. Akan tetapi kali ini jauh berbeda, aku sudah cukup jauh mengenalnya. Beberapa kesempatan memang kami sempat berbincang saat aku mengantarkan koran, tidak terlalu lama memang waktu yang kami habiskan mengingat kesibukan kami masing-masing tentunya.

Ningsih berasal dari sebuah desa di Malang Jawa Timur. Ayahnya adalah seorang petani tebu dan ibunya seorang ibu rumah tangga, Ningsih anak terkecil dari 3 bersaudara. Kakak-kakaknya sudah pergi sejak lama dikarenakan kemiskinan yang keluarganya alami sejak ayah Ningsih sakit keras selama beberapa tahun. Seorang diri Ningsih yang saat itu masih berusia 6 tahun mencoba mencukupi kebutuhan pangan bagi ayah dan ibunya. Kemudian ayahnya meninggal tidak lama berselang, Ningsih lantas merawat ibunya yang mengalami guncangan mental sejak kepergian kedua kakaknya. Sampai pada cerita itu Ningsih tidak bisa melanjutkan ceritanya, ia hanya berkata kemudian ibunya menyusul ayahnya. Ada semacam kesakitan luar biasa saat Ningsih akhirnya menyudahi cerita dengan hanya menyebut ibunya menyusul ayahnya. Aku merasakan kesakitan yang luar biasa saat Ningsih mengatakannya, seperti ada sesuatu yang tidak mampu ia ceritakan secara utuh mengenai hal tersebut, sesuatu yang sangat menyakitkan kurasa. Tapi biarlah, aku tidak mampu bila harus melihatnya begitu sedih dan menyimpan rasa bersalah seperti itu.

Pertemuan demi pertemuanku dengan Ningsih kemudian membimbing perasaanku untuk lebih dari sekedar mengenalnya, aku ingin memilikinya. Ada begitu banyak alasan yang tidak kumengerti saat keinginan ini membuncah di dalam dadaku, alasan yang lebih kuat dari sekedar kami memiliki latar belakang sosial ekonomi yang sama, alasan yang jauh lebih dari sekedar kepantasanku untuk mengenalnya seperti yang kufikirkan sebelumnya. Apapun itu, aku lantas menguatkan hati untuk mengungkapkan perasaanku pada Ningsih, tapi bagaimana caranya? Beberapa kali aku mencoba untuk mengatakan perihal ini padanya, namun disetiapnya tiba-tiba saja tenggorokanku tercekat, keringatku mengalir, dan tubuhku gemetar. Menatap matanya saja sudah membuat nyaliku menciut hingga hampir tidak terlihat rasanya. Beberapa kali percobaan itu kudapati keheranannya terhadap tingkahku, terlebih aku terhadap diriku.

Sekian lama aku mencari cara yang sekiranya memudahkanku mencurahkan perasaan pada Ningsih,  akhirnya aku menemukan cara yang sepertinya tepat namun tidak pernah terfikir sebelumnya. Surat cinta... Ya surat cinta, dengan menulis surat cinta aku tidak perlu lagi takut menatap matanya, tercekat saat hendak bicara, atau terlihat bodoh di depannya. Justru aku akan terlihat sangat pintar dan tampak berpendidikan, bukan kah itu nilai tambah bagiku di matanya? Dan juga romantis! Hampir gila aku saking gembiranya menemukan cara yang kuanggap tepat dan hebat ini, terlebih saat kubayangkan betapa takjubnya dia nanti melihat bahwa aku yang pekerja rendahan ini ternyata bisa menulis sebuah surat cinta. Astaga, hebat sekali ini nanti.

Hampir lewat tengah malam saat berlembar-lembar kertas kutulis dan kutulis lagi, kesemuanya gagal dan berakhir diatas tanah kamarku sebelum ada yang selesai satupun, bahkan ada beberapa yang didalamnya baru tertulis 1 kata. Astaga, ternyata tidak semudah yang kukira. Mungkin ini dikarenakan minimnya pengalamanku tentang cinta, atau karena aku tidak suka membaca berbagai hal mengenai romantisme cinta. Sulit memang bagiku menuliskan mengenai sesuatu yang membahagiakan saat aku bertubi-tubi diterpa kebencian serta kemarahan. Hampir hilang akal aku sampai akhirnya aku menulis sebisanya, setidaknya apa yang kutuliskan ini mampu menyampaikan maksud hatiku,

Teruntuk, Ningsih

 

     Sudah lama sekali sejak kita saling mengenal, sudah banyak juga yang kita bicarakan dan saling ceritakan. Lambat laun aku mulai bisa meyakini apa yang mungkin tidak kamu ketahui namun tertanam begitu dalam di sudut-sudut hatiku. Sebenarnya tidak butuh waktu lama bagi hatiku untuk jatuh dalam keluguanmu, hanya saja kepantasanku untuk menyatakannya padamu yang rupanya menyita waktuku sungguh.

      Ningsih, berbarengan dengan surat ini aku menyertakan rasa cinta yang tulus kepadamu, perasaan yang tulus dan jujur baik dari sadar maupun ketidak sadaranku. Mataku selalu terasa kikuk setiap beradu pandang denganmu, gemetar menjalar sekujur tubuh saat kudekat dirimu.

       Ningsih, lewat surat ini aku hendak menyatakan sebuah ketidak raguan atas niatku untuk mempersuntingmu. Mohon maaf atas ketidak mampuanku mengatakannya langsung padamu. Maaf juga atas kelancangan hatiku yang berharap betul memiliki kesamaan rasa dengan hatimu.

 

Dariku yang selalu mencintaimu.

 

Keesokan harinya, aku memberikan surat tersebut kepada Ningsih, dari raut wajahnya aku melihat ada keheranan dalam dirinya. Tapi aku tak berani untuk bertanya, aku bahkan cepat-cepat pergi dengan alasan bahwa aku harus segera mengantarkan koran pesanan pelanggan. Padahal sebenarnya lebih karena jantungku yang tiba-tiba berdegup begitu cepat. Aku yakin sekali keheranannya semakin menjadi-jadi saat itu. Biarlah, menatapnya terlalu lama bisa membuatku mati lemas sepertinya.

Sebuah kuntum bunga sepatu terlihat mekar dengan indahnya di halaman rumah tempat Ningsih bekerja. “Hemm, pastilah Ningsih yang memupuki dan menyirami setiap hari” pikirku yang sebenarnya kuanggap sangat norak sekali memang. Antusias sekali aku pagi ini, ditambah kuntum bunga mekar tadi seolah menjadi petanda akan hadirnya sesuatu yang akan mekar pula sebentar lagi, entah kenapa pikiranku begitu melankolis dan sangat picis hari ini. Antusiasmeku semakin merekah saat kulihat Ningsih keluar untuk menemuiku seperti biasanya, harapanku membuncah saat dia tersenyum manis sekali padaku “Itu senyum termanis yang pernah kudapat darinya... Petanda baik” pikirku lagi. Kemudian dia semakin dekat, senyumnya mengembang lagi, kemudian tangannya ia dekatkan ke tanganku. Seakan ingin terbang aku saking bahagianya. Dan kemudian tangannya mengambil alih koran dari tanganku sambil berkata,

“Ningsih langsung masuk ya mas... mau masak, soalnya nanti sore ibu ada selametan” ujarnya tenang

Kemudian dia berbalik dan berjalan pergi meninggalkanku yang tertegun di depan pagar. Dia terus berjalan tanpa menengok kebelakang seperti harapanku, kemudian dia menghilang dibalik pintu, begitu “normal” seperti biasa. Aku terhenyak, mulutku ternganga, mataku takjub tak berkedip dan nafasku tidak beraturan. “kenapa tidak ada jawaban?” pikirku sambil menerka-nerka berbagai alasannya dan kemudian aku beranjak pergi.

Beberapa hari setelahnyapun masih sama, segala sesuatunya masih tampak begitu “normal”, seakan tidak terjadi apapun, tepatnya seolah aku tidak pernah memberi apapun. Kebingungan besar menimbulkan begitu banyak pertanyaan dalam diriku. “apakah ini adalah salah satu bentuk penolakan? Tapi kenapa Ningsih bahkan tidak berkata apapun soal surat itu? Mengapa juga dia tidak menunjukkan perubahan sikap atau apalah itu? Bahkan kami masih sempat berbincang seperti biasa tempo hari, seperti biasa saat dia tidak dikejar kesibukan akan pekerjaannya. “ada apa ini?” pertanyaan ini untuk kemudian menghantui pikiran serta hari-hariku, sampai kemudian aku mulai membulatkan tekad untuk menanyakan langsung perihal ini secara langsung pada Ningsih. “Mungkin saja memang dia takut atau malu untuk memulai pembicaraan mengenai masalah ini” fikirku membesarkan hati.

Hari telah berganti saat aku sudah berada di depan rumah tempat Ningsih bekerja, koran yang akan kuberikan kepada Ningsih sengaja tidak aku persiapkan seperti biasanya, kutumpuk di bagian atas pada tangan kiriku yang menggendong tumpukan koran daganganku. Kemudian Ningsih keluar seperti biasanya, ada sedikit keheranan saat dia lihat koran yang hendak kuberikan seperti biasa belum kusiapkan di tangan kananku yang saat itu memegangi pagar. Setelah dia sampai di depanku, akupun langsung berkata,

“Ningsih, waktu itu surat yang aku kasih gimana?” tuturku sedikit ragu dan sedikit tercekat

“Surat? Surat opo to mas” jawabnya bingung

“Yang waktu itu Sih,... ehmm, yang 2 mingguan lalu kayaknya” sambil berusaha mengingat kapan kuberikan surat itu

“Ehm,... Aduh mas, surat yang mana to?” ia mengernyitkan dahi sambil berusaha mengingat

“Hemm, berarti belum Ningsih baca ya?” ujarku lemas, kekecewaan sudah tidak dapat lagi kubendung

“Aduh mas yang mana sih? Ningsih lupa” cepat ia menjawab dengan ekspresi serius yang menyiratkan bahwa dia memang benar-benar tidak ingat.

Seketika itu aku berfikir apakah memang lebih baik bila aku tidak mendesaknya tentang surat itu. Dan juga mungkin akan jadi lebih bijaksana apabila permasalahan ini tidak usah dibahas lagi, aku lupakan perasaanku kepadanya, dan biarkan saja dia tetap tidak tahu. Setidaknya aku masih bisa menemuinya setiap hari disini tanpa ada yang berubah tentunya. Namun kulihat tiba-tiba ekspresi Ningsih berubah sedikit ragu dan nampak malu, hal itu ditandai dengan kedua tangannya yang memain-mainkan ujung pakaiannya dengan sembarangan, kemudian dia berkata pelan,

“Maaf ya mas,...” pelan sekali ia berkata, mungkin ia merasakan kekecewaanku barusan, namun kemudian dia melanjutkan,

“Tapi maaf  juga, kalaupun Ningsih ingat juga kan sama saja to, Ningsih kan nggak bisa baca” pelan sekali ia berkata, berbanding terbalik dengan gerak tangannya yang semakin tidak karuan memainkan ujung bawah pakaiannya tadi

Astaga, kenapa pula hal seperti ini tidak aku pertimbangkan sebelumnya? Kenapa aku tidak mempertimbangkan apakah dia bisa membaca atau tidak? Aku tidak mempermasalahkan ketidak mampuan Ningsih membaca, tapi mengapa aku begitu egois dan sombong sehingga melakukan hal bodoh semacam ini? Alih-alih aku membuatnya terkesan, malah aku membuat dia merasa malu.

“Oh iya mas, kalau boleh tau...” sedikit ragu ia menghentikan ucapannya

“Mas kirim surat ke saya buat apa? Isinya apa?” kemudian dia memperhatikanku dengan tatapan yang sangat serius

“Mati aku” teriakku dalam hati. Hal ini juga sama sekali tidak kuperhitungkan sebelumnya, hampir tidak ada satu katapun yang kupersiapkan untuk menjawab pertanyaan ini. “Aduh bagaimana ini? Atau kukatakan tidak ada apa-apa? Atau abaikan saja? Atau...”

“Mas,... mas? Loh kok malah bengong se?” potongnya terhadap segala fikiranku untuk menjawab pertanyaannya.

 Ternyata tangan kanan Ningsih sudah sedari tadi digerak-gerakkannya dihadapan mataku.

“Kenapa to mas? Masnya juga lupa to?” tanyanya lagi

“Ningsih mau nggak nikah sama aku?” dengan sangat lancang mulutku mendahului fikiranku

Hampir mati berdiri aku saat melihat Ningsih begitu terkejut mendengar ucapanku. Dia diam beberapa lama sambil menundukkan wajahnya, sedikit kutangkap ada sebutir air yang terjatuh dari matanya. Aku merasa bingung, merasa bersalah juga tentunya karena membuatnya menangis, mungkin dia  menjadi sedih karena kecewa dengan pernyataanku. Pikiran-pikiran asal semacam itu lagi-lagi dengan cepat menggerayangi otakku, sampai akhirnya kulihat Ningsih mengangkat kepalanya, benar saja air mata sudah menggenang di matanya, sementara mulutnya ia tutupi dengan telapak tangan kanannya. Kemudian dengan lemah namun mantap ia mengangguk sambil menatapku yang langsung tanpa perintah melompat sambil mengepalkan tangan kananku ke udara

“Wwuuuuuwwhhh” teriakku keras

“Besok aku kesini lagi ya, aku mau bilang sama bapak sama ibu” ucapku cepat dan antusias sambil menatapnya yang kali ini terlihat tertawa bahagia dibalik bekapan tangan di mulutnya. Ia mengangguk lagi dan aku pun berbalik cepat tidak sabar rasanya mengabarkan berita baik ini pada bapak dan ibu.

“Maaaasss....” teriak Ningsih

Aku langsung berbalik badan begitu mendengar suaranya, mungkin ada yang hendak dia sampaikan lagi. Kulihat dia sambil menunjukkan ekspresi muka bertanya-tanya. Kemudian Ningsih menunjuk-nunjuk kearahku, aku bingung, kutunjuk juga diriku untuk memastikan. Namun Ningsih melambaikan tangan, aku juga melambaikan tangan, ah romantis sekali ini seperti orang yang akan begitu lama berpisah saja.

“Dadaah juga Ningsih, besok mas ajak bapak sama ibu buat ketemu kamu ya” sambil terus malambai aku berjalan mundur dengan pelan

Namun sepertinya Ningsih terlihat mulai kesal, kali ini kenapa dia juga melambaikan tangan untuk memintaku kembali? Sepertinya ada yang salah ini. Akupun mendekat, Ningsih mulai tersenyum-senyum kali ini, manis sekali. Kemudian dia berkata,

“Korannya belum to mas” jawabnya sambil menahan tawa

“Astaga!!!” kutepuk dahiku, kuberikan koran tersebut pada Ningsih yang kini tertawa

“Saking senengnya sampai lupa aku” kataku sambil kemudian berbalik setelah mengedipkan mata padanya

“Mas” Ningsih memanggilku, apa lagi kali ini? Aku berbalik lagi

“Hati-hati ya!” kemudian dia berbalik dan berlari pelan seperti menahan malu.

Bahagia sekali rasanya aku mendengar ucapan itu. Akupun pulang kerumah dengan beribu-ribu kebahagiaan yang siap untuk kuceritakan pada bapak dan ibu.

  • view 204