Halusinesia (Part 1)

Rezzy Febriawan
Karya Rezzy Febriawan Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 25 September 2016
Halusinesia (Part 1)

Sebuah masa yang dipenuhi kegelapan pada dasarnya tidak selalu terisi oleh hal-hal yang menakutkan saja, bahagia juga memiliki hak yang sama untuk menaunginya. Kusaksikan seorang ibu yang terlihat sangat lusuh sedang menggendong sebuah boneka dalam pangkuannya.

 “Hhhhheeeehhhmmmm......hhheeemmmmmmhhhhh” erangan seorang wanita terdengar menguasai ruangan.

“Ayo nak, lagi lagi..... ayo sedikit lagi” suara wanita yang lebih tua terdengar memotivasi.

Ini adalah suatu keadaan di dalam sebuah ruangan gelap dengan penerangan redup sebuah lampu semprong (lampu minyak). Di dalam ruangan ini, terbaring seorang wanita usia sekitar awal 20 tahun yang memiliki raut lebih tua dibanding usianya, rambutnya berantakan, serta wajahnya dikuasai oleh keringat dan ekspresi kesakitan. Mungkin lebih dalam dari itu, matanya menyiratkan suatu kekhawatiran, kekhawatiran yang melebihi rasa sakitnya saat itu atau setelahnya, dan bahkan setelahnya lagi. Kekhawatiran itu tertuju pada bayi yang saat ini tengah ia perjuangkannya untuk menyaksikan dunia. Sesosok bayi yang entah bagaimana akan dipersiapkannya untuk menatap dunia kelak, bukan hanya untuk sekedar menyaksikannya.

Sedangkan di luar ruangan tersebut, tepat di depan pintu. Seorang laki-laki muda yang jauh terlihat lebih tua  dan sangat jauh lebih lelah dibanding usianya tampak begitu gelisah berjalan hilir-mudik dengan cepat dan tidak teratur. Tangannya bergerilya menyentuhi setiap bagian yang ada di kepalanya dengan tujuan yang hampa. Mungkin sama, matanya menyiratkan kekhawatiran besar dibalik kebahagiaan sesaat yang sebentar lagi akan ia dapat. Sebuah proses kelahiran.

"Itulah gambaran yang kudapat melalui cerita bapak dan ibu tentang caraku terlahir. Penuh dengan kesakitan, terlebih lagi kekhawatiran”.

***

Beberapa orang anak kecil berjalan beriringan dengan suara riuh rendah dengan nada yang menyiratkan bahwa mereka adalah manusia-manusia yang masih suci dan bebas dari beban hidup yang sangat berat yang kerap kali menyita waktu dan juga fikiran. 

Kulihat beberapa orang anak kecil melintas dihadapanku. Pakaian bersih dan rapih, buku-buku yang menyimpan dan siap untuk dijejali ilmu, teman-teman yang bahagia dengan senyum-senyum mereka yang licik. Kesemuanya adalah pemandangan indah bagiku saat menemani ibu berdagang di pasar, menjual sepersepuluh hasil berkebun yang bahkan kami curi dari lahan yang kami tanami dan garap sendiri. Kukatakan hanya mencuri  karena memang bukan lahan milik kami, dan sepersepuluh karena mungkin selebihnya adalah milik orangtua-orangtua dari gerombolan anak  tadi, gerombolan anak yang mayoritas adalah non-pribumi, ada juga beberapa anak pribumi diantara mereka. dan mereka yang pribumi inilah yang menatap jijik terhadapku.

“Andai saja engkau terlahir sebagai aku” umpatku sambil melihat mereka saat mereka sudah tidak lagi memperhatikanku.

Pada saat ini, hak untuk mendapat pengajaran hanya diperuntukkan bagi anak-anak pejabat Hindia-Belanda, serta beberapa anak pribumi yang sudi mencuci kaki mereka sambil menendangi kami sesamanya dengan menggunakan kaki mereka sendiri. Sangat disayangkan kemudian adalah “mental-mental” budak seperti ini kemudian dididik dengan baik (bukan menjadi baik) untuk kemudian tetap menjadi budak tentunya, namun juga diharuskan menghasilkan budak-budak pula untuk tuan yang sama. Pada era ini, pribumi adalah “alat” di tanahnya sendiri, mungkin tidak mengapa bagi mereka yang perutnya kenyang menjilati ludah para pendatang. Hanya saja menjadi masalah bagi kami yang dengan sangat terpaksa harus menjilati ludah mereka yang bahkan tidak bergizi.

Usiaku saat ini tentulah sudah melewati usia awal pendidikan, namun biaya serta kepantasan orangtuaku untuk memenuhinya bahkan jauh dari kata mendekati usia awal pendidikan. Bahkan untuk sekedar mengawalinya saja orangtuaku sudah pantas untuk menamparku agar terbangun dari mimpi tersebut. Setidaknya sebelum merekalah yang akan mendapat tamparan hingga terjerembab ke tanah dan kemudian dikutuki sampai mati. ”Kasihan mereka”. Tapi aku tidak hilang akal, entah apa yang aku fikirkan, namun aku begitu ingin  memiliki setidaknya kemampuan untuk membaca selebaran-selebaran konyol yang biasa ditempel di pasar-pasar yang dipadati oleh kami yang mayoritas buta aksara. Aku sangat ingin tau lelucon macam apa yang coba mereka bisikkan pada kami yang tuli.

***

Kulihat seorang anak kecil memegangi perutnya yang mungkin terasa sangat lapar dan sebuah wadah plastik di depannya. Kepalanya menunduk menghadap tanah seakan itulah harapan satu-satunya untuk hidup, sementara kedua tangannya memegangi perutnya seakan itulah tujuan satu-satunya untuk hidup.

Aku sedikit beruntung diperbolehkan menemani ibu saat bekerja sebagai buruh cuci di rumah seorang cukong yang memiliki anak hampir seusiaku. Lebih muda tepatnya, dan lebih beruntung pastinya karena ia bersekolah. Aku menemani ibu tentunya bukan untuk sekedar duduk di dekat beliau, atau memijat, berbincang, bahkan tidak untuk sekedar menghapus keringat beliau. Aku diperbolehkan ikut tidak lebih agar mereka mendapat “alat” tambahan walau hanya untuk sekedar menyiram tanaman, membersihkan kotoran hewan, atau hal-hal sepele yang sangat tidak mungkin mereka lakukan. Tentunya aku adalah “alat” gratis yang sedikit menguntungkan bagi mereka.

Keberuntungan yang aku maksud dalam kasus ini adalah kebiasaan anak dari majikan ibuku ini yang bernama Bambang saat sedang belajar. Entah atas dasar atau tujuan apa Bambang ini selalu mengeraskan suaranya saat belajar setiap dia mengetahui keberadaanku di sekitar rumahnya. Pada awalnya memang hal ini membuatku merasa sangat iri, namun perlahan tapi pasti kelicikan dalam dirikupun menyukai perilaku Bambang ini, seolah dia membisikkan padaku “bukan kah ini sebuah kesempatan?”. Kesombongan Bambang ini pada dasarnya adalah sebuah turunan dari bapaknya yang memang gemar sekali mengipasi dirinya menggunakan lembaran-lembaran uang. Tidak kalah persisnya adalah tampilan fisik mereka, keduanya berperawakan gemuk dan pendek. Dan yang paling lucu adalah kegemukan keduanya seolah berpusat di bagian perut mereka yang membuncit seolah hendak terjun bebas. Yah mungkin itulah akibat dari perut yang selalu kenyang berkat penderitaan yang mereka buat dengan cara mengorbankan sesama mereka.

Pada suatu sore yang biasa saja, Bambang tiba-tiba memanggilku yang kebetulan sedang mengelap benda-benda pecah belah di ruang tamu rumah mereka. dengan ekspresinya yang meremehkan, dia memanggilku sambil setengah menghardik,

“Heh, anak kampung!!! Sini kamu!!!” katanya sambil bertolak pinggang.

Aku pada saat itu merasa sangat heran karena dia memanggilku, kemudian yang kulakukan justru menatapinya dengan kikuk

”Ooooo,... kamu itu tuli atau pura-pura tuli? Ayo sini, kenapa malah lihat-lihat gitu???” nadanya mulai meninggi kali ini

“Sa,... saya Den?” takut-takut kujawab sambil menunjuk diriku dengan tangan agar menjadi lebih pasti.

“Siapa lagi yang ada di ruangan ini memangnya?” kali ini dia tampak sangat begitu marah rupanya

Kemudian aku mendekatinya sambil berjalan setengah membungkukkan badan. Begitulah cara yang diperuntukkan bagi kami dalam menghadapi mereka yang derajatnya lebih tinggi. Kemudian aku berdiri dengan kepala sedikit menunduk, kaki merapat, tangan kanan dalam keadaan siap lurus kebawah, sementara tangan kiriku memegangi siku tangan kananku. Seolah saat itu aku telah siap untuk menerima perintah apapun itu,

“Iya Den” suaraku kubuat agar terdengar bergetar

“Baca itu” bentaknya sambil tangan kanannya menunjuk kearah buku yang terbuka diatas meja.

Sontak saja aku langsung merasa kaget, “apa yang terjadi?” fikirku, apa anak ini ingin tau sampai seberapa jauh kemampuan yang aku dapat dari mendengarkannya. Apakah dia mulai curiga kalau aku memanfaatkan keadaan tersebut,

“Maaf  Den, tapi saya tidak bisa membaca Den” Dengan gugup namun kukuat-kuatkan aku menjawabnya, terlintas sedikit ketakutan saat membayangkan apa yang akan terjadi setelah ini.

“Hahahahahaha, ya jelas aja kamu nggak bisa baca... jangankan buat sekolah, buat makan aja masih minta-minta” tawanya pecah disusul dengan hinaan yang sedikit menggetarkan hatiku.

Akan tetapi aku kemudian justru merasa lega, karena apa yang tadi aku takutkan tidaklah terjadi,

“Nih, lihat dong aku!!!” lanjutnya dengan antusias dengan nada bicaranya yang terdengar sangat sombong.

Diambilnya buku diatas meja tersebut dan kemudian diangkatnya menggunakan tangan kiri, posisinya dia atur agar sejajar dengan posisi matanya. Setelah dia memastikan aku juga bisa melihat tulisan-tulisan yang ada dalam buku tersebut dengan leluasa, dia pun mulai membacanya sambil menunjuk huruf yang sedang dia eja hingga menjadi kata menggunakan tangan kanannya. Ternyata Bambang ini memang benar-benar belum bisa membaca, bahkan mengeja saja dia masih sangat meraba. Akan tetapi aku tetap menunjukkan ekspresi yang terlihat takjub dari balik keinginanku untuk tertawa, sambil juga aku belajar bagaimana caranya membaca. Kesombongan Bambang ini masih terus berlanjut, dia selalu melirik kearahku untuk memastikan apakah aku menyaksikan setiap dia berhasil mengeja tiga kata sampai selesai. Dan tentulah senang dia melihat ekspresiku yang terlihat sangat takjub dan mulut menganga ini,

“Plok, plok, plok, hebat sekali rupanya anak bapak ini” suara tersebut muncul dari belakangku, sedikit terkejut aku mendengarnya karena memang diucapkan dengan cukup keras seolah mereka terpisah jarak yang cukup jauh. Tapi memang beginilah dua orang ini, gemar sekali menyombongkan diri mereka dihadapan kami-kami ini. Kemudian aku langsung berinisiatif untuk menyingkir dan melanjutkan pekerjaanku tadi yang sempat tertunda. Sambil mengelapi guci-guci di ruang tamu, aku mendengar puja-puji yang terdengar sangat berlebihan diarahkan kepada Bambang, dengan sangat bahagianya anak gemuk itu menikmatinya. Dan ya tentu saja, yang terdengar setelah itu adalah keibaan mereka atas ketidak-beruntunganku yang tidak mampu sekolah, rasa iba mereka atas ketidak-bisaanku membaca, dan tentu saja semuanya terdengar tak lebih dari sekedar penghinaan dibanding sebagai bentuk keibaan. “Tidak apa” fikirku saat itu, dalam hati aku diam-diam sangat berharap agar kejadian seperti tadi dapat terus berulang di kemudian hari.

Syukurlah karena harapanku ternyata benar-benar terwujud, hampir setiap sore Bambang memintaku untuk menemaninya membaca. Ya walaupun tepatnya aku hanya dijadikan sebagai seorang penonton yang diwajibkan untuk mengakui kehebatan Bambang, sebuah pertunjukan yang sebenarnya justru memperlihatkan kebebalan anak gemuk berotak kurus ini. Bagaimana tidak, kemampuan membacanya lambat sekali berkembang, bahkan aku sudah mampu menyelesaikan 3 kata saat dia masih dengan susah payah berusaha untuk menyelesaikan satu kata. Tentu saja hal itu aku lakukan diam-diam sambil memasang ekspresi takjub dan seolah tidak mengerti seperti biasanya. Untuk kemudian “pertunjukkan” inipun berakhir dengan cara yang hampir sama dengan sebelumnya, ayahnya datang sambil mengalirkan pujian dengan begitu derasnya sampai kemudian mereka berdua sama-sama mengasihaniku.

“haha, lucu sekali mereka, harusnya mereka tau kalau kemauan bahkan dapat mengalahkan modal yang mereka keluarkan untuk keledai dungu itu” tersulut emosi aku mengatakannya dalam hati sambil menatap Bambang yang sedang dipeluk oleh bapaknya.

Aku mendapati sebuah periode waktu yang sangat penting dalam hidupku setelahnya. Pada awalnya aku sendiri tidak begitu mengerti untuk tujuan apa sebenarnya aku ngotot ingin bisa membaca, tentu yang kumaksudkan adalah selain untuk sekedar membaca dan menertawakan selebaran-selebaran yang selama ini aku anggap salah alamat seperti yang kukatakan pada kesempatan sebelumnya.

 

  • view 300