Halusinesia (Part 2)

Rezzy Febriawan
Karya Rezzy Febriawan Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 26 September 2016
Halusinesia (Part 2)

Kudengarkan 2 orang berkulit putih dan bermata sipit sedang berbincang dengan bahasa yang tidak kumengerti. Pikiran picikku menuduh mereka sedang membicarakan kami-kami orang pribumi dengan bahasa mereka itu, dan dari balik tatapan mereka terselip sebuah rasa kasihan dan juga rasa jijik yang begitu dalam.

Seiring dengan keadaan perang kala itu, posisi pemerintahan Hindia-Belanda sebagai pihak yang kalah dipaksa untuk menyerahkan kekuasaannya kepada Jepang. Pada saat ini mungkin usiaku sudah menginjak 17 tahun, tapi aku sudah sangat disibukkan dengan berbagai aktifitas-aktifitas yang setidaknya bisa membuat perutku tetap terisi setidaknya 1 kali setiap hari. Kabar burung mengatakan bahwa peralihan kekuasaan ini akan membawa nuansa baik bagi tanah yang sudah sangat lama dijadikan budak ini, ada sedikit desir bahagia dalam nadiku yang sudah terbiasa mengalir cepat tanpa energi. Namun entah ada semacam keraguan serta ketakutan dari pikir dan tatapku setiap melihat orang-orang asia berkulit putih dan bermata sipit itu melintas. Aku sedikit mengabaikannya, mungkin inilah pembawaan mental budak yang dengan sangat menyakitkan harus kuakui sudah sangat mengakar dalam diriku. Bahkan hal inilah yang membuatku tidak berani untuk membaca seremeh-temeh apapun itu dihadapan publik, entah ini semacam solidaritas atau tak lebih dari sekedar ketakutanku yang sangat tidak beralasan.

Belum banyak yang berubah mengenai ketakutanku akan peralihan kekuasaan yang terjadi, segalanya terbayar lunas dengan sangat jelas dan tuntas. Bangsa yang nyatanya berada dalam satu benua yang sama dengan tanah ini secara geografis ternyata jauh lebih kejam dari penindas sebelumnya. Kebijakan-kebijakan yang ditetapkan terasa sangat menyiksa dan menghancurkan mental kami yang sebenarnya memang sudah hancur. Setidaknya itulah yang kurasakan saat ini, dengan enggan aku mengamini segala bentuk kerja paksa dan tanam paksa yang lagi-lagi bukan untuk kepentingan kita. Terasa telak betul bagiku saat kulihat bapak dan ibu dihardik karena belum juga menanami halaman rumah kami dengan berbagai jenis tanaman yang sudah mereka tetapkan. Sekonyong-konyong aku bisa melindungi mereka, justru aku disibukkan dengan paksaan bekerja tanpa dibayar di salah satu lokasi pertambangan. Habis tubuhku digerus kepentingan mereka, habis waktuku untuk memperkaya mereka, hancur kesukaanku terhadap membaca yang nyatanya tidaklah berguna. “Yah, hancurlah semua seada-adanya”

***

Kulihat seorang lelaki muda terlihat begitu senangnya setelah membaca sebuah kertas di tangan kirinya, kemudian tangan kanannya mengepal ke udara menunjukkan kebahagiaan yang seolah tiada tara. Ada semacam kepuasan yang jelas tak beralasan dari caranya bersikap, itu terbukti kemudian dari pandangannya yang kembali berubah nanar seperti sebelumnya.

Periode waktu yang hanya berumur 3 tahun terasa hampir setimpal dengan penindasan sebelumnya. Lagi-lagi aku diajarkan mengenai betapa sebuah kualitas akan selalu mampu mengalahkan kuantitas., layaknya sebuah kemauan yang mampu mengalahkan permodalan seperti yang pernah aku alami sebelumnya. Pada periode ini mungkin desakan untuk bebas sudah sangat mengakar pada diri setiap insan di tanah pertiwi. Tokoh-tokoh pergerakan yang mungkin sejauh ini bergerilya untuk sekedar melakukan diskusi atau melakukan konsolidasi perlahan mulai muncul dan menampakkan diri untuk sesegera mungkin merealisasikan apa yang sudah sedari dulu diwacanakan, proklamasi kemerdekaan!. Hal ini pada akhirnya memunculkan tokoh-tokoh yang memang sudah sedari lama mengupayakan kemerdekaan ini di garda terdepan seperti Soekarno, Hatta, dan Sjahrir. Setidaknya ketiga tokoh inilah yang kuketahui sangat gencar mengupayakan kemerdekaan  melalui diplomasi serta loby yang memang sesuai dengan latar belakang pendidikan yang mereka miliki. Akhirnya pada sebuah pagi 17 Agustus 1945 di Jakarta, kemerdekaan diproklamirkan atas nama Soekarno-Hatta. Sebagai seorang pemuda 20 tahun yang tidak terdidik, aku merasakan sebuah kebahagiaan serta haru yang bahkan sebenarnya tidak bisa aku mengerti secara pasti. Kelahiran bangsa ini bagiku hampir sama dengan proses kelahiranku seperti yang pernah diceritakan oleh bapak dan ibu. Di satu sisi membahagiakan karena memang diupayakan serta diharapkan, namun sisi lainnya menghadirkan sebuah kekhawatiran. Setidaknya itulah yang kurasakan pada kesempatan ini.

***

Kulihat seorang bapak yang sedang membaca sebuah surat kabar dengan begitu khusyuknya. Matanya asyik bergerilya menggerayangi setiap kata dari pemberitaan dihadapannya, sesekali ia menggeleng dan kadang pula tersenyum kecut.

5 tahun sudah sejak kemerdekaan diproklamirkan. Aku sudah mulai memberanikan diri untuk membaca di depan umum sejak 5 tahun ini. Memang sesekali ada ketakutan tak beralasan yang menyertaiku, ketakutan yang secara spontan membuatku menyembunyikan bacaanku, atau setidaknya menyamarkannya dengan cara berpura-pura hanya menatapinya dengan ekspresi bodoh. Sadar betul aku dengan kebodohanku ini, namun lagi, mental bobrokku ini memang terlahir berbarengan dengan kelahiran ragaku ke dunia. Sejak awal kali bisa membaca berkat Bambang sampai dengan hari ini, sudah cukup banyak yang kusantap sebagai bahan bacaan, mulai dari selebaran-selebaran, plang-plang jalan, tulisan-tulisan di setiap toko, papan nama, sampai dengan koran bekas yang kutemukan di jalan maupun kupinjam dari warung-warung. Belakangan kesukaanku membaca koran ini membuatku berkeinginan untuk menjadi penjaja koran, lumayan selain dapat uang aku juga bisa mendapatkan bahan bacaan gratis fikirku. Ternyata sudah rezekiku untuk menjadi penjaja koran, seorang teman memiliki tetangga yang sedang mencari orang untuk menjajakan koran di sekitaran daerah tempatku tinggal, persyaratannya hanya 1, bisa membaca atau membedakan antara koran yang satu dengan yang lainnya. Pekerjaan remeh yang rupanya cukup sulit bagi orang-orang hina sekelasku.

Seperti yang sudah dapat diduga, aku berhasil menjadi seorang penjaja koran, dan kini aku memiliki pekerjaan tetap tentunya. Jauh lebih penting lagi adalah aku bisa mendapat bahan bacaan yang lebih banyak dan bermanfaat tentunya. Pekerjaanku ini menuntutku untuk bangun di subuh hari, mengambil koran pada pihak distributor dan kemudian aku antarkan ke rumah para langganan sampai selesai, setelah itu aku menetap di lapak yang sudah disediakan bagiku. Di sudut pasar, dekat lampu merah, tempat yang sangat strategis karena disana banyak kendaraan yang berhenti, serta lalu-lalang pejalan kaki yang hendak menyeberang dari satu tempat ke tempat lainnya.

Sebelum mendapatkan pekerjaan ini, aku menyimpan sebuah keinginan yang dalam untuk memiliki setidaknya sebuah buku bacaan. Tentu aku belum mengerti tema atau jenis buku apa yang akan kupilih sebagai bahan bacaan, yang jelas aku butuh suatu bacaan yang bisa kubaca berulang setiap waktu. Buku yang bisa memberikanku setidaknya sedikit informasi yang lebih dari sekedar nama jalan, nama toko, atau nama obat seperti kebiasaanku sebelumnya yang gemar membaca apapun. Namun kemudian aku berpikir akan lebih bijaksana bila uang yang kudapat aku berikan untuk bapak dan ibu. Mereka sudah semakin tua, kesulitan yang selama ini mereka alami membuat mereka tidak menuntut banyak padaku. Namun justru karena itulah muncul keinginan kuatku untuk lebih mengutamakan kepentingan mereka diatas segala kepentinganku. 

Seiring dengan berjalannya waktu, aku sangat bersyukur dengan pekerjaan yang aku miliki saat ini. Terlihat remeh memang, namun bagiku ini adalah pekerjaan yang cukup prestisius, bagaimana tidak? Berapa orang yang harus gugur karena ketidak-mampuan mereka membaca sebelum akhirnya aku mendapatkannya. Belakangan aku merasakan bahwa itu hanyalah caraku membesarkan hati karena sebenarnya aku juga sering merasakan sakit hati saat mendapati pembeli-pembeli bermobil yang terlihat sangat acuh padaku. Bahkan beberapa diantara mereka enggan menatap wajahku, ada juga yang sampai melemparkan uangnya karena mungkin jijik bila kulit halusnya harus bersentuhan dengan kulit kasarku. Aku menerima semua perlakuan itu atas dasar kebutuhan, aku sudah sadar betul bahwa inilah konsekuensi yang harus kuterima saat aku bekerja untuk memenuhi kebutuhan informasi mereka-mereka yang ber-uang dan terdidik, untuk memenuhi gengsi mereka yang membeli koran hanya sebagai pajangan. Namun aku tidak menerima “uang lebih”, aku menolak menerima penolakan uang kembalian dari pelangganku, karena aku hanya bekerja sebagai penjaja koran, bukan sebagai pengemis yang menerima uang tanpa melakukan apapun. Semoga saja budak juga memiliki hak untuk berprinsip!.

***

Seorang laki-laki kuperhatikan sedang tampak bingung menuliskan sesuatu diatas buku panjang berwarna merah yang ia pegang, matanya begitu giat selaras dengan gerak tangannya yang memegang pena dan menari-nari diatas buku itu. Namun kemudian matanya mengernyit dan dia nampak membuat coretan diatas apa yang tadi ditulisnya. Dan tanpa alasan yang jelas kemudian tangan kanannya menggaruk kepalanya yang kuyakini sebenarnya tidak begitu gatal.

Dua tahun sudah aku menjalani profesi sebagai seorang penjaja koran, kesibukanku mulai sedikit berkurang karena pelangganku sudah cukup banyak. Koran hanya tersisa sedikit untuk kujual di lampu merah. Bahkan diantara pengendara itu aku juga memiliki pelanggan yang sudah dapat dipastikan akan melintas pada waktu yang sama setiap harinya untuk membeli sebuah koran terbitan yang sama. Kesibukanku yang mulai berkurang ini pada akhirnya mengarahkanku untuk menuliskan sesuatu, menulis tentang apa aku juga tidak tahu. Aku tidak pernah menyangka bahwa menulis akan sesulit ini, bukan secara teknis menulis tentunya, karena teknis menulis juga kupelajari sesaat setelah aku mulai belajar membaca. Saat mulai berkeinginan untuk menulis, aku kini justru dipusingkan mengenai apa yang hendak aku tulis. Beberapa kali aku mencoba, namun selalu berakhir dalam 1 kalimat, setelah itu keinginanku hilang, atau aku mendadak tertarik mengenai topik lain untuk kutuliskan, begitu seterusnya.

Permasalahnku dalam menulis pada akhirnya kutemukan solusinya melalui sebuah rubrik di salah satu koran. Seorang penulis yang sudah cukup sering dimuat tulisannya di koran-koran ini membagi sebuah tips untuk memudahkan siapapun yang ingin belajar untuk menjadi seorang penulis. Ada beberapa poin yang kemudian menarik perhatianku karena memang keduanya mudah kumengerti. Poin-poin yang menarik perhatianku adalah; bila ingin menulis maka tulis apa yang memang kita suka, atau kita ketahui, dan atau kita kenal. Poin selanjutnya yang memotivasiku adalah, tuliskan saja apa yang pada saat itu terlintas, tidak usah memusingkan mengenai kualitasnya, karena hal itu dapat kita ubah pada bagian akhir nanti. Karena dengan terlalu memikirkan kualitas, seorang penulis akan lebih cepat menemui kebuntuan, maka tuliskan saja dengan lepas. Malu rasanya aku saat membaca bagian itu, karena rupanya itulah permasalahanku selama ini.

Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya aku memiliki sebuah tulisan yang aku buat sendiri, tulisan yang sudah jadi, karena sudah aku ubah dan percantik beberapa kali. Beginilah tulisan pertama buah karya tangan serta pengalaman hidup dan kegemaran membacaku,

“Beruntung sekali aku terlahir karena bapak melalui rahim ibu. Beruntung karena apa sebenarnya aku juga tidak tahu, mungkin karena ketiak bapak yang bau atau karena masakan ibu yang selalu kurang bumbu. Mungkin juga karena aku memang tidak pernah tahu, persis seperti mengapa kalian merasa begitu beruntung memiliki anak sepertiku. Anak laki-laki yang sampai seusia ini masih belum bisa memberi kalian cucu. Ah jauh sekali, anak kalian ini bahkan untuk menguatkan nyali mendekati wanita saja tak mampu”. 

Aku menatapi sekaligus juga meratapi tulisan yang secara formal adalah hasil karya pertamaku dalam menulis, hampir puluhan kali aku membacanya setiap hari. Entah aku merasakan semacam ada kegetiran lain yang tersirat dari tujuan awalku terhadap tulisan yang sebenarnya kuperuntukkan bagi bapak dan ibu. Aku memperhatikan dan kemudian menyadari kehadiran objek lain yang dengan gamblang aku nyatakan sebagai kelemahanku. Gila! Situasi sulit ini bahkan mampu mengalihkan orientasi hidupku untuk sekedar memikirkan urusan perut. Tapi disisi lain logika berfikirku menolak pernyataanku tersebut, mungkin saja memang aku sudah mengambil langkah yang tepat untuk lebih berfikir tentang kehidupanku dan kedua orangtuaku. Tapi kenapa aku bisa menuliskan hal itu? Apakah sebenarnya akulah yang menutup diri? Ataukah kegemaranku membaca telah mengarahkanku pada sebuah pemikiran yang realistis dan individualis? Namun apakah aku sudah sepintar dan sesibuk itu untuk mengabaikannya secara sadar? Dan apakah aku menyadari saat keresahan itu muncul begitu saja lewat benda mati yang saat itu kukuasai penuh? Inikah sebuah titik balik bagiku, sebuah awal mula terhadap kegemaran menulis yang menyadarkanku akan adanya hasrat dalam diriku terhadap lawan jenis? Pertanyan-pertanyaan itu secara bertubi-tubi mengacaukanku selama beberapa hari ini. Gila!.

  • view 216